Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Sang Predator
Gerbang besi raksasa kediaman Sujatmiko terbuka perlahan dengan suara geraman mekanis yang berat. Bagi siapa pun, rumah ini adalah simbol kemakmuran tertinggi di Jakarta; sebuah istana bergaya kolonial modern dengan pilar-pilar putih setinggi sepuluh meter yang diterangi lampu sorot kuning keemasan. Namun bagi Vittorio Genovese, tempat ini tidak lebih dari sebuah kandang predator yang dibangun di atas fondasi kebohongan.
Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan teras utama. Sopir membukakan pintu, dan Vittorio melangkah keluar.
Malam ini, ia melepaskan identitas Arjuna si mahasiswa. Ia mengenakan setelan jas charcoal grey tiga potong yang dijahit khusus, membalut tubuhnya yang kini lebih tegap dan berisi. Rambutnya disisir rapi ke belakang dengan gaya klasik pompadour yang menonjolkan garis rahangnya yang tajam. Di sampingnya, Karin turun dengan langkah yang sangat hati-hati. Gadis itu mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang elegan, namun wajahnya tampak pucat pasi, tangannya mencengkeram lengan Vittorio seolah-olah ia sedang menyeberangi jembatan yang akan runtuh.
"Juna... jantung gue kayak mau copot," bisik Karin, suaranya bergetar di balik senyum kaku yang ia paksakan. "Kenapa rumah ini auranya kayak film horor yang budgetnya triliunan?"
Vittorio menepuk tangan Karin dengan tenang. "Tetaplah di sampingku. Ingat, kau bukan hanya teman, malam ini kau adalah pasanganku. Tatap mata mereka seolah kau memiliki tempat ini."
"Gimana mau punya tempat ini kalau gue lebih mikirin gajinya satpam di sini pasti gede banget," gumam Karin, mencoba menenangkan diri.
Vittorio tidak menjawab. Ia menyesuaikan posisi anting-anting di telinga Karin—yang sebenarnya adalah pemancar audio dan peretas frekuensi pendek. Ia menekan tombol kecil di jam tangannya, mengaktifkan koneksi ke Tiger yang sudah bersiaga di luar pagar dalam radius dua kilometer.
"Predator telah masuk ke sarang," desis Vittorio ke mikrofon tersembunyi.
Mereka disambut oleh kepala pelayan yang membimbing mereka menuju ruang makan utama. Di sana, sebuah meja panjang berbahan kayu jati mengilap telah tertata dengan alat makan perak dan kristal mahal. Hadi Sujatmiko duduk di ujung meja, tampak seperti seorang raja tua yang masih memegang kekuasaannya dengan tangan besi. Di sisi kanannya duduk Bianca, yang menatap Vittorio dengan tatapan penuh selidik, dan di sisi kirinya adalah Selly yang tampak gelisah, sesekali melirik bekas memar di pipinya yang sudah tertutup riasan tebal.
"Arjuna," Hadi berdiri, suaranya berat dan menggema. "Akhirnya kau pulang ke rumah yang sebenarnya."
Vittorio menarikkan kursi untuk Karin sebelum duduk tepat di hadapan Hadi. Ia tidak menunduk. Ia menatap langsung ke mata pria yang telah menghancurkan masa kecil raga ini. "Rumah bukan tentang bangunan, Hadi. Rumah adalah tentang siapa yang kau percayai. Dan aku tidak melihat satu pun orang yang bisa dipercayai di meja ini."
Hadi tertawa, tawa yang kering tanpa emosi. "Kau benar-benar sudah kehilangan sopan santunmu di jalanan. Tapi aku menghargai kejujuranmu. Mari kita makan dulu, ada banyak hal yang harus kita bicarakan mengenai 'bisnis' baru kita."
Makanan mulai disajikan—wagyu steak dengan saus truffle dan anggur merah yang harganya mungkin setara dengan biaya hidup Karin selama setahun. Namun, bagi Vittorio, setiap gigitan terasa seperti pasir. Instingnya sedang bekerja di level maksimal. Ia bisa merasakan ada tiga pengawal bersenjata yang bersembunyi di balik tirai beludru di sudut ruangan.
"Jadi, Arjuna," Bianca membuka suara sambil memutar gelas anggurnya. "Kudengar kau punya 'teman-teman' baru di pelabuhan. Tiger? Mantan militer yang cacat itu? Kau benar-benar merosot dalam memilih rekan kerja."
"Tiger memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh anak buahmu, Bianca," balas Vittorio tenang. "Loyalitas yang tidak bisa dibeli dengan uang haram dari Italia."
Hadi meletakkan pisaunya, denting logamnya terdengar tajam. "Bicara tentang Italia... Lupi di Mare akan segera tiba secara resmi. Mereka ingin bertemu denganmu. Mereka ingat prosedur mikrodit itu. Mereka menganggapmu sebagai aset yang belum terselesaikan."
"Aset?" Vittorio menyeringai, sebuah ekspresi yang membuat Selly sedikit bergidik. "Aku bukan lagi investasi kalian. Aku adalah liabilitas yang akan membuat kalian bangkrut."
Hadi mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jangan sombong, Nak. Kau pikir kau bisa melawan kekuatan global hanya dengan modal dua miliar dan sepuluh petarung jalanan? Aku bisa melenyapkanmu dan gadis kecil di sampingmu itu sebelum hidangan penutup keluar."
Karin tersedak air minumnya mendengar ancaman itu. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, Vittorio sudah meletakkan tangannya di atas meja, telapak tangannya terbuka.
"Kau bisa mencobanya, Hadi," tantang Vittorio. "Tapi kau harus tahu satu hal. Di duni bawah, ada predator yang lebih besar dari serigala. Ada hantu yang tidak bisa kau bunuh karena ia sudah pernah mati sebelumnya."
Suasana di meja makan menjadi sangat tegang. Selly mulai terisak pelan, sementara Bianca menatap ayahnya, menunggu perintah untuk memberi isyarat pada pengawal di balik tirai.
"Karin," ucap Vittorio tiba-tiba, suaranya lembut namun penuh instruksi. "Aku rasa kau perlu ke kamar kecil. Penjaga di depan akan mengantarmu."
Karin tahu ini adalah kodenya. Ia berdiri dengan gemetar, mencoba menjaga martabatnya sebagai "asisten kelas dunia". "Iya, perut gue... eh, maksud saya, pencernaan saya sedikit terganggu oleh kemewahan ini. Permisi."
Saat Karin keluar, diiringi oleh salah satu pelayan, Vittorio fokus kembali pada Hadi. Inilah saatnya. Perhatian Hadi sepenuhnya tertuju padanya.
"Kau mengirimnya untuk apa, Arjuna? Mencari dokumen?" Hadi mengejek. "Semua dokumen pentingku tersimpan di brankas biometrik yang tidak bisa ditembus oleh mainan apa pun yang kau berikan padanya."
"Aku tidak butuh dokumenmu, Hadi," Vittorio bersandar di kursinya. "Aku hanya butuh waktu."
"Waktu untuk apa?"
"Waktu untuk membiarkan Tiger menanam peledak termit di gudang logistik utamamu yang berada di luar gerbang ini. Jika aku tidak mengirimkan kode 'aman' setiap sepuluh menit, gudang itu—beserta seluruh barang bukti pencucian uangmu—akan menjadi abu."
Wajah Hadi berubah menjadi merah padam. "Kau... kau berani mengancamku di rumahku sendiri?!"
"Aku tidak mengancam. Aku sedang bernegosiasi," Vittorio menyesap anggur merahnya dengan tenang. "Lepaskan semua klaim atas raga ini. Serahkan data asli tentang ibu Arjuna dan identitas asli para anggota Lupi di Mare yang ada di Indonesia. Lakukan itu, dan kau tetap bisa memiliki rumah mewah ini... setidaknya untuk beberapa bulan lagi."
Bianca berdiri, mencabut pistol dari balik pinggangnya. "Cukup! Ayah, biarkan aku menghabisinya sekarang!"
Vittorio tidak bergeming bahkan ketika moncong senjata Bianca tertuju tepat di dahinya. "Tarik pelatuknya, Bianca. Dan saksikan bagaimana kerajaan ayahmu runtuh dalam hitungan detik. Kau pikir aku datang ke sini tanpa asuransi?"
Sementara itu, di lantai dua, Karin bergerak dengan gesit. Berkat pelatihan singkat dari Vittorio dan Tiger, ia berhasil mengecoh pelayan yang mengantarnya dengan pura-pura menjatuhkan tasnya. Begitu pelayan itu membungkuk, Karin menyemprotkan parfum yang sudah dicampur cairan bius ke wajahnya.
"Sori ya, Mas. Tugas negara," bisik Karin.
Ia berlari menuju ruang kerja Hadi. Sesuai denah yang ia pelajari, brankas itu berada di balik lukisan potret keluarga yang sangat besar. Karin menempelkan anting-antingnya ke panel sensor.
"Juna... eh, Ghost! Alatnya udah nempel! Berapa lama lagi?" bisik Karin ke mikrofonnya.
"Dua menit, Karin. Jangan bergerak sampai Maya selesai menyalin data," suara Vittorio terdengar stabil di telinganya.
Karin menunggu dengan jantung yang berdebu. Ia bisa mendengar suara langkah kaki pengawal yang berpatroli di koridor luar. Ayo dong, Maya! Cepetan! batinnya panik.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka. Selly masuk dengan mata sembab. Ia terkejut melihat Karin berdiri di depan brankas ayahnya.
"Karin? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Selly kaget.
Karin membeku. Otaknya berputar cepat mencari alasan paling gila. "Selly! Lu nggak tau ya? Gue... gue lagi cari cermin! Bedak gue luntur gara-gara denger ancaman bokap lu!"
Selly melihat anting-anting yang tertempel di sensor. "Itu bukan cermin. Kau sedang mencuri data Ayah!"
Selly hendak berteriak, namun Karin—dengan insting bertahan hidup yang muncul entah dari mana—langsung melompat dan membekap mulut Selly. "Diem, Selly! Bokap lu itu jahat! Dia yang bikin Juna menderita! Kalau lu sayang sama kakak lu, lu harus diem!"
Selly meronta, namun ia berhenti ketika melihat wajah Karin yang penuh determinasi. "Juna... dia bukan Arjuna lagi, kan?" bisik Selly setelah Karin sedikit melonggarkan bekapannya.
"Dia lebih hebat dari Arjuna yang lu kenal, Selly. Dia lagi berjuang buat kita semua yang selama ini ditindas sama bokap lu. Bantuin gue, tolong," pinta Karin.
Selly terdiam. Kenangan tentang bagaimana ayahnya memperlakukan ibunya sendiri dengan kasar muncul kembali. Ia menatap anting-anting itu, lalu menatap Karin. "Pergilah lewat balkon. Pengawal akan lewat sini dalam tiga puluh detik. Cepat!"
Karin tertegun. "Selly... makasih."
"Pergi sebelum aku berubah pikiran!"
Karin mencabut alat peretasnya—Maya sudah memberi sinyal Selesai—dan melompat keluar melalui balkon menuju taman bawah, tempat Tiger sudah menunggu di balik semak-semak.
Kembali ke ruang makan, ponsel Hadi bergetar. Ia melihat pesannya dan wajahnya seketika pucat. Laporan dari sistem keamanannya menyatakan bahwa data inti telah disalin.
"Kau..." Hadi menatap Vittorio dengan kebencian murni. "Kau mencuri data 'Daftar Hitam' itu?"
"Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya digunakan untuk keadilan," Vittorio berdiri. "Makan malamnya sangat nikmat, Hadi. Tapi sayang, ini adalah makanan terakhir yang akan kau makan sebagai orang bebas."
Bianca hendak menembak, namun suara ledakan terdengar dari kejauhan—bukan di gudang logistik, melainkan di trafo listrik utama kediaman itu. Seluruh rumah menjadi gelap gulita.
Dalam kegelapan, Vittorio bergerak. Ia melucuti senjata Bianca hanya dengan dua gerakan tangan yang patah-patah namun akurat. Ia memberikan pukulan ke arah saraf di leher Bianca hingga gadis itu pingsan sebelum sempat berteriak.
"Tiger, jemput unit pengintai. Aku keluar lewat pintu depan," perintah Vittorio.
Vittorio berjalan keluar dengan langkah tenang di tengah kepanikan para pelayan dan pengawal yang sibuk mencari senter. Di teras, ia melihat Karin sudah berada di dalam mobil operasional Tiger, melambaikan tangan dengan semangat.
"JUNA! CEPETAN! GUE UDAH DAPET DATANYA!" teriak Karin.
Vittorio masuk ke dalam mobil, dan mereka memacu kendaraan menjauh dari istana terkutuk itu.
Di dalam mobil, Karin langsung memeluk Vittorio, mengabaikan fakta bahwa ada Tiger dan anak buahnya di sana. "Gue berhasil, Jun! Gue beneran berhasil! Tadi Selly bantuin gue, lu percaya nggak?!"
Vittorio tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang terlihat namun penuh dengan kelegaan. "Aku percaya. Kau melakukannya dengan sangat baik, Karin."
"Tapi Juna... tadi itu beneran ledakan apa?" tanya Karin sambil melihat ke arah spion, di mana kepulan asap terlihat dari arah rumah Sujatmiko.
"Hanya pengalihan, Karin. Aku tidak benar-benar meledakkan gudangnya. Itu hanya kembang api industri yang dimodifikasi Tiger agar terlihat seperti ledakan besar. Aku bukan monster seperti Hadi. Aku tidak menghancurkan tanpa alasan."
Tiger tertawa dari kursi depan. "Ghost, data ini luar biasa. Isinya bukan cuma korupsi Hadi, tapi rute pengiriman manusia dan senjata yang dilakukan Lupi di Mare di seluruh Asia Tenggara. Kita punya bom atom di tangan kita sekarang."
Vittorio menatap layar laptop yang menampilkan data hasil curian Karin. Identitas gandanya kini telah menyatu sepenuhnya. Predator telah kembali, bukan untuk menguasai duni bawah Jakarta sebagai penguasa baru, melainkan sebagai algojo bagi mereka yang merasa tak tersentuh oleh hukum.
"Mulai besok," ucap Vittorio, suaranya dingin seperti baja. "Kita tidak lagi bersembunyi. Kita akan memberikan data ini ke pihak internasional. Dan saat Lupi di Mare datang ke sini, mereka tidak akan menemukan sekutu. Mereka hanya akan menemukan kuburan mereka."
Karin menyandarkan kepalanya di bahu Vittorio, kelelahan mulai melanda. "Terserah lu deh, Bos. Yang penting besok jangan ada kuis lagi. Gue mau tidur seminggu."
Vittorio mengusap kepala Karin. Malam ini, aroma dendam itu mulai memudar, digantikan oleh aroma kemenangan yang manis. Predator telah kembali ke habitatnya, dan mangsanya kini sedang bergetar di dalam kegelapan yang mereka ciptakan sendiri.
"Tidurlah, Karin," bisik Vittorio. "Perjalanan kita baru saja dimulai."
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍