NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Pagi belum sepenuhnya terang ketika Ratna kembali mengurung diri di kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, ponsel di tangan, ekspresi wajahnya tidak lagi ragu melainkan yakin. Yakin bahwa apa yang akan ia sampaikan adalah kebenaran versinya.

Ia menekan nomor yang sama seperti malam sebelumnya.

“Nyonya,” katanya begitu panggilan tersambung. “Maaf mengganggu pagi-pagi. Tapi saya rasa Nyonya perlu tahu ini segera.”

“Ada apa?” suara Amara terdengar tegang.

Ratna menarik napas, lalu mulai menyusun kalimatnya dengan cermat.

“Semalam… saya memergoki Laura keluar dari arah kamar Pak Haikal.”

Hening.

“Keluar dari kamar Haikal?” ulang Amara pelan.

“Iya, Nyonya,” jawab Ratna mantap. “Saya melihat gadis itu keluar dari kamar dengan kondisi berkeringat, wajah memerah, dan terlihat sangat gugup nyonya.”

Amara terdiam lebih lama kali ini.

“Saya mencoba untuk menegurnya,” lanjut Ratna. “Tapi jawabannya berbelit-belit. Mengaku habis olahraga malam di taman. Namun, sikapnya… terlalu berani menurut saya sebagai pembantu nyonya.”

“Berani bagaimana?” tanya Amara.

“Ia menantang saya, Nyonya,” kata Ratna, menekan kata-kata tertentu. “Bahkan ia terang-terangan menyiratkan bahwa saya sebaiknya tidak mencampuri urusannya dengan Pak Haikal.”

Tarikan napas Amara terdengar jelas. “Kurang ajar gadis murahan itu.”

“Saya khawatir, Nyonya,” ujar Ratna dengan nada prihatin. “Pak Haikal terlihat semakin bergantung padanya. Jika dibiarkan, rumah tangga Nyonya Gita bisa benar-benar terancam.”

“Cukup,” potong Amara dingin. “Saya akan datang pagi ini.”

Ratna menunduk, meski tak terlihat. “Baik, Nyonya.”

Telepon ditutup.

Ratna menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

Sekarang, batinnya, kita lihat siapa yang benar-benar punya kuasa.

Pagi itu rumah Haikal terasa berbeda. Ada ketegangan yang menggantung di udara halus, tapi nyata.

Laura sedang menata meja makan ketika suara mobil berhenti di depan rumah. Ia melirik sekilas ke arah jendela, lalu kembali pada pekerjaannya. Namun langkah kaki yang terdengar di teras membuatnya berhenti.

Pintu depan terbuka.

“Nyonya,” sapa Ratna cepat, hampir berlari kecil. “Silakan masuk.”

Laura menoleh.

Amara berdiri di ambang pintu, mengenakan busana rapi dengan aura yang tak terbantahkan. Tatapannya langsung menyapu ruangan dan berhenti pada Laura.

Bukan tatapan marah.

Tatapan menilai.

“Pagi,” kata Amara singkat.

“Selamat pagi, Bu,” jawab Laura sopan, menunduk sekilas.

Amara tidak membalas. Ia melangkah masuk, duduk di sofa utama tanpa diminta.

“Di mana Haikal?” tanyanya.

“Pak Haikal masih bersiap-siap, Bu,” jawab Laura.

Amara mengangguk tipis. “Panggil dia.”

"Baik Bu, akan saya panggilkan."

Laura berbalik menuju tangga. Ratna berdiri di samping sofa, wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir yang dibuat-buat.

“Nyonya,” katanya pelan, “saya benar-benar takut situasi ini semakin tidak terkendali.”

Amara menatapnya. “Tenang. Seorang Mama tidak akan membiarkan rumah tangga putri nya dihancurkan oleh seorang pembantu.”

Kata Mama itu diucapkan dengan tekanan.

Laura mendengar kalimat itu dari kejauhan. Ia berhenti sejenak di anak tangga, lalu melanjutkan langkahnya tanpa ragu.

Haikal turun dengan setelan kerja rapi. Ia tampak terkejut melihat Amara duduk di ruang tamunya.

“Mama?” alisnya terangkat.

“Ada apa pagi-pagi begini?”

Amara berdiri. “Mama ingin bicara.”

“Sekarang?” tanya Haikal.

“Aku sebentar lagi berangkat.”

“Justru karena itu,” jawab Amara. “Ini penting.”

Haikal menoleh ke Laura. “Laura, kamu bisa...”

“Saya di dapur saja, Pak,” potong Laura tenang.

Ia melangkah pergi, meninggalkan mereka namun tetap dalam jarak dengar.

Amara menatap Haikal tajam. “Mama dapat laporan yang mengkhawatirkan.”

Haikal menghela napas. “Tentang apa ma?”

“Apalagi kalau bukan tentang Pembantu barumu itu,” kata Amara tanpa basa-basi.

“Laura.”

Haikal mengerutkan kening.

“Laura?”

“Ia melewati batas,” lanjut Amara. “Masuk kamar kamu malam-malam. Dia sudah bersikap tidak pantas. Apa yang kalian lakukan malam-malam di kamar, saat Gita tidak ada.”

Ratna mengangguk di samping, memperkuat tuduhan itu dengan diamnya.

Haikal terdiam sejenak, berusaha untuk tenang agar Amara tidak curiga. Lalu tertawa kecil bukan mengejek, melainkan heran.

“Siapa yang bilang begitu sama mama?” tanyanya.

“Sumbernya tidak penting,” jawab Amara. “Yang penting Mama ingin kamu berhati-hati.”

Haikal menatap Ratna. “Kamu?”

Ratna menunduk. “Saya hanya melaporkan apa yang saya lihat, Pak.”

Haikal menarik napas panjang. “Yang kamu lihat… apa?”

Ratna ragu sepersekian detik. “Laura keluar dari arah kamar Bapak dengan kondisi...”

“Cukup,” potong Haikal tegas.

Suasana mendadak menegang.

Amara menatapnya tajam. “Haikal, jangan ada yang kamu tutupi dari mama. Mama hanya ingin melindungi kamu dan Gita.”

“Melindungi atau mengatur?” tanya Haikal pelan.

Amara terdiam.

“Laura tidak melakukan apa pun yang melanggar,” lanjut Haikal. “Dan bahkan kalau pun ada hal pribadi itu urusan saya.”

Amara mengangkat suara. “Itu menyangkut rumah tangga putriku!”

Haikal melangkah maju satu langkah. “Dan ini hidup saya.”

Kalimat itu jatuh berat.

Ratna menatap Haikal tidak percaya.

“Mama tidak ingin ikut campur,” kata Amara lebih dingin, “kalau tidak ada alasan nya.”

“Masalahnya dimana,” jawab Haikal, “Mama selalu merasa ada alasan.”

Hening menyergap ruang tamu.

“Laura menjalankan tugasnya dengan baik,” lanjut Haikal, suaranya terkendali. “Saya nyaman dengan pekerjaannya. Itu saja.”

Amara menajamkan mata. “Nyaman sampai sejauh apa?”

Haikal menoleh ke dapur ke arah Laura lalu kembali menatap Amara.

“Sejauh saya merasa tenang di rumah saya sendiri, merasa di pedulikan dan di layani dengan baik. Selama ini putri mama tidak pernah mengurus saya, apalagi melayani saya layaknya seorang suami. Dia terlalu sibuk dengan karir dan teman-teman nya. Sehingga mengabaikan tugas ya sebagai seorang istri.” katanya.

Ratna tersentak.

Amara membeku.

“Kamu membelanya,” kata Amara pelan.

Haikal menghela napas. “Saya membela hak saya untuk tidak diawasi di rumah sendiri.”

“Kamu lupa posisi Mama?” tanya Amara.

“Saya tahu posisi Mama,” jawab Haikal. “Tapi Mama lupa posisi Mama dalam hidup saya.”

Kalimat itu seperti tamparan tak kasat mata.

“Urusan rumah tangga saya dan Gita,” lanjut Haikal, “adalah urusan kami. Bukan Mama. Bukan Ratna. Apalagi laporan-laporan yang belum tentu benar.”

Ratna membuka mulut. “Pak...”

“Cukup, Bu Ratna,” potong Haikal tajam. “Tugas anda membersihkan rumah. Bukan mengawasi saya.”

Ratna terdiam, wajahnya pucat.

Amara menatap Haikal lama. “Kamu berubah.”

“Mungkin,” jawab Haikal. “Atau mungkin Mama baru menyadarinya sekarang.”

Haikal mengambil tas kerjanya. “Saya harus berangkat.”

Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti.

“Satu hal lagi,” katanya tanpa menoleh. “Tolong jangan datang ke rumah saya tanpa pemberitahuan lagi.”

Pintu tertutup.

Setelah Kepergian Haikal

Keheningan menyelimuti ruang tamu.

Ratna menunduk. “Nyonya… saya tidak menyangka Pak Haikal akan...”

Amara mengangkat tangan. “Cukup.”

Tatapan Amara kini berbedabukan hanya cemas, tapi terusik.

“Gadis itu,” gumamnya. “Sudah terlalu jauh.”

Di dapur, Laura berdiri tenang, menuang air minum. Wajahnya datar, nyaris tak menunjukkan emosi.

Namun di balik ketenangan itu, ia tahu satu hal, Haikal baru saja menarik garis.

Dan tanpa ia sadari

ia menarik garis itu untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!