"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Frekuensi yang Beradu
Sore itu, Lab Komputer lantai 3 udah sepi. Mahasiswa lain udah pada balik, nyisain suara dengung AC yang stabil dan pendar lampu neon yang agak redup di lorong.
Gua berdiri di depan pintu Lab, narik napas dalem-dalem. Rasanya lebih deg-degan daripada mau ujian susulan Statistik.
Gua buka pintu pelan-pelan. Dedik udah ada di sana. Dia nggak duduk di depan monitor kayak biasanya. Dia duduk di atas meja panjang, meja yang biasanya penuh sama tumpukan kabel sambil meluk gitarnya.
Kakinya satu napak di lantai, satu lagi nekuk. Dia cuma pake kaos oblong item (lagi) dan celana kargo. Sederhana, tapi entah kenapa sore ini dia kelihatan... otoriter.
"Telat lima menit, Rey. Secara statistik, efisiensi latihan kita berkurang empat persen," sapa Dedik tanpa nengok. Dia lagi sibuk nyetem senar gitarnya. Ting... ting...
"Dih, lima menit doang pelit banget!" gua naruh tas gua di kursi. "Gua tadi harus nungguin dosen Akuntansi tanda tangan dulu. Lo kira idup gua cuma buat bambu kuning doang?"
Dedik berenti nyetem senar. Dia natap gua datar dari balik kacamatanya. "Latihan ini bukan buat gua, tapi buat mental lo. Sini, duduk di depan gua."
Gua narik kursi putar dan duduk tepat di hadapan dia. Jarak kita deket banget. Bau kayu dari body gitar akustiknya kecampur sama bau parfum Dedik yang samar.
"Oke, kita mulai dari pernapasan," kata Dedik. "Tutup mata lo."
"Hah? Ngapain pake tutup mata segala? Mau hipnotis gua ya biar gua bayar uang bensin kemarin?"
"Rey, fokus. Logikanya, stage fright itu muncul karena stimulasi visual yang berlebihan. Lo liat orang, lo panik. Kalau lo tutup mata, lo cuma fokus ke audio. Ke gitar gua. Cepetan."
Gua dengus pelan tapi nurut. Gua tutup mata gua. Gelap. Gua cuma bisa denger suara napas gua sendiri yang masih agak buru-buru.
"Tarik napas... buang pelan-pelan. Bayangin lo lagi di Desa Pinus, tapi nggak ada Arlan, nggak ada warga. Cuma ada angin," suara Dedik pelan banget, hampir kayak bisikan.
Tiba-tiba, kedengeran petikan gitar. Jreng... Lembut banget. Dedik mulai mainin melodi pembuka yang dia bikin di hutan kemarin.
"Sekarang, masuk di nada G. Jangan teriak, cukup gumamkan melodinya dulu," perintah Dedik.
Gua mulai gumam pelan. Hmmmm... hmmmm...
"Bagus. Sekarang buka suara lo dikit. Bayangin suara lo itu aliran air yang lewat di sela-sela bambu."
Gua mulai nyanyiin liriknya. Awalnya suara gua masih agak kaku, tapi petikan gitar Dedik bener-bener kayak nuntun jalan gua.
Dia nggak cuma main musik, dia kayak lagi ngajak gua ngobrol lewat senar gitarnya. Tiap kali gua agak meleset, dia bakal neken nada gitarnya lebih kuat buat narik gua balik ke jalur.
Pas gua nyampe di bagian puncak, gua ngerasa merinding sendiri. Gua lupa kalau ini di Lab. Gua lupa kalau gua lagi latihan bareng cowok paling nyebelin se-Fakultas Teknik.
"Cukup," kata Dedik tiba-tiba.
Gua buka mata. Gua liat Dedik lagi natap gua. Bukan tatapan dingin kayak biasanya, tapi tatapan yang... gua nggak tau nyebutnya apa. Kagum? Mungkin.
"Suara lo... lebih stabil dibanding semalam," gumam Dedik. Dia naruh gitarnya di samping. "Tapi lo masih nahan di bagian akhir. Lo takut pecah?"
"Ya iyalah! Suara gua kan bukan suara penyanyi profesional, Ded. Gua takut kalau gua high note malah kedengeran kayak klakson truk."
Dedik turun dari meja. Dia jalan deketin gua, terus dia nyender di meja tepat di depan gua, bikin gua harus dongak.
"Logikanya gini, Rey. Suara itu adalah getaran. Kalau lo ragu, getarannya bakal berantakan. Lo harus percaya sama resonansi tubuh lo sendiri. Sama kayak bambu kuning itu, dia nggak ragu buat getar pas kena angin."
"Ya bambu kan nggak punya urat malu, Ded! Gua manusia!"
Dedik diem sebentar. Dia tiba-tiba ngulurin tangannya dan benerin sehelai rambut gua yang berantakan ke belakang telinga. Gerakannya pelan banget, bikin gua kaku kayak patung.
"Gua bakal ada di sebelah lo pas presentasi nanti," kata Dedik serius. "Gua nggak bakal biarin lo kelihatan buruk di depan mereka. Lo cuma perlu liat gua. Jangan liat juri, jangan liat sponsor. Liat gua aja."
Muka gua bener-bener panas sekarang. Ini orang kenapa sih? Efek begadang di hutan bambu bikin otaknya geser jadi romantis apa gimana?
"I-iya, gua tau. Kan lo yang bawa gitarnya," gua nyoba ngalihin pembicaraan sambil pura-pura sibuk ngerapiin rok gua. "Eh, ngomong-ngomong, lo nggak takut Arlan beneran nyabotase kita lagi?"
Dedik balik lagi ke ekspresi lempengnya. Dia jalan ke komputernya. "Arlan itu cuma variabel pengganggu yang bisa diprediksi."
"Dia lagi sibuk ngerayu anak-anak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik buat bikin 'proyek tandingan'. Katanya dia mau bikin konser amal pake alat musik bambu juga, tapi pake konsep EDM (Electronic Dance Music)."
"EDM? Bambu dipake EDM? Emang masuk?"
"Secara teknis, bisa. Tapi itu bakal ngilangin nilai akustik alaminya. Arlan cuma ngejar hype, dia nggak ngejar data," Dedik neken beberapa tombol di keyboard-nya.
"Biarin aja. Makin dia banyak gaya, makin gampang dia bikin kesalahan."
Tiba-tiba, pintu Lab digedor kenceng banget.
"DEDIK! KELUAR LO!"
Suara Arlan. Lagi. Gua sama Dedik saling pandang. Gua langsung berdiri. "Itu bocah bener-bener nggak punya hobi lain ya selain gangguin kita?"
Dedik jalan ke pintu dan membukanya. Di sana Arlan berdiri bareng beberapa anak UKM Musik yang gayanya udah kayak rockstar gagal. Arlan bawa sebuah brosur gede yang masih bau tinta cetak.
"Liat nih, Ded! 'FESTIVAL HARMONI KAMPUS'," Arlan pamerin brosurnya ke depan muka Dedik. "Minggu depan. Gue udah dapet slot prime time di panggung utama."
"Gue dapet dukungan penuh dari sponsor pusat buat pamerin teknologi bambu digital. Lo sama riset 'manual' lo itu mending mundur aja daripada malu-maluin di depan Rektor."
Dedik ngambil brosur itu, merhatiin sebentar, terus dia balikin lagi ke Arlan. "Festival itu hari Sabtu, kan?"
"Iya! Kenapa? Takut lo?" tantang Arlan.
"Enggak. Gua cuma kasihan sama panitianya," sahut Dedik santai.
"Kasihan kenapa?!"
"Karena mereka bakal liat panggung utama sepi pembaca begitu riset kami dipresentasikan di Aula Utama di jam yang sama."
"Logikanya, orang bakal lebih milih liat penemuan baru daripada liat konser EDM yang bising tapi nggak punya isi."
Muka Arlan merah padam lagi. "Oho, sombong lo ya! Oke, kita liat siapa yang bakal dapet perhatian lebih. Dan Reyna..." Arlan nengok ke gua.
"Lo beneran mau nyanyi buat dia? Lo yakin suara cempreng lo itu nggak bakal bikin riset dia jadi bahan ketawaan?"
Gua mau marah, tapi sebelum gua sempet ngomong, Dedik udah maju duluan. Dia berdiri tepat di antara gua dan Arlan.
"Suara Reyna itu frekuensi yang nggak bakal sanggup lo beli pake duit sponsor lo, Lan," kata Dedik dingin banget.
"Dan gua saranin, lo mending cek lagi kabel-kabel EDM lo. Jangan sampai pas lo main, malah korslet kayak HP gua kemarin."
"Cabut kita!" Arlan ngajak temen-temennya pergi sambil nendang tempat sampah di koridor.
Begitu mereka ilang, gua narik napas lega. Tapi dalem hati gua mulai ciut lagi. Minggu depan? Festival? Presentasi depan Rektor?
"Ded... Arlan tadi bener. Gimana kalau gua beneran bikin malu lo?" tanya gua pelan.
Dedik nengok ke gua. Dia nggak ngomong apa-apa, dia cuma ngeraih tas gitarnya lagi, terus mulai metik satu nada yang sangat tinggi tapi jernih banget.
"Nada ini namanya Harmonics," kata Dedik. "Dia cuma bisa keluar kalau senarnya disentuh dengan cara yang tepat di titik yang tepat. Lo itu kayak nada ini, Rey."
"Lo butuh tekanan yang pas buat keluarin keindahan lo. Dan gua yang bakal mastiin tekanan itu pas."
Gua diem. Gua ngerasa ada sesuatu yang mulai berubah di antara kita. Bukan cuma soal partner riset, tapi ada resonansi lain yang mulai bergetar.
"Dah, balik sana. Udah maghrib," kata Dedik tiba-tiba, balik lagi jadi cuek. "Inget, besok sore latihan lagi. Telat satu menit, gua potong jatah makan siang lo besok."
"DEDIK! LO BENER-BENER YA!"
Gua keluar dari Lab dengan muka cemberut, tapi senyum gua nggak bisa bohong. Ternyata punya Partner Sialan kayak Dedik itu... nggak seburuk yang gua kira.
***
Persaingan makin memuncak menuju Festival Kampus! Arlan main kotor dengan konsep EDM, sementara Dedik dan Reyna bertaruh pada kejujuran suara alam.
Apakah Reyna sanggup tampil di depan Rektor, atau trauma masa lalunya bakal muncul lagi di saat paling krusial?