NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Dunia yang Berbeda

Seminggu berlalu sejak kesepakatan itu ditandatangani. Waktu berjalan begitu cepat, seolah berlari mengejar tanggal pernikahan yang semakin dekat. Bagi Citra Lestari, setiap detik yang berlalu terasa semakin menekan, membawa perubahan besar dalam hidupnya yang selama ini teratur dan tenang. Sebagai seorang dokter yang bekerja di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, ia biasa hidup dengan jadwal yang ketat, antara dinas jaga, operasi, dan pemeriksaan pasien. Namun kini, di samping tanggung jawabnya menyelamatkan nyawa, ia harus menyiapkan diri untuk menjadi istri dari seorang perwira tinggi yang penuh misteri dan kebencian.

Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah ikut merasakan suasana hati Citra yang sedang gelisah. Ia tiba di rumah sakit lebih awal dari biasanya, mengenakan seragam dokter berwarna putih bersih, lengkap dengan stetoskop yang melingkar di lehernya. Wajahnya yang cantik dan lembut terlihat sedikit lelah, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena pikiran yang terus berkecamuk semalaman. Bayangan wajah dingin Putra Setiawan tak pernah lepas dari ingatannya, begitu pula dengan kalimat ancaman tersirat yang diucapkan pria itu di pertemuan terakhir mereka.

"Selamat pagi, Dokter Citra," sapa seorang perawat yang berpapasan dengannya di lorong rumah sakit. Wanita muda itu tersenyum sopan dan mengangguk, meski senyum itu tak sampai ke matanya.

"Selamat pagi, Suster Rina," jawab Citra pelan. Ia berjalan menuju ruang ganti, berusaha menenangkan diri. Di sini, di tempat ia bekerja, ia merasa aman dan berharga. Di sini, ia dikenal sebagai dokter yang cakap, lembut, dan penuh dedikasi. Namun, di luar pagar rumah sakit, ia adalah putri keluarga Lestari, keluarga yang ternoda masalah, dan calon istri seorang pria yang menganggap seluruh keluarganya sebagai musuh bebuyutan.

Citra menghela napas panjang sambil menatap pantulannya di cermin. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu? tanyanya dalam hati. Kenapa kebencian itu begitu pekat terpancar dari mata Mas Putra? Apa ayah benar-benar melakukan kesalahan besar hingga harus ditebus dengan pernikahan ini?

Ia tidak pernah berani bertanya lebih jauh pada orang tuanya. Setiap kali ia mencoba membahas masa lalu atau hubungan keluarganya dengan keluarga Setiawan, ayahnya selalu mengalihkan pembicaraan dengan wajah tertunduk sedih, sementara ibunya hanya akan menangis diam-diam. Hal itu justru membuat rasa penasaran dan ketakutan Citra semakin memuncak. Ia merasa seperti melangkah masuk ke dalam gua gelap tanpa tahu apa yang menunggunya di ujung sana.

Siang harinya, saat Citra sedang sedang memeriksa seorang pasien di ruang rawat inap, suara riuh rendah terdengar dari arah pintu masuk bangsal. Beberapa perawat dan staf rumah sakit tampak sibuk bergerak, dan ada nada hormat yang terasa dari percakapan mereka. Citra yang sedang memeriksa denyut nadi pasiennya sedikit menoleh, penasaran dengan keributan yang tiba-tiba itu.

"Siapa yang datang, Bu?" tanya pasiennya, seorang bapak tua yang sedang dirawat karena masalah jantung.

"Sepertinya ada pejabat tinggi yang berkunjung, Pak. Mungkin inspeksi mendadak dari pusat," jawab Citra sambil tersenyum, kembali fokus pada catatan medis di tangannya. Namun, belum sempat ia melanjutkan tulisannya, suara langkah kaki yang berat dan berirama mendekat ke arah ruangan itu membuat tubuhnya menegang.

Ketika ia mengangkat wajahnya kembali, napasnya seakan tertahan di tenggorokan.

Di ambang pintu, berdiri sosok yang sangat ia kenal atau lebih tepatnya, sosok yang kini menjadi bayang-bayang dalam hidupnya. Putra Setiawan.

Pria itu mengenakan seragam dinas lengkap, lebih gagah dan berwibawa dari sebelumnya. Di dadanya, deretan lencana dan tanda jasa berkilauan, bukti kehebatan dan pengabdiannya di militer. Di belakangnya, ada beberapa orang berpangkat lebih rendah yang mengikutinya dengan sikap tegap dan penuh kewaspadaan. Wajah Putra sama dingin dan kaku seperti yang diingat Citra, matanya yang tajam memindai ruangan itu dengan pandangan yang mengintimidasi, seolah tidak ada satu pun hal yang luput dari perhatiannya.

Saat mata mereka bertemu, waktu seakan berhenti berputar. Tatapan Putra terkunci tepat di manik mata Citra, tanpa kedip, tanpa ekspresi hangat sedikit pun. Bagi orang lain, mungkin mereka hanya melihat seorang perwira tinggi dan seorang dokter yang kebetulan bertemu. Namun bagi Citra, tatapan itu membawa ribuan arti—penuh tekanan, rahasia, dan peringatan diam-diam.

"Letnan Kolonel Setiawan," sapa Kepala Rumah Sakit yang tiba-tiba muncul dari belakang rombongan itu, membungkuk hormat. "Selamat datang di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Kami merasa sangat terhormat Bapak berkenan meninjau fasilitas kami hari ini."

Putra mengangguk singkat, pandangannya masih belum lepas dari wajah Citra yang kini tampak gugup. "Terima kasih. Saya hanya ingin memastikan fasilitas dan pelayanan di sini berjalan sesuai standar yang ditetapkan, mengingat banyak prajurit dan keluarga mereka yang dirawat di tempat ini."

Suara berat dan dalam itu menggema di ruangan, membuat siapa saja yang mendengarnya merasa seolah sedang diadili. Citra menelan ludah, berusaha menguasai dirinya. Ia menurunkan kepalanya sedikit, berpura-pura sibuk dengan berkas di tangannya, berharap ia bisa lolos begitu saja tanpa harus berinteraksi. Namun, harapannya sia-sia.

"Dan ini siapa?" suara berat itu terdengar kembali, kali ini jauh lebih dekat. Citra mengangkat wajahnya perlahan, mendapati Putra sudah berdiri tepat di samping tempat tidur pasiennya, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Ini Dokter Citra Lestari, salah satu dokter spesialis jantung terbaik kami, Pak," jawab Kepala Rumah Sakit dengan bangga. "Beliau sangat berdedikasi dan teliti dalam menangani pasien."

Sudut bibir Putra bergerak sedikit naik, membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak menyentuh matanya. "Oh, jadi ini Dokter Lestari ya... Ternyata bakatnya memang sama, ya. Pandai merawat dan menyembuhkan orang lain."

Kalimat itu terdengar seperti pujian di telinga orang lain, namun bagi Citra, nada sarkasme yang terselip di sana sangat jelas terasa. Ada nada sinis yang tersembunyi, seolah Putra sedang mengatakan bahwa kemampuan Citra menyembuhkan orang lain tidak akan berguna untuk menyembuhkan luka yang ia Putra ciptakan nanti.

"Terima kasih, Pak," jawab Citra kaku, berusaha tetap sopan meski hatinya berdebar kencang. "Saya hanya melakukan tugas saya."

"Tugas yang sangat mulia," sahut Putra pelan, matanya menatap tajam tepat ke manik mata Citra. "Semoga saja kau tetap ingat kewajiban dan tugasmu yang lain, yang jauh lebih besar dari sekadar mengobati pasien di sini. Ingat janjimu, Dokter."

Kalimat itu terucap begitu rendah, hampir berbisik, sehingga hanya Citra yang bisa mendengarnya. Tubuh wanita itu menegang kaku. Ia tahu persis apa maksud Putra. Ingat janjimu... ingat bahwa kau adalah bagian dari kesepakatan ini, bagian dari keluarga yang akan aku pertanggungjawabkan atas segala dosa masa lalu.

Sebelum Citra sempat menjawab atau merespons apa pun, Putra sudah membalikkan badannya kembali ke arah Kepala Rumah Sakit, seolah-olah percakapan diam-diam mereka tadi tidak pernah terjadi. "Baik, mari kita lanjutkan peninjauan ke bagian lain. Saya harap pelayanan di sini tetap terjaga kualitasnya, karena nanti... mungkin saya akan sering berkunjung ke sini."

Saat ia melangkah pergi, aroma wangi maskulin yang khas dan bau sisa wewangian seragam militer tertinggal di udara, membuat napas Citra terasa sesak. Ia mengusap dadanya yang terasa berdenyut nyeri. Pertemuan singkat itu sudah cukup membuatnya sadar betul: Putra Setiawan bukan sekadar calon suami yang dingin. Ia adalah ancaman nyata yang berjalan tegap, tersembunyi di balik seragam kebanggaan negara.

Siang itu berlalu dengan berat bagi Citra. Ia sulit berkonsentrasi, pikirannya terus berputar pada tatapan pria itu, pada kata-kata terselubung yang diucapkannya. Sepulang kerja, Citra tidak langsung pulang ke rumah orang tuanya. Ia mengarahkan mobilnya ke sebuah kafe tenang di tengah kota, tempat yang biasa ia kunjungi saat ingin menenangkan diri.

Ia baru saja duduk dan memesan minuman saat ponselnya bergetar pelan di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor yang belum tersimpan, namun nama pengirimnya membuat darahnya serasa berhenti mengalir: Mas Putra.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Citra membuka pesan itu. Tulisan di layar ponselnya singkat, padat, dan penuh perintah:

"Besok sore pukul 16.00. Aku jemput. Kita pergi menyiapkan keperluan pernikahan. Jangan ada alasan menolak. Ingat, kau sudah menjadi tanggung jawabku, dan aku tidak suka penundaan."

Tidak ada sapaan, tidak ada kata sopan santun. Hanya perintah, layaknya seorang komandan yang memberi perintah kepada bawahannya. Citra menatap layar ponsel itu lama sekali, perasaan marah, sedih, dan takut bercampur aduk di dadanya.

"Kenapa harus begini?" gumamnya pelan, suara bergetar. "Apa salahku? Aku bahkan tidak tahu apa-apa soal masa lalu itu..."

Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa penasaran yang semakin besar. Ada bagian dari dirinya yang ingin tahu, ingin menguak misteri besar ini. Citra sadar, pernikahan ini mungkin adalah satu-satunya cara untuk menemukan kebenaran. Jika ia lari, ia selamanya tidak akan tahu apa kesalahan keluarganya, dan selamanya akan hidup dalam ketidaktahuan dan rasa bersalah yang samar-samar.

Ia mengetik balasan dengan jari yang masih gemetar: "Baik, Mas. Aku mengerti."

Saat pesan terkirim, di tempat lain, di ruangan kantornya yang luas dan dingin di markas militer, Putra Setiawan menatap layar ponselnya dengan senyum miring yang penuh kemenangan. Di mejanya, terpajang foto mendiang ayah dan ibunya yang dibingkai indah. Di sebelahnya, ada berkas tebal bertuliskan nama Keluarga Lestari.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!