NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amarah yang Meledak

Helen tersipu, sebuah reaksi yang sudah lama tidak ia rasakan. "Apakah terlihat sejelas itu?"

Andre terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat jujur. "Di sini, orang biasanya tersenyum pada laut. Kau justru menangis padanya. Apakah kau turis yang tersesat, ataukah kau seorang putri yang sedang melarikan diri dari istananya?"

Pertanyaan itu menghantam Helen tepat di ulu hati. Ia menatap mata hijau Andre dan merasakan sebuah kenyamanan yang asing. Pria ini adalah kebalikan dari Ario. Jika Ario adalah api yang membakar dan badai yang menderu, Andre adalah angin sepoi-sepoi yang menenangkan dan air telaga yang jernih.

****

"Aku hanya... butuh udara segar," jawab Helen pelan.

"Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu di mana udara paling segar di pulau ini," ajak Andre tanpa memaksa. "Ada sebuah kafe kecil di dekat mercusuar California. Mereka punya kopi terbaik dan pemandangan yang akan membuatmu lupa akan segala masalahmu di Jakarta."

Helen tersentak. "Bagaimana kau tahu aku dari Jakarta?"

Andre tersenyum misterius. "Aksenmu, dan aura keanggunan timur yang kau bawa. Sangat sulit untuk tidak menyadarinya."

Sepanjang siang itu, Helen seolah melupakan bahwa ia adalah seorang pelarian. Ia melupakan Beatrix, ia melupakan ayahnya yang tewas, dan yang paling berbahaya: ia melupakan suaminya yang sedang berjuang di dalam kamar hotel yang gelap.

Bersama Andre, Helen tertawa. Andre bercerita tentang petualangannya sebagai seorang arsitek yang berkeliling dunia, tentang kecintaannya pada sejarah Aruba, dan tentang bagaimana hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan kemarahan.

"Kau tahu, Helen," ucap Andre saat mereka duduk di sebuah meja kayu yang menghadap tebing karang. "Kadang kita begitu sibuk membangun benteng untuk melindungi diri, sampai kita lupa membangun pintu agar kebahagiaan bisa masuk."

Helen menatap Andre dengan tatapan terbuai. Perhatian yang diberikan pria ini begitu intens, begitu nyata. Andre menatapnya seolah-olah Helen adalah pusat semestanya, sebuah perasaan yang tidak pernah ia dapatkan dari Ario yang selalu terbagi fokusnya antara dendam dan strategi.

Di bawah pengaruh matahari Karibia dan kata-kata manis Andre, pertahanan Helen mulai runtuh. Ia merasa hidup kembali. Ia merasa menjadi Helen yang cantik, bukan Helen yang malang.

****

Saat matahari mulai tenggelam, menciptakan siluet emas di cakrawala, Andre mengantarkan Helen kembali ke hotel. Mereka berdiri di lobi yang megah, cukup jauh dari jangkauan pandangan orang-orang hotel.

"Terima kasih untuk hari ini, Andre," bisik Helen. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak bertemu denganmu tadi."

Andre meraih tangan Helen, mencium punggung tangannya dengan lembut. "Pulau ini kecil, Helen. Kita pasti akan bertemu lagi. Jangan biarkan kegelapan di kamarmu memadamkan cahaya di matamu."

Helen tersenyum lemah dan berjalan masuk ke lift. Jantungnya berdebar kencang, sebuah debaran yang berbeda dari debaran takut. Ini adalah debaran terlarang yang manis.

Begitu sampai di suite 901, Helen mendapati ruangan masih gelap, hanya diterangi oleh sinar biru dari layar laptop Ario. Bau kopi basi dan ketegangan memenuhi udara.

"Kau dari mana?" suara Ario terdengar dingin, lebih dingin dari biasanya. Ia tidak menoleh, namun gerakannya berhenti.

"Aku hanya berjalan-jalan di pantai, Ario. Aku butuh udara," jawab Helen dengan nada yang sedikit defensif.

"Kau pergi terlalu lama," balas Ario. "Aku baru saja mendapat kabar dari Jakarta. Beatrix sudah mulai menutup akses kita ke bank-bank Eropa. Dia punya orang di mana-mana, Helen. Kau tidak boleh berkeliaran sendirian."

Helen merasa amarahnya naik. "Kau khawatir padaku, atau kau khawatir strategimu berantakan karena aku?"

Ario akhirnya menoleh. Matanya yang gelap tampak sangat lelah, ada lingkaran hitam di bawahnya. "Keduanya. Kita berada di sarang serigala, Helen. Jangan bertingkah seolah kau sedang liburan."

Helen tidak menjawab. Ia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu. Ia berdiri di depan cermin, menyentuh punggung tangannya yang tadi dicium oleh Andre. Ia merasa berdosa, namun ia juga merasa... dihargai.

Di luar, Ario kembali mengetik, namun fokusnya pecah. Ia sempat melihat Helen turun dari sebuah mobil jeep terbuka dari jendela balkonnya tadi. Ia melihat pria pirang itu mencium tangan istrinya.

Ario meremas jemarinya hingga berbunyi. Ada rasa cemburu yang membakar, namun ia menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus menghancurkan Beatrix. Namun, ia tidak menyadari bahwa sementara ia sibuk menjaga harta dan takhta, ia perlahan-lahan kehilangan satu-satunya hal yang sebenarnya ingin ia lindungi: hati Helen.

Beatrix benar. Kesepian adalah racun. Dan di Aruba yang indah ini, racun itu mulai bekerja melalui senyuman seorang pria bernama Andre Willson, yang mungkin saja... bukan sekadar turis yang lewat.

****

Cahaya pagi di Aruba merayap masuk melalui celah gorden suite mewah, membawa binar pirus dari laut Karibia yang tenang. Namun, di dalam ruangan itu, atmosfer terasa sedingin kutub. Helen Kusuma berdiri di depan cermin besar, jemarinya yang lentik gemetar saat ia memulas lipstik tipis di bibirnya. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya, membuat layar itu menyala di atas meja rias.

Andre Willson: "Matahari sudah menyapa pantai. Aku menunggumu di bawah pohon Divi-divi tempat kita bertemu kemarin. Ada tempat rahasia yang ingin kutunjukkan padamu, Putri Jakarta."

Senyum kecil tersungging di bibir Helen. Sebuah perasaan ringan, hampir seperti kebebasan, menjalar di dadanya. Namun, senyum itu seketika sirna saat bayangan seorang pria muncul di pantulan cermin, berdiri tegak di ambang pintu penghubung antara ruang kerja dan kamar tidur.

Ario Diangga masih mengenakan kemeja yang sama dengan semalam. Lengan bajunya digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot lengan yang tegang dan urat-urat yang menonjol—tanda bahwa ia tidak tidur sedetik pun. Matanya yang merah menatap Helen dengan tajam, seolah bisa membaca setiap inci pikiran istrinya.

"Kau mau ke mana?" suara Ario rendah, penuh dengan nada interogasi yang tak tertutup-tutupi.

Helen tidak menoleh. Ia meraih tas pantainya dengan gerakan yang dipaksakan tenang. "Aku ingin keluar. Menghirup udara yang tidak berbau kabel terbakar dan kopi basi, Ario."

"Tidak bisa," sahut Ario cepat. Ia melangkah maju, menutup jarak di antara mereka hingga aroma maskulinnya yang keras menabrak penciuman Helen. "Beatrix baru saja menutup tiga akses rekening di Amsterdam semalam. Dia tahu kita di sini, Helen. Dia punya mata di setiap sudut pulau ini. Keluar sendirian sama saja dengan menyerahkan lehermu pada algojo."

Helen berbalik, matanya berkilat penuh amarah yang sudah lama ia pendam. "Algojo? Satu-satunya algojo yang kurasakan di sini adalah kau, Ario! Kau mengurungku di dalam kamar ini seolah aku adalah tahanan politikmu! Aku sudah kehilangan ayahku, rumahku, dan namaku. Sekarang kau ingin merampas sisa hidupku?"

"Aku melindungimu!" bentak Ario, suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi itu. "Setiap kali kau melangkah keluar dari pintu itu tanpa pengawasanku, kau menjadi titik lemah dalam rencanaku! Kau tidak tahu siapa Andre Willson itu! Kau tidak tahu apakah dia dikirim oleh Beatrix atau bukan!"

"Oh, tentu saja!" Helen tertawa getir, tawa yang penuh luka. "Bagimu, setiap orang adalah ancaman. Setiap kebaikan adalah konspirasi. Kau terlalu sibuk berperang dengan hantu-hantu masa lalumu sampai kau lupa bahwa aku adalah manusia, bukan salah satu baris kode di laptopmu!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!