NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Padahal, berkas itu masih tergeletak pasrah di atas mejanya, sama sekali belum disentuh oleh pulpen mahalnya.

Aku melirik jam dinding ruangannya cemas. Pak Danu sudah mewanti-wanti kalau dokumen itu harus segera diserahkan ke mejanya sebelum jam istirahat siang agar datanya bisa ditarik oleh bagian keuangan hari ini juga. Kalau aku tertahan lebih lama di sini cuma buat didebat soal jas, bisa-bisa aku diamuk singa itu lagi.

Aku berdeham pelan, mencoba menarik kembali fokus obrolan ke jalur profesional.

"Maaf, Pak Adrian... Kalau boleh, mohon dokumen itu ditandatangani sekarang," ujarku dengan nada suara yang sengaja ditekankan, ditekuk sedikit agar dia tahu aku sedang dikejar waktu. "Soalnya Pak Danu sudah menunggu dokumen persetujuan itu di bawah untuk segera diserahkan ke divisi keuangan."

Pak Adrian menaikkan satu alisnya, menatap map dokumen lalu beralih menatap wajah masamku. Bukannya buru-buru meraih pulpen, dia justru memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan satu tangan di atas meja sambil menatapku intens. Sikap santai tapi intimidatifnya itu sukses membuatku makin gemas setengah mati.

"Pak Danu yang menyuruhmu buru-buru?" tanyanya dengan nada suara yang tenang, seolah tidak mempedulikan denyut panik yang sudah menjalar di pelipisku.

"Iya, Pak. Mohon kerja samanya," jawabku ketus, melupakan sejenak tata krama karena saking gemasnya.

Dia justru membolak-balik lembaran nota bensin dan struk pembelian kertas printer itu lambat sekali, seolah-olah sedang memeriksa dokumen audit proyek triliunan. Setiap kali aku bergeser gelisah, dia sengaja melontarkan pertanyaan tidak penting soal rincian pengeluaran.

Ketegangan dan kekesalanku diulur-ulur sampai jarum jam dinding hampir menyentuh angka dua belas kurang lima menit. Barulah setelah puas membuat mukaku merona kesal, Pak Adrian membuka tutup pulpen mahalnya dan menggoreskan tanda tangan mutlaknya di atas formulir penggantian uang tersebut.

"Terima kasih, Pak," ujarku cepat, langsung menyambar map itu sebelum dia berubah pikiran. Aku berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruangannya yang mencekam.

Begitu pintu kayu tertutup, aku menghembuskan napas lega yang panjang. Namun, kebebasanku tidak bertahan lama.

"Heh, Aruna!"

Suara cempreng Ariana menghentikan langkahku tepat di depan meja sekretaris. Dia sudah berdiri, melipat tangan di dada dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh selidik.

"Lo ngapain aja di dalem sama pak Adrian?!" tuntutnya dengan nada menginterogasi, matanya melirik jam dinding lobi. "Minta tanda tangan ko ngabisin waktu dua puluh menit? Lo sengaja ngulur waktu buat godain dia, ya?"

Emosiku yang sudah diaduk-aduk oleh Pak Adrian di dalam mendadak naik ke ubun-ubun. Ditambah tuduhan tidak berdasar dari wanita kecentilan ini, kesabaranku habis.

Aku menatapnya lurus, mengeratkan pelukan map di dadaku. "Bukan urusanmu, Mbak," jawabku dingin, berniat langsung melangkah menuju lift.

"Kurang ajar ya kamu!" bentak Ariana tertahan. Dengan cepat, dia melangkah memutari mejanya dan mencengkram kuat pergelangan tanganku, menahan langkahku paksa.

Dia mendekatkan wajahnya yang penuh riasan tebal, menatapku dengan pandangan merendahkan seolah aku ini seonggok sampah.

"Gak usah belagu lo di sini! Ingat ya, posisi lo itu cuma staf junior! Rendahan!" bisik Ariana penuh penekanan, suaranya bergetar geram. "Gak usah sok cantik dan kecentilan caper ke Pak Adrian pakai alasan dokumen kantor. Lo itu gak pantes berada di lantai ini, apalagi bermimpi menarik perhatian bos besar. Harusnya lo sadar diri!”

Aku langsung menyentak tanganku dengan kasar hingga cengkeraman Ariana terlepas. Tanpa memperdulikan tatapan berapi-api wanita itu, aku berbalik dan melangkah lebar-lebar menuju lift yang kebetulan baru saja terbuka. Aku masuk, menekan tombol lantai lima dengan gerakan kasar, dan bersandar di dinding lift sambil mengatur napas yang memburu begitu pintu lift menutup.

Hari ini benar-benar sial! Sudah dikerjai habis-habisan oleh Pak Adrian di dalam ruangan, terus malah dituduh yang tidak-tidak sama sekretarisnya yang tidak tahu situasi itu.

Ting!

Pintu lift terbuka di. Aku buru-buru setengah berlari menuju ruangan Pak Danu. Begitu sampai di depan ruangan manajerku itu, aku mengetuknya terburu-buru dan langsung mendorongnya masuk.

"M-maaf, Pak Danu... Ini dokumen yang sudah ditandatangani oleh Pak Adrian," ucapku agak terengah-engah, menyodorkan map dokumen itu ke atas mejanya.

Pak Danu yang sedang menatap layar komputer langsung mendongak. Matanya melirik jam tangan hitamnya, lalu beralih menatapku dengan dahi berkerut dalam. Wajahnya langsung berubah merah padam.

"Aruna! Kamu tahu ini jam berapa?!" bentak Pak Danu menggelegar, membuatku tersentak kaget. "Saya suruh kamu minta tanda tangan dari jam berapa? Ini sudah lewat jam dua belas! Bagian keuangan sudah menarik data kloter pertama hari ini!"

"Maaf, Pak... Tadi di atas—"

"Gak ada alasan!" potong Pak Danu kejam, memukul meja kerjanya dengan telapak tangan. "Cuma naik ke lantai atas meminta tanda tangan satu lembar berkas saja bisa memakan waktu setengah jam! Kamu sengaja santai-santai ya di atas? Kerjaan kamu itu dinanti oleh divisi lain, Aruna! Jangan biasakan menunda waktu!"

"Saya tidak menunda, Pak, tadi Pak Adrian yang—"

"Sudah, keluar kamu! Bikin pusing saja!" usir Pak Danu sambil mengibaskan tangannya kesal, meraih dokumen itu dengan sentakan kasar.

Aku menggigit bibir bawahku rapat-rapat, menahan luapan emosi yang rasanya sudah mau meledak. Dengan langkah gontai dan hati yang dongkol setengah mati, aku keluar dari ruangan Pak Danu dan kembali ke kubikel kerjaku.

Begitu duduk di kursi, aku membanting tubuhku pasrah. Rasa kesalku kepada Pak Adrian Wiratama langsung naik berlipat-lipat ganda.

Bener-bener ya itu si Bos Besar sableng! rutukku dalam hati berapi-api.

Gara-gara kelakuan isengnya yang sengaja mengulur waktu membahas kantong kresek merah tidak penting itu, aku yang harus menanggung akibatnya di bawah. Aku yang dimarahi habis-habisan oleh Pak Danu sampai dicap karyawan pemalas. Awas saja ya, aku bersumpah tidak akan mau lagi berurusan dengan boss sableng itu!

...****************...

POV Adrian

Hari Senin ini dimulai dengan tumpukan berkas yang menjemukan, setidaknya sampai jarum jam dinding kantorku menunjuk tepat ke pukul sebelas tiga puluh siang.

Suara interkom dari meja sekretaris berbunyi. Ariana memberitahu bahwa ada staf administrasi bernama Aruna yang ingin meminta tanda tangan dokumen. Sudut bibirku spontan terangkat. Aku langsung menyuruhnya masuk tanpa menunda sedetik pun.

Begitu pintu itu terbuka, sosok gadis yang membuatku jengkel setengah mati selama tiga hari terakhir akhirnya muncul. Namun, pandanganku tidak tertuju pada berkas di tangannya, melainkan pada sebuah benda besar berwarna merah menyala yang dijinjingnya dengan sangat erat.

Sebuah kantong kresek merah belanjaan.

Aku harus sekuat tenaga menahan tawa yang nyaris semburat keluar. Sialan, wibawaku sebagai CEO runtuh seketika di dalam hati. Bagaimana bisa dia terpikir untuk membungkus jas desainer mahal menggunakan kantong kresek pasar seperti itu? Kepolosan atau mungkin kebodohannya benar-benar di luar prediksi.

"Ini jas Bapak yang... kemarin lusa. Sudah saya cuci bersih dan sudah kering, Pak," cicitnya pelan, menunduk dalam-dalam seperti pesakitan yang siap dieksekusi.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!