NovelToon NovelToon
EDITOR GANTENG DARI ALAM BAKA

EDITOR GANTENG DARI ALAM BAKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Enemy to Lovers / Cinta Beda Dunia
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.

Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.

Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.

Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lari dari Rasa Sakit

Tulisan merah itu menghilang perlahan, meninggalkan rasa dingin yang merayap di tulang belakang Dori.

Dadanya terasa kosong melompong, ada bagian dari dirinya yang ikut ditarik pergi bersama Matcha.

"Gila ... cuma sehari. Kalau dalam 24 jam kita gak baikan, kita pisah selamanya? Itu artinya... dia bakal hilang dari hidupku gitu aja?!" batinnya berteriak panik, kakinya lemas sekali.

Dori memeluk tubuhnya sendiri dengan gemetar. Rasa sakit karena ditolak dan dituduh tadi masih perih di hati.

"Cha... jangan macam-macam dong... aku gak sanggup kalau harus kehilangan kamu..." bisiknya pelan, air mata lagi-lagi mau jatuh.

Di dalam mobil mewah yang melaju kencang, suasana hening dan mencekam.

Hanya suara mesin yang menderum keras membelah jalanan kota menuju arah pegunungan. Langit di luar gelap sekali, seakan ikut bersedih.

Dori duduk di kursi paling belakang, menempelkan keningnya ke kaca jendela yang dingin. Di pangkuannya, laptop tertutup rapat, gelap, dan sunyi.

Tidak ada suara omelan, tidak ada suara menyuruh nulis, tidak ada suara yang bilang sayang.

Hampa.

"Gila ya... baru sadar aku betapa berisiknya dia selama ini," gumam Joulle sambil menyetir, wajahnya juga terlihat tidak enak.

"Dia cuma bingung dan kaget doang kok Dori. Cowok kalau lagi emosi dan syok, otaknya suka error gitu," kata Liliana berusaha menghibur sambil menepuk pelan bahu Dori.

"Tapi kata-katanya tajam banget Kak... dia bilang tangan aku berdarah..." isak Dori pelan.

"Itu karena ingatannya lagi nge-crash. Dia belum bisa bedain mana masa lalu mana masa sekarang."

Prof Barroq yang duduk di depan menoleh sedikit lewat kaca spion. Matanya menatap putrinya dengan penuh penekanan.

"Dori, dengarkan Papa. Ikatan kalian itu sudah setara nyawa. Tidak ada yang bisa putuskan semudah itu, kecuali kalian sendiri yang menyerah."

"Notifikasi tadi itu cuma mekanisme pertahanan diri sistem. Itu peringatan keras."

"Berarti ... masih ada harapan kan Pa?" Dori mengangkat wajahnya cepat.

"Tentu. Selama api cinta di hati kalian masih ada ... segalanya masih bisa diperbaiki."

Tiba-tiba...

Layar laptop di pangkuan Dori menyala sendiri sedikit. Tidak muncul wajah Matcha, hanya muncul tulisan tangan yang berantakan dan tergesa-gesa.

[AKU PERLU SENDIRI. JANGAN CARI AKU. MAAF DOROTHY.]

Jleb!

Jantung Dori terasa ditusuk lagi. Ia langsung mengetik balasan dengan jari gemetar.

[Cha jangan gitu! Kita omongin baik-baik! Aku sayang kamu!]

Tapi tulisan itu langsung terhapus sendiri, dan muncul balasan singkat:

[PERGILAH. AKU BENCI MELIHAT WAJAHMU.]

Brak!

Dori menutup laptopnya kasar, lalu membenamkan wajah ke lututnya menangis tersedu-sedu.

"Jahat ... jahat banget sih dia... huuu..."

Liliana langsung memeluk gadis itu erat-erat. "Sudah sayang ... sudah. Jangan ditanggepin serius. Itu cuma omongan orang lagi marah."

"Aku yakin tuh di dalem sana dia juga lagi nangis bombay dan nyesel setengah mati," tambah Joulle.

"Betul," sahut Ibu lembut. "Cowok modelan gitu ... makin keras omongannya, makin hancur perasaannya di dalem."

Dori mengusap air matanya kasar. Ia menarik napas panjang mencoba menenangkan diri. Dia marah karena dia takut. Takut kalau kebenarannya bener, berarti cintanya sia-sia.

"Aku ngerti sekarang..." Dori berbicara pelan tapi tegas. "Dia bukan benci aku. Dia takut... takut kalau selama ini dia sayang sama orang yang salah. Jadi tugas aku sekarang... buktiin kalau aku bukan orang yang salah. Dan apa yang terjadi dulu... Itu ada alasannya!"

Api semangat kembali menyala di matanya! Dari sedih berubah jadi tekad baja!

"Oke! Kita gas terus ke Markas Utama! Di sana ada Cermin Kebenaran kan?"

"Betul!" jawab Prof Barroq. "Di sana kita bisa putar ulang rekaman kejadian aslinya. Nanti dia bakal lihat semuanya jelas."

"Tapi masalahnya ... dia kabur kemana? Kita gak bisa hubungin dia," kata Joulle cemas.

Liliana tersenyum miring, lalu mengetik sesuatu di tabletnya.

"Gampang. Makhluk sekuat dia pasti ninggalin jejak energi besar. Aku bisa lacak lokasinya lewat satelit."

Bip! Bip!

"Taraaa! Ketemu! Dia ada di area hutan pinus dekat jalan ke markas. Dia lagi duduk sendirian di atas batu gede kayaknya."

Dori langsung tersentak. "DI SITU?! Stop mobilnya! Aku mau turun!"

"HAH?! MAU NGAPAIN?!" Joulle kaget menginjak rem mendadak.

"Aku jemput dia! Aku ajak dia bareng! Aku gak mau biarin dia sendirian dalam keadaan gitu!"

"Tapi Dori ... dia tadi bilang benci lho..." ingat Ibu pelan.

"Gak peduli! Sekalipun dia mukul aku atau teriakin aku, aku tetap bakal deketin dia!"

Dori membuka pintu mobil dan lari terburu-buru menuju arah hutan yang gelap dan anginnya kencang.

"DORI! TUNGGU KAMI!" teriak Liliana dan yang lain ikut menyusul.

Di tengah hutan, di atas sebuah batu besar hitam...

Terlihat sosok Matcha duduk memeluk lutut. Wajahnya tertunduk, rambutnya berantakan diterpa angin.

Auranya yang biasanya hijau terang dan megah, sekarang berubah jadi abu-abu suram dan menyedihkan.

Ia mendengar suara langkah kaki, lalu mendongak perlahan.

Melihat Dori berlari menghampirinya dengan napas terengah-engah, wajahnya langsung berubah kaget lalu marah.

"KENAPA KAU KE SINI?! KU SURUH PERGI KAN?!" teriaknya keras, suaranya serak.

Dori berhenti beberapa meter di depannya, napasnya memburu, tapi matanya menatap lurus tajam.

"AKU GAK MAU PERGI! AKU GAK AKAN PERGI SELAMA KAMU MASIH DI SINI!"

"AKU BILANG PERGI! AKU GAK MAU LIHAT MUKA PEMBUNUH!" Matcha berdiri, aura marahnya meledak lagi, membuat pohon-pohon di sekitar bergetar.

Tapi Dori tidak mundur. Justru dia maju selangkah!

"YA SUDAH! BUNUH AKU BALIK AJA SEKARANG!"

Dori membuka kedua tangannya lebar-lebar, menawarkan dadanya sendiri.

"KALAU EMANG AKU YANG BUNUH KAMU DULU, KAMU BERHAK BUNUH AKU SEKARANG! AYO! LAKUKAN!"

Matcha terpaku melihat tindakan nekat Dori. Tangannya gemetar, rahangnya mengeras.

"Kau ... gila ya?! Kenapa kau gak takut?!"

"KARENA AKU PERCAYA SAMA KAMU! AKU PERCAYA SAMA CINTA KITA!" teriak Dori balas, air matanya mengalir deras lagi.

"Walaupun kamu teriak, walaupun kamu benci, aku tahu ... di dalem hati kamu yang paling dalam ... kamu sayang sama aku!"

"Jadi ayo bunuh aku! Atau ... ayo kita baikan dan cari jawabannya bareng-bareng!"

Suasana hening seketika. Hanya suara angin dan isak tangis Dori yang terdengar.

Matcha menatap gadis itu lama sekali. Tatapannya berganti-ganti dari marah, bingung, sedih, sampai akhirnya... Bahunya turun perlahan. Aura marahnya menghilang lenyap.

Ia menjatuhkan diri kembali duduk di batu, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Hiks... huwaaa... kenapa sih hidup ini gampang banget nyiksa aku... huuu..."

Cowok gagah itu ... MENANGIS?

Dori langsung lari menghambur memeluknya erat-erat dari samping. "Sudah... sudah... Cha sayang... nangis aja kalau mau nangis. Aku di sini kok..."

"Aku takut Dori... aku takut ... bayangannya itu ..." isaknya seperti anak kecil.

"Aku tahu ... aku tahu... maafin aku ya..."

Mereka berpelukan di tengah hutan gelap, menangis bersama, melepaskan semua beban dan ketakutan.

Di kejauhan, Joulle, Liliana, dan orang tua Dori hanya mengintip dan tersenyum haru.

"Dasar drama queen ... tapi gokil," gumam Joulle sambil mengusap sudut matanya yang basah.

Tapi saat suasana mulai hangat... Tiba-tiba tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat!

DUG! DUG! DUG!

Dari dalam tanah, muncul rantai-rantai raksasa berwarna hitam pekat yang mengeluarkan asap merah.

Rantai itu melilit cepat mengikat kaki dan tangan Dori serta Matcha!l.

"APA INI?!" teriak mereka kaget.

"WUSHH!"

Sebuah gerbang raksasa terbuka di udara. Dan dari sana, muncul sosok yang jauh lebih besar dan menyeramkan dari yang lain.

"HAHAHA ... TERIMA KASIH SUDAH BERKUMPUL. SEKARANG... WAKTUNYA KEMBALI KE ASALNYA!"

Mereka tersedot masuk ke dalam portal hitam itu!

"CHAAAAA!!!"

"DORIIII!!!"

Dan dalam sekejap, mereka lenyap dari hutan itu. Menuju tempat yang tidak dikenal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!