NovelToon NovelToon
Kekasih Yang Tak Akur

Kekasih Yang Tak Akur

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: I Putu Merta Ariana

Nono dan Ayu adalah sepasang kekasih yang unik. Mereka sering bertengkar soal hal-hal kecil—mulai dari soal baju, jalan mana yang lebih cepat, sampai soal makanan. Tetangga bilang mereka kayak air dan minyak, nggak pernah akur. Tapi siapa sangka, di balik setiap pertengkaran dan perdebatan, tersimpan rasa sayang yang besar dan perhatian yang tulus. Bagaimana kisah mereka bertahan dan tetap bersama meski sering beda pendapat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Putu Merta Ariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warisan Cinta dan Langkah Baru yang Penuh Harapan

Waktu berjalan begitu cepat, bagaikan air yang mengalir deras di sungai yang tak pernah berhenti. Tahun demi tahun telah berlalu sejak "Sekolah Ombak & Senyum" pertama kali dibuka. Kini, sekolah itu telah berkembang menjadi salah satu pusat pelatihan usaha kuliner yang paling terpercaya dan paling dicari di seluruh negeri. Ribuan lulusan telah dihasilkan, dan mereka kini tersebar di berbagai penjuru Indonesia, membuka usaha-usaha mereka sendiri, menciptakan lapangan kerja, dan melanjutkan semangat berbagi yang telah ditanamkan oleh Nono dan Ayu.

Suatu pagi yang cerah di musim semi, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah jendela ruang kerja Nono dan Ayu yang kini terasa lebih luas dan penuh dengan kenangan. Di dinding-dinding ruangan itu, tergambar berbagai foto kenangan—foto saat mereka baru pertama kali membuka kedai kecilnya, foto perjalanan keliling Indonesia yang legendaris, foto saat pembukaan sekolah, dan juga foto-foto bersama para lulusan sekolah dari tahun ke tahun. Setiap foto itu menceritakan sebuah kisah, sebuah perjuangan, dan sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya.

Nono dan Ayu, yang kini sudah tidak muda lagi, duduk bersebelahan di sofa empuk di ruang kerja itu. Rambut mereka kini sudah mulai memutih di beberapa bagian, dan kerutan halus mulai muncul di wajah mereka, namun mata mereka masih tetap bersinar dengan semangat dan cinta yang sama seperti saat mereka pertama kali bertemu bertahun-tahun yang lalu.

"Yu," panggil Nono pelan sambil menatap wajah istrinya yang masih terlihat cantik dan anggun di matanya, meskipun waktu telah meninggalkan jejaknya. "Aku lagi lihat-lihat foto-foto lama ini. Nggak nyangka ya, kita udah lewatin segitu banyak hal bareng-bareng. Dari dua orang yang sering ribut soal hal-hal kecil, sampai sekarang bisa punya semua ini. Rasanya kayak mimpi yang jadi kenyataan."

Ayu tersenyum lembut sambil mengambil sebuah foto yang menunjukkan mereka berdua saat masih muda, sedang tertawa bahagia di depan kedai pertama mereka. "Iya, Mas. Aku juga ngerasa hal yang sama. Waktu berjalan cepet banget ya. Rasanya kayak baru kemarin kita rebutan soal resep kopi atau soal cara ngatur kedai. Tapi sekarang, lihat apa yang udah kita bangun bareng-bareng. Rasanya bangga dan bersyukur banget."

Ayu lalu menoleh ke arah Nono dengan tatapan tajam yang khas, meskipun kini tatapan itu terasa lebih lembut dan penuh kasih sayang. "Tapi ingat ya, Mas! Semua ini nggak bakal mungkin terjadi kalau kamu nggak dengerin aku dan nggak kerja sama aku dengan baik. Kamu tuh ya, dulu kadang suka keras kepala dan maunya menang sendiri. Tapi untungnya, kamu akhirnya sadar juga kalau aku yang paling benar," canda Ayu sambil tertawa kecil.

Nono tertawa renyah mendengar jawaban istrinya itu. Suara tawanya masih terdengar hangat dan akrab seperti dulu. Dia lalu meraih tangan Ayu yang keriput dan lembut, menggenggamnya erat di tangannya. "Ya ampun, Tuan Putri. Sampai kapan pun kamu tetep sama aja ya. Iya deh, iya deh. Kamu yang paling benar, kamu yang paling hebat, dan kamu yang paling aku sayang di dunia ini. Aku ngaku kalah deh sama kamu. Tanpa kamu, aku pasti cuma orang biasa yang nggak punya apa-apa. Makasih ya, Yu, udah mau nemenin aku, sabar ngadepin aku, dan bantu aku jadi orang yang lebih baik selama ini."

Ayu mendengus pelan tapi pipinya masih bisa merona merah muda karena tersipu mendengar pujian manis dari suaminya itu, sama seperti saat mereka masih muda dulu. "Hmph, baru tahu kamu. Dasar suami yang manis mulutnya sampai tua. Tapi ya udah, aku terima pujianmu. Karena emang bener kok," jawab Ayu sambil tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang masih rapi dan putih.

 

Siang harinya, mereka memutuskan untuk pergi ke kedai utama "Ombak & Senyum" yang kini sudah berubah menjadi sebuah bangunan yang megah namun tetap mempertahankan nuansa hangat dan akrab yang sama seperti dulu. Di sana, mereka disambut oleh manajer baru yang muda dan berbakat, serta para karyawan yang sebagian besar adalah lulusan dari "Sekolah Ombak & Senyum" sendiri.

Saat mereka masuk ke dalam kedai, suasana yang menyambut mereka begitu hangat dan familiar. Aroma kopi yang harum, suara tawa para pelanggan, dan pelayanan yang ramah membuat hati Nono dan Ayu terasa begitu damai dan puas.

"Wah, Pak Nono sama Bu Ayu! Selamat datang," sapa Pak Budi, manajer kedai yang baru saja mereka angkat beberapa tahun lalu, dengan wajah bersinar antusias. "Senang banget bisa lihat Bapak sama Ibu lagi. Gimana kabarnya hari ini?"

"Alhamdulillah, baik banget, Budi. Kamu gimana? Semuanya lancar kan di sini?" tanya Nono sambil menyalami Pak Budi dengan hangat.

"Lancar banget, Pak. Tenang aja. Kami semua jaga kedai ini dengan baik kok, kayak yang Bapak sama Ibu ajarin selama ini. Dan hari ini juga ramai banget lho, Pak. Banyak pelanggan yang datang, termasuk yang dari luar kota," jawab Pak Budi dengan bangga.

Nono dan Ayu tersenyum bahagia mendengarnya. Mereka lalu berjalan-jalan keliling kedai, menyapa para pelanggan yang mengenali mereka, dan berbicara singkat dengan para karyawan. Melihat usaha mereka yang terus berkembang dan terus memberikan manfaat bagi banyak orang membuat hati mereka terasa penuh dengan rasa syukur yang tak terhingga.

 

Sore harinya, saat mereka sedang duduk santai di teras kedai sambil menikmati secangkir kopi hangat buatan Ayu, Nathan dan Nara datang menjenguk mereka bersama dengan keluarga mereka masing-masing. Nathan kini sudah menjadi seorang arsitek yang sukses dan telah menikah dengan seorang dokter gigi yang cantik dan baik hati, serta memiliki dua orang anak yang lucu dan cerdas. Sementara Nara, kini menjadi seorang penulis buku yang terkenal dan juga sudah menikah dengan seorang seniman yang kreatif dan penyayang, serta memiliki seorang anak laki-laki yang sangat pintar dan imut.

Kehadiran anak-anak dan cucu-cucu mereka membuat suasana di teras kedai itu langsung menjadi lebih hidup dan meriah. Suara tawa cucu-cucu mereka yang sedang bermain berlarian di sudut teras terdengar begitu ceria dan membahagiakan.

"Yah, Bun! Kami datang nih," seru Nara sambil memeluk Ayu dengan erat, diikuti oleh Nathan yang juga memeluk Nono dengan hangat.

"Eh, anak-anakku datang! Senang banget bisa lihat kalian semua," jawab Ayu dengan mata berbinar-binar bahagia. "Cucu-cucu Bunda juga makin besar dan makin pintar ya."

Mereka pun duduk bersama, berbagi cerita tentang kehidupan mereka masing-masing, tentang kesuksesan mereka, dan tentang rencana-rencana masa depan mereka. Nono dan Ayu mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa bangga yang luar biasa melihat anak-anak mereka tumbuh menjadi orang-orang yang sukses, baik hati, dan bahagia.

"Yah, Bun," kata Nathan pelan sambil menatap orang tuanya dengan penuh rasa sayang dan hormat. "Kami mau bilang makasih banget sama Ayah sama Ibu. Makasih udah ngasih kami kehidupan yang indah, makasih udah didik kami dengan baik, dan makasih udah jadi contoh yang luar biasa buat kami. Lihat perjalanan Ayah sama Ibu, lihat cinta dan kerja sama kalian, kami jadi belajar banyak hal tentang kehidupan dan tentang cinta. Kami bangga banget jadi anak kalian."

Nara pun ikut menambahkan dengan mata berkaca-kaca. "Iya, Bun. Betul banget kata Kak Nathan. Kami juga berjanji bakal terus jaga nama baik keluarga ini dan bakal terus lanjutin semangat berbagi yang udah Ayah sama Ibu tanemin ke kami. Kami sayang banget sama Ayah sama Ibu."

Mendengar kata-kata tulus dari anak-anak mereka itu, hati Nono dan Ayu terasa begitu haru dan bahagia. Air mata kebahagiaan pun tak terasa menetes dari sudut mata mereka.

Nono meraih tangan Nathan dan Nara, menggenggamnya erat sambil tersenyum lebar dengan wajah yang dipenuhi rasa bangga dan cinta. "Makasih ya, Nak. Ayah sama Ibu juga bersyukur banget punya kalian. Kalian adalah anugerah terindah dalam hidup kami. Dan tahu nggak, kesuksesan terbesar Ayah sama Ibu bukanlah kedai-kedai ini atau sekolah ini, tapi melihat kalian tumbuh jadi orang-orang yang hebat dan baik hati kayak gini."

Ayu yang sedang menyeka air matanya pun ikut bersuara dengan suara yang sedikit bergetar karena haru. "Iya, Nak. Betul banget kata Ayah kalian. Dan ingat ya, apa pun yang terjadi, kalian selalu bisa mengandalkan Ayah sama Ibu. Kami bakal selalu ada buat kalian, selamanya."

 

Malam harinya, setelah anak-anak dan cucu-cucu mereka pulang, Nono dan Ayu kembali duduk berdua di teras kedai yang kini sudah mulai sepi. Langit di atas mereka dihiasi oleh ribuan bintang yang berkelap-kelip, menciptakan pemandangan yang indah dan romantis. Angin malam bertiup sejuk, membawa suasana yang tenang dan damai.

"Yu," panggil Nono pelan sambil menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta. "Hari ini aku ngerasa jadi orang paling bahagia di dunia. Punya kamu, punya anak-anak yang hebat, punya cucu-cucu yang lucu, dan punya semua kenangan indah ini. Rasanya hidup aku udah lengkap banget."

Ayu tersenyum lembut sambil menyandarkan kepalanya di bahu Nono yang kini sudah tidak sekuat dulu, tapi masih terasa sangat hangat dan nyaman. "Aku juga, Mas. Aku juga ngerasa hal yang sama. Aku bersyukur banget sama Tuhan karena udah ngirim kamu ke dalam hidup aku. Meskipun kita sering banget ribut dan beda pendapat, tapi itu semua justru bikin cinta kita makin kuat dan makin berwarna. Aku nggak bakal tuker apa pun sama perjalanan hidup kita ini."

Nono mencium puncak kepala Ayu dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Aku sayang banget sama kamu, Yu. Selamanya. Sampai kapan pun, kamu bakal selalu jadi Tuan Putri aku, cinta pertama dan terakhir aku."

"Aku juga sayang banget sama kamu, Mas. Selamanya," jawab Ayu pelan, lalu mereka pun terdiam, menikmati kebersamaan yang indah dan penuh cinta itu di bawah langit malam yang berbintang.

Mereka tahu, perjalanan hidup mereka memang unik dan luar biasa. Penuh dengan tawa, penuh dengan air mata, penuh dengan perdebatan, tapi yang paling penting, penuh dengan cinta yang tak terhingga. Dan meskipun kini mereka sudah tua, mereka yakin bahwa cerita cinta mereka tidak akan pernah berakhir. Cerita itu akan terus hidup, tidak hanya di dalam hati mereka, tapi juga di dalam hati anak-anak, cucu-cucu, dan semua orang yang pernah mereka bantu dan sentuh hidupnya. Dan mereka yakin, bab-bab selanjutnya dalam kehidupan mereka, meskipun mungkin berbeda bentuknya, akan tetap indah, tetap seru, dan tetap penuh dengan cinta yang abadi selamanya.

1
Ayu Suryani
Bagus Banget Kak🥰
Ayu Suryani
Bagus kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!