Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Suara dalam mimpi
Malam itu…
Sakura tertidur lebih cepat dari biasanya.
Tubuhnya kelelahan.
Latihan tanpa henti. Luka yang belum sepenuhnya sembuh. Dan rasa sakit yang datang tanpa pola seolah sesuatu di dalam dirinya terus bergerak, terus mencoba keluar.
Ia bahkan tidak sempat berpikir panjang.
Begitu kepalanya menyentuh bantal kesadarannya tenggelam.
Namun…
Tidurnya tidak tenang.
Gelap.
Sunyi.
Tidak ada suara.
Tidak ada angin.
Tidak ada kehidupan.
Sakura berdiri sendirian.
“…Ini…”
Suaranya terdengar kecil. Teredam. Seolah kegelapan itu menyerap segalanya, bahkan suara.
Ia melihat sekeliling.
Tidak ada apa-apa.
Hanya ruang tanpa batas.
Kosong.
Namun anehnya ia tidak merasa sendirian.
Ada sesuatu di sana.
Mengawasinya.
Menunggunya.
Langkah Sakura bergerak pelan.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Tanpa arah.
Namun kakinya tetap berjalan.
Seolah tubuhnya tahu ke mana harus pergi meskipun pikirannya tidak.
Degup.
Degup.
Degup.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Dan kemudian di kejauhan…
Ada sesuatu.
Cahaya.
Samar.
Berdenyut pelan.
Seperti detak jantung.
Sakura berhenti.
Menatapnya.
“…Apa itu…?”
Cahaya itu berkedip.
Sekali.
Lalu lagi.
Seolah… merespon kehadirannya.
Tanpa sadar ia melangkah mendekat.
Semakin dekat…
Cahaya itu semakin jelas.
Dan perlahan
Bentuknya mulai terlihat.
Pintu itu.
Pintu hitam yang sama.
Besar. Sunyi. Menekan.
Ukiran di permukaannya bergerak pelan, tidak lagi hanya berpendar, tapi benar-benar hidup. Garis-garisnya bergeser seperti makhluk yang bernapas.
Jantung Sakura berdegup kencang.
“…Kenapa aku di sini…?”
Langkahnya berhenti tepat di depan pintu.
Tidak ada Kaelen.
Tidak ada suara lain.
Hanya dia…
Dan pintu itu.
Dan sesuatu… di baliknya.
“Kau datang…”
Suara itu.
Lebih jelas dari sebelumnya.
Lebih dekat.
Lebih… nyata.
Sakura membeku.
Seluruh tubuhnya menegang.
“Siapa kau?!” suaranya bergetar, namun ia memaksa tetap berdiri.
Tidak ada jawaban langsung.
Namun ukiran di pintu itu bergerak lebih cepat.
Seolah merespon emosinya.
“Sudah lama… aku menunggumu…”
Sakura mundur selangkah.
Rasa dingin merayap naik dari kakinya.
Menjalar ke seluruh tubuh.
“Menungguku… untuk apa?”
Hening.
Sesaat.
Lalu suara itu berubah.
Lebih dalam.
Lebih berat.
Seolah bukan satu suara…
melainkan banyak suara yang berbicara bersamaan.
“Untuk membebaskanku…”
Udara di sekitarnya berubah.
Menekan.
Berat.
Sakura menggenggam tangannya erat.
Kuku-kukunya hampir menembus kulit.
“Aku tidak mengenalmu…”
“Tapi aku mengenalmu…”
Tiba-tiba celah kecil muncul di tengah pintu.
Retakan tipis.
Namun cukup untuk Membiarkan sesuatu keluar.
Bayangan hitam muncul.
Seperti asap.
Namun lebih padat.
Lebih hidup.
Ia berdenyut.
Bergerak.
Dan… melihat.
Sakura terkejut.
Langkahnya mundur lagi.
Namun kakinya terasa berat.
Seolah tertanam di tempatnya.
Bayangan itu bergerak.
Mendekat.
Pelan.
Namun pasti.
Refleks Sakura mengangkat tangan.
Namun tubuhnya tidak merespon sepenuhnya.
Seolah ada sesuatu yang menahannya.
“Tubuhmu… telah dipersiapkan…”
Suara itu kini tepat di telinganya.
Dekat.
Terlalu dekat.
Sakura menggertakkan gigi.
“Kau adalah kunci…”
“Aku bukan!”
Tiba-tiba dadanya terasa sakit.
Sangat sakit.
“AAH!”
Sakura terjatuh berlutut.
Tangannya mencengkeram dadanya.
Rasa itu kembali.
Rasa yang sama seperti sebelumnya namun jauh lebih kuat.
Seolah sesuatu di dalam dirinya… bangkit.
Cahaya muncul.
Samar.
Dari dalam tubuhnya.
Bukan cahaya terang.
Tapi cahaya yang bergetar.
Tidak stabil.
Seolah bisa padam kapan saja.
Namun cukup untuk membuat bayangan itu berhenti.
Suara itu terdiam.
Hening.
Sejenak.
Lalu
Tertawa.
Pelan.
Namun penuh makna.
“Menarik…”
“Kau menolak…”
Cahaya di tubuh Sakura berdenyut lebih kuat.
Namun juga… tidak stabil.
Seolah dua kekuatan saling bertabrakan di dalam dirinya.
“Tapi pada akhirnya…”
Suara itu kembali berat.
Menekan.
“Kau akan kembali…”
Bayangan itu bergerak lagi.
Lebih cepat.
Lebih dekat.
Tangannya, jika itu bisa disebut tanga memanjang ke arah wajah Sakura.
Udara di sekitarnya membeku.
Tekanan meningkat.
Sakura tidak bisa bergerak.
Tidak bisa melawan.
Tubuhnya terkunci.
Namun matanya tetap menatap lurus.
Penuh penolakan.
Penuh… perlawanan.
“Aku… tidak akan”
Tangan bayangan itu hampir menyentuhnya
“Bangun!”
BRAK!
Sakura terbangun.
Tubuhnya terangkat setengah dari tempat tidur.
Napasnya terengah.
Cepat.
Tidak teratur.
Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
Matanya gemetar.
Mencari.
Memastikan.
“…Mimpi…”
Ia menatap sekeliling.
Kamar.
Dinding.
Semua kembali normal.
Tidak ada pintu.
Tidak ada bayangan.
Tidak ada suara.
Namun dadanya masih terasa sakit.
Ia memegangnya pelan.
Jantungnya masih berdetak kencang.
“…Bukan sekadar mimpi…”
Ia tahu.
Ia bisa merasakannya.
Itu nyata.
Sangat nyata.
Dan sesuatu… telah berubah.
Pagi hari.
Akademi kembali hidup.
Suara siswa terdengar di mana-mana.
Namun bagi Sakur semuanya terasa jauh.
Ia duduk di kelas.
Tatapannya kosong ke depan.
Guru berbicara.
Menjelaskan teori sihir tingkat dasar, namun tidak satu pun masuk ke dalam pikirannya.
Suara itu…
Masih terngiang.
“Untuk membebaskanku…”
Tangannya tanpa sadar mengepal.
Kuku-kukunya menekan kulit.
“…Kunci…”
Ia menggertakkan gigi pelan.
Tidak.
Ia menolak.
Ia tidak akan
“Tch.”
Suara kecil terdengar dari samping.
Sakura sedikit menoleh.
Claudia.
Duduk tidak jauh darinya.
Tatapannya tajam.
Mengarah langsung ke Sakura.
“…Dia berubah lagi…”
Bisikan itu pelan.
Namun cukup terdengar.
Claudia menyipitkan matanya.
Ia bukan hanya melihat.
Ia merasakan.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan kekuatan.
Bukan mana.
Tapi Aura.
Sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Dan itu…
Membuatnya tidak nyaman.
Sangat tidak nyaman.
Namun Sakura tidak membalas.
Ia hanya menatap ke depan lagi.
Berusaha mengabaikannya.
Tapi di dalam dirinya sesuatu masih berdenyut.
Malam.
Ruang Alkimia.
Seperti biasa Sakura datang, namun langkahnya lebih berat dari biasanya.
Setiap langkah terasa seperti membawa beban.
Kaelen sudah ada di sana.
Berdiri di dekat meja.
Seolah sudah menunggu.
Tatapannya langsung tertuju pada Sakura begitu ia masuk.
“Kau tidak fokus.”
Sakura berhenti.
Diam sejenak.
“…Saya bermimpi.”
Kaelen tidak bergerak.
Namun matanya berubah.
“…Tentang pintu itu.”
Hening.
Udara di ruangan itu terasa menegang.
Untuk pertama kalinya ekspresi Kaelen benar-benar berubah.
Tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
“Apa yang kau lihat?”
Suaranya lebih rendah dari biasanya.
Lebih serius.
Sakura ragu.
Namun hanya sesaat.
Lalu ia mulai bercerita.
Tentang kegelapan.
Tentang pintu.
Tentang suara.
Tentang bayangan.
Tentang kata
“kunci”.
Setiap kata yang keluar membuat udara semakin berat.
Kaelen tidak menyela.
Tidak bergerak.
Namun tatapannya semakin dalam.
Seolah menganalisis setiap detail.
Setelah Sakura selesai hening panjang memenuhi ruangan.
Beberapa detik.
Namun terasa jauh lebih lama.
“…Mulai sekarang,” kata Kaelen akhirnya, pelan namun tegas,
“kau tidak boleh mendekati lorong itu sama sekali.”
Sakura menggenggam tangannya.
“…Apa itu sebenarnya?”
Kaelen terdiam.
Matanya beralih sejenak.
Seolah mempertimbangkan sesuatu.
Namun akhirnya ia kembali menatap Sakura.
“…Sesuatu yang seharusnya tetap tertidur.”
Jawaban yang sama.
Namun kali ini lebih berat.
Lebih nyata.
Tatapannya tajam.
“Dan sesuatu itu… mulai menyadari keberadaanmu.”
Sakura terdiam.
Jantungnya berdegup kencang.
Namun kali ini bukan karena takut.
Tapi karena ia mengerti.
Bahwa semua ini…
bukan kebetulan.
Bahwa semua rasa sakit…
semua mimpi…
semua hal aneh yang terjadi…
memiliki arti.
Dan arti itu tidak sederhana.
Ia menatap tangannya.
Masih gemetar pelan.
Namun perlahan ia mengepalkannya.
Kuat.
“…Aku tidak akan membiarkannya.”
Suaranya pelan.
Namun jelas.
Kaelen menatapnya.
Untuk sesaat sesuatu melintas di matanya.
Namun ia tidak berkata apa-apa.
Hanya berbalik.
“Latihan tetap berlanjut.”
Nada suaranya kembali normal.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun Sakura tahu semuanya sudah berubah.
Dan ini…
baru permulaan.
----