NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:874
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Bukan Perasan, Itu Simpati.

Sonia datang jam sembilan pagi.

Bukan dengan dua temannya kali ini. Sendiri. Dan dari cara dia berjalan ke arah lapakku, aku sudah tahu ini bukan kunjungan beli cilok biasa.

"Bang." Dia berdiri di depan gerobak.

"Mau beli?"

"Mau jawaban."

Aku lanjut mengaduk saus. Tidak berhenti. Tidak terburu-buru menjawab karena jawaban untuk pertanyaan seperti ini tidak boleh keluar terburu-buru.

"Duduk dulu."

Dia duduk di pinggir trotoar di sebelah gerobakku. Lutut dipeluk. Menatapku.

"Keputusan abang apa?"

Aku taruh pengaduk. Menatapnya langsung.

"Sonia, dengerin aku dulu sebelum kamu protes."

"Aku dengerin."

"Perasaanmu itu salah."

Dia langsung mau membuka mulut tapi aku lanjut.

"Bukan salah karena kamu jahat atau karena niatmu buruk. Tapi salah karena kamu salah membaca apa yang kamu rasakan." Aku bicara pelan, bukan menghakimi. "Kamu lihat aku main bola. Kamu lihat aku kelihatan lelah. Kamu tahu ada sesuatu yang tidak beres di hidupku. Dan kamu bergerak, membawakan makan, memberikan HP, mau menunggu. Itu bukan perasaan cinta, Sonia. Itu simpati. Itu rasa kasihan yang sangat kuat sampai kamu salah mengartikannya."

"Aku tau bedanya simpati sama cinta, Bang."

"Belum." Aku bilang itu dengan lembut tapi tanpa ragu. "Kamu belum tau bedanya karena kamu belum pernah benar-benar jatuh cinta. Kalau sudah pernah, kamu akan tahu bahwa cinta yang benar tidak dimulai dari kasihan. Cinta yang benar dimulai dari kesetaraan, dari mengenal seseorang seutuhnya, bukan dari melihat seseorang di titik paling rendahnya dan ingin menyelamatkannya."

Sonia diam.

Aku ambil HP dari dalam tas yang dari kemarin sudah aku siapkan. Taruh di depannya.

"Ini."

"Aku gak mau."

"Sonia—"

"Aku ridho, Bang. Serius. Itu buat Abang."

Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan mata yang keras kepala tapi ada sesuatu yang mulai retak di sana, sesuatu yang belum selesai runtuh tapi sudah mulai bergerak.

"Kalau kamu ridho, berarti kamu ikhlas." Aku duduk di bangku kecil di samping gerobak. "Kalau kamu ikhlas, berarti kamu tidak butuh balasan. Kalau tidak butuh balasan, berarti kamu tidak perlu menungguku."

Dia tidak menjawab.

"Nia."

Dia mengangkat kepala. Heran sedikit karena aku menyebut namanya berbeda, lebih pendek, lebih dekat.

"Aku mau bicara jujur ke kamu. Bukan sebagai laki-laki yang kamu tunggu. Tapi sebagai seseorang yang pernah ada di posisi yang sangat menyesal karena tidak memanfaatkan waktunya dengan benar waktu masih muda."

Sonia tidak bergerak.

"Kamu kelas dua belas sekarang. Sebentar lagi ujian. Sebentar lagi lulus. Dan kamu mau habiskan waktu itu untuk menunggu laki-laki beranak yang hidupnya masih berantakan?" Aku menggeleng pelan. "Orang tuamu menyekolahkan kamu. Setiap hari mereka bangun pagi, pergi kerja, capek, tapi tidak pernah bilang capek ke kamu. Mereka tidak pernah mengeluh di depan kamu. Kenapa? Karena mereka tidak mau bebannya jadi bebanmu. Karena satu-satunya yang mereka mau adalah kamu bisa sekolah, bisa sukses, bisa jadi sesuatu yang mereka bangga."

Sonia menunduk sedikit.

"Aku pernah di posisi kamu. Masih SMA, masih punya mimpi, masih ada yang bisa dipilih." Suaraku berubah. Lebih berat. "Lalu bapakku sakit. Dan aku putus sekolah kelas sepuluh."

Aku berhenti sebentar.

"Bapakku tidak pernah bilang sakitnya separah itu. Tidak pernah. Sampai hari terakhirnya, dia masih pura-pura kuat di depan aku. Tahu kenapa?" Tenggorokanku sesak. "Karena dia tidak mau aku berhenti. Karena satu-satunya yang dia mau adalah aku bisa terus. Tapi aku tidak sempat tahu itu sebelum terlambat."

Mataku panas.

Aku tidak menahan itu.

"Demi apa dia seperti itu? Demi aku. Demi masa depan aku. Dan aku akhirnya putus sekolah juga, bukan karena dipaksa, tapi karena keadaan tidak memberi pilihan lain. Dan sekarang aku di sini. Jualan cilok. Tidak punya latar pendidikan. Tidak punya jabatan. Tidak punya apa-apa yang membuat orang mau menghargai aku kecuali kalau aku punya uang atau punya nama."

Air mata sudah di pipi.

Aku biarkan.

"Orang menghargai kita kalau kita punya sesuatu, Nia. Itu kenyataan yang pahit tapi nyata. Pendidikan, ilmu, kerja keras yang terarah, itu yang memberi kita tempat di dunia ini. Dan kamu masih punya semua itu di depanmu. Jangan sia-siakan."

Sonia tidak bersuara.

"Lihat sekeliling kamu. Berapa banyak yang ingin bisa sekolah setinggi kamu tapi tidak bisa karena untuk makan saja susah. Dan kamu sudah ada di sana, sudah hampir sampai, mau berhenti sebentar untuk menunggu seseorang yang bahkan tidak pantas untuk ditunggu?"

Aku mengambil HP itu lagi dari depannya. Taruh di tangannya pelan.

"Simpan ini. Bukan sebagai hadiah dari seseorang yang kamu tunggu. Tapi sebagai pengingat bahwa kamu pernah melakukan kebaikan yang tulus. Dan kebaikan itu tidak perlu balasan. Allah yang akan balas, dengan cara yang jauh lebih baik dari yang bisa aku berikan."

Sonia masih menunduk.

Bahunya naik turun.

Satu tetes jatuh di lututnya. Lalu dua. Tanpa suara.

"Dan ingat, Nia." Suaraku turun. "Di dalam Al Quran, surat Al Insyirah, Allah bilang bersama kesulitan ada kemudahan. Bukan sesudah. Bersama. Artinya di tengah semua yang kamu rasa berat sekarang, jalan itu sudah ada. Kamu hanya perlu terus bergerak ke depan."

Sonia mengangkat wajahnya.

Matanya merah. Air matanya sudah tidak ditahan.

"Abang..." suaranya pecah di satu kata itu.

"Selesaikan sekolahmu. Itu yang paling penting sekarang."

Dia mengangguk. Pelan. Berkali-kali. Seperti seseorang yang baru saja selesai menerima sesuatu yang berat tapi perlu.

Lama kami diam di sana.

Lalu Sonia menyeka matanya dengan punggung tangan. Menarik napas panjang.

"Aku minta maaf, Bang."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan."

"Aku salah dari awal. Aku pikir aku tau apa yang aku rasain. Ternyata aku cuma... aku cuma kasihan dan salah ngartiin."

"Itu manusiawi. Kamu bukan orang pertama yang salah membaca perasaan sendiri."

Sonia tersenyum sedikit. Masih merah matanya tapi ada sesuatu yang berbeda dari tadi, sesuatu yang lebih ringan.

"Boleh aku anggap Abang sebagai kakak?"

Aku menatapnya.

Lalu mengangguk.

"Itu yang dari awal seharusnya."

Dia berdiri. Merapikan rambutnya. Mengambil HP yang tadi aku kembalikan, menaruhnya di tas, lalu menatapku sekali lagi dengan cara yang berbeda dari semua tatapan sebelumnya.

Bukan tatapan perempuan yang menunggu.

Tapi tatapan seseorang yang baru saja memutuskan untuk melanjutkan jalannya sendiri.

"Makasih, Bang. Serius."

Dia pergi.

Aku menatap punggungnya sampai hilang di ujung jalan.

Lalu balik ke gerobak. Mengambil pengaduk. Melanjutkan saus yang tadi aku tinggalkan.

Tangan masih sedikit gemetar.

Tapi ada sesuatu di dada yang terasa bersih.

Seperti sesuatu yang hampir salah berhasil diluruskan sebelum terlambat.

Dan nama Bapak yang keluar tadi, tentang pura-pura kuat padahal di dalamnya menderita, itu bukan untuk Sonia saja.

Itu untuk aku juga.

Pengingat bahwa ada orang yang dulu berkorban sangat besar diam-diam, dan hasilnya adalah aku yang sekarang berdiri di sini, masih hidup, masih mendorong gerobak, masih punya Aini yang setiap pagi bilang sayang Ayah.

Itu cukup.

Untuk sekarang, itu lebih dari cukup.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!