Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Prolog : Akad 5 Menit

KUA Kecamatan Setiabudi. 18 Juli 2026. Jam 10.05.

Ruangannya panas. AC mati. Kipas angin nyala tapi suaranya lebih kencang daripada anginnya. Di meja ada toples kue khong guan isi rengginang. Dindingnya poster "Sakinah Mawaddah Warahmah" yang pojoknya sudah ngelotok.

Penghulu buka buku nikah, batuk sekali. "Kita mulai ya. Saksi lengkap?"

Saksi satu, Ibu Ratna, 60 tahun, pakai gamis biru. Sehat, tegas. Tangannya genggam tasbih erat.

Saksi dua, dr. Hendra Amartya, 62 tahun, pemilik RS Sentral Nusantara. Jas mahal, dasi merah, jam Rolex. Wajahnya datar, tapi jempolnya getar mengetuk meja. Malu.

Pengantin pria, dr. Alvian Wira, 35 tahun. Kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, sepatu pantofel pinjaman. Rambut rapi, mata tenang.

Pengantin wanita, dr. Clarissa Amartya, Sp.JP, 32 tahun. Datang langsung dari jaga IGD. Jas putih masih dipakai, di dalamnya kaos hitam polos. Rambut diikat asal, tidak pakai makeup. Stethoscope masih melingkar di leher, di tangan ada map, isinya jadwal visite siang ini.

Tidak ada keluarga besar. Tidak ada foto. Tidak ada janur kuning. Hanya sopir Bu Diany yang disuruh tunggu di luar sambil ngedumel.

__

Tiga minggu sebelumnya. Klinik Aditya Medika, Tebet.

Tanah wakaf 200 meter. Bangunan semi permanen, triplek, seng. Tapi di sanalah 200 KK warga Kampung Rawa datang berobat. Setiap hari 40-60 pasien, gratis tanpa biaya.

Pagi itu, tiga mobil hitam terparkir di depan klinik. Delapan orang keluar dari dalamnya. Jas rapi, kacamata hitam, paling depan adalah bos mereka, Bos Rudi, developer. Sedangkan di belakangnya para debt collector bertubuh sangar nan kekar, kumpulan preman bayaran.

"Dok," Bos Rudi ketuk meja Alvian yang lagi jahit luka anak kecil. "Tanah ini sudah dibeli perusahaan saya dari ahli waris tidak kurang dari 1 Milyar. Minggu depan paling lambat, kamu harus kosongkan tempat ini atau saya kosongkan secara paksa."

Alvian selesai jahit, memberi permen ke anak itu, baru nengok tanpa reaksi yang berlebihan. "Ini tanah wakaf. Yang punya sudah komitmen tanahnya dibangun klinik. Ada akta yang sah," tuturnya.

"Akta bisa dibatalin, Dok. Yang punya tanah sudah mati dan ahli warisnya yang sekarang sudah tanda tangan." Bos Rudi tersenyum. "Lawan saya, klinik ini akan tetap saya tutup. Kamu saya penjarakan penyerobotan lahan. Warga di sini mau berobat ke mana?"

Malamnya, klinik dilempar molotov. Meskipun kecil dan padam dengan cepat, tetapi pesan itu dengan cepat sampai ke warga. Mereka panik, berkumpul di depan klinik takut tempat itu akan digusur.

Ibu-ibu nangis, bapak-bapak berkeluh kesah. "Dok, kalau klinik tutup anak saya berobat ke mana? Puskesmas jauh, Dok."

Alvian berdiri di depan warga. Paling sedikit ada sekitar 200 orang. "Tenang, Bu, Pak. Klinik nggak akan tutup. Saya janji."

Namun bicara lebih gampang daripada mewujudkannya. Alvian pergi ke LBH, tapi ditolak karena tidak ada uang. Ke polisi, disuruh mediasi. Ke notaris, biaya balik nama sangat mahal, nggak punya. STR-nya saat ini masih hidup, tapi SIP klinik belum jadi karena berdiri di atas tanah sengketa.

Dia bisa saja menghabisi 8 preman itu malam ini. Gampang. Tapi besok datang 20 lagi. Dan kalau dia bunuh orang, Ibu Ratna di Bekasi siapa yang jaga? Dia masuk penjara, warga tetap kehilangan klinik.

Hari keempat. RS Sentral, parkiran.

Alvian saat itu sedang mengantar Ibu Ratna untuk kontrol jantung. Penampilannya yang tenang, jas dokter umum yang lusuh, membawa kresek isi rontgen, dengan segera menarik perhatian Hendra Amartya yang bersiap masuk ke mobilnya.

"Apa dia juga dokter di sini? Wajahnya tampak asing."

Spontan dr. Hermawan, kepala tim bedah yang berdiri di samping ikut memperhatikan Alvian. "Bukan, Pak Hendra. Dia bukan dokter di sini. Jika tidak salah namanya Alvian Wira. Dia buka klinik di daerah Tebet untuk warga kurang mampu di sekitarnya. Dia cukup punya kemampuan, tapi sayang, kliniknya mungkin akan tutup karena bermasalah dengan developer."

"..."

Hendra diam beberapa saat. Gosip di IDI sudah sangat kelewatan. Mengatakan anaknya tidak laku, membuatnya sangat malu. Dia berpikir untuk mencarikan suami untuk anaknya sebelum Munas bulan depan. Sudut bibirnya terangkat samar seperti telah menemukan apa yang ia cari sejak lama.

___

Di depan ruang kontrol, Alvian hanya duduk di kursi tunggu sampai seorang pria datang kepadanya. Pria setengah baya itu berdiri tepat di depannya, tersenyum sambil mengulurkan tangan.

"Alvian Wira, kan? Saya dr. Hendra, kepala rumah sakit ini. Ada yang ingin saya bicarakan, berdua, di ruangan saya."

Alvian bahkan tidak mengenal Hendra. Dia sempat berniat mengabaikan pria itu sampai mendengar identitasnya sebagai kepala rumah sakit. Dalam hati berpikir, orang ini mungkin punya kemampuan untuk membantu masalahnya.

Mereka pun pergi ke ruang direksi.

"Sudah nikah?"

"Belum."

Hendra tersenyum dan berjalan ke arah meja. Mengambil sebuah foto dari dalam berkas. "Saya butuh mantu seorang dokter. Ini anak saya, Clarissa. 32 tahun, Sp.JP. Belum nikah. Bagaimana menurut kamu?"

Alvian kaget. "Bapak serius membicarakan hal ini?"

"Tentu saja. Syaratnya gampang. Kamu nikah sama Clarissa. Tinggal serumah, pisah kamar atau tidak terserah kalian. Setelah dua tahun mau cerai atau tidak juga terserah kalian. Setelah nikah, saya akan beli tanah sengketa tempat klinik kamu berdiri. 2 Milyar. Akan saya hibahkan atas nama kamu. Dengan begitu developer tidak akan berani macam-macam. Mereka juga akan takut dengan saya. Tapi yang perlu kamu ingat, jika kamu bercerai sebelum dua tahun, kamu harus membayar kompensasi 5 milyar. Sebagai jaminan agar kamu tidak macam-macam dengan anak saya."

Alvian menatap dr. Hendra. Pada saat yang sama dia mengingat muka warga yang menangis. Mengingat Ibu Ratna yang sendirian jikalau dirinya dipenjara.

"Baiklah. Saya setuju."

Ada savana di padang pasir. Alvian sangat bodoh jika menolaknya.

___

Seminggu sebelum akad. RS Sentral, Lorong IGD.

"Apa? Nikah? Sama dokter lepas yang kliniknya bahkan hampir digusur? Tidak, Pa, apa Papa bercanda?" Clarissa berdiri, map dibanting. "Aku tahu Papa pengen aku cepat menikah. Pengen punya menantu dokter, tapi juga tidak perlu mencari sembarang orang seperti ini. Aku tidak mau!"

"Kamu harus memikirkannya. Jika kamu tetap bersikeras, siap-siap saja SIP kamu akan Papa persulit. Kamu tau Papa kenal Kadinkes. Karir kamu akan tamat."

Clarissa menggigit bibir sampai berdarah. "Ini pemerasan."

"..."

___

Kembali ke KUA. 18 Juli 2026. Jam 10.08.

"Ananda Alvian Wira bin Sudarmono," Penghulu mulai. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Clarissa Amartya binti Hendra Amartya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 320 ribu rupiah dibayar tunai."

Alvian menoleh ke Clarissa. Clarissa menatap lurus ke Penghulu. Tidak menoleh.

"Saya terima nikah dan kawinnya Clarissa Amartya binti Hendra Amartya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Alvian. Jelas, tenang, sekali jadi.

"Sah?" tanya Penghulu ke saksi.

"Sah," jawab Ibu Ratna. Tegas.

"Sah," jawab dr. Hendra, cepat.

Penghulu stempel. "Alhamdulillah. Sah. Silakan salaman."

Alvian mengulurkan tangan, Clarissa hanya menatap tangan itu 3 detik. Lalu salaman satu detik. Detik berikutnya langsung dilepas. Dingin dan ketus.

"Foto?" tanya staf KUA sambil bersiap dengan kameranya.

"Tidak usah," jawab Clarissa dan dr. Hendra bersamaan.

Terpopuler

Comments

saniscara patriawuha.

saniscara patriawuha.

mantaffff....

2026-05-15

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog : Akad 5 Menit
2 Bab 1: Suami di KTP, Musuh di IGD
3 Bab 2 : Klinik Gratis dan Sticky Note Kuning
4 Bab 3 : Dokter 8 Detik
5 Bab 4: Pagi Sidang
6 Bab 5 : Sidang Dinkes
7 Bab 6 : Putusan
8 Bab 7 : Pasien Kolaps
9 Bab 8 : Tiket +1
10 Bab 9 : Pesawat ke Bali - Sekamar Berdua
11 Bab 10 : Alvian Unjuk Gigi
12 Bab 11 : Dokter Tanpa Nama
13 Bab 12 : Pantai Nusa Dua
14 Bab 13 : Pasien Mencurigakan
15 Bab 14 : Obat Palsu
16 Bab 15 : Kunjungan Pertama ke Klinik
17 Bab 16 : Pesan Anonim
18 Bab 17 : Penyelidikan BPOM
19 Bab 18 : Petugas Palsu
20 Bab 19 : Paket
21 Bab 20 : Istri Diancam, Suami Turun Tangan
22 Bab 21 : Vigilante, Dokter Alvian Wira
23 Bab 22 : Pria Kacamata Kotak
24 Bab 23 : Aku Suaminya, Kau Siapa?
25 Bab 24 : Malam Pesta
26 Bab 25 : Melawanku? Kau Masih Terlalu Hijau
27 Bab 26 : Akhir Pekan di Lapangan Golf
28 Bab 27 : Hole In One!
29 Bab 28 : Clarissa Demam
30 Bab 29 : Pusat Gosip
31 Bab 30 : Preman Cari Mati
32 Bab 31 : Ikut Ronda Malam
33 Bab 32 : Gudang Produksi Obat
34 Bab 33 : Kekacauan
35 Bab 34 : Dukungan dr. Hendra
36 Bab 35 : Peringatan Tuan Keempat
37 Bab 36 : Satu Ranjang Lagi
38 Bab 37 : Cek Kesehatan
39 Bab 38 : Kontrol Bawa Petaka
40 Bab 39 : Mulai Bawel
41 Bab 40 : Hari Pertama Jadi Asisten
42 Bab 41 : Telepon Teror
43 Bab 42 : Kekacauan di Rumah Sakit
44 Bab 43 : Detik yang Tidak Meledak
45 Bab 44 : Lockdown
46 Bab 45 : Rumor yang Luruh
47 Bab 46 : Klinik Keliling, Suami-Istri Praktek Bareng
48 Bab 47 : Modus Alvian
49 Bab 48 : Hari Kedua
50 Bab 49 : Demam Berdarah Dengeu
51 Bab 50 : Pujian dan Liburan yang Tertunda
52 Bab 51 : Serangan Jantung Bu Diany, Alvian Turun Tangan
53 Bab 52 : Hanya Dokter Klinik
54 Bab 53 : Tidur di Sofa
55 Bab 54 : Baikan dan Pengakuan Clarissa
56 Bab 55 : Ciuman Pertama dan Pagi yang Canggung
57 Bab 56 : Tuan Kedua
58 Bab 57 : Interogasi Singkat
59 Bab 58 : Ancaman
60 Bab 59 : Perburuan
61 Bab 60 : Dari Mangsa Menjadi Pemburu
62 Bab 61 : Tamu Penting dari Italia
63 Bab 62 : Tawaran yang Tak Bisa Ditolak
64 Bab 63 : Meja Operasi Terlarang
65 Bab 64 : Terseret Konflik
66 Bab 65 : Jejak Darah
67 Bab 66 : Salah Paham
68 Bab 67 : Interogasi - part2
69 Bab 68 : Bom Klinik
70 Bab 69 : Mbak Sari Koma
71 Bab 70 : Balas, Mencari Dalangnya
72 Bab 71 : Bukti Penting
73 Bab 72 : Akhir Tuan Pertama
74 Bab 73 : Penyusup
75 Bab 74 : Hukuman yang Pantas
76 Bab 75 : Mbak Sari Siuman
77 Bab 76 : Pasar Malam
78 Bab 77 : Pasar Malam - part2
79 Bab 78 : Malam, Dingin, dan Polisi
80 Bab 79 : Malam Pernikahan yang Tertunda
81 Bab 80 : Klinik Buka Kembali
82 Bab 81 : Hamil?
83 Bab 82 : Bertemu Klien
84 Bab 83 : Gertak Sambal
85 Bab 84 : Skandal
86 Bab 85 : Kejar Sampai Dapat
87 Bab 86 : Mau Lari?
88 Bab 87 : Baik Tidak Mempan, Waktunya Kekerasan
89 Bab 88 : Sosok Asing
90 Bab 89 : Bukan Akhir
91 Bab 90 : Telpon Bu Ratna
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Prolog : Akad 5 Menit
2
Bab 1: Suami di KTP, Musuh di IGD
3
Bab 2 : Klinik Gratis dan Sticky Note Kuning
4
Bab 3 : Dokter 8 Detik
5
Bab 4: Pagi Sidang
6
Bab 5 : Sidang Dinkes
7
Bab 6 : Putusan
8
Bab 7 : Pasien Kolaps
9
Bab 8 : Tiket +1
10
Bab 9 : Pesawat ke Bali - Sekamar Berdua
11
Bab 10 : Alvian Unjuk Gigi
12
Bab 11 : Dokter Tanpa Nama
13
Bab 12 : Pantai Nusa Dua
14
Bab 13 : Pasien Mencurigakan
15
Bab 14 : Obat Palsu
16
Bab 15 : Kunjungan Pertama ke Klinik
17
Bab 16 : Pesan Anonim
18
Bab 17 : Penyelidikan BPOM
19
Bab 18 : Petugas Palsu
20
Bab 19 : Paket
21
Bab 20 : Istri Diancam, Suami Turun Tangan
22
Bab 21 : Vigilante, Dokter Alvian Wira
23
Bab 22 : Pria Kacamata Kotak
24
Bab 23 : Aku Suaminya, Kau Siapa?
25
Bab 24 : Malam Pesta
26
Bab 25 : Melawanku? Kau Masih Terlalu Hijau
27
Bab 26 : Akhir Pekan di Lapangan Golf
28
Bab 27 : Hole In One!
29
Bab 28 : Clarissa Demam
30
Bab 29 : Pusat Gosip
31
Bab 30 : Preman Cari Mati
32
Bab 31 : Ikut Ronda Malam
33
Bab 32 : Gudang Produksi Obat
34
Bab 33 : Kekacauan
35
Bab 34 : Dukungan dr. Hendra
36
Bab 35 : Peringatan Tuan Keempat
37
Bab 36 : Satu Ranjang Lagi
38
Bab 37 : Cek Kesehatan
39
Bab 38 : Kontrol Bawa Petaka
40
Bab 39 : Mulai Bawel
41
Bab 40 : Hari Pertama Jadi Asisten
42
Bab 41 : Telepon Teror
43
Bab 42 : Kekacauan di Rumah Sakit
44
Bab 43 : Detik yang Tidak Meledak
45
Bab 44 : Lockdown
46
Bab 45 : Rumor yang Luruh
47
Bab 46 : Klinik Keliling, Suami-Istri Praktek Bareng
48
Bab 47 : Modus Alvian
49
Bab 48 : Hari Kedua
50
Bab 49 : Demam Berdarah Dengeu
51
Bab 50 : Pujian dan Liburan yang Tertunda
52
Bab 51 : Serangan Jantung Bu Diany, Alvian Turun Tangan
53
Bab 52 : Hanya Dokter Klinik
54
Bab 53 : Tidur di Sofa
55
Bab 54 : Baikan dan Pengakuan Clarissa
56
Bab 55 : Ciuman Pertama dan Pagi yang Canggung
57
Bab 56 : Tuan Kedua
58
Bab 57 : Interogasi Singkat
59
Bab 58 : Ancaman
60
Bab 59 : Perburuan
61
Bab 60 : Dari Mangsa Menjadi Pemburu
62
Bab 61 : Tamu Penting dari Italia
63
Bab 62 : Tawaran yang Tak Bisa Ditolak
64
Bab 63 : Meja Operasi Terlarang
65
Bab 64 : Terseret Konflik
66
Bab 65 : Jejak Darah
67
Bab 66 : Salah Paham
68
Bab 67 : Interogasi - part2
69
Bab 68 : Bom Klinik
70
Bab 69 : Mbak Sari Koma
71
Bab 70 : Balas, Mencari Dalangnya
72
Bab 71 : Bukti Penting
73
Bab 72 : Akhir Tuan Pertama
74
Bab 73 : Penyusup
75
Bab 74 : Hukuman yang Pantas
76
Bab 75 : Mbak Sari Siuman
77
Bab 76 : Pasar Malam
78
Bab 77 : Pasar Malam - part2
79
Bab 78 : Malam, Dingin, dan Polisi
80
Bab 79 : Malam Pernikahan yang Tertunda
81
Bab 80 : Klinik Buka Kembali
82
Bab 81 : Hamil?
83
Bab 82 : Bertemu Klien
84
Bab 83 : Gertak Sambal
85
Bab 84 : Skandal
86
Bab 85 : Kejar Sampai Dapat
87
Bab 86 : Mau Lari?
88
Bab 87 : Baik Tidak Mempan, Waktunya Kekerasan
89
Bab 88 : Sosok Asing
90
Bab 89 : Bukan Akhir
91
Bab 90 : Telpon Bu Ratna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!