NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Suasana di teras samping itu mendadak jadi sangat terbuka. Karena mereka berdua memang sudah berteman lama di lingkungan yang bebas, obrolan sensitif seperti ini mengalir begitu saja tanpa ada rasa canggung yang berlebihan, apalagi mereka merasa "aman" karena Reno sedang di masjid.

Celina mengambil sepotong martabak, lalu menatap Raka dengan tatapan menyelidik. "Eh Rak, mumpung sepi nih. Kan lo pernah 'main' ya sama gue waktu itu... nah, jujur deh, di situ yang lo rasain apa sih?"

Raka yang tadinya masih lemas gara-gara kaget soal hamil, sekarang malah garuk-garuk leher yang nggak gatal. "Ya... gimana ya jawabnya. Ya gitu deh, Cel. Namanya juga kita lagi sama-sama emosi dan kalut waktu itu. Tapi ya jujur, gue nggak nyangka aja bakal sejauh itu sama lo."

Celina manggut-manggut. "Terus sebelum sama gue, udah berapa kali lo 'main' sama cewe lain? Selain gue ya?"

Raka terdiam sejenak, kayak lagi menghitung di awang-awang. "Emm... kayaknya ada 8-an cewek kali ya. Tapi ya gitu, mereka semua mantan gue. Gue nggak pernah main sama sembarang cewek yang baru kenal juga sih. Gue masih punya aturan dikit lah kalau soal itu. Kalau lo gimana?"

Celina menyandarkan punggungnya, matanya menatap langit sore dengan tatapan menerawang. "Jujur ya Rak, lo tuh sebenarnya bukan first gue sih. Dulu lo ingat nggak si Akbar?"

Raka langsung mengerutkan kening, ingatannya kembali ke masa-masa kuliah awal di Jakarta. "Oh, mantan lo yang udah meninggal karena kecelakaan itu?"

"Iya," jawab Celina lirih. "Gue first sama dia waktu semester 1. Diem-diem sih di rumah dia waktu itu pas orang tuanya lagi pergi. Kita nggak ada yang tahu kan umur orang gimana, pas dia nggak ada, gue hancur banget. Ya mungkin lo rasain gue masih sempit pas sama lo kemarin karena ya dulu pun gue nggak sesering itu sama Akbar. Ditambah lagi gue ngejomblo 2 tahun kan sebelum akhirnya dijodohin ke sini."

Raka manggut-manggut paham, dia nggak menyangka Celina bakal sejujur itu. "Gue nggak tahu kalau Akbar orangnya. Gue pikir lo beneran 'bersih' sebelum ketemu gue atau Zuhair. Tapi ya pantes sih, lo emang tipe yang kalau udah sayang sama satu orang doang bakal pol-polan."

"Tapi sekarang gue ngerasa jahat banget sama Zuhair," lanjut Celina, suaranya mengecil. "Dia itu bersih, Rak. Sedangkan gue? Gue udah pernah sama Akbar, terus kemarin sama lo. Rasanya kayak gue ini barang bekas yang dipaksain buat dia yang masih baru."

Raka menepuk pundak Celina pelan. "Udah, Cel. Zuhair tadi pagi udah bilang kan? Dia maafin lo. Dia nggak peduli masa lalu lo gimana, yang dia mau itu lo yang sekarang. Lo liat sendiri kan gimana dia belain lo di depan Sarah tadi?"

Raka yang emang dasarnya kepo, langsung condongin badannya dikit ke arah Celina pas Reno masih agak jauh. Suaranya dipelanin lagi, balik ke mode bisik-bisik tetangga.

"Nah, kalau sama si Gus itu gimana? Lo pernah nggak... ya, 'main' juga sama Zuhair selama nikah ini?" tanya Raka sambil menaikkan satu alisnya.

Celina langsung mendengus, dia memutar bola matanya sambil geleng-geleng kepala. "Enggak sih. Belom pernah sama sekali."

"Serius lo?" Raka agak kaget. "Maksud gue, kalian kan udah sah. Dia juga ganteng gitu, auranya berwibawa banget. Masa nggak ada kepikiran ke sana?"

"Ya emang belom," jawab Celina santai sambil nyomot sisa martabak. "Gue belom pengen juga. Lagian lo tahu sendiri kan gimana hubungan gue sama dia awalnya? Isinya cuma berantem, adu mulut, sampe gue kabur ke kamar lo. Mana kepikiran mau ehem sama dia."

Celina terdiam sebentar, lalu lanjut bergumam, "Zuhair juga orangnya nggak maksa. Dia sopan banget, kadang malah gue yang ngerasa aneh sendiri kalau deket-deket dia. Dia tuh kayak ngejaga gue banget, beda sama lingkungan kita di Jakarta yang apa-apa gas aja."

Raka manggut-manggut, dia kelihatan salut. "Hehe, berarti dia beneran gentleman sih. Dia nunggu lo siap mental dulu kayaknya. Bagus deh, berarti lo masih punya 'kesempatan' buat ngerasain momen yang bener-bener sakral sama dia, tanpa bayang-bayang kesalahan kemarin."

"Iya sih," Celina menghela napas, "tapi ya itu, gue masih ngerasa nggak pantes aja kalau inget apa yang udah gue lakuin sama lo. Gue kayak... bingung cara mulainya kalau nanti gue beneran udah siap."

"Ealah, nggak usah dipikir pusing," sahut Raka sambil berdiri karena Reno sudah makin dekat. "Nanti juga ngalir sendiri kalau lo udah beneran sayang. Udah ah, tuh si Reno dateng. Gue balik ke asrama dulu ya, mau lanjut hafalan 'Al-Baqarah' demi neng Arab!"

Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ekspresinya berubah jadi bingung sendiri sambil menatap Celina. Ingatannya kembali ke malam-malam nekat mereka di kamar itu.

"Eh tapi Cel," Raka mengecilkan suara, "gue baru kepikiran. Kan waktu kita 'main' kemarin, gue hampir selalu keluar di dalem terus... kok lo nggak bunting ya? Padahal kan frekuensinya lumayan tuh."

Celina cuma menatap Raka datar, tidak tampak panik atau heran sama sekali. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu dengan santai, lalu menjawab dengan nada filosofis yang jarang-jarang keluar dari mulutnya.

"Yaelah, Rak... rahim mah tempatnya, tapi areanya Tuhan," jawab Celina singkat sambil mengedikkan bahu.

Raka terdiam sebentar, mencerna kalimat itu.

"Maksud gue," lanjut Celina, "lo mau keluar di dalem kek, di luar kek, kalau emang Tuhan belum nakdirin jadi ya nggak bakal jadi. Mungkin ini cara Tuhan biar gue nggak makin hancur di depan Zuhair. Bayangin kalau gue beneran hamil anak lo, udah tamat riwayat gue di sini."

Raka manggut-manggut, merasa omongan Celina ada benarnya juga. "Bener juga sih. Berarti lo masih dilindungi banget ya, Cel. Padahal kita udah nakal banget kemarin."

"Iya, dan itu yang bikin gue ngerasa makin kecil di depan Zuhair," bisik Celina. "Gue dikasih kesempatan kedua dengan cara yang ajaib begini. Makanya gue nggak mau aneh-aneh lagi sekarang."

Reno yang baru saja sampai di dekat mereka melihat suasana serius itu. "Loh, kok mendadak jadi tegang gini obrolannya? Mas Raka belum balik ke asrama?"

"Ini mau balik, Bang!" Raka langsung berdiri, mencoba menetralkan suasana. "Tadi cuma lagi bahas... itu, masalah takdir kehidupan sedikit. Ya udah, gue balik dulu ya. Cel, inget pesen gue, jaga kesehatan biar asam lambungnya nggak bikin panik lagi!"

Raka berjalan menjauh sambil sesekali menoleh, masih merasa heran dengan keberuntungan mereka yang tidak berujung pada kehamilan. Sementara Celina hanya diam memandangi sisa martabaknya, menyadari bahwa "areanya Tuhan" memang benar-benar nyata sedang bekerja dalam hidupnya sekarang.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!