"Sepuluh tahun lalu, Alvin Alexander dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Dunia melupakannya, dan keluarganya menghapus jejaknya."
Namun, kenyataan jauh lebih dingin. Bocah lima tahun itu tidak mati. Ia diselamatkan dan ditempa oleh Revan,seorang pemimpin mafia kejam,menjadi sebuah senjata tak kasat mata yang mematikan. Kini, Alvin kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengemis kasih sayang yang telah hilang, melainkan untuk mengamati dari dekat runtuhnya sebuah memori.
Di rumah lamanya, posisi Alvin telah digantikan dengan sempurna oleh Levin, si anak angkat. Bahkan sang kakak, Christy, menatapnya tanpa mengenali sepasang mata adik kecilnya dulu. Sementara foto-fotonya telah dibuang ke tempat sampah, Alvin memilih mengenakan seragam putih-abu-abu dan duduk tenang di barisan tengah kelas 10-2, menyembunyikan identitas aslinya sebagai The Quiet Predator.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Sang Hantu Pelindung
Perlahan, suasana di setiap koridor sekolah menjadi hening. Suara deru angin pagi dan gesekan dedaunan dari pohon-pohon di area sekolah terasa lebih mendominasi. Anak-anak yang terkena razia tadi masih sibuk di tengah lapangan. Di bawah terik matahari yang mulai menghangat, beberapa siswa terlihat pasrah dengan rambut yang sudah dipangkas acak-acakan, sementara yang lainnya sudah berdiri berbaris rapi dengan kepala plontos, melakukan hormat ke arah bendera merah putih yang berkibar di ujung tiang.
Alvin melirik ke arah lapangan melalui jendela koridor. Menatap barisan siswa berkepala plontos yang sedang kepanasan namun tetap tegak menghormati bendera, Alvin berbisik lirih di dalam hatinya, 'Wah, jiwa nasionalisme mereka sangat tinggi.' Sudut bibirnya berkedut tipis, sebuah ironi kecil yang menghibur di pagi pertamanya. Bagi seorang Alvin yang menghabiskan masa kecilnya di kerasnya dunia luar, pemandangan hukuman sekolah seperti ini terasa begitu asing, namun sekaligus menggelitik.
Langkah kaki Nadia yang konstan di depan Alvin mendadak berhenti. Mereka tiba di depan sebuah pintu kokoh. Di bagian atas kusen kayu pintu tersebut, tergantung sebuah papan nama kayu dengan ukiran perak yang berkilau tipis terkena pantulan lampu koridor, bertuliskan: Ruang Guru.
"Ini dia ruang gurunya," ucap Nadia sambil menoleh sedikit ke arah Alvin.
Nadia kemudian berbalik menghadap pintu, mengangkat tangan kanannya, lalu mengetuk pintu kayu itu dengan sopan.
Tuk... tuk... tuk...
Suara ketukan pintu itu terdengar ritmis. "Permisi, Pak, Bu..." ujar Nadia dengan suara yang lantang namun tetap penuh tata krama.
Seketika, kesibukan di dalam ruangan yang tadinya dipenuhi suara gemerisik kertas dan denting sendok teh langsung mereda. Para guru yang berada di meja mereka masing-masing menoleh ke arah sumber suara dan menjawab serempak, "Iya, silakan masuk."
Nadia melangkah masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Alvin yang berjalan dengan tegap di belakangnya. Sepatu Alvin mengetuk lantai ubin dengan suara yang samar, namun pembawaannya yang tenang dan sorot matanya yang lurus langsung menarik perhatian beberapa guru yang mereka lewati. Alvin tidak menunduk, tidak juga mendongak sombong; dia berjalan dengan postur sempurna seorang pria yang tahu cara membawa diri.
Langkah Nadia akhirnya terhenti tepat di depan sebuah meja di barisan ketiga.
"Pagi, Pak," sapa Nadia dengan senyuman ramah khas seorang Ketua OSIS. Tanpa membuang waktu, Nadia langsung memperkenalkan pemuda di sebelahnya, "Ini ada murid baru untuk kelas 10-2, Pak."
Alvin menatap sosok guru laki-laki yang duduk di balik meja tersebut dengan pandangan yang tenang. Insting taktisnya yang sudah terlatih secara otomatis memindai area sekitar meja untuk mengumpulkan informasi. Matanya tertuju pada sebuah papan nama akrilik hitam yang terletak di sudut meja. Alvin membaca tulisan di sana dan bergumam di dalam hatinya, 'Nama bapak ini, Andi Hardono, M.Pd.'
Tak berhenti di situ, lirikan mata Alvin bergerak cepat mengamati permukaan meja kerja tersebut. Di sana, berjejer tumpukan tebal buku tugas siswa, lembar kerja, serta beberapa buku cetak besar bersampul tebal dengan tulisan hitam mencolok. 'Hmmm... sepertinya guru ini adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia,' analisis Alvin dalam diam, menyimpulkan tugas sang guru dari dokumen-dokumen kurikulum bahasa yang berserakan rapi di depannya.
Saat itu juga, Pak Andi mendongak dari dokumennya, tersenyum lebar menatap Nadia. "Ah, terima kasih ya, Nadia," ujarnya tulus.
Pandangan Pak Andi kemudian beralih sepenuhnya kepada Alvin. Mengamati postur tubuh Alvin yang tegap dan rapi, guru itu menyapa dengan nada suara yang sangat ramah, "Nama kamu Alvin Alexander, ya?"
Alvin mengangguk pelan, wajahnya tetap tenang namun memancarkan aura ketegasan yang sopan. "Iya, Pak. Saya Alvin," jawabnya singkat dan jelas.
Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, Alvin mengulurkan tangan kanannya ke depan untuk bersalaman dengan sang guru. Pak Andi yang melihat inisiatif sopan tersebut langsung tersenyum hangat dan meraih tangan Alvin.
Namun, Alvin tidak sekadar menjabat tangan bapak guru di hadapannya. Dengan gerakan yang mengalir anggun, penuh rasa hormat yang mendalam, Alvin membungkukkan tubuhnya sedikit lalu mencium punggung tangan Pak Andi dengan sangat takzim. Sebuah gestur kesopanan tertinggi yang diajarkan kepadanya untuk menghormati seorang pendidik dan orang yang lebih tua, mencerminkan sikap sempurna seorang lelaki sejati.
Melihat tindakan Alvin, Pak Andi sempat tertegun selama beberapa detik. Jabatannya sebagai guru Bahasa Indonesia selama belasan tahun membuatnya kenyang menghadapi berbagai macam karakter murid baru—mulai dari yang pemalu, canggung, hingga yang acuh tak acuh. Namun, pemuda di hadapannya saat ini benar-benar berbeda. Gerakan mencium tangan yang dilakukan Alvin terasa begitu alami, tidak dibuat-buat, dan memancarkan wibawa yang sangat santun.
Senyum di wajah Pak Andi semakin merekah lebar, guratan ramah di matanya melengkung tulus. Beliau menepuk bahu Alvin pelan dengan tangan kirinya sembari melepaskan jabat tangan mereka.
"Luar biasa," puji Pak Andi dengan nada suara yang bergetar kagum. "Jarang sekali Bapak melihat anak muda zaman sekarang yang langsung menunjukkan tata krama se-khusyuk ini di hari pertama sekolah. Kamu dididik dengan sangat baik oleh orang tuamu, Alvin."
Sementara itu, di sebelah Alvin, Nadia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sepasang matanya sedikit melebar, memperhatikan bagaimana Alvin kembali menegakkan tubuhnya dengan postur yang sangat tegap setelah mencium tangan Pak Andi. Sebagai Ketua OSIS yang terbiasa melihat murid-murid cowok kelas 10 yang cenderung berisik atau salah tingkah saat masuk ruang guru, tindakan Alvin barusan terasa sangat kontras.
Nadia membatin di dalam hatinya, 'Cowok ini... pembawaannya tenang sekali. Padahal dia murid baru, tapi sama sekali gak kelihatan gugup. Malah sopan banget.' Ada rasa kagum yang diam-diam menyelinap di hati Nadia, sekaligus rasa penasaran yang semakin tebal terhadap sosok Alvin Alexander.
Pak Andi kemudian merapikan beberapa buku cetak Bahasa Indonesia di mejanya, lalu kembali menatap Alvin dan Nadia bergantian. "Baiklah, karena bel masuk kelas sebentar lagi berbunyi, mari Bapak antar kamu langsung ke kelas 10-2. Nadia, terima kasih ya sudah mengantar Alvin sampai ke sini. Kamu bisa kembali ke kelasmu atau melanjutkan tugas OSIS-mu."
"Sama-sama, Pak," jawab Nadia sambil membungkuk hormat. Sebelum melangkah pergi, Nadia menyempatkan diri melirik Alvin sekilas, memberikan anggukan kecil sebagai tanda pamit yang dibalas Alvin dengan tatapan mata yang tenang dan poker face-nya yang tak terbaca.
Perlahan, Pak Andi berdiri dari kursi kerjanya, mengambil sebuah map berisi berkas data Alvin, lalu memberikan isyarat dengan anggukan kepala. Alvin dengan sigap langsung melangkah, berjalan berdampingan bersama Pak Andi keluar dari ruang guru menuju kelas 10-2.
Sepanjang koridor, langkah kaki mereka menggema pelan. Suasana sekolah kini benar-benar mulai hening karena bel masuk telah berbunyi beberapa menit lalu, menandakan pelajaran jam pertama di setiap kelas telah resmi dimulai.
Sambil berjalan, Pak Andi menoleh sekilas ke arah Alvin, lalu berkata dengan nada kebapakan, "Bapak harap kamu bisa punya banyak teman di sekolah ini, Alvin. Dan juga, semoga kamu betah di sini."
"Iya, Pak," jawab Alvin singkat dan tenang. Tatapan matanya lurus ke depan, memperhatikan deretan pintu kelas yang mereka lewati, merekam setiap sudut koridor dalam memori taktisnya.
Pak Andi membuka map di tangannya, membaca kembali lembar demi lembar rekam jejak akademik Alvin yang tampak begitu mengesankan. Beliau mulai bicara lagi, "Bapak lihat dari ijazah dan berkas mutasimu, kamu ini lulusan dari St. Jude International Academy Singapura, ya?"
Alvin mengangguk pelan tanpa mengubah ritme langkahnya. "Iya, Pak. Benar."
"Wah, itu hebat dan luar biasa!" Pak Andi tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Beliau berhenti melangkah sejenak, menoleh sepenuhnya pada Alvin, lalu melanjutkan, "Bahkan di sekolah sekelas internasional itu kamu bisa meraih juara kelas? Itu sangat luar biasa, Alvin."
Pak Andi menepuk bahu tegap Alvin dengan rasa bangga yang tulus terpancar dari wajahnya. Sambil kembali melanjutkan langkah, guru Bahasa Indonesia itu berkata dengan sangat ramah, "Terus pertahankan prestasimu ya, Nak."
Mendengar perhatian tulus dari sang guru, sudut bibir Alvin sedikit terangkat. Dia tersenyum tipis—sebuah senyuman sopan yang sangat menawan. "Iya, Pak. Akan saya usahakan dengan baik," jawab Alvin.
"Haha, Bapak bangga sekali bisa punya murid seperti kamu di sekolah ini, Alvin," timpal Pak Andi sambil terkekeh pelan, merasa beruntung kelas 10-2 mendapatkan murid pindahan yang tidak hanya sopan tapi juga berotak encer.
Alvin merespons dengan anggukan takzim, "Iya, Pak. Saya pun merasa luar biasa bisa mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di SMA Taruna Cemerlang ini."
Di balik kalimat sopannya itu, detak jantung Alvin berdegup konstan. Di ujung koridor sana, pintu kelas 10-2 sudah mulai terlihat. Alvin tahu, begitu dia melintasi pintu itu, kehidupan barunya sebagai seorang "hantu pelindung" resmi dimulai.
misalnya kek gini.
"akhirnya saya/aku balik juga ke kota."
cuma ngasi saran saja. 🙏
terima banyak,udah baca karya saya