Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Bayangan Masa Lalu
Matahari SCBD belum sepenuhnya mencapai puncaknya, namun uap panas yang keluar dari timbunan aspal dan beton di lokasi konstruksi Grand Azure sudah cukup untuk membuat siapa pun merasa seolah sedang dipanggang hidup-hidup. Suara mesin bor yang menghujam bumi terdengar seperti raungan monster yang lapar, berpadu dengan debu semen yang menari-nari dalam sorotan cahaya terang.
Kanaya Larasati berdiri di tengah kekacauan itu, menatap pilar ketiga yang kini sudah setengah jadi. Betonnya masih basah, mengeluarkan aroma lembap yang khas, namun strukturnya terlihat begitu kokoh dan elegan. Naya mengusap peluh di keningnya dengan punggung tangan yang mengenakan sarung tangan kerja.
'Satu langkah lagi. Jika pengeringan ini berjalan sempurna, Juna tidak akan punya alasan lagi untuk meragukan kemampuanku,' batin Naya, meskipun rasa lelah mulai menggerogoti setiap saraf di tubuhnya.
Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang akrab—namun bukan milik Arjuna Dirgantara—memecah fokusnya.
"Naya? Kanaya Larasati?"
Naya tersentak. Suara itu terasa seperti tarikan mesin waktu yang membawanya kembali ke lorong-lorong studio arsitektur universitas beberapa tahun silam. Ia memutar tubuhnya perlahan, menyipitkan mata melawan silau matahari.
Seorang pria jangkung dengan senyum lebar yang memancarkan kehangatan matahari pagi berdiri di sana. Ia mengenakan kemeja lapangan biru muda yang rapi, rompi keselamatan berwarna kuning, dan helm putih yang diletakkan di bawah lengannya. Wajahnya ramah, dengan garis-garis kedewasaan yang membuatnya terlihat sangat kompeten sekaligus mudah didekati.
"Kak Bastian?" gumam Naya, suaranya mengandung nada ketidakpercayaan yang murni.
"Ya Tuhan, ini benar-benar kamu!" Bastian melangkah maju, langkahnya ringan dan penuh energi. Tanpa ragu, ia merengkuh bahu Naya dalam sebuah pelukan singkat yang penuh persahabatan—sebuah gestur yang bagi Naya terasa sangat alami, namun bagi siapa pun yang menonton dari jauh, akan terlihat sangat intim. "Aku tidak menyangka desainer utama yang dibicarakan tim konsultan pusat adalah adik kelasku yang paling keras kepala ini!"
Naya tertawa kecil, sebuah tawa lepas yang sudah lama tidak ia keluarkan sejak terjebak di bawah otoritas Juna. "Kak Bastian sedang apa di sini? Bukankah Kakak sedang mengerjakan proyek di Singapura?"
"Kontrakku selesai bulan lalu, Naya. Sekarang aku ditunjuk menjadi Site Manager dari pihak vendor struktur baja untuk pilar-pilar spiralmu ini," jawab Bastian, matanya berbinar menatap Naya. Ia mengulurkan tangan, secara alami membersihkan setitik debu semen yang menempel di ujung hidung Naya. "Kamu terlihat sangat lelah, Naya. Tapi matamu... binar itu tetap sama. Binar desainer yang ingin mengubah dunia."
Naya merasakan pipinya sedikit memanas, bukan karena matahari, melainkan karena perhatian tulus yang sudah lama tidak ia rasakan. 'Kak Bastian tidak pernah berubah. Selalu tahu cara membuatku merasa dihargai, bukan sekadar diawasi.'
Di atas dek observasi kontainer, Arjuna Dirgantara berdiri membeku.
Tangannya yang memegang tablet bergetar sangat halus—bukan karena takut, melainkan karena sebuah letupan emosi liar yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Naya tertawa bersama pria asing tersebut. Ia melihat pelukan itu. Ia melihat bagaimana pria itu dengan berani menyentuh wajah Naya.
Dan yang paling menyakitkan bagi Juna adalah melihat ekspresi Naya.
Gadis itu terlihat santai. Terlihat nyaman. Terlihat... bahagia. Sebuah ekspresi yang tidak pernah Naya tunjukkan kepadanya, bahkan setelah ia membawakan kopi atau menyelamatkan lukanya sekalipun.
'Siapa pria itu? Beraninya dia menyentuh aset perusahaanku di tengah jam kerja?' batin Juna, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menonjol tajam. 'Dan Kanaya... kenapa dia membiarkannya? Di mana gengsi dan dinding pertahanannya yang selalu ia gunakan untuk melawanku?'
Rasa sesak yang asing menyerang rongga dada Juna. Ia merasa seolah-olah wilayah kekuasaannya baru saja diinvasi oleh pihak asing. Logikanya mencoba menenangkan bahwa itu hanyalah interaksi profesional antar kolega, namun insting posesifnya yang purba berteriak lebih keras.
"Riko," suara Juna terdengar seperti gemeretak es yang pecah.
Riko, yang sedang sibuk menyusun jadwal pengiriman, segera mendekat dengan wajah bingung. "Ya, Pak? Ada masalah dengan progres pengecoran?"
"Cari tahu siapa pria yang sedang bicara dengan Nona Kanaya di bawah sana. Sekarang juga," perintah Juna tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan di bawah.
Riko mengikuti arah pandang bosnya. Ia melihat Naya sedang berbincang seru dengan Bastian. "Oh, itu Pak Bastian, Site Manager baru dari PT. Delta Struktur, vendor baja kita. Beliau sangat kompeten, Pak. Rekam jejaknya di Singapura luar biasa—"
"Saya tidak tanya soal kompetensinya. Saya tanya apa hubungan pribadinya dengan Kanaya," potong Juna, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang sangat berbahaya.
Riko menelan ludah, ia bisa merasakan suhu di dalam kontainer mendadak turun drastis. "Kudengar... mereka alumni di universitas yang sama, Pak. Pak Bastian adalah senior yang dulu membimbing Mbak Naya saat skripsi. Sepertinya mereka cukup dekat."
'Cukup dekat?' Juna meremas pinggiran mejanya. Kalimat itu terasa seperti siraman air raksa di atas luka yang terbuka.
Juna tidak bisa lagi hanya berdiri diam. Ia meraih helm proyek hitamnya, memakainya dengan kasar, dan melangkah keluar menuju tangga besi. Derak langkah sepatunya yang menghantam logam terdengar seperti genderang perang yang mulai ditabuh.
Naya masih tertawa saat mendengar derap langkah otoriter yang sangat ia kenal itu mendekat. Ia segera merapikan posturnya, senyumnya sedikit memudar saat melihat sosok Juna yang berjalan menghampiri mereka dengan aura yang bisa membekukan air terjun.
"Pak Arjuna," sapa Naya, mencoba menjaga nada suaranya agar tetap profesional.
Bastian menoleh, ia segera memasang senyum ramah dan mengulurkan tangannya. "Anda pasti Tuan Arjuna Dirgantara. Saya Bastian, Site Manager dari Delta Struktur. Sebuah kehormatan bisa bekerja di bawah visi Anda."
Juna menatap tangan Bastian selama beberapa detik seolah-olah tangan itu adalah benda yang terkontaminasi bakteri mematikan. Ia kemudian menjabatnya dengan sangat singkat, dengan tekanan yang sangat kuat, tanpa sedikit pun keramahan di matanya.
"Waktu adalah aset paling berharga di proyek ini, Pak Bastian," ucap Juna datar, suaranya memotong udara panas lobi konstruksi. "Dan saya tidak membayar vendor saya untuk mengadakan reuni alumni di tengah area pengecoran yang berisiko tinggi."
Senyum Bastian sedikit membeku, namun ia tetap tenang. Ia melirik Naya sekilas, seolah ingin memastikan apakah Naya baik-baik saja di bawah tekanan pria ini.
"Maafkan saya, Pak Arjuna. Saya hanya terlalu bersemangat melihat progres desain Naya yang luar biasa. Kami baru saja mendiskusikan penyesuaian baut pada pilar ketiga agar estetikanya tidak terganggu," jelas Bastian diplomatis.
Juna melirik Naya, matanya menyipit penuh selidik. "Nona Kanaya, saya rasa tugas Anda adalah memberikan instruksi teknis, bukan menerima sanjungan yang tidak relevan. Kembali ke stasiun kerja Anda. Saya ingin meninjau laporan beban baja bersama Pak Bastian secara privat."
Naya mengepalkan tangannya. 'Dia sedang berakting lagi. Dia ingin mempermalukanku di depan Kak Bastian untuk menegaskan siapa yang memegang kendali.'
"Laporan itu ada di iPad saya, Pak. Saya bisa menjelaskannya sekarang—"
"Saya tidak suka mengulang perintah, Kanaya," desis Juna, menatap Naya dengan tatapan yang seolah-olah ingin mengurungnya.
Bastian melangkah maju satu langkah, secara halus berdiri sedikit di depan Naya, sebuah gestur perlindungan yang membuat Juna semakin meradang. "Jangan khawatir, Naya. Selesaikan saja bagianmu. Aku akan bicara dengan Pak CEO. Kita makan siang nanti, ya? Di tempat biasa?"
Naya mengangguk ragu, lalu ia berbalik dan pergi, namun telinganya masih menangkap geraman pelan dari arah Juna.
'Makan siang nanti? Di tempat biasa?' batin Juna, ia merasa seolah-olah ada pisau yang sedang diputar di ulu hatinya. 'Tempat biasa apa? Seberapa banyak sejarah yang mereka miliki yang tidak aku ketahui?'
Juna menatap Bastian dengan tatapan yang murni bermusuhan. "Satu hal yang harus Anda ketahui, Pak Bastian. Di Dirgantara Group, kita memiliki kebijakan yang sangat ketat mengenai profesionalisme. Nona Kanaya adalah desainer inti saya. Saya tidak mentolerir gangguan personal apa pun yang bisa menurunkan tingkat fokusnya. Termasuk... janji makan siang yang emosional."
Bastian tertawa kecil, ia tidak terlihat terintimidasi. Ia justru menatap Juna dengan tatapan yang sangat dewasa, seolah ia bisa membaca apa yang sedang disembunyikan sang CEO di balik topeng esnya.
"Saya rasa Naya bukan hanya sekadar desainer bagi Anda, bukan, Pak Arjuna?" tanya Bastian dengan nada yang sangat tenang namun menusuk. "Biasanya, seorang CEO tidak akan menginterupsi percakapan stafnya hanya karena masalah efisiensi waktu lima menit. Kecuali... jika CEO tersebut merasa terancam."
Rahang Juna mengeras hingga ia merasa giginya akan retak. "Jangan berani-berani menganalisis tindakan saya, Bastian. Fokuslah pada baut-baut baja Anda, atau saya akan mencari vendor lain yang tahu bagaimana cara menghargai hierarki."
Juna berbalik dan melangkah pergi dengan perasaan kacau balau. Ia merasa baru saja kalah dalam sebuah pertarungan yang bahkan ia belum akui bahwa ia sedang mengikutinya.
Siang harinya, Naya benar-benar pergi makan siang bersama Bastian di sebuah warung makan tenda di depan lokasi proyek. Tempat sederhana itu adalah 'tempat biasa' mereka saat masih mahasiswa dulu—nasi uduk hangat dengan lauk sederhana namun penuh tawa.
"Dia memang selalu seperti itu?" tanya Bastian, mengaduk teh manis hangatnya. "Pria Dirgantara itu... dia menatapku seolah ingin meledakkan kepalaku hanya karena aku menyapa kamu."
Naya menghela napas, ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat hanya dengan melihat wajah Bastian. "Dia memang robot tanpa nurani, Kak. Dia perfeksionis yang gila kontrol. Tapi... akhir-akhir ini dia sedikit berbeda. Meskipun tetap menyebalkan."
Bastian menatap Naya dalam-dalam. "Hati-hati, Naya. Pria seperti dia... mereka tidak tahu cara berbagi. Mereka hanya tahu cara memiliki. Dan aku lihat, dia menatapmu bukan sebagai karyawan. Dia menatapmu sebagai sesuatu yang ia takuti untuk hilang."
Naya tertegun. 'Takut untuk hilang? Juna?'
"Jangan bercanda, Kak. Dia baru saja menyebutku 'koleksi' tempo hari. Baginya, aku hanya variabel yang harus dikontrol agar proyeknya sukses," sahut Naya, mencoba mengusir imajinasi konyol yang Bastian tawarkan.
"Barang koleksi biasanya disimpan di dalam lemari kaca, Naya. Tapi dia... dia rela turun ke lapangan yang kotor ini bersamamu. Itu bukan perlakuan untuk barang koleksi. Itu perlakuan untuk seseorang yang menjadi pusat dunianya," Bastian tersenyum pahit, ada sedikit nada penyesalan di suaranya. "Aku telat kembali ya, Naya?"
Naya tidak menjawab. Ia menunduk, menatap butiran nasi di piringnya. Di dalam batinnya, ada sebuah badai yang mulai bergemuruh. Ia merindukan kehangatan Bastian, namun bayangan Juna yang berdiri di bawah hujan, Juna yang mengobati tangannya, dan Juna yang menciumnya di Bali... semua itu menolak untuk pergi.
Dari dalam mobil Maybach yang terparkir tidak jauh dari warung tenda tersebut, Arjuna Dirgantara memperhatikan mereka dari balik kaca film yang gelap.
Ia melihat bagaimana Naya tertawa saat Bastian menceritakan sesuatu. Ia melihat bagaimana Naya menyisipkan helai rambut ke belakang telinganya—telinga yang sama yang ia sentuh semalam.
Juna mencengkeram kemudi mobilnya hingga buku jarinya memutih.
'Kau merasakannya sekarang, bukan, Arjuna?' batinnya mencemooh dirinya sendiri. 'Rasa sakit ini... rasa terbakar di dadamu ini... ini bukan karena masalah teknis pilar. Ini adalah cemburu. Dan cemburu adalah bukti paling nyata bahwa kau telah kehilangan kendali total atas hatimu sendiri.'
Juna menyalakan mesin mobilnya dan menginjak gas sedalam-dalamnya, melesat pergi membelah kemacetan SCBD. Ia merasa harus pergi sejauh mungkin dari tawa Naya dan Bastian, sebelum ia melakukan sesuatu yang lebih gila lagi yang akan meruntuhkan seluruh wibawanya sebagai seorang Dirgantara.
Retakan pada dinding es itu kini bukan lagi sekadar retakan. Dinding itu mulai runtuh, hancur oleh sebuah variabel baru bernama kecemburuan, menyisakan seorang Arjuna Dirgantara yang harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ia mulai mencintai seseorang yang justru paling ia benci.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
Kamera bergerak pelan menyusuri sebuah koridor kampus yang sepi di malam hari. Hanya terdengar suara ketukan tuts keyboard dari dalam sebuah studio yang masih menyala.
Empat tahun yang lalu.
Kanaya, yang saat itu mahasiswa tahun kedua, sedang menangis di depan maketnya yang gagal. Ia merasa ingin menyerah. Semua orang meremehkan desainnya karena dianggap terlalu berisiko.
Pintu studio terbuka. Bastian masuk membawa dua kotak susu cokelat hangat.
"Masih menangis?" Bastian duduk di sampingnya, memberikan susu tersebut. "Desainmu itu hebat, Naya. Hanya saja dunia ini belum cukup berani untuk menerimanya. Jangan berhenti. Kalau kamu berhenti sekarang, kamu akan menjadi sama membosankannya dengan arsitek-arsitek lain di luar sana."
Bastian membantu Naya memperbaiki bagian maket yang patah. Ia bekerja dengan sabar, membimbing tangan Naya yang gemetar.
"Kenapa Kakak selalu bantu aku?" tanya Naya kecil, menghapus air matanya.
Bastian berhenti sejenak, menatap Naya dengan mata yang penuh dengan kasih sayang yang tulus. "Karena aku ingin melihat hari di mana dunia ini berlutut di depan desainmu. Dan aku ingin menjadi orang pertama yang bertepuk tangan untukmu."
Kamera melakukan close-up pada wajah Bastian yang tersenyum tulus, lalu perlahan zoom out memperlihatkan bayangan mereka berdua yang bekerja bersama di bawah lampu studio—sebuah kenangan hangat yang kini menjadi ancaman terbesar bagi Arjuna Dirgantara yang sedang terbakar cemburu di masa depan.