NovelToon NovelToon
Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jumling

Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.

Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dasar Mesum

"Kau sebut aku apa?!" 

Wajah keriput itu terlihat marah mendengar sebutan Rayya untuk nya. Beraninya Rayya memanggil nya Kakek.

'Ih, marah. Harus nya tadi aku menyebut mu uyut' batin Rayya berusaha tetap tersenyum menanggapi tanggapan marah dari pria tua tersebut.

"Kakek," kata Rayya mengulangi sebutan nya tadi.

"Kurang ajar. Aku ini walau sudah tua masih berjiwa muda, kau tau? Cepat layani aku sebelum kau menyesal," katanya memperingati Rayya.

"Maaf, Kek. Sebenarnya aku bukan wanita bayaran. Aku ini sedang diculik dan diancam."

"Apa peduliku? Aku tidak mau tau. Pokoknya kau harus menyenangkan ku sampai puas."

Rayya yang mencoba berbicara baik-baik malah di tanggapi demikian. Apalagi kini tangan keriput itu ngotot ingin membawa Rayya untuk mereka segera bersenang-senang.

"Lepaskan!"

Rayya memberontak dan berhasil melepaskan diri.

Tapi ternyata pria tua itu memang berjiwa muda. Bahkan kini Ia sudah berhasil mengoyak gaun pendek Rayya sampai hampir menonjolkan salah satu buah dada wanita itu.

"Ahahaha. Jiwa muda ku semakin bergejolak. Ayo cantik..., kita bersenang-senang."

Pelanggan tua langsung mendekap tubuh ramping Rayya dengan erat dan berusaha untuk mencium.

"Lepaskan!"

Rayya berusaha mencegah mulut pria tua itu menyentuh wajah nya. Apalagi Ia terlihat tidak peduli walau Rayya memberontak.

BRAK!

Tiba-tiba pintu yang tadinya ditutup oleh botak dari luar terbuka oleh kekuatan besar dan menghentikan aksi gila pria tua.

"KURANG AJAR!"

TAP!

TAP!

TAP!

Teriakan menggema disertai langkah kaki yang Kokoh dan cepat menandakan pemiliknya sudah diujung tanduk.

DOR!

Tembakan langsung melesat saat melihat pria tua itu masih tetap mendekap Rayyanya. Ya, yang datang dengan penuh api itu ada Marsel.

Kini pria tua itu sudah tergeletak tak bernyawa setelah timah panas melesat tepat di tubuh bagian vitalnya yaitu jantung! Menyisakan Rayya yang mematung dan segera didekap oleh Marsel. 

"Jangan takut, Aku ada di sini," bisik Marsel menenangkan Rayya yang tampak syok, bukan cuma karena kejadian yang hampir merugikan dirinya tadi, tapi juga karena terkejut akan suara tembak yang menggema di telinga nya.

"Alex, singkirkan mayat tua Bangka itu dari hadapan Rayya ku," perintah Marsel karena melihat Rayya tidak berhenti menatap tubuh tua pelanggan yang tergeletak itu dengan ekspresi ketakutan.

"Baik Bos."

Alex patuh dan segera menyeret mayat tersebut.

"Beresi kekacauan di luar. Jangan berhenti sampai tuntas. Aku mau Rayyaku tenang dulu," kata Marsel lagi memperingati para bawahannya.

Rayya pasti sangat syok sekarang, Marsel ingin menemaninya sejenak sambil membuat jalan yang nyaman untuk Rayya keluar dari tempat kotor itu.

"Siap Bos." 

Para bawahan yang ada di sana serentak menjawab dan bergegas keluar meninggalkan Marsel dan Rayya. Pria itu terlihat menuntun Rayya untuk menenangkan diri setelah apa yang baru saja terjadi.

"Terimakasih," kata Rayya tulus mengucapkannya. Ia hanya memiliki harapan kecil Marsel akan datang, tapi ternyata pria itu benar-benar ada dan hadir menolong nya.

'Apa berarti sekarang aku punya hutang pada pria gila ini' batin Rayya merasa berat memiliki hutang pada Marsel yang telah menyelamatkan nya hari ini. Apalagi Ia sangat membenci Marsel. Karena ulah pria itu Rayya harus kehilangan satu-satunya adik yang Rayya punya.

Sejujurnya itu memang sudah menjadi tugas nya menjaga ketertiban dan memberantas kejahatan. Tapi kuasa Marsel sangat kuat bahkan mengalahkan hukum di negara itu.

"Kamu adalah milikku. Tidak boleh ada yang membuat Rayyaku menderita," ucap Marsel namun saat pria itu mencoba untuk meraih kepala Rayya untuk dielus, wanita itu malah menghindar dan menyingkirkan tangan Marsel pelan.

"Sekali lagi terimakasih," kata Rayya lagi.

Entah mengapa setelah kejadian tadi Rayya agak sungkan pada Marsel. Mungkin karena pria itu baru saja mencegah sesuatu buruk terjadi pada Rayya.

'Tunggu dulu, tapi bukannya dia ini adalah masalah besar yang sesungguhnya dalam hidup ku' batin Rayya baru tersadar akan hal tersebut.

Bukankah Marsel juga sudah pernah melecehkan Rayya? Dulu, jika Rayya tidak mencoba mengancam dengan membunuh diri untuk perlindungan dirinya, pasti hal tidak enak itu sudah terjadi. Mengingat hal tersebut Rayya menjadi kesal dan yang tadinya sungkan pada Marsel kini kembali menatap pria itu dengan sorot jengkel.

"Mau ke mana?" 

Marsel menahan tangan Rayya yang ingin pergi begitu saja. Wanita itu menoleh dan berkata.

"Mau keluar!"

Rayya tidak mau berlama-lama lagi di tempat menjijikan itu, walau sekarang sudah aman dari orang-orang yang menginginkan tubuhnya, tapi Rayya tetap tidak enak lebih lama lagi di tempat tersebut.

"Tunggu Alex datang dulu," ujar Marsel sambil menarik wanita itu untuk tetap berada di sana, dan tarikan tersebut membuat Rayya jatuh di atas pangkuan Marsel.

"Kau, turunkan aku," berontak Rayya karena badannya terikat dalam cengkraman lengan Marsel.

"Kenapa? Bukannya tadi Rayyaku baru saja berterima kasih padaku. Cepat tunjukkan rasa terima kasih yang sebenarnya," kata Marsel di sertai perintah yang mengharuskan Rayya untuk berterima kasih dengan benar.

'Dasar pria ini. Sepertinya aku memang salah karena tadi hampir saja menilai nya baik' batin Rayya dengan perasaan kesal yang tertahan.

Ia menunjukkan senyum terpaksa nya yang sangat dipaksakan.

"Terimakasih," katanya.

"Aku ingin ucapan terimakasih yang lain. Bukan pakai mulut, tapi bibir," balas Marsel sambil menunjuk bibirnya sendiri, dan tersenyum miring setelah nya menatap lekat bibir Rayya. Ia kembali teringat kejadian malam saat Rayya menolong nya di jalan. Sensasi dari bibir itu seakan masih berbekas sampai sekarang.

'Apa maksudnya?' bingung Rayya.

'Memang nya rasa terima kasih apa? Terimakasih kan memang di ucapkan dengan bibir, sepertinya tidak ada yang salah' batin Rayya tidak mengerti.

"Sekali lagi terimakasih."

Rayya mengulang lagi perkataannya. Rasanya Ia sampai bosan mengatakan hal tersebut. Ya, dia memang sangat berterimakasih, tapi Marsel terlalu memaksa untuk mendapatkan ucapan terimakasih.

"Dasar bodoh," umpat Marsel dan menarik paksa. Bibirnya menghantam kuat dan menuntut bibir Rayya. Ia tidak memberikan celah pada wanita itu untuk mengambil udara.

Huuuuu....

Uhuk. Uhuk!

Rayya meraup oksigen sebanyak-banyaknya dan terbatuk saat udara berlomba masuk di rongga pernapasan nya. Matanya bulat menatap nyalang pada Marsel.

"Apa yang kau lakukan, brengsek!"

cerca Rayya setelah Marsel melepaskan bibirnya tapi tidak dengan dirinya yang masih tetap di tahan dengan kuat di atas pangkuan pria itu.

"Aku hanya menerima ucapan terimakasih seperti ini," kata Marsel. Rayya mendengar nya segera menghapus bibir nya yang baru saja di lecehkan oleh Marsel.

Marsel yang melihat hal tersebut kembali melakukan hal yang sama bahkan lebih brutal dari sebelumnya.

"Berani Rayyaku hapus lagi, selanjutnya bukan hanya bibir mu."

Mata Marsel tertuju pada tubuh Rayya, apalagi sesuatu yang terpampang nyata di depannya. Rayya yang melihat arah pandangan Marsel langsung menutup dadanya dengan tangan menyilang dan dengan sekuat tenaga turun dari pangkuan pria itu.

"Dasar mesum," gumam nya.

"Aku bisa mendengar," kata Marsel dan tidak lama terlihat Alex muncul di dalam sana.

"Sudah beres Bos," katanya.

"Hmmm."

Marsel berdiri, Ia meraih tangan Rayya dan menarik pergi wanita itu. Rayya hanya nurut karena dirinya juga tidak mau lagi berlama-lama di tempat itu.

Sambil berjalan dan sebelum keluar dari ruangan itu, Rayya menatap rupa Marsel dari samping. Ia merasa tidak bisa menebak seperti apa Marsel sebenarnya.

'Marsel, sebenarnya aku ini apa bagimu? Memaksaku seperti seorang penjahat keji tapi juga menyelamatkan aku dari kekejian lainnya. Aku tidak tahu diri mu ini malaikat atau wujud iblis' batin Rayya.

Ia tidak bisa mengelak jika pria itu memiliki ketampanan di atas rata-rata, akan tetapi sikap kejam nya juga tiada tandingannya.

1
Ruth Berliana
bagus ceritanya tp msh sepi yg baca nya
Jumli: makasih ❤️
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!