Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.
Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.
Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.
Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.
"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
"Sudah cukup main-mainnya," gumamnya dingin.Tanpa memberi peringatan sedikit pun, Shen Yu melesat masuk ke dalam ruangan dengan kecepatan yang sulit dilihat mata biasa.
DUAK!
Satu tendangan cepat tepat mengenai perut pria yang paling depan. Tubuh orang itu terlempar mundur sampai menabrak dinding, lalu terkulai lemas di lantai sambil memegang perutnya yang terasa remuk, tidak bisa bergerak sama sekali.
Yang kedua baru saja berbalik kaget, tapi tangan Shen Yu sudah bergerak. Ia menangkap pergelangan tangan yang sedang memegang tongkat, lalu memutarnya dengan tenaga yang besar.
KRAK!
Suara tulang patah terdengar jelas.
"ARGGHHH!! TANGANKU!!" teriak pria itu kesakitan, tongkat di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
Yang ketiga mencoba menyerang dari samping dengan mengayunkan tinju sekuat tenaga, tapi Shen Yu hanya menggeser badannya sedikit saja untuk menghindar. Lalu dengan punggung tangan, ia memukul tepat di leher bagian belakang pria itu.
BUK!
Dalam sekejap, orang itu langsung jatuh tersungkur pingsan di tempat.
Semua terjadi dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Tiga orang penindas yang tadi gagah perkasa kini sudah tergeletak di lantai, dua di antaranya merintih kesakitan sedangkan yang satu lagi sudah tidak sadarkan diri.
Shen Yu berdiri tegak di tengah ruangan, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia menatap ketiga orang itu dengan tatapan dingin.
"Dasar sampah masyarakat," ucapnya pelan namun menusuk. "Berlagak hebat cuma karena berkelompok dan menyerang orang lemah.benar-benar bajingan."
Ia kemudian menoleh ke arah pemuda yang masih terbaring lemah, lalu melangkah mendekat untuk memeriksa kondisinya.
Setelah memastikan pemuda itu masih bernapas meski nyawanya melayang, Shen Yu langsung menggendong tubuh ringkih itu di punggungnya. Darah dari luka-luka pemuda itu membasahi pakaiannya, tapi ia tidak peduli sama sekali.
Yang penting sekarang adalah membawa anak ini mendapatkan pertolongan secepat mungkin sebelum terlambat.
Begitu ia melangkah keluar dari ruangan dan turun ke lantai bawah, tampak pemilik kedai datang bersama beberapa orang berseragam yang merupakan petugas keamanan kota.
Wajah pemilik kedai masih penuh ketakutan namun juga lega karena bantuan sudah datang.
Melihat Shen Yu yang sedang membawa seseorang di punggungnya, pemilik kedai segera menghampiri dan bertanya dengan nada tergesa:
"Tuan! Dimana para penjahat yang berkelahi dan membuat kerusakan itu? Apakah mereka masih di dalam?"
Shen Yu hanya melirik sekilas tanpa berhenti berjalan, melangkah melewati mereka dengan tenang.
"Mereka masih ada di atas. Sudah tidak berdaya, tinggal ditangkap saja," jawabnya singkat.
Mendengar itu, para petugas keamanan langsung bergerak cepat menaiki tangga diikuti oleh pemilik kedai, ingin segera mengamankan para pelaku sebelum mereka sempat kabur.
Sementara itu, Shen Yu terus berjalan keluar dari kedai dan menuju arah barat kota, tempat Klinik Tabib Song berada—tempat yang terkenal dengan pengobatan yang cepat dan biaya yang terjangkau.
Sesampainya di depan pintu klinik, ia melihat ada beberapa orang yang sudah menunggu di sana. Ternyata itu adalah koki dan para pelayan kedai yang tadi membawa pria yang jatuh dari lantai atas.
Mereka masih terlihat gelisah, terus mondar-mandir di depan pintu sambil sesekali mengintip ke dalam ruangan pengobatan.
Begitu melihat Shen Yu datang membawa pemuda lain yang juga terluka parah, mereka langsung menyambutnya dengan wajah terkejut.
"Wah Tuan! Ternyata Tuan juga membawa orang yang terluka lagi?" seru kepala pelayan dengan suara kaget. "Yang tadi sudah ditangani oleh Tabib Song, katanya lukanya cukup parah tapi nyawanya masih bisa diselamatkan kalau dirawat dengan baik."
Shen Yu mengangguk singkat. "Anak ini kondisinya lebih buruk, cepat panggil tabibnya."
Mereka segera membukakan pintu lebar-lebar, membantu Shen Yu membawa masuk pemuda itu ke dalam ruangan pengobatan yang berbau ramuan obat dan kayu cendana.
Shen Yu menidurkan tubuh pemuda itu dengan hati-hati di atas ranjang pengobatan dari bambu, memastikan posisinya tidak menekan bagian yang terluka.
Setelah itu ia mundur selangkah, memberi ruang bagi Tabib Song yang segera mendekat dengan peralatan dan kotak obatnya.
"Saya serahkan padamu, Tabib," ucapnya singkat sebelum berbalik keluar ruangan.
Ia memilih menunggu di beranda depan bersama para koki dan pelayan kedai. Udara di luar terasa lebih sejuk dan tenang, jauh dari bau darah serta aroma ramuan obat yang menyengat di dalam.
Mereka semua duduk diam, sesekali saling melirik dengan wajah cemas, takut mendengar kabar buruk.
Tak lama kemudian, tirai pintu dibuka dan Tabib Song keluar dengan wajah serius. Ia sudah berusia lanjut dengan janggut putih memanjang, matanya terlihat lelah namun tetap tajam.
"Bagaimana keadaannya, Tabib? Apakah nyawanya selamat?" tanya kepala pelayan segera, diikuti tatapan penuh harap dari semua orang termasuk Shen Yu.
Tabib Song menghela napas panjang, lalu menggeleng perlahan.
"Kondisinya cukup parah. Selain luka memar dan goresan di seluruh tubuh, ia mengalami cidera pada organ dalamnya. Dan yang paling berbahaya... tiga tulang rusuknya patah. Salah satu pecahannya bahkan nyaris menusuk paru-paru."
Mendengar penjelasan itu, semua orang langsung terdiam. Wajah mereka berubah pucat, membayangkan betapa sakit dan menderitanya pemuda itu saat dipukuli habis-habisan.
"Apakah masih bisa diselamatkan?" tanya Shen Yu, suaranya terdengar datar namun ada nada khawatir yang samar.
"Bisa," jawab Tabib Song dengan yakin."Asalkan dirawat dengan baik, minum obat secara teratur, dan benar-benar istirahat total selama tiga bulan ke depan. Kalau sampai ia bergerak berat atau mendapat benturan lagi, nyawanya bisa melayang kapan saja."
Setelah mengatakan itu, tabib tua itu melanjutkan, "Dan satu hal lagi... biaya pengobatan dan obat-obatan untuk kasus seberat ini tidaklah murah."
Seketika suasana menjadi hening kembali. Para pelayan dan koki saling memandang, mereka hanyalah pekerja biasa yang penghasilannya pas-pasan, mana mungkin mampu membayar biaya pengobatan yang mahal.
Shen Yu yang berdiri menyandarkan tubuhnya di tiang kayu beranda segera menegakkan badan. Matanya menatap langsung ke arah Tabib Song.
"Kalau begitu, berapa total biayanya untuk kedua orang yang terluka itu?" tanyanya dengan nada tenang.
Tabib Song menghitung sebentar dalam hati, lalu menjawab dengan jujur:
"Untuk pria dewasa yang pertama, lukanya lebih ringan, cukup luka luar dan pendarahan. Totalnya sekitar 300 tael, sudah termasuk obat dan biaya perawatan selama seminggu. Sedangkan untuk pemuda ini, kondisinya jauh lebih berat. Ada operasi penyambungan tulang, obat-obatan khusus untuk memulihkan organ dalam, dan perawatan jangka panjang. Biayanya mencapai 1.200 tael perak"
"Jadi total keduanya 1.500 tael," tambahnya lagi.
Mendengar angka itu, para koki dan pelayan langsung terkejut sampai mulut mereka terbuka lebar.
"1.500 tael?! Itu jumlah yang sangat besar! Gaji kami setahun saja baru sekitar 10 tael, mana mungkin mampu membayar sebanyak itu!" seru salah satu pelayan dengan wajah putus asa.
Mereka semua mulai panik, takut kalau tidak ada yang membayar, kedua orang itu tidak akan mendapatkan pengobatan yang layak.
Namun di tengah kekhawatiran mereka, Shen Yu hanya mengangguk santai seolah angka itu tidak ada artinya baginya. Ia langsung merogoh dari dalam pakaiannya—gerakan yang tidak terlihat jelas oleh orang lain karena posisinya—dan mengeluarkan sekantong besar uang perak.
Dug!
Kantong itu diletakkan di meja depan Tabib Song dengan suara berat.
"Di sini ada 2.000 tael perak. Cukup untuk membayar semua biaya pengobatan, perawatan, dan juga makanan mereka selama dirawat. Sisanya bisa kamu simpan sebagai perawatan untuk biyaya makan mereka," ucap Shen Yu tanpa ragu sedikit pun.
Semua orang yang ada di sana tertegun mematung, menatap kantong uang itu dengan mata terbelalak.
Mereka tidak menyangka orang yang terlihat sederhana seperti Shen Yu ternyata memiliki kekayaan sebesar itu, dan mau mengeluarkan uang sebanyak ini hanya untuk menolong orang yang bahkan tidak dikenalnya.
"Tuan... ini... ini terlalu banyak!" kata Tabib Song terkejut.
"Tidak apa-apa," jawab Shen Yu sambil melambaikan tangan. "Yang penting mereka sembuh dan tidak ada lagi korban jiwa. Sisanya urus saja dengan baik."
Setelah mengatakan itu, ia melirik ke arah dalam klinik, lalu memutuskan:
"Sekarang saya pulang dulu. Kalau ada apa-apa, nanti saya akan datang kembali untuk mengecek keadaan mereka."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Shen Yu melangkah pergi meninggalkan klinik dengan langkah santai.
Di dalam hatinya, ia hanya berpikir: 'Uang 1.500 tael itu cuma sebagian kecil dari kekayaanku. Daripada uang itu menganggur di ruang penyimpanan, lebih baik dipakai untuk menyelamatkan nyawa.'
Setelah meninggalkan klinik, Shen Yu berjalan santai menyusuri jalanan pulang. Namun sepanjang perjalanan, ia sadar semua orang yang lewat atau berdiri di pinggir jalan langsung menoleh, lalu segera menjauh dengan wajah ketakutan.
Pakaian katun abu-abunya yang tadinya bersih dan rapi kini dipenuhi noda darah kering dan basah, meninggalkan bau amis yang cukup menyengat.
Bagi orang-orang zaman ini, melihat seseorang berjalan-jalan dengan baju penuh darah seperti ini sama saja melihat pembunuh atau orang yang baru keluar dari medan perang.
Bagi mereka, ia bagaikan momok yang harus dihindari.
"Wah, lihat itu! Orang itu berlumuran darah semua! Jangan-jangan dia baru saja membunuh orang?!"
"Cepat-cepat minggir! Jangan sampai kena sial!"
"Aduh serem banget, mukanya juga dingin kayak orang tidak punya perasaan..."
Bisik-bisik dan pandangan takut itu terus mengikuti langkahnya, tapi Shen Yu sama sekali tidak peduli. Ia hanya mendengus pelan dalam hati.
'Dasar orang-orang sensitif. Ini darah orang lain, bukan darahku,' pikirnya malas.
Setelah berjalan sekitar setengah jam, akhirnya ia sampai di rumahnya yang terletak di lingkungan perumahan yang agak sepi.
Begitu masuk ke dalam, ia segera memutar kunci dan mengunci pintu depan rapat-rapat dari dalam, memastikan tidak ada orang yang bisa masuk atau mengganggu.
Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ke kamar mandi di bagian belakang rumah.
Dengan cepat ia melepas semua pakaian kotor itu dan membuangnya ke dalam ember khusus—nanti saja akan dibersihkan atau bahkan dibuang kalau sudah terlalu rusak.
Ia kemudian masuk me supermarket nya untuk mandi disana ,dia memutar keran air, Air hangat mengalir deras, membasahi seluruh tubuhnya.
Ia menggosok setiap bagian kulitnya dengan sabun wangi, sampai tidak ada lagi bekas darah atau noda kotoran yang tersisa. Bahkan rambut dan kuku-kukunya dibersihkan sampai benar-benar bersih, karena ia tidak suka merasa lengket atau kotor sama sekali.
Selagi mandi, pikirannya melayang-layang memikirkan kejadian hari ini. Mulai dari dapat uang 2.500 tael, makan bebek merah yang hampir sempurna, sampai terlibat lagi dalam keributan yang bukan urusannya.
'Huh, hari ini benar-benar penuh gangguan. Untungnya masalahnya sudah selesai, uang masih tersisa banyak, dan sekarang tinggal tidur nyenyak,' gumamnya sambil menyiram air ke kepalanya.
Setelah memastikan dirinya benar-benar bersih dan segar, ia memakai pakaian tidur yang lembut dan nyaman. Langkah kakinya bergerak ringan menuju kamar tidur, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk yang sudah menunggunya.
Dalam hitungan detik, mata yang tadinya terjaga langsung terpejam rapat.
Suasana rumah yang sunyi dan nyaman membuatnya langsung terlelap dalam tidur yang dalam, seolah semua keributan, darah, dan masalah tadi pagi sampai sore hanyalah mimpi buruk yang sudah lenyap begitu saja.
Ini adalah bagian paling menyenangkan dari harinya—tidur dengan tenang tanpa ada gangguan apa pun.