Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Riuh rendah suara siswa di lapangan SMA Tunas Bangsa menjadi latar belakang yang bising bagi Arga Baskara. Udara siang itu terasa gerah, bercampur dengan aroma cat kayu dan keringat dari ratusan remaja yang sibuk mempersiapkan Cakrawala Fest. Arga berdiri di sudut aula, tangannya menggenggam gulungan kabel hitam yang terasa kasar di telapak tangannya. Matanya tidak beralih dari satu titik di tengah ruangan, tempat Nala Anindita sedang berdiskusi serius dengan panitia dekorasi.
Nala tampak sibuk dengan tumpukan kain satin berwarna biru langit. Rambutnya dikuncir kuda, menyisakan beberapa helai yang menempel di pelipisnya karena peluh. Arga baru saja hendak melangkah mendekat, berniat menawarkan bantuan atau sekadar memberikan sebotol air mineral yang sudah ia beli sejak tadi. Namun, langkahnya tertahan.
Satria Dirgantara muncul dari arah belakang panggung dengan langkah lebar yang penuh percaya diri. Seragam basket yang ia kenakan tampak menonjolkan bahunya yang lebar. Dengan senyum lebar yang biasa ia pamerkan di lapangan, Satria langsung mengambil alih ujung kain yang sedang ditarik oleh Nala.
"Sini, gue bantu. Ini terlalu tinggi buat lo, Nala," ujar Satria dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.
Nala mendongak, tampak sedikit terkejut namun kemudian tersenyum tipis. "Makasih, Sat. Iya, aku susah banget mau mengaitkan ujung ini ke tiang," sahut Nala.
Satria tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat akrab. "Makanya, kalau butuh tenaga lebih, cari gue. Lo jangan memaksakan diri sendiri. Nanti kalau lo sakit, festival ini bisa berantakan tanpa ketuanya," katanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Arga terpaku di posisinya. Ia melihat bagaimana Satria dengan lincah memanjat tangga lipat, mengamankan posisi kain dekorasi tersebut dengan cekatan. Dari bawah, Nala memberikan instruksi sambil sesekali memegang kaki tangga agar Satria tetap stabil. Pemandangan itu tampak begitu serasi di mata Arga. Mereka terlihat seperti pusat perhatian, sementara Arga hanyalah bayangan yang berdiri di pinggiran.
Sebuah tepukan keras di bahu membuat Arga tersentak. Ia menoleh dan mendapati Dimas Pratama sedang menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Lihat apa, Bos? Sudah dibilang, jangan cuma jadi penonton. Kalau lo cuma diam di pojok, Satria bakal mencetak skor terus," gumam Dimas pelan.
Arga hanya menghela napas panjang dan membenahi letak kacamata yang sebenarnya tidak turun. "Gue lagi fokus sama kabel ini, Dim. Tugas logistik lagi banyak," dalihnya dengan suara rendah.
Dimas mendengus remeh. "Alasan klasik. Lo takut kalah saing atau memang sudah menyerah sebelum perang? Ingat, Nala memang sudah ingat soal masa kecil kalian, tapi sekarang ini masa depan. Satria itu bergerak cepat, Ga. Jangan sampai lo cuma jadi kenangan masa lalu yang disimpan di laci."
Arga tidak menjawab. Ia kembali menatap ke arah Nala. Kali ini, Satria sudah turun dari tangga dan sedang menawarkan sapu tangan kepada gadis itu. Arga meremas botol air mineral di tangannya hingga menimbulkan suara gemeretak plastik yang pelan. Perasaan tersisih itu merayap naik, dingin dan menyesakkan. Padahal beberapa hari yang lalu, ia merasa hubungannya dengan Nala sudah jauh lebih baik.
Tiba-tiba, seorang siswi berdiri di hadapan Arga, menghalangi pandangannya. Itu Tania Larasati. Gadis itu tersenyum manis sambil menyodorkan sebuah kipas kecil bertenaga baterai ke arah Arga.
"Arga, mukamu pucat sekali. Capek, ya? Ini, pakai kipas aku dulu," kata Tania lembut.
Arga terkejut dan sedikit mundur. "Eh, tidak usah, Tania. Aku tidak apa-apa. Ini sudah biasa buat tim logistik," jawab Arga berusaha sopan.
Tania menggeleng pelan, rambutnya yang terurai halus ikut bergoyang. "Jangan keras kepala. Kamu dari tadi mondar-mandir angkut barang berat. Setidaknya duduk sebentar di bangku itu," tawarnya lagi dengan nada penuh perhatian.
Dari kejauhan, Rara Kinanti yang sedang memegang papan jalan menyadari interaksi tersebut. Ia menyikut lengan Nala yang masih asyik mengobrol dengan Satria. Nala menoleh ke arah yang ditunjuk Rara dan mendapati Arga sedang berbicara dengan Tania.
Nala terdiam sejenak. Ada gurat ekspresi yang sulit dibaca di matanya saat melihat Tania begitu perhatian pada Arga. Namun, sebelum Nala sempat berkata apa pun, Satria kembali mengalihkan perhatiannya.
"Nala, ayo kita cek stan makanan di luar. Katanya ada masalah sama ukuran tendanya," ajak Satria sambil menyentuh ringan lengan Nala.
Nala sempat ragu, matanya sekali lagi melirik ke arah Arga yang kini sedang mengembalikan kipas pada Tania. Namun, desakan Satria dan tanggung jawab sebagai ketua panitia membuatnya tidak punya pilihan lain.
"Oke, ayo kita cek sekarang," jawab Nala akhirnya.
Arga melihat Nala dan Satria berjalan berdampingan menuju pintu keluar aula. Langkah mereka terlihat ringan, saling melempar canda yang sesekali membuat Nala tertawa kecil. Arga merasa seolah ruang di sekitarnya mendadak menyempit. Semua kerja kerasnya di tim logistik, semua ingatannya tentang masa lalu, seolah tidak berarti apa-apa saat berhadapan dengan kehadiran Satria yang begitu nyata dan membantu di sisi Nala.
Arga meletakkan gulungan kabelnya di lantai dengan perlahan. Ia tidak marah pada Satria, ia hanya kecewa pada dirinya sendiri yang selalu terlambat satu langkah.
"Lo mau ke mana, Ga?" tanya Dimas saat melihat sahabatnya itu berbalik arah menuju gudang belakang.
"Cari lakban. Ada yang lepas di panggung belakang," jawab Arga singkat tanpa menoleh lagi.
Ia terus berjalan, meninggalkan keramaian aula yang mulai terasa asing baginya. Di dalam hatinya, Arga tahu bahwa mengungkapkan perasaan melalui kenangan masa lalu saja tidak akan cukup. Namun, melihat betapa alaminya Nala berada di dekat Satria membuat keberanian Arga yang baru saja terkumpul kembali luruh ke titik terendah. Di antara keriuhan festival yang seharusnya menyenangkan, Arga Baskara justru merasa sedang berada di tengah badai yang paling sunyi.