Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.
Setelah itu Pak Rahman bekerja seperti biasa. Tenang, telaten, tanpa menunjukkan keanehan apa pun, seakan apa yang tadi ia rasakan adalah hal biasa karena sumur itu memang sudah tua.
Para pekerja pun sama, bagi mereka, itu hanya sumur tua yang perlu dirapikan.
Tak lebih, tak ada yang merasa aneh atau merasa ada hal yang mencurigakan.
Tapi tidak dengan Zee yang merasa sedikit berbeda. Dia berdiri beberapa langkah dari sumur itu dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Udara di sekitarnya, terasa berbeda, dingin dan terasa sunyi. Padahal ada suara para pekerjaan masih terdengar jelas.
Zee matanya tanpa sadar kembali tertuju pada satu titik, tepat di rumah sumur yang sudah jadi itu. Pintu tertutup rapat, namun bayangan dari foto itu terus menghantui pikirannya.
Pintu transparan yang bisa terlihat melalui kamera. Tangannya perlahan menggenggam kamera analog itu, Dia tidak berniat mengunakannya.
Tapi rasa penasarannya itu justru semakin kuat. Menjelang sore, Zee memperhatikan dengan diam. Entah kenapa, saat pintu kayu dipasang, jantungnya berdegup sedikit cepat.
Seolah, pintu itu bukan hanya menutup sumur, tapi juga seakan melindungi sesuatu yang besar di dalam sumur tersebut.
Dia mengalihkan pandangannya, mencoba menenangkan dirinya. Tanpa sadar Dia kembali mengangkat kamera, mengarahkan ke rumah sumur yang sudah tertutup rapat, tangannya sedikit gemetar.
KLIK...KLIK...
Suara rana terdengar pelan. Zee menunggu beberapa detik terasa begitu panjang. Saat hasil cetakan mulai muncul, Dia langsung mengambilnya.
Dug... Dug... Dug..
jantungnya berdegup kencang, nafasnya cepat. Pintu transparan itu masih ada, kali ini tidak lagi berdiri sendiri di ruang kosong. Tapi berdiri tepat di pintu kecil rumah sumur.
Seolah-olah, bangunan yang baru saja dibuat, menjadi tempatnya. Dan yang membuat Zee semakin membeku, pintu transparan itu kini terlihat lebih jelas dari sebelumnya.
Lebih nyata, dan celahnya sedikit terbuka. Lalu Zee menatap foto itu tanpa berkedip, perlahan Dia mengangkat wajahnya kembali untuk melihat langsung ke arah pintu rumah sumur itu dan semuanya tampak normal seperti biasa saja.
Hanya rumah kecil sederhana dengan pintu kayu di depannya. Tidak ada yang aneh atau berbeda. Dalam hatinya, Zee tau. Apapun yang ada di sana belum selesai.
Zee tidak langsung bergerak. Dia masih berdiri di tempatnya, memegang foto itu dengan tangan yang perlahan mulai gemetar lagi.
Pintu transparan itu kini berada tepat di depan pintu rumah kecil yang bahkan baru saja di bangun beberapa jam lalu. Seolah-olah apa pun itu, selalu menyesuaikan dirinya dengan perlahan, diam, dan seakan mengikutinya.
Tangannya turun perlahan, namun matanya masih terpaku pada foto itu. " ini, bukan kebetulan saja," bisiknya nyaris tak terdengar.
"Sudah hampir selesai, Nak!". Suara Pak Rahman memecahkan ketegangannya.
Zee tersentak kecil, lalu buru-buru menyembunyikan foto itu ke dalam saku celananya.
"Iya, Pak..." jawabannya, berusaha terdengar biasa saja.
Menjelang sore, pekerjaan benar-benar selesai. Gudang tampak lebih kokoh, bersih, rapi, dan bisa digunakan kembali.
Sementara sumur kini tertutup oleh bangunan kecil dengan pintu kayu sederhana di depannya, semua terlihat normal.
"Kalau ada apa-apa lagi, kabari saja ya, Nak," ujar Pak Rahman sebelum pergi.
"Iya, Pak. Terima kasih banyak."
Zee tersenyum tipis, meski pikirannya tidak benar-benar di sana.
Suara motor Pak Rahman dan pekerjanya semakin menjauh, dan rumahnya kembali sunyi.
Langit mulai menggelap. Cahaya sore perlahan menghilang, diganti dengan bayangan malam yang merambat masuk ke sudut halaman.
Zee berdiri di ambang pintu belakang. Matanya terus tertuju pada bangunan kecil sumur.
Diam dan tidak bergerak, sehingga entah kenapa kehadirannya terasa berat, seperti ada sesuatu di dalamnya.
Zee menggenggam kamera lebih erat. "Sekali lagi saja," gumamnya pelan. Langkahnya terasa berat saat Dia mendekat, satu langkah, dua langkah semakin dekat. Udara di sekitarnya mulai terasa dingin, bahkan lebih dingin dari sebelumnya.
Dia berhenti tepat di depan pintu kecil itu. Tangannya terangkat perlahan, hampir menyentuh gagang pintu. Namun Dia berhenti, jari-jari tangannya gemetar dan perasaan aneh semakin kuat.
Seakan ada sesuatu di balik pintu itu, yang juga sedang menunggu. Sehingga membuat Zee mundur setengah langkah. Nafasnya mulai tidak teratur, walaupun tangannya masih gemetar, Dia tetap mengangkat kamera mengarahkannya tetap ke pintu kecil itu.
KLIK... KLIK...
Suara rana terdengar lebih keras dari biasanya. Zee menunggu hasil fotonya, waktu terasa berhenti. Detik demi detik terasa seperti menekan dadanya, hingga akhirnya, foto itu muncul dengan sangat perlahan.
Zee menatapnya, dan saat foto itu sepenuhnya terlihat, dunianya seakan berhenti sejenak. Pintu transparan terbuka lebih lebar, tak ada lagi hanya cuman celah tipis.
Kini cukup untuk melihat ke dalam, masih gelap, namun bukan gelap seperti biasanya Dia melihat. Ruang tanpa dasar dan tanpa cahaya.
Di sana, di kedalaman kegelapan itu, Zee melihat sesuatu yang samar, seperti bayangan.
Dada Zee berdegup kencang, tubuhnya terasa kaku membuat matanya tak bisa berpaling dari bayangan di pintu sumur.
Tiba-tiba... Zee tersentak mundur, foto di tangannya hampir terjatuh ke bawah. "Tidak..." ujar dengan suara yang bergetar.
Dia menatap langsung ke pintu kayu di depannya, masih tertutup rapat, diam dan tidak ada apa-apa. Namun tiba-tiba ada suara gemericik air seperti jatuh dari tempat yang tinggi.
Zee tersentak kaget dan tubuhnya seketika membeku, suara itu berasal dari dalam pintu sumur. Dengan keberanian yang Dia kumpulkan sedikit demi sedikit. Zee mengangkat tangannya. Jari-jarinya gemetar saat menyentuh gagang pintu yang terasa dingin.
Zee coba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada apa-apa di dalamnya. Lalu dengan satu tarikan nafas, Zee membuka pintu itu.
CEKLEK
Pintu kayu terbuka perlahan, tidak ada yang aneh, tidak ada suara air dan tidak ada bayangan. Hanya ruang kecil di dalam bangunan dengan sumur tua yang sama, kosong, gelap dan sunyi.
Zee terdiam dengan matanya yang menyapu setiap sudut dan ternyata tidak ada siapa pun. Dia menghela nafas panjang dan sedikit lega.
"Ternyata, cuman perasaanku saja." ucapnya pelan sambil menyakinkan dirinya sendiri.
Namun ada sesuatu yang membuatnya tidak langsung menutup pintu, ada dorongan aneh yang pelan, halus dan kuat untuk melihat lebih dalam.
Zee melangkah kakinya kedalam mendekati bibir sumur, udara di dalamnya terasa lebih dingin dari luar.
Saat Zee berdiri di tepi sumur dan menatap ke dalam, masih gelap dan kosong seperti sebelumnya. Namun kali ini, Dia tidak langsung berpaling.
Matanya mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan di dalamnya dengan perlahan, kemudian sesuatu mulai terlihat. bukan di permukaan atau di dinding sumur, tapi di dalam dasar sumur.
Zee sedikit memiringkan kepalanya, memfokuskan pandangan dan saat itulah jantungnya seperti berhenti berdetak. Karena di dasar sumur, tidak hanya kegelapan di sana, tapi ada sesuatu, sebuah bentuk samar namun jelas.
Sebuah pintu transparan dan tidak seperti di foto, pintu itu benar-benar ada di sana. Nyata di dalam sumur berdiri tegak di dasar sumur. Dan pintu itu tidak lagi tertutup tapi terbuka sedikit, disertai cahaya gelap yang pekat. Seolah mengarah ke tempat yang tidak seharusnya ada.
Zee mundur sedikit kebelakang, "ini... benar-benar ada." batinnya.