NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 - Ibu-ibu Pengajian

Tujuh hari sejak Naura resmi menginjakkan kaki di Pesantren Al-Farizi sebagai istri Gus Azzam. Tujuh hari penuh beradaptasi yang menyakitkan, bangun subuh yang memberikannya migrain, dan kerudung yang tak pernah bisa ia pasang rapi meski sudah menonton sepuluh tutorial di YouTube.

Tapi hari ini adalah hari yang paling Naura takuti. Hari pengajian rutin ibu-ibu jamaah.

"Kamu harus datang, Naura," ucap Azzam saat sarapan, suaranya tenang namun tak menerima bantahan. Ia menyerahkan secangkir teh hangat ke tangan istrinya, teh yang ia buat sendiri, bukan menyuruh Ibu Jamilah, karena ia tahu Naura belum biasa dengan kopi pesantren yang pahit, beda jauh dengan kopi cafenya. "Ini bagian dari kewajiban saya sebagai penceramah, dan kamu sebagai istriku harus hadir di barisan depan."

"Barisan depan?!" Naura hampir tersedak tehnya. "Azzam, aku nggak bisa! Aku nggak hafal doa-doa panjang, aku nggak tahu adab duduknya, dan kerudungku selalu melorot setelah lima menit..."

"Kamu tidak harus hafal doa panjang," Azzam menyeringai tipis, matanya mengunci pada Naura. "Kamu hanya duduk dan mendengarkan. Dan soal kerudung..." Ia meraih sesuatu dari saku jubahnya sebuah brooch hijau zamrud berbentuk daun kecil, sederhana namun elegan. "Pakai ini. Saya membelinya kemarin saat mencari buku di topo souvenir."

Naura menatap brooch itu, lalu menatap Azzam. Hatinya berdebar aneh. Pria ini... pria ini memperhatikan kerudungnya yang sering melorot?

"Terima kasih," bisik Naura, menerima brooch itu dengan jari-jari yang terasa kebas.

Azzam mengangguk, lalu berdiri. Sebelum pergi, ia menepuk puncak kepala Naura sekali, kebiasaan yang sepertinya sudah menjadi ritualnya. "Jangan terlambat. Saya menunggu di masjid."

.

.

.

Masjid besar Pesantren Al-Farizi dipenuhi oleh ratusan ibu-ibu jamaah.

Mereka datang dengan mukena bordir yang berkilauan, tasbih mutiara yang berdenting, dan wewangian minyak attar yang memenuhi udara. Duduk rapi di sajadah-sajadah yang telah disiapkan, mereka berbisik antar satu sama lain, membahas topik yang tak pernah berubah. keilmuan, kebaikan, dan... kehidupan pribadi orang lain.

Naura melangkah masuk melalui pintu samping khusus perempuan, berjalan dengan kaku seperti robot yang salah program. Ia mengenakan gamis chiffon berwarna sage green, kerudung yang disemat brooch hijau zamrud dari Azzam, dan sepasang loafers hitam yang sopan. Penampilannya sudah sepantas mungkin yang bisa ia usahakan.

Tapi saat ia muncul, bisik-bisik itu mulai terdengar.

"Itu istri Gus Azzam?"

"Iya, Naura Mahendra. Yang fotonya viral kemarin."

"Ya Allah, kerudungnya kok kayak gitu? Ndak nyambung."

"Kasian Gus Azzam, dapat istri kampungan pesantrennya..."

Naura menelan ludah, menunduk, dan berjalan menuju barisan depan yang telah disediakan untuk keluarga kyai. Di sana, Ning Salma, ibu Azzam sudah duduk dengan anggun, mengenakankerudung syar'i yang sempurna.

Ning Salma menoleh, dan saat melihat Naura, wajahnya menerimakan senyum yang hangat. Ia menepuk sajadah di sampingnya, memberi isyarat agar Naura duduk di sana.

"Kemarilah, Naura. Duduk di samping Umi," sapa Ning Salma lembut.

Naura hampir menangis karena mendengar nada kelembutan itu. Ia segera berjalan mendekat, duduk di samping ibu mertuanya, dan merasakan dekapan dingin yang sedikit mengendur.

"Kerudungmu bagus," bisik Ning Salma, matanya menatap brooch di dada Naura. "Hadiah dari Azzam?"

Naura mengangguk kecil, pipinya merona.

Ning Salma tersenyum, lalu mengusap punggung tangan Naura. "Umi mau cerita bahwa dulu, Umi juga seperti kamu, Umi bukan anak pesantren. Umi dari keluarga biasa, jauh dari keislaman yang ketat. Saat pertama kali masuk ke pesantren ini, Umi juga diintimidasi oleh ibu-ibu jamaah. Mereka bilang Umi tidak pantas jadi istri Kyai Hanan."

Naura menatap ibu mertuanya takjub. "Serius, Mi?"

"Sangat serius," Ning Salma tertawa pelan, matanya menerawang ke masa lalu. "Tapi Kyai Hanan selalu membela Umi. Dan pelan-pelan, Umi belajar. Bukan karena dipaksa, tapi karena umi ingin menjadi yang terbaik untuk Abi. Kamu juga akan seperti itu, Naura. Umi yakin."

Kata-kata itu menghangatkan dada Naura. Setidaknya, ada satu orang di pesantren ini yang memahaminya.

Tapi kehangatan itu segera pudar saat sebuah sosok melangkah mendekat. Zahra Humaira.

Gadis itu duduk tepat di sebelah kiri Naura, bukan di barisan biasa, tapi di barisan keluarga, karena ia adalah keponakan dari salah satu pengurus pesantren. Cadarnya menutupi wajah, matanya menatap Naura dengan sayup-sayup yang bermakna ganda.

"Assalamu'alaikum, Naura," sapa Zahra, suaranya manis berlebihan. "Alhamdulillah, kamu bisa hadir hari ini. Aku dengar kamu masih kesulitan beradaptasi. Jangan sungkan bertanya padaku ya, aku bisa mengajarkan adab-adab pesantren yang mungkin belum kamu ketahui."

Naura menegang. Ada sesuatu di balik kata-kata Zahra, sesuatu yang ingin menyakiti namun dibungkus oleh kesopanan.

"Terima kasih, Zahra," jawab Naura datar, berusaha tidak menunjukkan emosi. "Aku akan bertanya padamu jika di butuhkan."

Zahra tersenyum, lalu mengalihkan pandangan ke depan, di mana Azzam sudah naik ke mimbar.

.

.

.

Azzam berdiri di mimbar dengan aura yang memukau.

Jubah putihnya bersih, sorbannya rapi, dan wajahnya... wajahnya terlihat seperti dipahat oleh seniman yang tidak punya cacat. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela masjid membingkai siluetnya, membuatnya tampak seperti makhluk dari dimensi lain.

"Nggak adil," batin Naura, mencoba fokus pada ceramah dan bukan pada ketampanan suaminya. "Nggak adil ada manusia tampan itu."

Azzam memulai ceramahnya dengan bacaan Al-Furqan ayat 63, suara baritonnya mengalun merdu, memenuhi setiap sudut masjid.

"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik."

Naura terkesima. Ayat itu... seolah ditujukan langsung padanya. Pada perasaannya akhir-akhir ini. Pada orang-orang yang menyapanya dengan kata-kata keji.

"Jamaah yang dirahmati Allah," suara Azzam menggema, "seringkali kita merasa diri paling suci, paling benar, paling berhak menghakimi orang lain. Kita melihat aurat orang lain, tapi kita lupa menutup aurat lisan kita. Kita melihat kekurangan orang lain, tapi kita lupa memperbaiki kekurangan diri sendiri."

Naura menelan ludah. Ia merasa Azzam sedang menatapnya, meski pria itu sedang berbicara ke arah seluruh jamaah dan pesan itu adalah pelindung yang ia panjatkan untuk istrinya.

"Istriku," lanjut Azzam, dan seluruh masjid menahan napas, karena seorang Gus jarang menyebut istriinya secara terbuka, "adalah manusia. Dia bukan malaikat yang lahir sempurna. Dia adalah perempuan yang sedang belajar, sedang berjuang, dan sedang mencoba menjadi yang terbaik di dunia yang baru baginya. Dan sebagai seorang suami, tugas saya bukan menghakiminya, tapi menuntunnya. Jadi, jika ada di antara kalian yang merasa berhak menghakiminya, ingatlah bahwa Allah lebih mengetahui apa yang ada di hatinya daripada apa yang kalian lihat dari luarnya."

Masjid senyap.

Naura menunduk, matanya memanas. Air mata menggenang, mengancam akan jatuh. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahannya.

Di sampingnya, Zahra mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga berbekas. Kata-kata Azzam itu bukan perlindungan, itu adalah pengumuman perang. Pengumuman bahwa ia akan membela istrinya di depan semua orang.

Batin Zahra, dada berdenyut marah. "Kenapa Gus Azzam Sampai membelanya seperti itu"

Ning Salma mengusap punggung tangan Naura, senyumnya bangga. "Anakku pintar memilih kata-kata, kan?" bisiknya.

Naura hanya bisa mengangguk, tak mampu bersuara.

.

.

.

Ceramah usai. Jamaah mulai bubar, tapi beberapa ibu-ibu tak kunjung pergi. Mereka berkumpul di area serambi masjid, minum teh dan nyemil yang disediakan panitia.

Dan seperti biasa, obrolan mereka tidak jauh dari topik favorit. Naura.

"Ceramah Gus Azzam memang selalu bagus, tapi..." seorang ibu berwajah manis dengan mukena bordir memulai percakapan, suaranya pelan namun cukup keras untuk didengar. "Istrinya beda banget ya. Kebayang nggak nanti kalau ada acara besar pesantren, istri Gus bawa kamera dan ngomong lantur?"

"Iya, tadi kerudungnya aja nggak rapi," sambung ibu lainnya, menyeruput tehnya. "Kasian Gus Azzam, pasti malu."

"Seharusnya Gus Azzam yang ngajarin istrinya dulu sebelum dibawa ke pengajian. Ini kan tempat ibu-ibu yang sudah istiqomah, bukan tempat belajar dasar-dasar."

"Hahaha." Tawa kecil mengalir dari kelompok itu.

Naura, yang sedang berjalan menuju pintu keluar, mendengar semuanya. Kakinya mengeras. Tangannya yang memegang tasbih pemberian Azzam, mengepal kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.

Ia ingin menoleh. Ingin berteriak. Ingin mengatakan bahwa ia juga manusia, bahwa ia sedang berusaha, bahwa ia tidak pernah minta dijadikan bahan ocehan.

Tapi ia mengingat ayat yang baru saja dibacakan Azzam. "Apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik."

Naura menarik napas dalam-dalam, membuangnya perlahan, dan melangkah maju.

Ia berjalan melewati kelompok ibu-ibu itu dengan dagu terangkat dan pandangan lurus ke depan. Ia tidak menatap mereka, tidak tersenyum, tidak pula mengerutkan dahi.

Saat ia melewati mereka, obrolan itu terhenti. Ibu-ibu itu menatapnya, beberapa dengan rasa bersalah, beberapa dengan keheranan, dan ada juga dengan kekaguman.

Di ambang pintu, Azzam sudah menunggu.

Pria itu bersandar di dinding masjid, jubah putihnya bergerak pelan ditiup angin, matanya menatap Naura dengan tatapan yang lembut namun penuh perhatian. Ia mengulurkan tangannya seperti yang selalu ia lakukan.

Naura berjalan mendekat, meletakkan tangannya di atas telapak tangan Azzam, dan membiarkan pria itu memegangnya erat.

"Kamu mendengarnya?" tanya Naura pelan, suaranya stabil meski matanya masih sedikit merah.

Azzam mengangguk. "Saya mendengar semuanya."

"Dan kamu nggak marah?"

"Marah tidak akan mengubah hati mereka," jawab Azzam, menarik Naura berjalan meninggalkan masjid. "Tapi kebaikanmu akan. Caramu tadi melewati mereka dengan tenang... itu lebih kuat dari seribu ceramah."

Naura menatap Azzam, dan untuk pertama kalinya tersenyum kecil, hangat, yang datang dari tempat yang sangat dalam di hatinya.

"Kamu mengajariku banyak hal, Gus," bisik Naura.

Azzam menatapnya, dan sudut bibirnya tertarik ke atas senyum yang hanya untuk Naura, senyum yang menyimpan sejuta kata-kata yang belum siap ia ucapkan.

"Dan kamu mengajari saya bahwa dunia ini lebih indah dari yang kukira," balas Azzam pelan, lalu mempercepat langkah mereka, meninggalkan bisik-bisik dan tatapan di belakang.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!