NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Audit internal yang dipaksakan Clara akhirnya benar-benar mengguncang perusahaan. Selama bertahun-tahun berbagai penyimpangan keuangan berhasil ditutupi dengan rapi. Laporan dimanipulasi, angka dipindahkan, dan beberapa pengeluaran fiktif dibuat seolah-olah semuanya wajar. Namun saat tim audit independen masuk dan mulai memeriksa seluruh transaksi anak perusahaan, kebusukan itu perlahan terbongkar satu per satu. Seperti tikus yang panik ketika gudang beras dibuka tengah malam. Dunia korporasi memang luar biasa. Orang memakai jas mahal hanya untuk mencuri dengan tabel Excel.

Ruangan rapat utama pagi itu terasa sangat tegang.

Pak Agung duduk di kursi paling depan dengan wajah dingin. Di sampingnya ada Rendra yang sejak awal memilih diam sambil membaca laporan audit. Beberapa petinggi perusahaan terlihat pucat. Bahkan ada yang tidak berani mengangkat kepala.

“Jadi jumlah dana yang digelapkan mencapai puluhan miliar?” tanya Pak Agung dengan suara berat.

Ketua tim audit mengangguk pelan.

“Benar, Pak. Dana dialihkan melalui beberapa proyek operasional dan pengadaan produksi.”

Ruangan langsung hening.

Tony yang duduk di sisi kanan meja rapat tetap berusaha tenang. Wajahnya terlihat serius seolah dirinya juga korban dari semua kekacauan itu. Padahal dialah otak utama di balik permainan dana tersebut. Semua jalur transaksi sudah dia siapkan jauh hari. Bukti-bukti yang bisa mengarah padanya sudah dibersihkan dengan sangat hati-hati.

Sebuah pekerjaan yang mengerikan sekaligus mengesankan. Manusia kadang memakai kecerdasan terbaiknya bukan untuk membangun sesuatu, melainkan untuk mencuri tanpa ketahuan.

Pak Agung memukul meja pelan.

“Semua yang terlibat langsung dipecat mulai hari ini.”

Beberapa orang langsung menunduk lemas.

Salah satu manajer bahkan terlihat hampir menangis.

“Pak... saya hanya menjalankan perintah...”

“Keluar,” potong Pak Agung dingin.

Tidak ada yang berani membantah lagi.

Pak Surya yang duduk tak jauh dari Tony tampak jauh lebih tenang dibanding yang lain. Sebagai pemilik saham lama di anak perusahaan itu, posisinya cukup sulit disentuh.

Rendra akhirnya bicara.

“Pak Surya tidak terbukti terlibat langsung dalam penggelapan dana. Namun mulai sekarang Bapak tidak boleh ikut campur urusan operasional anak perusahaan.”

Pak Surya mengangguk pelan.

“Saya mengerti.”

“Anda tetap mendapatkan hak keuntungan saham,” lanjut Rendra.

Tony diam sambil mengepalkan tangannya di bawah meja.

Ia tahu dirinya lolos.

Tidak ada bukti yang benar-benar bisa menyeretnya.

Namun ia juga sadar perusahaan mulai mencurigainya.

Rendra membuka lembar terakhir laporan audit lalu menatap Tony tajam.

“Sebagai direktur operasional, Anda dianggap lalai mengawasi penggunaan dana perusahaan.”

Tony akhirnya bicara.

“Jadi saya yang disalahkan sekarang?”

“Tidak ada bukti Anda melakukan penggelapan,” jawab Rendra tenang. “Tapi semua penyimpangan terjadi di bawah pengawasan Anda.”

Tony tersenyum tipis.

Senyum yang terlihat sopan, tetapi penuh kebencian.

“Lalu hukuman saya?”

“Mulai hari ini jabatan Anda diturunkan menjadi manajer produksi.”

Beberapa orang langsung saling pandang.

Turun dari direktur operasional menjadi manajer produksi jelas seperti jatuh dari lantai atas gedung lalu disuruh bersyukur karena masih hidup.

Tony menatap Rendra cukup lama.

“Keputusan yang menarik.”

“Keputusan perusahaan,” jawab Rendra datar.

“Dan posisi saya digantikan siapa?”

“Pak Aris Setiawan.”

Pintu ruang rapat terbuka pelan.

Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah tenang. Wajahnya tegas dan sorot matanya tajam. Ia adalah orang kepercayaan Rendra yang selama ini menangani beberapa restrukturisasi perusahaan lain milik keluarga Darmawan.

Pak Aris mengangguk sopan.

“Mulai hari ini saya akan menangani operasional perusahaan.”

Tony memandang pria itu tanpa senyum.

Ia tahu mulai sekarang semua akses anggaran akan dipersulit. Tidak akan ada lagi ruang untuk memainkan dana perusahaan.

Rencananya hancur total.

Padahal sedikit lagi semuanya berhasil.

Sedikit lagi.

Setelah rapat selesai Tony berjalan keluar dengan wajah dingin. Beberapa pegawai yang biasanya menyapanya kini malah menghindar. Tidak ada lagi tatapan kagum seperti dulu.

Begitulah manusia.

Saat seseorang punya jabatan tinggi, semua orang tersenyum padanya. Begitu jatuh, bahkan suara langkah sepatu pun terdengar lebih jujur daripada ucapan mereka.

Tony baru saja masuk ke ruang kerjanya yang kini sementara dipakai sebelum dipindahkan ke divisi produksi ketika ponselnya bergetar.

Ia melihat nama Clara.

Tatapannya sedikit berubah.

Namun ternyata hanya pesan singkat.

“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”

Tony membaca pesan itu beberapa kali.

Rahangnya mengeras.

Ia langsung menelepon Clara.

Tidak diangkat.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak dijawab.

Tony membanting ponselnya ke meja.

“Sialan.”

Ia berjalan mondar-mandir dengan kesal.

Semua kekacauan ini terjadi karena Clara memaksa audit internal dilakukan. Jika wanita itu diam saja, beberapa bulan lagi semuanya akan selesai. Dana sudah hampir berhasil dipindahkan sepenuhnya.

Namun di sisi lain Tony juga tahu Clara masih sangat penting baginya.

Jika ia berhasil menikahi Clara, posisinya mungkin bisa pulih lagi di masa depan. Bahkan mungkin ia bisa mendapatkan jabatan lebih tinggi.

Karena itu ia belum bisa menyerah.

Sore harinya Tony kembali mencoba menghubungi Clara.

Tetap tidak dijawab.

Ia akhirnya mengirim pesan.

“Aku hanya ingin menjelaskan semuanya.”

Tidak ada balasan.

“Ayo makan siang besok.”

Tetap sunyi.

Tony menatap layar ponselnya dengan kesal.

“Setelah semua perhatian yang kuberikan, sekarang malah menghilang.”

Di rumah keluarga Darmawan, Clara hanya berbaring di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Rambutnya berantakan dan matanya sembab karena terlalu banyak menangis.

Ponselnya terus bergetar sejak tadi.

Nama Tony muncul lagi.

Clara langsung mematikan layar.

Ia memejamkan mata sambil menggigit bibirnya sendiri.

Bayangan semua perhatian Tony terus muncul di kepalanya. Cara pria itu menjemputnya sepulang kerja, makan malam bersama, pujian-pujian manis, hingga tatapan lembut yang dulu membuat jantungnya berdebar.

Sekarang semuanya terasa menjijikkan.

Ibunya masuk ke kamar sambil membawa semangkuk sup hangat.

“Kamu belum makan dari tadi pagi.”

Clara memalingkan wajah.

“Aku tidak lapar.”

Ibunya duduk di samping tempat tidur.

“Karena Tony?”

Clara langsung menahan air matanya.

“Aku benar-benar bodoh, Bu.”

“Kamu hanya terlalu percaya.”

“Dia mendekatiku cuma untuk memanfaatkan aku.”

Ibunya menghela napas pelan.

“Kamu masih muda, Clara. Hal seperti ini bisa terjadi.”

Clara duduk perlahan.

“Dia bahkan masih berani menghubungiku setelah semua yang terjadi.”

“Mungkin dia ingin menjelaskan.”

“Menjelaskan apa?” Clara tertawa pahit. “Semua bukti memang tidak mengarah padanya, tapi semua orang tahu dia terlibat.”

Ibunya diam.

Sebenarnya ia juga tidak menyukai Tony lagi setelah audit selesai.

Clara menatap kosong ke arah jendela.

“Aku tidak mau lagi ke perusahaan.”

“Kamu tidak bisa terus di rumah seperti ini.”

“Aku malas bertemu siapa pun.”

Ibunya mencoba tetap tenang.

“Ayahmu pasti marah kalau tahu kamu berhenti masuk kerja.”

“Aku tidak peduli.”

“Clara.”

“Aku capek, Bu.”

Suasana kamar kembali sunyi.

Ibunya akhirnya menggenggam tangan Clara pelan.

“Kamu harus tetap bekerja demi masa depanmu.”

Clara menggeleng lemah.

“Aku tidak ingin melihat gedung itu lagi. Aku tidak ingin melihat Tony lagi.”

Ibunya menatap putrinya cukup lama.

“Ayahmu sejak awal memang terlalu memanjakan kamu.”

Clara malah memeluk bantalnya erat.

“Untuk pertama kali dalam hidupku aku benar-benar merasa dipermainkan.”

Malam harinya Pak Agung pulang dan langsung mendengar kabar Clara tidak mau masuk kerja lagi.

Ia segera naik ke lantai atas menuju kamar putrinya.

Pintu dibuka cukup keras.

“Kenapa kamu tidak masuk kerja?”

Clara yang sedang tiduran langsung duduk.

“Ayah...”

“Ayah dengar kamu menolak datang ke perusahaan.”

Clara menunduk.

“Aku tidak ingin ke sana dulu.”

Pak Agung menghela napas kasar.

“Hanya karena laki-laki?”

Clara langsung menggigit bibirnya.

“Dia membohongiku.”

“Dan kamu mau menghancurkan masa depanmu karena itu?”

“Ayah tidak mengerti perasaanku.”

Pak Agung menatap putrinya cukup lama sebelum akhirnya duduk di kursi dekat meja belajar.

“Ayah memang marah pada Tony,” katanya pelan. “Tapi hidup tidak berhenti hanya karena kamu kecewa.”

Clara terdiam.

“Kamu pikir memimpin perusahaan itu mudah?” lanjut Pak Agung. “Kalau hanya patah hati sedikit lalu menyerah, bagaimana nanti menghadapi orang-orang yang benar-benar ingin menghancurkan perusahaan?”

Air mata Clara jatuh lagi.

“Aku malu pada diriku sendiri.”

“Karena mencintai orang yang salah?”

Clara tidak menjawab.

Pak Agung menghela napas panjang.

“Besok kamu tetap masuk kerja.”

“Ayah...”

“Tidak ada bantahan.”

Clara mengepalkan tangannya.

“Aku tidak mau bertemu Tony.”

“Kalau begitu abaikan dia.”

Clara menatap ayahnya dengan mata merah.

“Ayah bisa bicara semudah itu karena Ayah tidak dipermainkan.”

Pak Agung diam beberapa detik.

Lalu suaranya melembut sedikit.

“Dalam bisnis, orang seperti Tony selalu ada.”

Clara menunduk lagi.

“Ayah hanya tidak ingin kamu hancur karena satu orang.”

Setelah mengatakan itu Pak Agung berdiri dan keluar dari kamar.

Clara kembali rebahan sambil memeluk bantalnya erat.

Ponselnya kembali bergetar.

Tony lagi.

Dengan marah Clara langsung mematikan ponselnya sepenuhnya lalu melemparkannya ke meja.

Ia memejamkan mata sambil menahan tangis.

Sementara itu di apartemennya, Tony duduk sendirian sambil meminum whiskey. Jas mahalnya masih belum diganti sejak pulang kerja.

Ia menatap lampu kota dari jendela apartemen dengan wajah dingin.

“Semua gara-gara Clara,” gumamnya pelan.

Namun beberapa detik kemudian ia malah tersenyum tipis.

“Tidak masalah.”

Ia mengambil ponselnya lagi dan melihat foto Clara.

“Aku masih belum kalah.”

Tatapannya berubah licik.

“Kalau aku berhasil membuatnya memaafkanku, semuanya bisa kembali lagi.”

Tony lalu bersandar santai di kursinya.

Jabatan memang turun.

Akses dana memang hilang.

Namun selama Clara masih bisa ia dapatkan, peluangnya belum benar-benar tertutup.

Dan manusia seperti Tony tidak pernah berhenti bermain.

Bahkan setelah papan catur terbakar sekalipun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!