Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OFFICIAL ANGKASA-ARUM
Setelah derasnya air mata yang tumpah, setelah semuanya terungkap dan terjelaskan dengan gamblang, perlahan namun pasti tangis Arum mereda. Pelukan hangat Angkasa pun perlahan dilepas, meski tangan pemuda itu masih enggan menjauh, masih bertumpu lembut di bahu gadisnya.
Kini suasana di antara mereka berubah drastis. Yang tadinya penuh ketegangan, amarah, dan kesedihan, berubah menjadi hening yang... canggung. Sangat canggung.
Mereka berdua sama-sama diam. Hati mereka sama-sama tahu isi hati satu sama lain sekarang. Arum tahu kalau dia dicintai lebih dari apa pun. Angkasa tahu kalau dialah satu-satunya laki-laki di hati Arum. Kesadaran itu membuat udara di sekitar beranda rumah terasa berbeda, terasa lebih hangat, lebih dekat, dan membuat pipi rasanya panas membara.
Arum menunduk dalam-dalam. Wajahnya yang tadi sembab oleh air mata, kini perlahan berubah merah merona sampai ke pangkal telinganya. Rasa malu tiba-tiba masuk memenuhi seluruh dadanya. Ia baru saja menangis tersedu-sedu di dada Angkasa, baru saja berteriak soal perasaannya, dan baru saja mendengar pengakuan cinta yang begitu tulus dari laki-laki itu. Rasanya rasanya ingin sekali ia sembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya lagi.
Di sebelahnya, Angkasa justru berdiri tegak dengan tenang. Ia sama sekali tidak memalingkan wajah, tidak membuang pandangannya sedetik pun. Matanya menatap lekat-lekat sosok Arum yang terlihat begitu malu dan polos itu.
Ada senyum tipis yang tak bisa ditahan terukir di bibir Angkasa,senyum bahagia, senyum lega, dan senyum bangga. Ia menatap Arum begitu dalam, seolah ingin mengukir setiap inci wajah gadis itu ke dalam ingatannya selamanya. Tatapan itu begitu lembut, begitu sayang, dan begitu memuja.
Arum semakin salah tingkah dibuatnya. Ia bisa merasakan betapa tajam dan lekatnya pandangan Angkasa padanya. Ia berusaha menggeser posisi duduknya sedikit,memainkan ujung bajunya, berusaha melihat ke arah lain, tapi rasanya mata Angkasa itu selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi.
"Kenapa nunduk terus? Emang ada yang menarik dilantai?" tanya Angkasa pelan, suaranya rendah dan berat, bercampur nada jahil yang mulai muncul kembali.
Arum menggeleng pelan, masih berani mengangkat wajah sedikit saja. "Enggak... cuma... aneh aja rasanya..." jawabnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
Melihat tingkah Arum yang salah tingkah parah, wajah merah padam, dan berusaha menghindari tatapannya itu... Angkasa akhirnya tidak tahan lagi. Ia langsung tertawa terbahak-bahak.Suara tawanya renyah memecah keheningan, sampai membuat Arum kaget dan mendongak menatapnya bingung.
"Mas Angkasa! Kok ketawa sih?!" protes Arum pelan, wajahnya makin merah padam rasanya mau meleleh karena malu.
Angkasa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil masih menahan sisa tawanya, matanya berbinar cerah menatap Arum.
"Gemes tau gak? Kamu tuh... dari tadi salting banget dilihatin . Padahal baru tadi nangisnya kenceng banget, berani ngomong keras-keras. Giliran udah jelas semuanya, eh jadi malu banget gini," goda Angkasa sambil tersenyum jahil namun penuh kasih sayang.
Arum cemberut malu, hendak memukul lengan Angkasa pelan tapi urung dilakukan. Ia malah kembali menunduk sambil meremas ujung kain gamisnya.
Angkasa perlahan berhenti tertawa. Ia kembali menatap Arum dengan tatapan serius namun tetap lembut. Ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, membuat Arum menahan napasnya.
"Arum..." panggil Angkasa pelan.
"Iya... Mas?" jawab Arum nyaris berbisik.
Angkasa tersenyum makin lebar, menatap manik mata Arum yang indah itu lekat-lekat, lalu melontarkan pertanyaan yang sudah ditunggu-tunggu itu.
"Jadi sekarang... gimana ? Kamu pacar aku ?" tanyanya santai namun penuh kepastian.
Arum sontak mendongak, matanya membulat kaget sekaligus malu. Ia menatap wajah Angkasa yang begitu dekat itu, lalu bibirnya bergerak pelan menjawab dengan nada manja dan malu-malu.
"Emang... Mas Angkasa udah nembak aku buat jadi pacar mas Angkasa?"
Pertanyaan balasan itu sukses membuat Angkasa kembali tertawa lepas. Tawanya kali ini lebih keras dan lebih bahagia lagi. Ternyata gadisnya ini manis dan polos banget ya, batin Angkasa dalam hati. Ia gemes banget rasanya pengen cubit pipi Arum yang masih merah itu. Arum yang lihat Angkasa ketawa lagi cuma bisa cengengesan malu sambil menunduk lagi.
Angkasa perlahan menghentikan tawanya. Ia mengusap pipi Arum pelan dengan punggung tangannya, gerakannya begitu lembut dan penuh rasa cinta. Wajahnya berubah serius, matanya menatap Arum begitu dalam dan tulus. Ia mengangguk pelan.
"Iya bener juga ya... aku lupa langkah pentingnya," ucap Angkasa pelan, nadanya berubah manis dan romantis banget.
Ia menatap Arum tepat di kedua matanya, suaranya tegas, jelas, dan bergetar karena perasaan yang meluap-luap.
"Arum Sekarwangi... aku udah jatuh cinta sama kamu dari dulu banget, aku udah nunggu momen ini lama banget, dan aku udah yakin banget sama kamu. Aku mau kita jalanin bareng, saling jaga, saling ngertiin, dan bahagia bareng terus. Arum... mau nggak kamu jadi pacarku? Mau nggak kamu jadi satu-satunya wanita di hidupku, pendampingku, dan pemilik hati ini sepenuhnya?"
Arum mendengar itu dengan mata yang kembali berkaca-kaca, tapi kali ini air matanya adalah air mata kebahagiaan yang meluap. Senyum terindah merekah di bibirnya, mengembang indah banget. Ia mengangguk kuat-kuat, dengan wajah yang masih merah merona tapi penuh kebahagiaan.
"Mau... aku mau banget, Mas Angkasa," jawab Arum lirih tapi sangat jelas dan tegas.
"Aku mau jadi pacar kamu. Aku mau nemenin kamu terus. Aku sayang banget sama kamu."
Angkasa tersenyum sangat lebar. Tanpa ragu lagi, ia kembali menarik tubuh Arum masuk ke dalam pelukannya, pelukan yang kali ini berbeda dari yang dulu. Pelukan ini adalah pelukan milik sepasang kekasih yang saling mencintai, pelukan kepastian, dan pelukan janji setia.
Di beranda rumah yang sepi itu, di bawah langit yang cerah, akhirnya kisah mereka yang sempat terhalang salah paham dan jarak, kini bersatu kembali dengan ikatan yang jauh lebih kuat dan indah. Angkasa dan Arum, dua hati yang sudah ditakdirkan bersama, akhirnya resmi menyandang status sebagai sepasang kekasih.
Dan di lengan Angkasa, tato nama Arum itu kini terasa lebih berarti dari sebelumnya. Bukan lagi sekadar nama yang tertulis di kulit, tapi nama pemilik hati dan masa depan Angkasa selamanya.