NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:762
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Panggilan dari Bayangan

Hujan turun sejak sore, meninggalkan suara gemericik yang tak kunjung berhenti di atap rumah tua itu.

Raka duduk diam di sudut kamar, menatap buku catatan yang kini terasa semakin berat untuk dibuka.

Sejak mencoba cara ketujuh—menatap cermin dalam gelap sambil memanggil nama yang tak dikenal—ia merasa ada sesuatu yang berubah.

Bukan hanya di luar.

Tapi di dalam dirinya.

“Jangan lanjutkan.”

Suara itu kembali terdengar.

Raka menoleh cepat.

Tidak ada siapa pun di sana.

Hanya bayangan dirinya sendiri yang terpantul samar di jendela yang basah oleh hujan.

“Aku tidak takut,” gumamnya, meski jantungnya berdegup keras.

Tangannya perlahan membuka halaman berikutnya. Cara kedelapan.

Tulisan di sana berbeda dari sebelumnya. Lebih berantakan. Seolah ditulis dengan tergesa-gesa… atau dengan ketakutan.

Cara ke-8: Mendengar Panggilan dari Dunia Lain.

Jika kamu mulai mendengar suara yang memanggil namamu, jangan jawab.

Sekali kamu menjawab, mereka akan tahu bahwa kamu bisa mendengar… dan mereka tidak akan berhenti.

Raka menelan ludah.

“Terlambat…” bisiknya pelan.

Karena ia sudah mendengar suara itu.

Dan lebih buruk lagi…

Ia pernah menjawabnya.

Tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari pintu kamar.

Tok… tok… tok…

Raka membeku.

Ibunya sudah tidur. Tidak mungkin ada orang lain di rumah.

Tok… tok… tok…

Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih pelan, tapi jelas.

“Raka…”

Suara itu.

Suara yang sama.

Suara yang selama ini hanya ia dengar di dalam kepalanya…

kini terdengar dari luar pintu.

Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Ia ingin bangkit. Ingin membuka pintu.

Tapi sesuatu dalam dirinya menahan.

Pesan di buku itu kembali terngiang.

Jangan jawab.

“Raka… buka pintunya…”

Nada suara itu berubah.

Lebih lembut. Hampir seperti memohon.

Raka menutup telinganya, mencoba mengabaikan.

Namun suara itu tidak hilang.

Justru semakin dekat.

Tok…

Kini bukan lagi dari pintu.

Melainkan dari dalam kamar.

Raka perlahan membuka matanya.

Dan di sudut ruangan…

Ada sesuatu yang berdiri.

Bayangan hitam, lebih gelap dari gelap itu sendiri.

Tidak bergerak, tapi terasa…

hidup.

“Kenapa kamu tidak menjawabku?” suara itu kini terdengar tepat di belakangnya.

Napas Raka tercekat.

Ia tahu satu hal sekarang.

Cara kedelapan bukan tentang mendengar.

Tapi tentang siapa yang mulai mendengarmu.

Dan ia…

Sudah ditemukan.

Kalimat itu terus terngiang di kepala Raka bahkan setelah ia menutup buku itu dengan keras.

Suara tadi tidak hilang—justru semakin jelas.

Seolah… semakin dekat.

“Raka…”

Kali ini bukan bisikan.

Itu seperti seseorang berdiri

tepat di belakangnya.

Raka membeku.

Ia ingat instruksinya.

Jangan menjawab.

Jangan menoleh.

Namun tubuhnya gemetar hebat.

“Kenapa kamu diam saja?” suara itu kembali terdengar, lebih dalam, lebih berat.

“Padahal kamu yang mencariku…”

Dinda yang berdiri di sudut kamar mulai panik. “Rak… kamu dengar itu juga, kan?”

Raka tidak menjawab.

Bukan karena tidak mau.

Tapi karena ia tahu—jika ia menjawab… sesuatu akan terjadi.

Lampu kamar tiba-tiba

berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu mati total.

Gelap.

Sunyi.

Namun dalam gelap itu… ada sesuatu yang bergerak.

Bukan langkah kaki.

Bukan napas.

Tapi… pergeseran.

Seperti bayangan yang berpindah tempat.

Dinda menahan napas. “Aku gak bisa lihat apa-apa…”

Raka menatap ke depan, mencoba membiasakan mata dengan gelap.

Perlahan… sesuatu mulai

terlihat.

Siluet.

Tinggi.

Lebih tinggi dari manusia biasa.

Dan berdiri tepat di depan

mereka.

Padahal… tadi suara itu ada di belakang.

“Tidak perlu melihat untuk tahu aku di mana…”

Suara itu kini terdengar dari segala arah.

Raka menggenggam tangan Dinda erat.

“Kita harus keluar,” bisiknya.

Namun saat ia mencoba melangkah—

Bayangannya… tidak bergerak.

Raka menoleh ke bawah dengan perlahan.

Bayangan itu masih di tempatnya.

Tidak mengikuti.

Justru… menghadap ke arah yang berbeda.

Ke arah sosok gelap itu.

Seolah… mereka saling mengenal.

“Sekarang kamu mengerti…” suara itu berbisik lagi. “Bukan kamu yang melihat kami.”

Hening sesaat.

Lalu—

“Kamilaah… yang mulai melihatmu.”

Siluet itu bergerak maju.

Lambat.

Namun setiap langkahnya membuat udara semakin berat.

Dinda mundur, hampir terjatuh. “Rak… dia mendekat…”

Raka ingin lari.

Tapi kakinya terasa terkunci.

Bayangan di kakinya mulai memanjang.

Menjalar ke arah sosok itu.

Dan saat keduanya bertemu—

Bayangan itu… menyatu.

Raka merasakan sesuatu masuk.

Dingin.

Gelap.

Dan kosong.

Ia terjatuh berlutut.

“Raka!” Dinda berteriak.

Lampu tiba-tiba menyala kembali.

Semuanya hilang.

Tidak ada sosok.

Tidak ada bayangan aneh.

Hanya kamar mereka.

Sepi.

Sunyi.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Dinda berlari menghampiri Raka.

“Rak! Kamu gak apa-apa?”

Raka perlahan mengangkat wajahnya.

Matanya terlihat… berbeda.

Lebih kosong.

“Aku… gak sendirian lagi,” katanya pelan.

Dinda mundur perlahan.

Perasaan dingin menjalar di punggungnya.

“Rak… maksud kamu apa?”

Raka tersenyum kecil.

Tapi bukan senyum lega.

Lebih seperti… sesuatu yang baru saja menemukan

tempatnya.

“Dia gak pergi…” bisiknya.

“Dia cuma… pindah.”

Dinda menatapnya dengan napas tak beraturan.

“Ke mana?”

Raka tidak langsung menjawab.

Ia hanya menoleh pelan ke arah cermin.

Di sana…

Bayangannya masih berdiri.

Tapi kali ini—

Bayangan itu tersenyum lebih dulu.

Dan dari dalam pantulan itu, terdengar satu kalimat terakhir:

“Siapkan dirimu… untuk cara terakhir.”

Raka memejamkan mata.

Sementara Dinda sadar—

Apa pun yang mereka lakukan selanjutnya…

Tidak ada jalan untuk kembali.

Dan sesuatu…

Sudah ikut bersama mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!