Leonel adalah seorang hantu yang bersemayam di dalam patung.
Keberadaannya sudah bertahun-tahun lamanya dan tidak pernah keluar menampakkan wujudnya pada siapa pun.
Sampai suatu hari ada seorang wanita yang mengusik keberadaannya, sehingga dia terpaksa keluar dan menampakkan wujud aslinya, seorang hantu tapi tampan meskipun dengan wajah pucat, dia memang tidak bisa dilihat oleh mata awam kecuali orang itu sama energinya dengan hantu Leo, pasti manusia itu akan melihatnya seperti wanita yang mengusiknya hari itu ternyata sama energinya dengan hantu leo.
jadi siapakah yang bisa melihat leonel.
kalau mau tau ikutin kisahnya ya teman-teman ☺️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
mendengar kata-kata Putra, Dimas sadar akan Arun yang didalam ruang perawatan buru-buru dia bangkit.
"Astaghfirullah aku sampai lupa akan Arun.
Dimas membuka pintu kamar dan terlihat Arus tergeletak tak berdaya dengan bantuan alat medis dibadanya, lalu Dimas mendekati Arun dan memegang tangan Arun dengan berkata lirih, Dimas berkata.
"Arun..maaf kan aku, aku minta maaf karena ego ku kamu jadi seperti ini.."
"Kamu harus sadar, kamu masih banyak berhutang padaku, kamu masih pingin menceritakan tentang Om leo padaku kan?"
Dengan tatapan sedih, di lubuk hati Dimas ada penyesalan yang tak bisa di ungkapkannya saat ini.
"Pak meskipun sedih Pak Dimas harus memperhatikan kondisi tubuh Bapak juga."
Ucap putra sambil menyodorkan sebuah tote bag yang berisi baju Dimas.
Dimas pun menerimanya dan berdiri dari kursi langsung melangkah kekamar mandi.
Sedang kan Putra melangkah menuju sofa untuk mengambil sebuah syal yang berada di atas meja dan berniat memasukkannya ke laci dekat tempat tidur Arun.
Baru saja Putra menarik laci terdapat sebuah buku diary, lalu Putra mengambilnya dan ditaruhnya diatas meja.
Dimas yang sudah selesai mandi, dia bertanya sama Putra.
"Apa itu Put," "ini sepertinya buku diary Mba Arun Pak."
"Memang kamu dapat dari mana?"
"Dilaci itu Pak." Jawab Putra sambil menujuk ke laci didepannya.
"Coba Putra biar aku lihat," Dimas menerima buku yang disodorkan Putra.
Lalu dengan hati yang bergejolak, Dimas membuka buku Arun pelan-pelan.
Dihalaman pertama, tertulis kisah Arun yang selalu terabaikan oleh keluarganya, sampai akhirnya dia menjadi sosok yang harus bangkit dan bertahan untuk diri sendiri, disitu hati Dimas mulai tak tentu perasaannya.
sampai akhirnya dia membuka halaman, yang penuh luka-luka hati Arun, dan Pertama bertemu dengan hantu Leo sampai akhirnya tempat dia curhat tentang segala rasa yang dialami Arun.
Begitu pun sebaliknya Leo pun cerita soal keluarganya, dan semua sama seperti eyang putri Dimas yang selalu cerita tentang Om nya dulu sewaktu eyang putrinya masih hidup, mulai kesukaannya dan kebiasaannya Leo.
Dimas semakin merasa bersalah, kepada hantu Leo tak terasa air mata Dimas mengalir di pipinya.
"Om maaf kan aku Om...kembali lah Om aku mohon kasian Arun Om.."
Dimas teringat betapa sinis dan takutnya dia dulu. Saat melihat Arun bicara sendiri, ia sering mengumpat dalam hati, menganggap Leo hanyalah gangguan, setan pengganggu, atau sesuatu yang menyeramkan. Ia bahkan pernah berniat memanggil dukun atau membakar dupa untuk mengusirnya.
"Maafin aku Om....bisik Dimas nyaris tak terdengar, suaranya pecah tertahan tangis. "Aku jahat banget... Aku benci sama diriku sendiri."
Ia menyesali setiap pikiran buruknya, setiap tatapan sinisnya, dan setiap detik di mana ia melewatkan kesempatan untuk menyapa dan berbagi cerita dengan Omnya.
Dimas menutup buku yang ditangan nya, lalu dia melangkah ke arah Arun yang masih berbaring, belum ada tanda-tanda akan sadar.
"Arun...Arun maaf kan aku, Arun kamu harus bangun dan kita akan mencari Om Leo bersama-sama aku memang salah Run..
Didalam ketidak sadarannya, Arun seperti keluar dari dalam tubuhnya, dan dia berjalan dilorong yang gelap tanpa cahaya disitu banyak makhluk-makhluk yang beda dengan dirinya, Arun dengan masih bingung kenapa dia berada ditempat itu, tapi dia tetap saja berjalan dilorong gelap itu.
"Ya Allah ini tempat apa sebenarnya, kenapa kalau manusia tapi beda dengan ku, kenapa wujudnya yang lain menyeramkan, apakah aku juga sudah mati?"
"Leooo...dimana kamu...aku takut... Hiks...hiks...
Arun akhirnya terduduk sambil memegangi lututnya karena ketakutan, dan menangis terisak-isak memanggil Leo, semakin dia melangkah semakin menyeramkan kan yang terlihat oleh nya.
"leo...aku bener-bener takut...
"Jawab Leo kamu dimana...? Katanya kamu mau jaga aku kan..kenapa kamu bohong ke aku...
"Hiks.. hiks...