Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
"Loe nggak mau lihat sampai habis? Dia sampai cium aspal gara-gara loe, Ra."
Suara Bara memecah keheningan di dalam ruang kerja pribadinya yang serba canggih. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kulit, tangannya memegang remote kecil sementara matanya tertuju pada monitor raksasa yang menampilkan rekaman drone dan CCTV rahasia di pelataran SMA Garuda. Di sana, Alvaro Pratama masih terlihat meraung di bawah guyuran hujan, tampak seperti pahlawan yang kehilangan dunianya.
Aira berdiri mematung di depan jendela besar yang menghadap ke arah cakrawala kota. Ia tidak menoleh. Wajahnya datar, seolah apa yang baru saja terjadi di sekolah itu hanyalah sebuah berita cuaca yang membosankan.
"Matikan layarnya, Bara. Gue udah nggak butuh liat drama sampah kayak gitu," ucap Aira dingin.
Bara mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan nada suara Aira yang tajam. Ia mematikan monitor, membuat ruangan itu kini hanya diterangi oleh lampu temaram. Bara berdiri, berjalan mendekati Aira hingga ia berada tepat di belakang gadis itu.
"Loe nggak iba? Loe nggak mau maafin dia terus lari balik ke pelukan pangeran loe itu?" tanya Bara, suaranya mengandung nada menyelidik. Ada sedikit ketakutan tersembunyi di balik matanya—ketakutan bahwa Aira akan meninggalkannya sekarang setelah semua kebenaran terungkap.
Aira berbalik. Tatapan matanya yang dulu selalu menunduk penuh ketakutan, kini menatap Bara dengan sorot yang begitu tajam dan berani.
"Maafin?" Aira tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar sangat asing bagi Bara. "Maaf itu terlalu murah buat semua tahun yang hilang di gudang itu, Bara. Buat setiap luka di tangan gue, dan buat setiap kata 'gila' yang dia lempar ke muka gue. Gue belum puas."
Bara menyeringai, ia menyukai apa yang ia lihat sekarang. "Belum puas? Maksud loe?"
"Masih ada dua orang tua yang ngerasa dirinya Tuhan, dan ada satu saudara kembar yang ngerasa dirinya malaikat," desis Aira. Tangannya mengepal kuat. "Mereka belum sadar kalau panggung mereka udah runtuh. Mereka baru ngerasa malu, belum ngerasa hancur sampai ke akarnya."
Bara tertegun sesaat. Ia melihat transformasi besar. Aira yang semula polos, baik hati, dan lemah, kini telah berganti menjadi wanita yang badass. Luka-luka itu tidak membuatnya mati, melainkan membentuk taring yang siap mengoyak.
"Gue suka Aira yang sekarang," bisik Bara, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Aira. "Tapi gue punya satu pertanyaan lagi. Pertanyaan yang paling bikin gue penasaran."
"Apa?"
"Loe... masih cinta sama Alvaro?"
Aira menatap Bara tanpa berkedip. Ia melangkah satu tindak maju, membuat jarak di antara mereka hilang. Aroma maskulin Bara yang menenangkan menyergapnya, namun ia tetap tegak.
"Gue nggak pernah mencintai dia, Bara," ucap Aira tegas. "Dulu, gue cuma mencintai kenangan 'Ai'. Tapi sekarang? Perasaan gue cuma buat seseorang... seseorang yang berani berlumuran darah buat nahan alat bantu napas ibunya, seseorang yang percaya sama gue saat satu dunia bilang gue gila."
Aira membuang muka sesaat, wajahnya sedikit merona namun suaranya tetap terkendali. "Dan jangan tanya lebih lanjut lagi siapa orang itu. Gue nggak mau loe makin besar kepala."
Bara membeku. Jantungnya berdegup kencang secara tidak beraturan. Salting. Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi Sang Serigala sekarang. Ia berdeham keras, mencoba menutupi wajahnya yang mendadak terasa panas, lalu ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap ke arah lain.
"Ya... ya udah. Gue nggak tanya," gumam Bara kikuk. Ia mencoba kembali ke mode cool-nya, tapi seringai bahagia di bibirnya tidak bisa disembunyikan. "Asal loe tahu aja, orang yang loe maksud itu pasti beruntung banget."
"Iya, dia emang beruntung. Tapi dia juga agak bodoh karena nggak sadar-sadar," goda Aira, lalu ia berjalan melewati Bara menuju balkon, meninggalkan Bara yang masih berdiri mematung sambil senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
*
Sementara itu, di kediaman Maheswari, suasana seperti di ujung tanduk.
Ruang tamu mewah itu kini dipenuhi dengan tumpukan dokumen keuangan dan surat panggilan pengadilan. Prasetya duduk dengan kepala di antara kedua tangannya, sementara Ratna terus-menerus menangis histeris sambil memegangi tas-tas bermereknya yang mungkin sebentar lagi akan disita.
"Semua investor menarik diri, Ma! Perusahaan Galaksi benar-benar memutus semua aliran dana! Kita bangkrut total kalau dalam minggu ini nggak ada suntikan modal lima puluh miliar!" teriak Prasetya frustrasi.
Airin turun dari lantai atas, wajahnya pucat tanpa riasan. "Pa, gimana sama kuliahku? Aku sudah daftar di universitas swasta terbaik, aku butuh uang pangkalnya besok."
Prasetya menoleh, menatap putri emasnya itu dengan tatapan yang sangat asing—tatapan transaksional. "Kuliah? Kamu masih mikirin kuliah di saat kita terancam tidur di pinggir jalan, Airin?"
"Tapi Pa—"
"Dengerin Papa," Prasetya berdiri, melangkah mendekati Airin. Suaranya merendah, sarat akan rencana gelap. "Satu-satunya cara biar kita tetap bisa hidup mewah dan perusahaan ini selamat cuma satu. Dan cuma kamu yang bisa bantu."
Airin mengerutkan kening. "Maksud Papa apa? Aku harus apa?"
"Tadi Papa dapet telepon. Ada seseorang... seorang pengusaha besar yang bersedia memberikan dana hibah, bukan pinjaman, sebesar seratus miliar. Tapi dia punya satu permintaan," Prasetya menjeda kalimatnya, ia menatap Airin dari atas ke bawah. "Dia mau makan malam pribadi sama kamu. Hanya kamu."
Airin tersentak. Ia bukan gadis bodoh. Ia tahu apa arti 'makan malam pribadi' bagi pengusaha-pengusaha kaya yang sudah berumur. "Pa! Papa mau jual aku?! Aku ini anak Papa!"
"Airin, sayang... dengar dulu," Ratna menyela, ia menggenggam tangan Airin dengan gemetar. "Ini demi keluarga kita. Kamu mau pakai baju bekas? Kamu mau makan di pinggir jalan? Kamu mau semua teman-temanmu tahu kalau kamu melarat? Kalau kamu bantu Papa kali ini, kamu tetap bisa jadi ratu. Kamu tetap bisa punya segalanya."
Airin terdiam. Bayangan hidup miskin, dihina teman-temannya, dan tidak bisa membeli tas baru terasa jauh lebih menakutkan daripada kehilangan harga dirinya.
"Dia... siapa?" tanya Airin lirih.
"Klien lama Papa. Namanya Pak Burhan. Dia memang agak tua, tapi hartanya nggak akan habis tujuh turunan," Prasetya meyakinkan. "Dandan yang cantik, pakai gaun paling mahal yang tersisa. Ayok, ikut Papa ke restoran sekarang."
*
Di sebuah restoran mewah yang sangat tertutup, Airin duduk berhadapan dengan seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan dengan perut buncit dan tatapan mata yang lapar. Pak Burhan tidak berhenti menyentuh tangan Airin di atas meja, memberikan pujian-pujian menjijikkan yang membuat Airin ingin muntah.
Namun, setiap kali Airin ingin menarik diri, ia teringat wajah Prasetya yang memohon dan bayangan kemiskinan yang mengintai.
"Kamu jauh lebih cantik dari foto-foto yang ayah kamu tunjukkan, Airin," ucap Pak Burhan dengan suara serak. Tangannya mulai merayap ke arah bahu Airin. "Ayahmu bilang kamu butuh bantuan besar. Dan saya adalah orang yang sangat murah hati kepada gadis-gadis cantik seperti kamu."
Airin memaksakan senyum, meskipun hatinya menjerit. "Terima kasih, Pak."
"Setelah ini... saya sudah memesan presidential suite di hotel sebelah. Kita bisa mendiskusikan investasi ayahmu dengan lebih 'nyaman' di sana. Bagaimana?" Pak Burhan menyodorkan sebuah kunci kartu berwarna emas.
Airin menatap kunci itu lama. Di kepalanya, ia melihat wajah Aira yang kini berada di atas angin bersama Bara. Ia merasa iri, ia merasa tidak terima. Jika Aira bisa hidup mewah, kenapa dia harus melarat?
"Baik, Pak," bisik Airin.
Itu adalah awal dari kejatuhan moral Airin Maheswari. Malam itu, di balik kemewahan hotel berbintang, ia menjual sisa-sisa martabatnya demi mempertahankan mahkota palsunya. Ia menjadi simpanan sang konglomerat, menjalani hidup ganda yang sangat rapi. Di depan publik, ia tetaplah Airin yang terhormat, namun di balik pintu hotel, ia hanyalah pemuas nafsu sang investor demi mengalirkan uang ke kantong ayahnya.
Ia tidak tahu, bahwa dari kejauhan, sepasang mata serigala sedang mengawasi setiap gerak-geriknya melalui lensa kamera tersembunyi. Permainan baru saja dimulai, dan Airin baru saja menggali lubang kuburnya sendiri dengan tangannya yang berlumuran lumpur dosa.
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas