"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: PASIR PUTIH DAN TAWARAN BERDARAH
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Pulau Azura. Jika surga memiliki koordinat GPS, tempat ini pasti salah satunya. Pasir putihnya sehalus bedak bayi, air lautnya memiliki gradasi warna biru yang seolah-olah diedit oleh colorist film Hollywood kelas atas, dan angin sepoi-sepoinya membawa aroma kelapa dan kebebasan.
Aku duduk di kursi santai di bawah payung besar, menyesap jus semangka dingin. Kacamata hitamku berukuran sedikit terlalu besar untuk wajah mungilku, namun itu memberikan keuntungan taktis: aku bisa membedah profil setiap orang di pantai ini tanpa mereka menyadari bahwa mereka sedang diinterogasi secara visual.
"Papa, jika kau terus mengoleskan tabir surya ke punggung Mama dengan ritme selambat itu, secara statistik kau sedang mencoba melakukan sabotase waktu agar kita tidak sempat naik jet ski," suaraku jernih, menginterupsi momen romantis yang sedang dibangun Damian di sampingku.
Damian Xavier—sang Raja Mafia yang baru saja mengganti kulitnya menjadi CEO korporasi—membeku. Tangannya yang dipenuhi otot dan sisa-sisa memori perkelahian jalanan masih menempel di bahu Qinanti. Ia menoleh ke arahku, tatapannya adalah perpaduan antara gemas dan rasa ingin memecatku jika saja aku bukan putrinya.
"Lea, biarkan Papa menikmati waktu istirahatnya," ucap Mama pelan, meski wajahnya merona merah—variabel dopamin dan oksitosin yang sangat tinggi terdeteksi di pipinya.
“Kak, target sosial (Papa) sedang berada dalam fase 'The Hopeless Romantic'. Efisiensi operasionalnya turun 40%. Dia benar-benar lupa kalau di lepas pantai sana, ada sebuah kapal pesiar yang diam di koordinat yang sama selama dua belas jam,” lapor kuku melalui Shadow Talk yang kupancarkan ke arah Leo.
“Aku sedang memantaunya, Lea. Kapal itu menggunakan sistem enkripsi klan pusat. Sangat sombong dan sangat tidak efisien. Mereka ingin kita tahu bahwa mereka ada di sana,” suara Leo berdesir di benakku, dingin seperti es di kutub utara.
Aku menatap Leo. Dia duduk di meja kayu kecil dekat kolam renang, tidak mengenakan baju renang, melainkan kemeja linen putih tipis yang dikancingkan rapi. Di tangannya bukan majalah komik, melainkan sebuah perangkat pembaca frekuensi yang disamarkan sebagai konsol game genggam.
"Papa," Leo memanggil tanpa mengangkat wajah. "Kapal pesiar 'Silver Wing' baru saja menurunkan sekoci. Mereka membawa seorang utusan. Berdasarkan pola gelombang air, mereka akan merapat di dermaga pribadi kita dalam tujuh menit."
Damian menarik tangannya dari bahu Qinanti, auranya seketika berubah. Senyum lembutnya menguap, digantikan oleh kedinginan predator yang selama ini disembunyikannya demi liburan ini.
"Utusan? Dari London?" tanya Damian, suaranya kini kembali menjadi otoriter.
"Bukan Kakek Alexander. Dia terlalu pengecut untuk datang sendiri setelah akun banknya kubekukan kemarin," jawab Leo datar. "Ini adalah sepupu Papa. Victor Xavier. Sang 'Penjagal' dari divisi Eropa."
POV: DAMIAN XAVIER
Aku menghela napas panjang, menatap langit biru yang tiba-tiba terasa begitu menyesakkan. Aku sudah tahu bahwa kemenangan atas Baron hanyalah langkah pembuka. Tapi aku tidak menyangka klan pusat akan mengirim Victor secepat ini ke pulau pribadiku.
Aku bangkit berdiri, mengenakan kemeja linenku yang tergeletak di kursi. "Qin, masuklah ke dalam vila bersama Lea. Leo, kau tetap di sini."
Qinanti menatapku dengan cemas. "Damian... apa ini berbahaya?"
Aku menggenggam tangannya, mencium keningnya dengan penuh rasa syukur. "Hanya urusan bisnis keluarga yang membosankan, Sayang. Lea, jaga Mamamu. Pastikan dia tidak mendengar apa pun yang dikatakan pria itu."
Lea mengangguk mantap. "Siap, Papa. Lea akan mengajak Mama mencoba masker wajah baru di lantai atas. Protokol 'Beauty and Peace' diaktifkan."
Aku menatap punggung mereka yang menjauh, lalu beralih pada Leo. Putraku yang berusia delapan tahun itu kini sudah berdiri di sampingku. Ia menutup perangkatnya dan menyarungkannya di ikat pinggang kecilnya.
"Papa tahu kan, Victor datang bukan untuk bernegosiasi?" Leo bertanya sambil menyesuaikan letak kerah kemejanya.
"Aku tahu. Dia datang untuk mencium bau kelemahanku," jawabku.
"Kalau begitu, mari kita tunjukkan bahwa di klan Vipera yang baru, tidak ada tempat untuk kelemahan," Leo melangkah menuju dermaga dengan ketenangan seorang jenderal yang akan menerima utusan perang.
Sekoci itu merapat. Seorang pria tinggi dengan rambut pirang pucat dan setelan jas putih melangkah turun. Victor Xavier. Ia memiliki senyum yang terlihat sangat ramah, namun di duniaku, itu adalah senyum seorang pria yang sudah mencekik puluhan orang dengan tangan kosong.
"Damian! Sepupuku yang terkasih!" Victor merentangkan tangannya, mengabaikan tatapan dingin dari para pengawal unit Ghost yang berjaga di sepanjang dermaga. "Pulau ini luar biasa. Sangat kontras dengan laporan berdarah yang kuterima di London tentangmu."
Matanya kemudian beralih pada Leo. Ia menyipit sejenak. "Dan ini... benih yang katanya sudah meretas sistem keamanan London? Kau tampak seperti... anak kecil biasa."
Leo menatap Victor lurus ke mata. "Dan Paman tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan tiga kontrak logistik di pelabuhan Rotterdam akibat 'kesalahan sistem' pagi ini. Apakah itu alasan Paman datang jauh-jauh ke sini? Mencari perlindungan?"
Senyum Victor membeku. Ia tidak menyangka serangan pertama akan datang dari seorang bocah sebelum ia sempat membuka mulut.
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Analisis terhadap Victor Xavier:
Status emosional: Labil.
Ego: Tinggi.
Variabel ancaman: Sedang (Fisik), Rendah (Intelektual).
Aku membiarkan dia menatapku. Di mataku, dia hanyalah serangga yang sedang mencoba menari di atas jaring laba-laba. Aku sudah menyiapkan 'kejutan' untuknya di dalam tas kerjanya yang saat ini dipegang oleh asistennya di belakang.
"Cukup basa-basinya, Victor," Damian menyela, suaranya berat dan berbahaya. "Katakan apa maumu."
Victor tertawa kecil, ia mengeluarkan sebuah dokumen dengan segel lilin merah klan Xavier. "Keluarga pusat ingin menawarkan 'gencatan senjata'. Mereka terkesan dengan transformasi Vipera Corp. Ayahmu, Alexander, bersedia mengakui Qinanti sebagai istrimu yang sah, asalkan..."
Victor menjeda kalimatnya, ia menatapku dengan tatapan rakus. "...asalkan Leo dan Lea diserahkan ke London untuk dididik di Akademi Xavier. Mereka adalah aset yang terlalu berharga untuk dibiarkan tumbuh di lingkungan 'bebas' seperti ini."
Aku merasakan udara di dermaga itu mendadak turun suhunya. Damian mengepalkan tangannya begitu kuat hingga aku bisa mendengar bunyi sendinya berderak.
"Kau ingin mengambil anak-anakku?" desis Damian.
"Kami ingin menjamin masa depan mereka, Damian," balas Victor tenang. "Bayangkan apa yang bisa mereka lakukan untuk kejayaan Xavier di bawah bimbingan kami. Kau bisa memiliki istrimu, bisnis legalmu, dan kedamaianmu. Sebagai gantinya, berikan kami otak mereka."
Aku melangkah maju, berdiri di antara Damian dan Victor. Aku mendongak, tersenyum dengan cara yang paling tidak menyerupai anak-anak.
"Paman Victor, strategi 'Sandwich Trade' yang Paman tawarkan sangat menarik. Menukar kebahagiaan orang tua dengan masa depan anak. Sangat klasik," ucapku datar. "Tapi ada satu masalah kecil dalam perhitungan Paman."
"Oh ya? Apa itu, Bocah?"
"Paman lupa menghitung biaya pembatalan," aku menekan sebuah tombol di jam tanganku.
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah kapal pesiar 'Silver Wing' di lepas pantai. Bukan ledakan yang menghancurkan kapal, tapi ledakan pada antena komunikasi dan sistem navigasi mereka. Di saat yang sama, asisten Victor berteriak karena tas kerja yang ia pegang mendadak mengeluarkan asap pekat.
"Seluruh data transaksi pribadi Paman dengan faksi teroris di Balkan baru saja terunggah ke server Europol," lanjutku. "Dan asisten Paman baru saja memegang bukti fisik asli yang akan memberatkan Paman di pengadilan internasional jika aku menekan tombol 'Confirm' di sini."
Wajah Victor yang tadinya merah karena sombong, kini berubah menjadi pucat pasi. Ia menatap kapal pesiarnya yang kini terombang-ambing tanpa kendali.
"Kau... kau melakukan ini saat aku sedang bicara?!" teriak Victor.
"Seorang Marsekal tidak bicara saat pertempuran dimulai, Paman. Dia hanya memberikan hasil akhir," jawabku. "Papa, utusan ini sudah tidak relevan. Silakan lakukan tugas Papa sebagai 'unit eksekusi'. Aku ingin dia meninggalkan pulau ini dengan berenang."
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Dari balkon lantai atas vila, aku mengamati adegan di dermaga melalui teropong digital. Mama sedang sibuk dengan masker wajahnya di kamar mandi, jadi aku punya waktu tiga menit untuk memantau hasil akhir.
“Kak, Victor sedang mengalami 'Mental Breakdown'. Dia baru saja menyadari bahwa dia bukan pemangsa, melainkan mangsa. Papa mulai bergerak ke arahnya,” lapor kuku lewat pikiran.
“Biarkan Papa melampiaskan sedikit rasa frustrasinya. Dia butuh pengingat bahwa dia tetaplah singa di rumah ini,” balas Leo.
Aku melihat Papa mengangkat kerah jas putih Victor dengan satu tangan, mengangkatnya hingga kaki pria itu menggantung di udara. Papa membisikkan sesuatu—sesuatu yang membuat Victor gemetar hebat—sebelum akhirnya Papa melemparkannya ke perairan dangkal dermaga.
"Marco, antar utusan ini kembali ke kapalnya. Tanpa asistennya, dan tanpa dokumen apa pun," perintah Papa yang suaranya sampai ke telingaku.
Aku tersenyum. Strategi Fase 2 sukses besar. Kami tidak hanya mengusir utusan klan pusat, kami telah memberikan pernyataan perang yang jelas: Jangan sentuh anak-anak Xavier.
Aku segera meletakkan teropongku saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Mama keluar dengan wajah yang segar dan senyum yang lebih tenang.
"Lea, sudah selesai urusan Papamu?" tanya Mama.
"Sudah, Ma! Paman itu baru saja pulang. Katanya dia ingin mencoba berenang di laut karena airnya sangat segar," ucapku sambil tertawa riang.
Mama tertawa kecil, menghampiriku dan mengacak rambutku. "Dasar kau ini. Ayo, kita siapkan makan malam. Papa dan Leo pasti lapar setelah 'bekerja' keras di dermaga."
Malam itu, di bawah taburan bintang Pulau Azura, kami makan malam di pinggir pantai. Obor-obor menyala, menciptakan bayangan yang menari di atas pasir. Damian duduk di samping Qinanti, tangannya tidak pernah lepas dari genggaman istrinya. Ia tampak jauh lebih tenang sekarang, seolah-olah beban klan pusat telah ia bagi dengan pundak kecil putra-putrinya.
Leo sedang asyik memakan udang bakarnya, matanya sesekali melirik ke arah laut—ke arah kapal pesiar yang kini sedang ditarik oleh unit Ghost menuju perairan internasional untuk dibuang.
"Papa," panggil Leo di sela makannya.
"Ya, Leo?"
"Mulai besok, aku akan meningkatkan protokol pertahanan Vipera Corp ke Level 4. Klan pusat akan mengirim lebih dari sekadar utusan setelah ini. Mereka akan mengirim tentara," Leo bicara dengan nada santai, seolah sedang membicarakan cuaca.
Damian menatap Leo, lalu menatapku, dan akhirnya menatap Qinanti. Ia menghela napas, sebuah senyuman bangga terukir di wajahnya yang keras.
"Biarkan mereka datang," ucap Damian. "Aku punya Marsekal dan Profiler terbaik di duniaku. Dan aku punya alasan paling kuat untuk menang."
Ia mencium punggung tangan Qinanti. Mama tersenyum, tidak tahu bahwa di balik kedamaian malam ini, sebuah dinasti baru sedang bersiap menghadapi perang total melawan leluhur mereka sendiri.
Aku menyandarkan kepalaku di bahu Mama, memejamkan mata. Sembilan tahun lalu, kami hanyalah pelarian. Hari ini, kami adalah penguasa bayangan. Dan bagi siapa pun yang mencoba merebut surga kecil kami... mereka baru saja mengundang kekalahan yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Checkmate, London. Permainan baru saja memasuki babak yang paling berdarah.