Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 Dua putri
Hari itu istana Averion dipenuhi oleh kesibukan yang tidak biasa.
Para pelayan berjalan cepat dari satu ruangan ke ruangan lain. Para penyihir istana dipanggil sejak pagi, dan penjagaan diperketat di setiap sudut. Semua orang tahu bahwa hari itu adalah hari penting bagi kerajaan.
Ratu Evelyne akan melahirkan.
Di dalam kamar utama istana, suasana terasa tegang meskipun semua sudah dipersiapkan dengan baik. Beberapa tabib dan penyihir berdiri di sekitar, memastikan semuanya berjalan lancar.
Tidak lama kemudian, tangisan bayi terdengar.
Seorang bayi perempuan lahir dengan selamat.
Kabar itu dengan cepat menyebar ke seluruh istana.
Putri mahkota telah lahir.
Para bangsawan yang menunggu di luar langsung menunjukkan ekspresi lega. Senyum muncul di wajah mereka, dan ucapan selamat mulai terdengar satu per satu.
Bayi itu kemudian dibawa untuk menjalani ritual yang sudah menjadi tradisi keluarga kerajaan.
Bola Wahyu telah disiapkan.
Seorang penyihir istana dengan hati-hati mengangkat bayi tersebut dan mendekatkannya ke bola.
Sesaat hening.
Lalu cahaya muncul.
Warna emas terang memenuhi ruangan.
Beberapa orang langsung menundukkan kepala dengan hormat.
“Elemen Cahaya,” ucap salah satu penyihir.
Cahaya yang muncul terlihat kuat dan stabil.
“Dan tingkatnya… sangat tinggi.”
Walaupun tidak disebutkan secara langsung, semua orang di ruangan itu mengerti.
Putri itu lahir dengan kekuatan yang layak menjadi pewaris tahta.
Ratu Evelyne tersenyum tipis, sementara Raja Theodor hanya mengangguk pelan dan tersenyum puas.
“Namanya Claudia,” ucap Ratu Evelyne dengan tenang.
Hari itu, seluruh istana merayakan kelahiran sang putri mahkota.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Beberapa waktu setelah itu, kabar lain datang.
Seorang selir di istana juga melahirkan.
Namanya Selir Mireya.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada persiapan khusus.
Berita itu hanya beredar di kalangan pelayan dan beberapa orang dalam istana.
Bayi itu juga perempuan.
Berbeda dengan sebelumnya, ruangan tempat kelahiran itu jauh lebih sederhana. Hanya ada beberapa pelayan dan satu penyihir yang ditugaskan.
Mireya terlihat lemah setelah melahirkan, namun tetap memeluk bayinya dengan hati-hati.
Tangisan bayi itu terdengar pelan.
Tidak ada yang benar-benar memperhatikan.
“Lakukan saja ritualnya,” kata salah satu pelayan.
Penyihir itu terlihat ragu sejenak, tapi tetap menjalankan tugasnya. Bola Wahyu dibawa masuk dan diletakkan di dekat bayi tersebut.
Bayi itu disentuhkan ke permukaan bola.
Beberapa detik pertama tidak terjadi apa-apa.
Ruangan menjadi hening.
Penyihir itu mencoba lagi.
Tetap tidak ada perubahan.
Alisnya sedikit berkerut.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.
"Tidak ada elemen sama sekali"
Bola Wahyu tidak mengeluarkan warna sama sekai, tidak ada warna Merah, Hijau,Biru, Coklat ataupun kuning kemasan.
Penyihir itu langsung menarik tangannya.
Bola Wahyu bergetar sesaat, lalu kembali diam.
Ruangan kembali hening.
Para pelayan saling berpandangan.
“Tidak ada kekuatan?” salah satu dari mereka bertanya.
Tidak ada yang menjawab.
Penyihir itu terlihat ragu.
Ia belum pernah melihat orang yang tidak memiliki elemen sebelumnya.
Namun kali ini… tidak ada apa-apa.
Seolah-olah bola itu tidak bisa membaca.
“Atau…” salah satu pelayan "Dia cacat?”
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Mireya langsung memeluk bayinya lebih erat.
“Tidak… itu tidak mungkin,” ucapnya pelan, meskipun suaranya terdengar lemah.
Tak lama kemudian, kabar itu sampai ke telinga Ratu Evelyne.
Ratu datang tanpa terburu-buru.
Tatapannya dingin saat melihat bayi tersebut.
“Ulangi,” katanya singkat.
Penyihir itu kembali melakukan ritual.
Hasilnya tetap sama.
Ratu Evelyne terdiam beberapa saat.
Wajahnya tidak menunjukkan emosi yang jelas.
Namun tatapannya berubah.
“Apa artinya ini?” tanyanya.
Tidak ada yang berani menjawab.
Di belakang, seseorang berdiri tanpa suara.
Isamu.
Ia sudah memperhatikan sejak awal.
Matanya tertuju pada Bola Wahyu.
Namun ia tidak langsung mengatakan apa pun.
Ratu Evelyne menoleh sedikit ke arahnya.
“Isamu.”
Panggilan itu singkat, tapi cukup jelas.
Isamu melangkah maju perlahan.
" dia tidak memiliki sihir yang mulia"
Jawabannya sederhana.
Tidak menjelaskan apa pun.
Ratu menatapnya lebih lama, seolah menunggu sesuatu yang lain.
Namun Isamu tidak melanjutkan.
Ruangan kembali hening.
Ratu Evelyne kemudian mengalihkan pandangannya ke bayi itu.
“Anak siapa?” tanyanya.
“Selir Mireya, Yang Mulia,” jawab pelayan.
Ratu mengangguk pelan.
Ekspresinya kembali datar.
“Beri nama.”
Pelayan itu terlihat sedikit gugup.
“Sakura…”
Ratu tidak memberi tanggapan.
Ia hanya berbalik dan berjalan keluar ruangan.
Mireya menatap bayinya dengan cemas, seolah menyadari bahwa sesuatu tidak beres.
Namun tidak ada yang bisa ia lakukan.
Di istana ini, keputusan bukan miliknya.
Di sudut ruangan, Isamu masih berdiri.
Tatapannya tetap pada bayi itu.
Untuk sesaat, ia tampak berpikir.
Namun kemudian ia berbalik, mengikuti langkah ratu.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
---------
Hai semua
mimin mau bilang maaf dulu nih jika cerita kurang menarik atau ceritanya hampir sama dengan novel mimin sebelumnya yang masih tentang balas dendam.
Jangan terlalu berharap ya
Mimin baru mencoba membuat Novel kembali setelah beberapa lama off.
Terima kasih🥰🥰🥰