Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Setelah mandi, Kara keluar sambil mengusap rambut basah dengan handuk. Baru beberapa langkah dari kamar mandi, dia langsung berhenti.
Narisa sedang sibuk di dapur. Dan yang lebih aneh lagi... dia masak.
Suara Nuri terdengar dari speaker ponsel yang disandarkan dekat bumbu-bumbu.
"Garem nya segini, Ma?" tanya Narisa sambil menuang sedikit garam ke panci.
Nuri menyipit dari layar. "Coba dulu segitu. Nanti diicip lagi."
Kara otomatis mendekat karena penasaran.
Di atas kompor ada sup ayam yang sedang mendidih pelan. Aromanya surprisingly enak. Sangat bertolak belakang dengan ekspektasi Kara yang tadinya mengira Narisa cuma bisa masak air dan drama.
"Lo ngapain?"
Kara langsung tersentak. Narisa melotot galak tanpa menoleh penuh.
"Eh, kok galak banget?" suara Nuri langsung menyela dari ponsel. "Yang akur dong kalian."
Kara langsung pasang mode anak sopan.
"Halo, Tante."
"Halo, Kara." Nuri malah tertawa kecil.
Narisa langsung mendecak. "Gak usah sok ramah. Sana masuk kamar lo. Nanti gw panggil."
Kara menghela napas kecil lalu menyerah pergi. Padahal tadi dia cuma penasaran. Sampai di kamar, Kara menjatuhkan tubuh ke kasur sambil mengacak rambut sendiri.
Dia jadi merasa agak bersalah.
Kenapa juga tadi sengaja mancing Narisa cuma karena dirinya ikut kesal? Rumah ini baru sehari ditempati, tapi auranya sudah seperti kontrakan angker.
Kara mendesah pelan sebelum akhirnya meraih gitar yang bersandar di sudut kamar. Tak lama kemudian, petikan gitar mulai mengalun santai memenuhi rumah kecil itu.
Bukan lagu jelas. Cuma melodi random yang dimainkan sambil mikir.
Suara gitarnya sampai terdengar ke dapur.
Narisa yang tadi masih sibuk mengaduk sup sempat melirik ke arah kamar Kara sebentar.
"Udah mateng itu," kata Nuri dari layar. "Mama sama papa mau makan dulu. Lain kali jangan kemaleman masaknya."
Narisa buru-buru mengangguk. "Iya, Ma. Makasih ya udah nemenin dari sore."
"Iya sayang. Makan yang banyak."
"Iya, Ma."
Tut.
Panggilan selesai. Narisa langsung menghembuskan napas panjang lalu mematikan kompor. Sup ayam itu dipindahkan ke mangkuk besar dan dibawa ke meja makan.
Sementara dari kamar, suara gitar masih terdengar pelan. Tidak ada nyanyian. Cuma petikan santai yang anehnya bikin rumah terasa lebih hidup.
Narisa mendengus kecil.
"Ternyata jago juga.."
Lalu dia buru-buru menggeleng sendiri.
"Bodo amat. Setan dia mah. Iblis."
Setelah diam beberapa detik, akhirnya dia melangkah ke kamar Kara dan membuka pintunya tanpa mengetuk.
Kara langsung menoleh. Petikan gitarnya berhenti mendadak.
"Makan."
Cuma satu kata
Wajah Narisa masih datar. Tipe datar yang justru berarti ngambeknya belum selesai. Setelah itu dia langsung pergi lagi.
Kara menaruh gitar pelan lalu menyusul ke meja makan. Begitu duduk, matanya langsung ke mangkuk sup.
"Lo ternyata beneran bisa masak."
Nada suaranya santai, jelas sedang mencoba mencairkan suasana.
Narisa tidak menjawab. Dia cuma fokus makan sambil sesekali meniup kuah.
Makan malam itu berjalan lebih hening dari seharusnya. Aneh sekali melihat dua manusia yang biasanya ribut tiap lima menit sekarang malah diam-diaman seperti habis perang dingin negara tetangga.
Untung rasa masakannya enak. Lumayan manusiawi. Ayamnya matang, kuahnya gurih, dan yang paling mengejutkan: tidak ada rasa aneh.
Kara sampai nambah dua kali. Narisa sadar. Tapi tetap pura-pura tidak lihat.
Begitu selesai makan, Narisa langsung berdiri sambil membawa gelasnya ke wastafel.
"Cuci piringnya."
Nada suaranya masih datar. Lalu dia masuk kamar begitu saja. Kara tidak protes. Memang sudah sewajarnya bagi tugas.
Selesai mencuci piring, dia berdiri cukup lama di depan kamar Narisa. Tangannya sempat mau mengetuk. Tapi turun lagi.
Mau minta maaf rasanya gengsi. Didiamkan juga rasanya aneh. Semua karena dia nyium orang dua kali tanpa izin seperti preman bibir keliling.
Kara mengusap tengkuk sendiri. Setelah hampir lima menit bengong di depan pintu, akhirnya dia menyerah dan balik ke kamar.
"Ntar juga adem sendiri," gumamnya sambil menutup pintu.
**
Keesokan harinya di sekolah, Narisa datang dengan aura mendung tingkat dewa.
Tadi pagi dia masih ngambek ke Kara. Bahkan rela naik ojek sendiri daripada boncengan. Padahal orang yang paling ribut soal ongkos adalah dia sendiri.
Putri sampai heran melihat wajah sahabatnya kusut begitu.
"Lo kenapa jelek banget hari ini?" tegurnya sambil membuka buku.
Narisa langsung menghela napas panjang. "Gw mimpi buruk."
"Oh jangan diceritain." Putri langsung menoleh Waspada ke depan saat guru masuk kelas. "Katanya kalau diceritain bisa jadi sial."
"Emang lagi sial gw."
Dan entah semesta memang suka bercanda atau bagaimana... hari itu Narisa benar-benar apes.
Waktu jam istirahat, Cakra tidak ada di kantin. Chat tidak dibalas. Telepon tidak diangkat. Narisa mulai merasa aneh.
Akhirnya dia menarik Putri ke gedung IPA buat mencari tahu langsung. Mereka berhenti di depan kelas IPA 1. Karena ya... Cakra memang anak pintar yang menyebalkan.
Narisa langsung masuk tanpa permisi. Dua anak perempuan yang ada di dalam langsung menoleh,
"Eh, Narisa,"
"Lo liat Cakra gak?" tanya Narisa tanpa basa-basi. "Dia masuk hari ini kan?"
"Masuk kok." Salah satu cewek menjawab cepat. "Mungkin lagi di kantin sama Son... eh."
Narisa langsung mendekat pelan.
" Son siapa?"
Cewek itu langsung salah tingkah. "Soni."
Narisa menyipit. "Dia gak punya temen namanya Soni,"
"Ada kok," jawab cewek itu makin cepat. "Anak kelas sebelah."
Narisa menoleh ke Putri. Putri cuma angkat bahu, sama bingungnya.
Suasana kelas mendadak canggung. Narisa akhirnya tersenyum tipis yang lebih mirip ancaman.
"Yaudah. Makasih ya."
Lalu dia pergi begitu saja.
Begitu Narisa keluar, dua cewek tadi langsung saling menatap panik.
"Hampir aja lo keceplosan."
"Sumpah jantung gw copot."
"Kalau si Risa ngamuk gara-gara Cakra, bisa hancur satu sekolah."
"Tapi belum tentu juga Cakra selingkuh sama Sonya kan?" bisik salah satunya. "Bisa aja mereka emang temenan,"
"Temenan pala lo." Temannya mendecak. "Orang tiap hari nempel begitu."
Mereka masih lanjut bergosip tanpa sadar kalau Narisa ternyata belum benar-benar pergi. Cewek itu masih berdiri dekat pintu. Dan sekarang wajahnya makin dingin. Dadanya mulai panas.
Akhirnya Narisa memilih pergi dari gedung IPA sebelum emosinya benar-benar naik. Putri langsung mengejar sampai ke taman belakang sekolah.
Mereka duduk di rumput tebal dekat pohon besar yang biasanya dipakai anak-anak buat bolos cantik. Putri mengusap punggung Narisa pelan.
"Jangan dipikirin dulu. Gw yakin Cakra bukan tipe cowok kayak gitu."
Narisa menunduk sambil mencabuti rumput kecil.
"Tapi gw udah ngerasa aneh, Put."
"Apanya?"
"Belakangan Cakra kayak menjauh."
Putri terdiam sebentar.
"Ya bisa aja emang sibuk."
Narisa hanya mendengus kecil.
"Tapi Sonya itu gw kayak pernah denger."
Narisa langsung menoleh. "Yang mana orangnya?"
"Anak IPA juga. Cuma gw lupa kelas mana."
Narisa menghela napas panjang lagi sampai bahunya turun.
Saat suasana sedang mellow begitu, Harum muncul sambil menenteng bungkusan nasi campur. Begitu melihat wajah Narisa, dia langsung mengernyit.
"Lah ngapa itu muka ditekuk kayak gorden kosan?"
"Bukan urusan lo," sahut Narisa jutek.
"Dih, Galak,"
Harum duduk santai di rumput sambil membuka plastik makanannya. Dari kantong celana, dia mengeluarkan sendok yang entah kenapa selalu tersedia.
Narisa langsung berdiri. "Pindah yuk."
Putri ikut bangun, "Tau nih. Ganggu aja orang lagi pengen mojok."
Harum bengong melihat dua cewek itu pergi.
"Pada kenapa sih?" gumamnya bingung. "Lagi dapet ya?"
Dia berpikir sebentar.
"Gw kalo dapet perasaan gak sejudes itu deh."
Karena malas pusing, Harum akhirnya lanjut membuka nasi campurnya sendirian.
Di lorong sekolah, Kara yang baru dari toilet berpapasan dengan Narisa. Langkahnya langsung melambat. Wajah Narisa bahkan lebih kusut dibanding tadi pagi.
Dan itu cukup bikin Kara sadar.. ada sesuatu yang salah lagi selain drama mereka semalam.
"Woy, Kara,"
Yang menegur malah Putri.
Kara langsung menoleh. "Oi. Dari mana?"
"Nih." Putri mengangguk ke arah Narisa yang jalan di sampingnya. "Nemenin tuan putri."
"Oh,"
Cuma itu jawaban Kara. Tapi matanya tetap mengikuti Narisa sampai cewek itu menghilang di balik lorong.
Begitu sampai taman belakang, Harum ternyata sudah makan duluan dengan brutal.
"Gak pake nunggu ya," kata Kara sambil duduk di rumput.
"Gw laper banget." Harum menunjuk perutnya. "Kagak sarapan."
Kara akhirnya membuka bungkus makanannya sendiri.
"Btw." Harum melirik sekilas. "Si Narisa kenapa dah? Jarang- jarang mukanya suram begitu. Biasanya tengil."
Kara diam sepersekian detik. Dan itu cukup buat radar goblok Harum aktif.
"Lo apain dia?"
Kara langsung menoleh cepat. "Gak diapa-apain lah."
"Beneran?"
"Kenapa lo curiga banget sih? Emang lo emaknya?"
Harum mengangkat bahu santai lalu lanjut makan.
Tapi entah kenapa pertanyaan tadi malah bikin Kara tidak tenang. Perasaan aneh itu terbawa sampai jam pulang sekolah.
Biasanya habis bel dia langsung nongkrong bersama tim basket, tapi kali ini Kara malah berdiri di depan kelasnya sendiri sambil pura-pura main ponsel.
Demi menunggu Narisa lewat. Aneh memang.
Dan begitu Narisa benar-benar muncul bersama Putri, Kara langsung jalan pelan di belakang mereka dengan gaya sok natural. Seolah kebetulan searah.
Dia kira Narisa bakal langsung pulang. Ternyata malah berhenti di depan gedung IPA. Lama. Bahkan setelah sekolah mulai sepi, Narisa masih di sana bersama Putri.
Kara sampai mengintip dari balik tembok. Tiba-tiba Jadi penasaran. Seperti ingin memastikan alasan di balik wajah murung Narisa.
"Ngapain sih." gumamnya bingung sendiri.
Sementara itu, Narisa sebenarnya memang sedang menunggu Cakra. Pacarnya tadi bilang akan mengantar pulang.
Dan jujur saja, sejak siang Narisa memang ingin bertemu langsung. Kepalanya terlalu penuh gara-gara omongan anak-anak IPA tadi.
Tidak lama kemudian, Cakra akhirnya turun dari tangga dengan langkah agak buru-buru. Begitu melihat Narisa wajahnya langsung melunak.
"Sang, lama nunggunya?"
Tangannya refleks melingkar santai di pundak Narisa.
"Gak kok." Narisa mencoba tersenyum kecil lalu menoleh ke Putri. "Lo balik aja. Makasih ya udah nemenin.
Putri mengangguk pelan, tapi kali ini tatapannya ke Cakra sudah tidak secerah biasanya. Meski begitu, dia juga sadar ini bukan urusannya. Selama belum ada bukti jelas, dia cuma bisa menemani Narisa tanpa ikut ampur terlalu jauh.
"Mau ngemil dulu apa langsung pulang?" tanya Cakra lembut.
Narisa langsung memeluk pinggang cowok itu manja.
"Ngemil dulu ya. Udah lama kita gak jalan."
"Boleh." Cakra tersenyum kecil. "Tempat biasa?"
Narisa mengangguk.
Mereka akhirnya jalan santai menuju parkiran motor. Dan di belakang sana, Kara masih mengikuti. Sampai akhirnya dia sendiri sadar betapa aneh tingkahnya sekarang.
"Gw kok jadi kayak orang bego." gumamnya pelan.
Tapi anehnya, kaki Kara tetap jalan. Dia baru mau benar-benar pergi setelah melihat Cakra mengeluarkan motor. Namun tiba-tiba...
"Cakra!"
Suara cewek memanggil keras membuat langkah Kara berhenti. Firasatnya langsung jelek. Tanpa sadar dia balik lagi mendekat ke parkiran lalu mengintip dari balik dinding.
Di sana, Narisa langsung mengernyit melihat seorang cewek datang tergesa-gesa. Dan detik itu juga dia sadar. Cewek ini yang waktu itu di kantin menatapnya aneh.
"Sonya?" Cakra terlihat kaget tapi masih santai.
"Ngapain di sini? Kok belum pulang?"
"Sonya?" ulang Narisa pelan. "Oh... jadi dia."
"Dia temen aku, Sang. Kelas sebelah,'" jelas Cakra cepat tanpa terlihat gugup.
"Temen?" Sonya tertawa hambar. Lalu tatapannya berubah tajam.
"Aku udah capek, Cakra." Suaranya mulai naik.
"Sekarang pilih aja. Kamu mau sama aku atau sama dia?"
Mata Narisa langsung membelalak. Sedangkan Cakra terlihat panik untuk pertama kalinya hari itu. Dia jelas takut Narisa bakal langsung meledak. Tapi anehnya... Narisa malah tetap tenang.
Dia bahkan menatap Sonya dari atas sampai bawah dulu sebelum akhirnya buka mulut.
"Cara ngomong lo kayak sinetron rumah tangga," katanya datar.
.