NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Retakan Di Menara Kaca

​Pagi itu, suasana di kantor pusat Winata Group sudah tidak lagi terlihat tenang seperti biasanya. Arga duduk di sebuah kafe kecil di seberang jalan, menyesap kopi hitamnya sambil memperhatikan kesibukan yang tampak dari kejauhan. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat beberapa truk pengangkut material konstruksi berhenti di depan gerbang proyek yang persis berada di samping gedung utama. Para sopir truk itu turun, beradu argumen dengan petugas keamanan, dan tampak tidak mau beranjak sebelum ada kejelasan soal pembayaran.

​Arga tersenyum tipis. Dia tahu persis apa yang terjadi. Hari ini adalah tenggat waktu pembayaran termin pertama untuk baja dan semen khusus yang diimpor dari Jerman. Nilainya tidak main-main, sekitar empat puluh miliar rupiah. Dan karena Hendrawan menahan pencairan kredit di Bank Capital Asia, kas Winata Group dipastikan sedang kosong melompong.

​"Tuan Arga, sepertinya mereka mulai panik," ucap asisten pribadinya, seorang pria muda bernama Dani yang disiapkan oleh Hendrawan. Dani meletakkan sebuah tablet di depan Arga yang menampilkan pergerakan saham Winata Group yang mulai memerah.

​"Biarkan saja dulu, Dan. Jangan dilepas umpannya sekarang. Kalau kita masuk terlalu cepat, mereka bakal curiga. Biarkan mereka merasa tercekik sampai tidak punya pilihan lain selain memohon," jawab Arga tenang. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu kafe, menikmati semilir angin pagi yang membawa aroma aspal basah.

​Ponsel Arga yang lama, yang layarnya retak, bergetar di atas meja. Dia tidak membuang ponsel itu karena di sanalah semua kenangannya dengan Elina tersimpan. Ada belasan panggilan tak terjawab dari Siska dan asisten ayahnya. Arga hanya menatap layar itu dengan tatapan kosong sebelum akhirnya membalikkan ponselnya agar tidak mengganggu pemandangan.

​Dia kemudian mengambil ponsel barunya, edisi terbaru yang jauh lebih canggih, dan membuka aplikasi pesan singkat. Ada pesan suara dari Elina. Arga memasang earbud dan mendengarkan suara lembut itu.

​"Ga, di sini lagi hujan salju lebat banget. Aku baru saja selesai kelas tambahan. Kamu tahu nggak? Tadi aku lihat jaket musim dingin yang bagus banget di toko dekat kampus. Warnanya biru tua, pasti cocok banget kalau kamu pakai pas ke sini nanti. Tapi harganya mahal banget, jadi aku cuma foto saja ya. Semangat kerjanya, Calon Suamiku!"

​Mendengar kata "Calon Suamiku", jantung Arga berdegup sedikit lebih kencang. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, kontras dengan hawa dingin AC kafe. Elina tidak tahu kalau saat ini Arga sedang menyusun rencana untuk menghancurkan keluarga mantan istrinya. Elina cuma tahu Arga adalah pria pekerja keras yang sedang berjuang demi masa depan mereka.

​Arga mengetik balasan singkat. Beli saja jaketnya, El. Aku baru saja kirim sedikit tambahan ke rekeningmu. Anggap saja itu hadiah kecil karena sudah belajar rajin. Aku akan segera ke sana.

​Setelah mengirim pesan itu, Arga kembali fokus ke monitor di depannya. Dia melihat Siska keluar dari lobi gedung dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasanya dipoles kosmetik mahal kini tampak tegang. Dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi dengan kecepatan tinggi.

​"Dani, ikuti mobil itu. Tapi jangan terlalu dekat," perintah Arga.

​Mereka membuntuti mobil Siska sampai ke sebuah restoran privat di kawasan Menteng. Arga tahu tempat itu. Itu adalah tempat biasa para pengusaha melakukan negosiasi di bawah meja. Arga turun dari mobil, mengenakan topi dan kacamata hitam, lalu duduk di sudut restoran yang agak tersembunyi, hanya terhalang oleh tanaman hias besar.

​Di meja seberang, Siska sedang duduk bersama seorang pria paruh baya yang tampak licin. Arga mengenalnya, dia adalah salah satu rentenir kelas kakap di dunia bisnis Jakarta.

​"Saya butuh lima puluh miliar sore ini juga, Pak Johan. Bunga berapa pun saya ambil, yang penting uangnya masuk ke rekening vendor saya sebelum jam empat," suara Siska terdengar gemetar, ada nada putus asa yang kental di sana.

​Pria bernama Johan itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar serak dan tidak enak didengar. "Bu Siska, lima puluh miliar itu bukan uang kecil. Dan saya tahu kondisi Winata Group sekarang. Bank Capital Asia sedang menahan napas kalian, kan? Jaminannya apa kalau saya kasih pinjam?"

​"Saham pribadi saya di Winata Group. Sepuluh persen. Itu nilainya jauh lebih dari lima puluh miliar," jawab Siska cepat.

​Arga yang mendengarkan dari balik tanaman hampir saja tertawa. Siska benar-benar bodoh. Dia menggadaikan saham pribadinya ke rentenir hanya untuk menyelamatkan satu proyek yang sebenarnya sudah bocor di mana-mana. Itu sama saja dengan menyerahkan lehernya ke algojo.

​"Dani," bisik Arga ke asistennya lewat intercom kecil di telinganya. "Hubungi Pak Hendrawan. Bilang padanya untuk membeli piutang Johan atas saham Siska. Berapa pun harganya. Saya ingin saham itu jatuh ke tangan PT Cakrawala dalam waktu dua puluh empat jam."

​"Baik, Tuan Arga. Akan segera saya laksanakan," jawab Dani dari dalam mobil.

​Arga kembali memperhatikan Siska. Setelah kesepakatan itu tampaknya tercapai, Siska terlihat sedikit lega. Dia meminum wine-nya dengan rakus, seolah-olah baru saja lolos dari maut. Arga menatap mantan istrinya itu dengan rasa kasihan yang sangat tipis, hampir tidak ada. Perempuan itu tidak sadar kalau dia baru saja masuk ke dalam jebakan yang lebih besar.

​Sore harinya, Arga kembali ke hotel. Dia merasa lelah secara mental, tapi puas. Dia membuka laptopnya dan mulai mengetik draf untuk Bab 1 novelnya sendiri. Ya, di sela-sela rencana balas dendamnya, Arga tetap ingin menulis. Menulis adalah caranya untuk tetap waras, tetap menjadi "Arga" yang dikenal Elina, bukan cuma monster bisnis yang penuh dendam.

​Dia menulis tentang seorang pria yang kehilangan segalanya di bawah hujan, tapi menemukan bintang di belahan dunia lain. Dia menggunakan metafora Praha dan Jakarta untuk menggambarkan jarak yang tidak cuma soal kilometer, tapi soal kasta dan martabat.

​Sekitar jam tujuh malam, ponselnya kembali berdering. Kali ini dari Hendrawan.

​"Arga, transaksinya sudah selesai. Johan itu orangnya serakah, jadi begitu saya tawarkan keuntungan sepuluh persen lebih tinggi dari bunga yang dia minta ke Siska, dia langsung setuju menjual surat utang itu ke kita. Sekarang, sepuluh persen saham Siska di Winata Group sudah secara resmi berada di bawah kendali PT Cakrawala Internasional," suara Hendrawan terdengar bangga.

​"Terima kasih, Pak. Ini baru permulaan. Besok, saya ingin kita mulai memberikan tekanan pada pemasok material lainnya. Saya ingin mereka tahu kalau Winata Group sedang tidak punya uang tunai sama sekali," ucap Arga.

​"Siap. Kamu mau makan malam bareng? Istri saya masak besar hari ini, dia ingin bertemu dengan cucu Pak Broto yang hebat ini," ajak Hendrawan.

​"Lain kali saja, Pak. Malam ini saya harus bicara banyak dengan Elina. Saya tidak mau dia curiga karena saya terlalu sibuk belakangan ini," tolak Arga halus.

​"Ah, cinta masa muda. Baiklah, selamat berjuang, Arga. Ingat, jangan biarkan emosi menguasaimu saat bertemu mereka nanti."

​Setelah menutup telepon, Arga duduk di balkon kamarnya yang menghadap ke kerlip lampu Jakarta. Dia teringat masa-masa sulitnya dulu saat baru menikah dengan Siska. Bagaimana dia sering dihina di depan tamu-tamu besar hanya karena dia berasal dari keluarga sederhana. Bagaimana Siska sering malu mengenalkannya sebagai suami dan lebih suka menyebutnya sebagai "asisten pribadi".

​Sekarang, keadaan mulai berbalik.

​Dia membuka aplikasi video call dan menghubungi Elina. Wajah Elina muncul di layar, dia tampak sedang berada di perpustakaan kampus dengan tumpukan buku di depannya.

​"Eh, calon orang kaya sudah telepon!" goda Elina sambil tertawa kecil, suaranya pelan agar tidak ditegur petugas perpustakaan.

​"Gimana kabarnya, El? Capek ya belajarnya?" tanya Arga, matanya melembut.

​"Lumayan. Tapi kalau lihat mukamu, capeknya hilang dikit. Eh, Ga, tadi aku sudah beli jaketnya lho! Makasih ya hadiahnya. Warnanya ternyata lebih bagus aslinya daripada di foto. Aku pengen banget cepat-cepat pamerin ke kamu!"

​"Pakai saja, El. Jangan sampai kedinginan. Oh ya, bulan depan aku sudah booking tiket ke Praha. Aku akan di sana sekitar satu minggu. Kita bisa jalan-jalan sepuasnya," janji Arga.

​"Beneran?! Wah, aku harus bikin daftar tempat yang mau kita kunjungi! Ada jembatan Charles, kastil Praha, dan ada kafe kecil di pinggir sungai yang rotinya enak banget. Kamu harus coba!"

​Arga mendengarkan ocehan ceria Elina dengan penuh perhatian. Baginya, suara Elina adalah pengingat bahwa di balik semua kebencian yang dia simpan untuk keluarga Winata, masih ada cinta yang tulus yang menunggunya. Dia berjanji dalam hati, begitu semua urusan di Jakarta selesai, dia akan meninggalkan semua ini dan memulai hidup baru bersama Elina di sana.

​"El, aku tutup dulu ya. Masih ada beberapa laporan yang harus aku cek. I love you," ucap Arga tulus.

​"I love you too, Ga. Jangan tidur terlalu larut ya!"

​Layar ponsel mati. Arga kembali ke dalam kamarnya yang sunyi. Dia membuka map yang diberikan Dani sore tadi. Di sana tertulis jadwal rapat pemegang saham luar biasa Winata Group yang akan diadakan tiga hari lagi.

​Arga tersenyum dingin. Itu adalah saat yang tepat untuk dia muncul. Bukan sebagai Arga si menantu yang terbuang, tapi sebagai pemilik sepuluh persen saham dan pemegang kendali atas nasib perusahaan mereka.

​Dia melepaskan kacamata dan merebahkan dirinya di kasur empuk hotel. Malam ini dia bisa tidur sedikit lebih tenang. Satu per satu kartu sudah dia susun, dan tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan semuanya sekaligus.

​Menara kaca keluarga Winata mulai retak, dan Arga adalah orang yang akan memastikan retakan itu menjadi kehancuran total.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!