Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
***
Langit di atas Desa Sukamaju pagi itu tidak seperti biasanya. Alih-alih disambut semburat jingga, cakrawala justru tertutup gumpalan awan hitam yang menggantung rendah. Angin bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon mangga di halaman rumah dinas dengan kasar. Suasana terasa gelap dan mencekam, seolah alam sedang ikut bersiap menyambut sebuah peristiwa besar.
Di dalam rumah, keheningan pecah saat fajar baru saja menyingsing. Laras, yang sempat terlelap barang sejenak di sofa setelah ikhtiar panjang bersama Bagas semalam, tiba-tiba tersentak bangun.
"Nggghhh... Mas..." rintih Laras.
Belum sempat ia memanggil lebih keras, sebuah sensasi asing terjadi di dalam tubuhnya. Pletak. Suara itu tidak terdengar oleh telinga, namun terasa nyata di dalam perutnya—seperti sebuah balon yang meletus. Detik berikutnya, cairan hangat dalam jumlah banyak membanjiri sofa, membasahi daster dan kain jarik yang menyelimutinya.
"Mas! Mas Bagas! Ketubannya... ketubannya pecah!" seru Laras dengan nada panik yang bercampur dengan rasa sakit yang mendadak melonjak berkali-kali lipat.
Bagas, yang sedang menyeduh teh di dapur demi mengusir kantuk, hampir menjatuhkan cangkirnya. Ia berlari kencang menuju ruang tengah. Ia hanya mengenakan kaos dalam dan sarung yang tersampir asal, namun ia tidak peduli.
"Tenang, Ras. Tenang. Tarik napas," Bagas berlutut di samping sofa, melihat genangan air yang kian meluas. "Jangan panik, Mas di sini."
Bagas segera meraih ponselnya dengan tangan gemetar, menekan nomor Bidan Siti. "Halo? Bu Siti! Ketubannya pecah! Iya, sekarang! Cepat Bu, Laras sudah kesakitan sekali!"
Seketika itu juga, kontraksi yang tadinya masih bisa diajak berkompromi, kini berubah menjadi dorongan hebat yang tak terbendung. Laras mencengkeram lengan sofa hingga kukunya memutih. Wajahnya memerah, peluh sebesar biji jagung mengucur dari dahinya.
"Aaaaaakhhh! Mas... sakit banget! Dorongannya... aku mau ngeden, Mas!"
Suara teriakan Laras rupanya membangunkan Gilang dan Arka. Kedua bocah itu keluar dari kamar dengan wajah mengantuk yang seketika berubah menjadi bingung dan cemas melihat Mamahnya merintih di sofa.
"Mamah? Mamah kenapa nangis?" Arka mulai sesenggukan, ia mendekat dan memegang tangan Laras yang dingin.
Gilang, yang lebih besar, segera paham. Ia melihat Bapaknya yang sibuk mondar-mandir menyiapkan kain bersih. Gilang mendekati Laras, mengelus rambut Mamahnya dengan lembut.
"Mamah kuat... Adek bayi mau keluar ya, Mah?" bisik Gilang. Suara polos itu entah bagaimana menjadi anestesi alami bagi Laras.
Laras membuka matanya sedikit, menatap putra sulungnya. Di tengah rasa sakit yang seolah ingin membelah panggulnya, ia memaksakan suara. "Iya, Sayang... doakan Mamah ya. Mas Gilang jaga Arka dulu, ya?"
"Mamas di sini aja, Mah. Mamas pegangin tangan Mamah," jawab Gilang teguh.
Bagas kembali ke sisi Laras, membimbing istrinya untuk bangkit. "Ras, ayo ke kamar. Pelan-pelan. Bu Siti sudah di jalan, katanya badai di luar menghambat motornya, tapi dia pasti sampai."
Bagas membiarkan Laras bersandar sepenuhnya pada tubuhnya. Setiap kali dorongan itu datang, Laras akan berhenti, berpegangan pada pundak Bagas, dan mengejan kecil tanpa sadar. Bagas memeluknya erat, membisikkan doa-doa di telinga Laras.
Sesampainya di kamar, Bagas membantu Laras mengambil posisi berbaring miring. Kontraksi kini datang setiap dua menit sekali, masing-masing berlangsung hampir satu menit penuh. Laras sudah tidak bisa lagi bersandiwara. Ia mengerang, merintih, dan sesekali berteriak saat rasa nyeri itu memuncak.
"Nggghhh... haaa... Mas, aku nggak kuat... ampun, Mas!"
"Kuat, Larasati. Kamu wanita paling hebat yang Mas kenal," Bagas menyeka keringat Laras dengan handuk kecil, lalu mengecup keningnya. "Laras, dengar Mas. Lihat mata Mas."
Laras membuka mata dengan susah payah, menatap mata Bagas yang sembab namun penuh kekuatan.
****
Bersambung
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.