AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadar
Udara di dalam aula utama terasa semakin berat namun damai. Cahaya yang memancar dari Pilar Persegi itu menerangi wajah keduanya dengan warna keemasan. Kakek Genpo masih duduk di lantai, kakinya belum sanggup menopang berat badan, sementara Deon Key berdiri tegak seperti patung, matanya tak lepas dari lempengan batu melayang di hadapannya.
"CATATAN AKHIR ZAMAN Q"
Huruf-huruf itu bersinar, seolah hidup dan menunggu untuk dibaca.
"Deon... baca... baca apa tulisannya..." pinta Genpo parau, tangannya masih mencengkeram ujung celana cucunya. "Kakek... kepala pusing melihat cahaya sebanyak ini."
Deon mengangguk pelan. Ia tidak menyentuhnya, tapi matanya yang jenius mampu menangkap setiap detail yang mulai muncul perlahan di permukaan lempengan itu. Gambar dan tulisan mulai mengalir seperti air, menceritakan kisah yang telah lama terkubur.
Lambat laun, visi itu terbentuk di mata mereka.
Terlihat gambar sebuah peradaban yang sangat maju. Kota-kota yang melayang di udara, mesin-mesin raksasa, dan manusia yang memiliki kekuatan luar biasa karena aliran Energi Q yang mengalir bebas di alam semesta.
"Tuh kan Kek," bisik Deon. "Dulu energi ini ada di mana-mana. Manusia tidak butuh bensin, listrik, atau api. Cukup dengan pikiran dan energi Q, mereka bisa melakukan segalanya."
"Tapi kenapa bisa hilang?" tanya Genpo.
Terlihat pertempuran dahsyat. Langit berwarna ungu dan hitam. Orang-orang berebut menguasai Energi Q. Mereka ingin mengambilnya semua untuk diri sendiri, ingin menjadi dewa, ingin menguasai dunia. Keserakahan membuat mereka lupa diri.
Hingga akhirnya... terjadi ledakan besar. Bukan ledakan bom, tapi ledakan energi yang membuat keseimbangan alam hancur. Energi Q yang tadinya lembut dan memberi kehidupan, tiba-tiba menjadi liar dan menghilang ke dalam perut bumi, bersembunyi jauh di tempat yang tidak bisa dijangkau tangan manusia.
"Ini catatan terakhir dari para pemimpin zaman itu," jari Deon menunjuk tulisan yang berjalan cepat.
Mereka membaca bersama-sama, suara Deon membacakan pelan namun tegas:
"Kami gagal menjaga anugerah ini. Kesombongan dan kekuasaan telah membutakan mata kami. Energi Q kini telah tidur, bersembunyi di dalam inti bumi, terbungkus oleh batu dan kristal agar tidak lagi disalahgunakan.
Kami tidak menghilang. Kami memilih turun, menjadi manusia biasa. Kami membumikan ilmu kami, membangun fondasi baru dengan tangan kosong, agar generasi mendatang belajar bahwa kekuatan terbesar bukanlah menghancurkan, melainkan membangun dan menjaga.
Kuil ini adalah kunci. Batu Zamrud adalah penjaganya. Pedang di atas atap adalah pengukunya. Jika suatu saat kuil ini bangkit kembali dan bersinar... itu artinya dunia sudah siap. Atau... dunia sedang membutuhkan pertolongan lagi."
Genpo menelan ludah. Tangannya yang gemetar kini berhenti. Ia menatap Deon yang masih berdiri mematung di depan pilar.
"Jadi... para leluhur itu benar-benar ada. Dan mereka yang membangun dunia seperti sekarang ini..."
"Tapi ada lagi Kek," Deon memotong, matanya terbelalak melihat bagian terakhir.
Gambar berubah. Muncul sebuah ilustrasi bayi yang diletakkan di bawah pohon besar, tepat di depan gerbang kuil. Dan di sebelahnya, tergambar sosok seorang anak muda yang tangannya menyentuh batu, membelah rahasia alam.
Dan di bawah gambar itu, tertulis kalimat yang membuat darah mereka berhenti mengalir:
"Penerus Kunci Beringin. Lahir tanpa orang tua, dibesarkan oleh hati yang murni. Dialah yang akan membaca pesan ini, dan dialah yang akan memutuskan... apakah Energi Q akan dibangkitkan kembali, atau dibiarkan tidur selamanya."
BRUK!
Genpo langsung jatuh tertelungkup, bersujud di lantai batu yang dingin.
"Ya Ampun... Jadi selama ini... Deon... kamu bukan anak sembarangan..." Genpo menangis terharu bercampur takut. "Kakek cuma orang tua bodoh yang nemuin bayi di pinggir jalan... ternyata yang kakek rawat itu... itu..."
Deon menoleh, wajahnya pucat namun tenang. Ia menatap tangannya sendiri. Tangan yang biasa memegang kapak, memegang buku, dan membelah batu zamrud.
"Aku... Penerus Kunci?" gumam Deon pelan. "Jadi itu alasannya kenapa aku paham semua hal? Kenapa aku bisa melihat garis pada batu? Kenapa pedang itu memilih terbang ke sini?"
Semua teka-teki kini terjawab sudah.
Ia bukan jenius karena belajar. Ia memang diciptakan untuk ini. Ia adalah warisan hidup dari Zaman Q.
Pilar itu bersinar semakin terang. Di bagian bawah lempengan batu itu, muncul dua simbol besar yang berputar:
Simbol Bumi \= Biarkan tidur. Jaga keseimbangan dunia seperti sekarang
Simbol Bintang \= Bangkitkan kembali. Buka gerbang Energi Q.
Suasana menjadi hening total. Bahkan angin pun seakan berhenti berhembus. Seluruh kuil menunggu keputusan dari anak muda di hadapannya.
"Deon..." Genpo bangkit dengan susah payah, lalu memegang bahu cucunya. "Ini tanggung jawab besar Nak. Dunia sekarang ini baik-baik saja. Orang-orang hidup damai. Kalau kamu buka energinya lagi... nanti terjadi perang lagi seperti gambar tadi?"
Deon terdiam. Otaknya bekerja menganalisis segala kemungkinan.
Kalau aku bangkitkan, teknologi akan melesat ribuan tahun ke depan. Penyakit bisa disembuhkan, kelaparan hilang. Tapi risikonya... keserakahan manusia bisa muncul lagi.
Tapi kalau aku tutup... rahasia ini akan hilang lagi, dan mungkin kesempatan ini tidak akan datang lagi ribuan tahun.
Ia menatap simbol Bumi, lalu menatap simbol Bintang.
Tiba-tiba ia teringat kata-kata di awal catatan itu:
"Kekuatan sejati bukan terletak pada apa yang bisa kita hancurkan, tapi pada apa yang bisa kita bangun dan pertahankan."
Deon tersenyum tipis. Ia mengerti apa yang harus dilakukan.
"Bukan buka, bukan tutup Kek," kata Deon pelan.
"Maksudnya?"
"Kita ubah sistemnya," mata Deon berkilat cerdik. "Kita tidak buka gerbangnya untuk semua orang. Tapi kita buat kuncinya cuma ada di sini. Di Kuil Beringin ini."
Deon mengangkat tangannya, dan dengan gerakan lambat namun pasti, ia menyatukan kedua simbol itu menjadi satu!
SIMBOL BERINGIN BARU TERBENTUK!
BRUMMMMMMMMM!!!
Seluruh kuil bergetar hebat! Cahaya meledak keluar namun tidak menyakitkan. Energi yang luar biasa terasa mengalir deras, tapi kali ini tidak meledak ke luar. Energi itu justru turun, meresap ke dalam tanah, menyatu dengan akar pohon, dan menyatu dengan batu-batu zamrud yang ada di halaman.
Cahaya mereda menjadi normal. Kuil tetap berdiri megah dan indah, tapi kini terasa lebih "hidup". Aura di tempat ini terasa damai, kuat, dan penuh rahasia.
Deon menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia merasa tubuhnya ringan, pikirannya jernih, dan ia tahu... segalanya sudah berubah.
"Sudah selesai Kek," Deon menoleh ke Genpo dengan senyum lebar. "Sekarang tempat ini bukan lagi reruntuhan. Ini adalah Benteng Terakhir Zaman Q. Dan kita... adalah penjaganya."
Genpo memandang sekeliling, lalu memeluk Deon erat-erat, menangis bahagia.
"Bangga... Kakek bangga sekali sama kamu, Nak. Deon Key... Penjaga Kuil Beringin."