NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: SANDIWARA DI ATAS LUKA

​Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di ruang makan utama Al-Ghifari, memantulkan cahaya pada perabotan perak yang tertata rapi di atas meja marmer. Namun, bagi Aaliyah Humaira, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi yang menyakitkan, menelanjangi keberadaannya yang kini terbungkus dalam kain hitam pekat. Ia berdiri di sudut ruangan yang remang-remang, kepalanya tertunduk sangat dalam hingga dagunya menyentuh dada, sementara tangannya bertautan erat di balik kain gamisnya yang mulai terasa berat oleh keringat dingin.

​(Batin Maryam menjerit: Ya Allah... kuatkanlah setiap persendian tubuhku pagi ini. Hamba tahu ini hanyalah sebuah rencana, sebuah sandiwara yang dirancang Zayn untuk menjebak musuh di balik selimut. Namun, mengapa membayangkan kata-kata kasar yang akan meluncur dari mulut pria itu tetap saja membuat jantung hamba berdegup ketakutan? Mengapa rasanya seolah-olah fitnah keji yang meruntuhkan kehormatan ayah hamba kini menjadi nyata kembali saat diucapkan oleh Zayn di depan orang banyak? Kuatkan pundak hamba, ya Rabb... jangan biarkan air mata ini jatuh dan merusak topeng Maryam yang sedang hamba perankan.)

​Langkah kaki yang berat, mantap, dan penuh wibawa terdengar menuruni tangga jati yang megah. Itu Zayn Al-Fatih. Pagi ini, ia mengenakan setelan jas biru gelap yang sangat tajam, memberikan aura "The Cold Lion" yang lebih menakutkan dari biasanya. Wajahnya dipasang dalam ekspresi yang paling dingin, tanpa emosi, seolah-olah hatinya telah benar-benar membeku. Di sampingnya, Sabrina melangkah dengan angkuh, tangannya menggelayut manja di lengan Zayn, wajahnya berseri-seri penuh kemenangan.

​(Zayn membatin: Maafkan aku, Maryam. Aku bersumpah demi nyawaku, setiap kata kasar dan hinaan yang akan aku hamburkan pagi ini adalah belati yang juga menusuk dan merobek jantungku sendiri. Aku harus melakukan ini. Aku harus membuat Sabrina dan mata-mata Rian percaya sepenuhnya bahwa aku sangat membencimu, bahwa aku menganggapmu sampah. Jika aku tidak bersikap kejam sekarang, mereka akan menyadari ada yang aneh dan mereka akan menghilang ke kegelapan sebelum kita sempat meringkus mereka. Tahanlah, Maryam... tetaplah kuat di balik niqabmu itu. Aku sedang berperang untukmu, meskipun kau merasa aku sedang menginjakmu saat ini.)

​Zayn duduk di kursi kebesarannya dengan gerakan yang kaku. Ia membanting tablet kerjanya ke atas meja marmer hingga menimbulkan dentuman keras yang bergema di seluruh ruangan, membuat Bi Inah yang sedang menata piring di dapur tersentak kaget.

​"Maryam!" bentak Zayn. Suaranya menggelegar, bergetar di dinding-dinding ruang makan yang mewah, menciptakan getaran yang membuat suasana seketika membeku.

​Aaliyah melangkah maju dengan perlahan, setiap langkahnya terasa sangat berat seolah kakinya terikat rantai baja. Ia sengaja membuat tubuhnya sedikit gemetar agar sandiwara ini terlihat sempurna di mata Sabrina yang tajam. "I-iya, Tuan Muda?" suaranya keluar kecil, parau, dan penuh dengan nada ketakutan yang dibuat-buat.

​Zayn mendongak, menatap Maryam dengan tatapan yang penuh dengan kebencian palsu yang sangat meyakinkan—sebuah tatapan yang seolah ingin menguliti Maryam hidup-hidup. "Berani sekali kau menunjukkan wajahmu—atau setidaknya kain hitammu yang menyedihkan itu—di depanku pagi ini? Setelah apa yang kau lakukan semalam? Kau pikir aku adalah orang bodoh yang akan membiarkan seorang pencuri rendahan berkeliaran dengan bebas di dalam rumah pribadiku?!"

​(Sabrina bersorak dalam hati: Ya! Begitu, Zayn! Teruslah berteriak sampai dia hancur berkeping-keping! Buat dia merasa seperti sampah yang tak layak menghirup udara yang sama dengan kita! Aku sudah tidak sabar melihatnya menangis darah dan memohon-mohon di kakiku agar tidak dilaporkan ke polisi. Dasar pelayan berwajah dua, kamu pikir cadar sialanmu itu bisa melindungimu dari kemarahan seorang Zayn Al-Fatih? Kamu salah besar! Hari ini adalah babak terakhirmu di istana ini!)

​"Tuan Muda, saya mohon... saya tidak melakukannya... perhiasan itu..." lirih Maryam, ia menutup matanya rapat-rapat di balik cadar, memberikan performa akting yang luar biasa menyentuh hati.

​"Diam! Aku tidak butuh pembelaan dari mulut yang penuh dengan aroma dusta!" Zayn berdiri dengan cepat, kursi kerjanya terdorong ke belakang dengan suara derit yang menyakitkan telinga. Ia menghampiri Maryam, berdiri sangat dekat hingga Maryam bisa merasakan hembusan napas Zayn yang panas. "Kau tahu apa yang paling aku benci di dunia ini, Maryam? Kemunafikan! Kau berpura-pura suci, berpura-pura berdoa dengan khusyuk di tengah malam, tapi tanganmu merayap licik di bawah bantal untuk menyembunyikan berlian mawar milik keluargaku! Kau adalah aib di rumah ini!"

​Zayn meraih segelas air putih yang baru saja diletakkan Bi Inah di meja. Dengan gerakan cepat—namun sebenarnya ia sudah mengalkulasi sudutnya agar air itu hanya membasahi lantai di depan kaki Maryam dan sedikit ujung gamisnya—ia menyiramkan air itu ke lantai dengan kasar. Byur! "Kau tidak lebih dari sekadar hama, Maryam! Aku tetap membiarkanmu di sini hanya karena ibuku masih dalam kondisi labil dan butuh pengasuh. Tapi jangan harap kau bisa hidup tenang setelah ini! Mulai detik ini, derajatmu tidak lebih tinggi dari debu di rumah ini! Kau akan mengerjakan semua pekerjaan kasar yang paling kotor, dan kau tidak akan mendapatkan sepeser pun gaji sampai seluruh nilai kerugian perhiasan itu terlunasi dari keringatmu!"

​(Batin Maryam menjerit: Perih... Ya Allah, meskipun hamba tahu ini hanyalah sandiwara yang kami sepakati semalam, mengapa rasanya tetap sesakit ini di dalam sini? Kata 'hama', kata 'munafik'... itu adalah kata-kata yang pernah hamba dengar saat hamba diusir paksa dari pesantren ayah hamba. Zayn, apakah kau tahu kau sedang menggaruk luka lama yang bahkan belum sempat kering? Mengapa kata-katamu terdengar begitu nyata? Tapi hamba harus bertahan. Demi ayah yang sedang koma. Demi kebenaran yang tertimbun. Hamba harus membiarkan dia menghinaku agar musuh-musuh itu lengah dan tertawa di atas penderitaan hamba.)

​Sabrina tertawa kecil, suara tawa yang melengking dan sangat menjengkelkan, seperti suara gesekan pisau pada piring kaca. "Aduhh, Zayn sayang... kamu itu benar-benar terlalu baik dan lembut. Seharusnya wanita ini langsung diserahkan ke unit kejahatan polisi saja. Lihat dia, Zayn, bahkan dia tidak berani menatap kita. Pasti di balik kain hitam itu dia sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih jahat lagi. Siapa tahu dia punya komplotan perampok di luar sana!"

​Sabrina berdiri, mengibaskan gaun mahalnya, dan berjalan mendekati Maryam. Dengan gerakan yang sangat merendahkan, Sabrina menyentuh dagu Maryam dengan ujung jari telunjuknya yang dipoles kuku berwarna merah darah, mencoba memaksa wajah Maryam terangkat. "Dengar baik-baik ya, pelayan ninja. Kamu itu sangat beruntung karena Zayn masih punya sedikit sisa belas kasihan. Kalau aku yang jadi pemilik rumah ini, sudah aku pastikan wajahmu terpampang di semua surat kabar sebagai pencuri paling religius abad ini. Kamu benar-benar memuakkan!"

​(Sabrina membatin: Aku akan membuat setiap detikmu di rumah ini seperti berada di kerak neraka, Maryam. Aku akan menyuruhmu membersihkan kolam renang di bawah terik matahari pukul dua siang, aku akan menyuruhmu menyikat seluruh toilet tamu dengan tangan kosong. Aku ingin melihat sejauh mana 'iman' dan 'kesabaran' palsumu itu bisa bertahan sebelum kamu menyerah, melempar cadarmu, dan pergi dari sini dengan membawa kehinaan yang paling dalam!)

​Zayn kembali ke kursinya dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan. Dadanya naik turun dengan cepat seolah-olah ia sedang menahan amarah yang meledak-ledak. Padahal, di dalam benaknya, Zayn sedang berteriak pada dirinya sendiri karena harus melihat Maryam diperlakukan seperti itu oleh Sabrina di depan matanya sendiri.

​"Pergi ke belakang sekarang juga! Cuci semua karpet wol di ruang tamu tanpa menggunakan mesin cuci! Sikat dengan tanganmu sendiri! Dan pastikan semuanya sudah kering dan bersih sebelum jam makan siang, atau kau tidak akan mendapatkan jatah makan malam hari ini!" perintah Zayn dengan nada dingin yang sekeras baja.

​Maryam menunduk sangat dalam, memberikan isyarat hormat yang sangat rendah seolah ia adalah budak di zaman kuno, lalu berbalik dan berjalan perlahan menuju area belakang. Setiap langkahnya terasa sangat berat, meninggalkan ruang makan yang penuh dengan aura kebencian tersebut.

​Begitu sampai di dapur yang sepi, Bi Inah langsung menyambar tubuh Maryam dan memeluknya dengan erat. Bi Inah menangis tersedu-sedu, pundaknya berguncang hebat. "Maafkan Tuan Muda, Maryam... maafkan beliau... Bibi benar-benar tidak menyangka Tuan Muda bisa sekasar itu kepada wanita. Sabar ya, Nak... Bibi tahu kamu anak baik, Bibi tahu kamu bukan pencuri..."

​(Batin Maryam menjerit: Bibi... terima kasih banyak. Setidaknya di rumah mewah yang penuh dengan kepalsuan dan intrik mematikan ini, masih ada hangatnya pelukanmu yang tulus. Hamba ingin sekali membisikkan kebenaran padamu, Bibi, bahwa ini semua hanyalah akting. Tapi hamba tidak ingin membahayakan nyawamu jika Sabrina atau Rian tahu kau terlibat. Biarlah beban yang menyesakkan ini hamba tanggung sendiri untuk sementara waktu. Ya Allah, lindungilah wanita tua yang baik hati ini dari pusaran masalah hamba.)

​"Tidak apa-apa, Bi. Mungkin ini adalah cara Allah untuk menghapuskan dosa-dosa saya yang terdahulu," jawab Maryam lembut sembari mengusap air mata yang membasahi pipi Bi Inah.

​Aaliyah mulai menjalankan perannya. Ia menyeret karpet-karpet besar yang berat itu dari ruang tamu menuju halaman belakang. Matahari pagi yang tadi bersahabat, kini mulai meninggi dan memancarkan panas yang menyengat kulit. Di balik niqab dan gamis hitam tebalnya, keringat mulai bercucuran deras, membasahi kain penutup wajahnya hingga terasa lembap dan sesak. Namun, di dalam kepalanya yang cerdas, Aaliyah sama sekali sedang tidak memikirkan karpet atau panas matahari.

​Ia sedang memikirkan Rian, sang pengkhianat.

​Semalam, melalui laptop peraknya yang kini berada di tangan Zayn, Aaliyah telah berhasil menanam sebuah 'virus pelacak stealth' di dalam ponsel pribadi Rian. Ia tahu bahwa saat ini Rian sedang berada di kantor pusat Al-Ghifari Group, kemungkinan besar sedang mencoba mengakses basis data terlarang untuk menghilangkan jejak fitnah Al-Azhar. Melalui jam tangan pintarnya yang kecil yang ia sembunyikan dengan sangat rapi di balik lengan gamisnya yang longgar, Aaliyah menerima getaran notifikasi yang halus.

​(Maryam membatin: Umpannya sudah dimakan. Rian sedang bergerak di dalam sistem. Dia sedang mencoba masuk ke dalam folder rahasia 'Proyek Al-Azhar'. Dia pasti merasa aman karena mengira aku sudah 'dijinakkan' oleh kemarahan Zayn dan berita kematian palsuku akan segera menyusul. Baiklah, Rian... silakan masuk lebih dalam ke dalam labirin jebakanku. Aku sudah menyiapkan 'pintu masuk' khusus yang akan merekam setiap ketikan jarimu, setiap klik mouse-mu, dan mengirimkannya secara langsung ke server pribadiku yang aksesnya sudah kubagikan pada Zayn pagi ini secara rahasia.)

​Sementara itu, di ruang kerjanya yang terkunci rapat dari dalam, Zayn Al-Fatih tidak sedang bekerja. Ia menutup semua tirai jendela, mematikan lampu utama, dan hanya menyisakan cahaya dari layar laptop milik Maryam. Ia memasukkan kunci akses yang diberikan Maryam melalui pesan singkat terenkripsi tadi subuh.

​Di layar monitornya yang besar, Zayn kini bisa melihat tampilan layar komputer Rian di kantor pusat secara real-time, seolah-olah ia sedang berdiri tepat di belakang pria itu. Ia melihat kursor mouse Rian bergerak dengan sangat cepat menuju dokumen-dokumen yang berisi riwayat bukti transfer palsu Yayasan Al-Azhar.

​(Zayn membatin: Jadi ini caramu membalas kebaikanku selama lima tahun ini, Rian? Kau dengan sengaja menghapus bukti transfer yang asli dan menggantinya dengan angka-angka fiktif yang seolah-olah mengalir ke rekening pribadiku. Kau benar-benar ingin aku menjadi tumbal bagi skandal besar ini agar perusahaan papa Sabrina bisa mengambil alih segalanya. Dan Sabrina... wanita itu yang memberimu semua akses rahasia ini saat aku sedang lengah. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku selama bertahun-tahun dikelilingi oleh para ular berbisa? Dan Maryam... gadis yang baru saja aku maki-maki dengan kata-kata paling kotor tadi pagi di depan semua orang, dialah satu-satunya orang yang saat ini sedang memberikan 'mata' kepadaku untuk melihat kebusukan ini. Aku benar-benar merasa sangat hina sebagai pria.)

​Tiba-tiba, terdengar ketukan yang berisik di pintu ruang kerja Zayn. Suara manja yang sangat ia kenal sekarang terdengar seperti suara kematian baginya. Itu Sabrina.

​"Zayn? Sayang? Kenapa pintunya dikunci rapat sekali? Aku membawakanmu jus jeruk segar agar stresmu hilang," suara Sabrina terdengar sangat lembut dari luar.

​Zayn dengan cekatan menutup tab monitor pelacaknya dan menggantinya dengan tampilan grafik saham yang membosankan dan laporan audit yang rumit. Ia mengatur napasnya agar terdengar tenang, lalu membuka pintu dengan wajah yang masih dipasang dalam mode "bos yang sedang murka".

​"Ada apa lagi, Sabrina? Aku sedang sangat sibuk mencoba menghentikan kebocoran data yang kemungkinan besar dilakukan oleh pelayan sialan itu semalam!" sergah Zayn dengan nada bicara yang kasar.

​Sabrina masuk dengan senyum manis yang tampak sangat palsu di mata Zayn sekarang. "Sabar, Sayang... jangan terlalu membuang energi untuk orang seperti dia. Biarkan saja staf IT-mu yang ahli itu yang membereskannya. Oh iya, Zayn, tadi aku melihat Maryam bermalas-malasan, jadi aku menyuruhnya membersihkan seluruh kaca jendela luar di balkon lantai dua. Biar dia kapok dan tidak punya waktu lagi untuk memikirkan rencana mencuri perhiasan kita lagi."

​(Zayn membatin: Kau benar-benar ingin mencelakainya, Sabrina? Kau menyuruhnya membersihkan jendela luar di balkon lantai dua yang tingginya lebih dari sepuluh meter tanpa alat pengaman apa pun di tengah hari yang terik ini? Kau benar-benar seorang iblis yang menggunakan wajah malaikat sebagai kedok. Aku harus segera mencari cara untuk menghentikannya sebelum Maryam benar-benar berada dalam bahaya fisik yang nyata.)

​"Terserah kau saja. Lakukan apa pun yang bisa membuatmu diam dan berhenti menggangguku," jawab Zayn dingin sembari kembali membenamkan wajahnya di depan layar komputer, pura-pura tidak peduli.

​Siang hari yang terik, tepat pukul dua belas siang. Aaliyah Humaira berdiri di atas sebuah tangga aluminium yang tinggi dan goyah di balkon lantai dua. Ia sedang menyeka kaca jendela besar dengan gerakan pelan, tangannya yang lecet karena sikat karpet tadi terasa sangat perih terkena cairan pembersih. Dari tempatnya yang tinggi, ia bisa melihat seluruh pemandangan halaman luas rumah Al-Ghifari yang dipenuhi mobil-mobil mewah.

​Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah dengan plat nomor yang sangat ia kenal masuk melalui gerbang utama. Mobil itu milik Tuan Baskoro, ayah kandung Sabrina sekaligus rekan bisnis utama Zayn yang sedang melakukan tekanan politik untuk merger paksa.

​(Maryam membatin: Mengapa Tuan Baskoro datang mendadak secara rahasia seperti ini? Apakah ini ada hubungannya dengan rencana 'Hostile Takeover' yang aku temukan di dokumen rahasia semalam? Aku harus bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Ya Allah, mudahkanlah hamba dalam penyamaran ini. Berikanlah hamba telinga yang tajam di tengah badai fitnah ini.)

​Aaliyah sengaja tidak turun. Ia tetap berada di balkon, sedikit bersembunyi di balik pilar besar dekat ruang tamu atas, tempat biasanya tamu-tamu VIP diterima untuk pembicaraan rahasia. Ia mengecilkan gerakan tubuhnya agar tidak terlihat dari dalam, namun ia menajamkan pendengarannya sekuat tenaga.

​Zayn menyambut Tuan Baskoro di balkon tersebut, sengaja membawa tamunya ke area terbuka agar tidak terekam oleh penyadap yang mungkin dipasang Rian di dalam ruangan.

​"Zayn, keponakanku yang cerdas," suara Tuan Baskoro terdengar berat, serak, dan penuh dengan aura wibawa palsu yang memuakkan. "Kudengar perusahaannmu sedang berada di ambang krisis keamanan yang cukup memalukan? Dan kulihat Yayasan Al-Azhar sudah mulai menyeret namamu ke dalam pusaran skandal zina mereka? Sebagai calon mertuamu, aku merasa sangat prihatin dan merasa perlu memberikan bantuan darurat."

​"Bantuan seperti apa yang ingin Anda tawarkan, Tuan Baskoro? Saya yakin bantuan Anda tidaklah gratis," tanya Zayn dengan nada datar dan tanpa ekspresi.

​"Cukup sederhana, Zayn. Serahkan saja sekitar empat puluh persen saham kontrol Al-Ghifari Group kepadaku dengan harga diskon. Aku memiliki koneksi yang sangat kuat di petinggi kepolisian pusat untuk meredam skandal Al-Azhar itu sebelum namamu benar-benar hancur menjadi debu di media massa. Kau tahu kan, sekali nama seorang CEO kotor dengan isu asusila dan korupsi yayasan religi, investor asing akan lari seperti tikus dari kapal yang tenggelam?"

​(Zayn membatin: Ular tua yang licik ini akhirnya benar-benar menunjukkan taringnya yang berbisa. Dia ingin merampok perusahaanku dengan menggunakan skandal yang dia rancang sendiri bersama putrinya yang manipulatif. Mereka benar-benar tim penghancur keluarga yang sangat terorganisir. Aku harus menahan diri untuk tidak memukul wajahnya sekarang juga.)

​"Saya akan mempertimbangkan penawaran Anda, Tuan Baskoro," jawab Zayn singkat, suaranya terdengar pasrah—sebuah akting yang sempurna.

​Saat itu, Sabrina keluar bergabung dengan mereka dengan wajah ceria. "Papa! Wah, Papa sudah sampai di sini? Zayn sedang stres sekali hari ini, Pa. Bayangkan, ada pelayan rendahan di rumah ini yang berani-beraninya mencuri perhiasan warisan nenek Zayn tadi pagi. Benar-benar tidak punya tahu diri!"

​"Pelayan mencuri?" Tuan Baskoro tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat merendahkan. "Zayn, kamu itu terlalu lembek sebagai pemimpin. Di dunia bisnis, hama seperti itu harus langsung dimusnahkan agar tidak menularkan penyakit. Oh ya, Zayn, omong-omong tentang Al-Azhar, ada berita baru yang mungkin menarik bagimu. Kudengar putri Kyai itu, siapa namanya? Ah, Aaliyah Humaira... dikabarkan secara resmi telah meninggal dunia tadi malam karena bunuh diri di tempat persembunyiannya yang kumuh. Kasihan sekali ya, seorang hafizah harus mati dalam kehinaan yang paling dalam."

​DEGG!

​Jantung Aaliyah seolah berhenti berdetak saat mendengar kalimat itu. Seluruh tubuhnya mendadak mati rasa. Ia mencengkeram pinggiran tangga aluminium dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar hebat. Dunia seolah berputar di matanya.

​(Batin Maryam menjerit: Mati? Aku dikabarkan bunuh diri? Ya Allah... mereka sudah menyebarkan fitnah bahwa aku telah tiada secara resmi! Mereka ingin menutup kasus ini selamanya dengan mematikan korban fitnah mereka agar tidak ada lagi yang berani menyelidiki kebenaran! Betapa iblisnya hati mereka... mereka tidak hanya ingin menghancurkan hidupku, tapi mereka ingin membunuhku secara sosial dan hukum sekaligus agar mereka bisa berpesta di atas tanah ayah hamba!)

​Zayn yang berdiri di dekat sana secara refleks melirik ke arah jendela kaca luar. Melalui pantulan kaca, ia melihat tangan Maryam yang gemetar hebat di pinggiran tangga. Ia melihat tubuh wanita itu goyah seolah akan jatuh dari ketinggian lantai dua. Hati Zayn teriris perih melihat reaksi itu, namun ia harus tetap pada perannya.

​"Meninggal? Saya baru saja mendengar berita duka itu dari Anda," jawab Zayn, suaranya sedikit bergetar namun ia segera menormalkannya dengan berdeham. "Sangat disayangkan sekali. Padahal saya sangat ingin bertemu dengannya secara langsung untuk meminta klarifikasi tentang dana yayasan yang masuk ke rekening saya."

​"Sudahlah, Zayn. Orang mati tidak bisa memberikan klarifikasi, dan dunia tidak akan peduli pada pembelaan mayat. Yang penting sekarang adalah menyelamatkan perusahaamu dan masa depanmu bersama Sabrina," timpal Baskoro dengan nada enteng seolah sedang membicarakan cuaca.

​Setelah kedua ular itu masuk kembali ke dalam ruangan dengan tawa kemenangan mereka, Aaliyah turun dari tangga dengan kaki yang terasa seperti jelly. Ia jatuh terduduk di lantai balkon yang panas menyengat, menyandarkan punggungnya pada tembok beton yang keras. Air mata yang sejak pagi tadi ia tahan dengan sekuat tenaga, akhirnya tumpah tak terbendung, membasahi kain niqabnya hingga terasa sangat sesak dan berat.

​(Batin Maryam menjerit: Ayah... mereka bilang aku sudah mati. Seluruh dunia mengira aku sudah tiada dalam lumuran kehinaan. Apakah ini pertanda bahwa hamba harus benar-benar menyerah pada takdir yang kejam ini? Tidak! Tidak, Ya Allah! Jika mereka sampai bersusah payah menyebarkan berita kematian palsuku, berarti mereka sedang sangat takut padaku! Mereka takut aku akan kembali untuk membongkar kebohongan mereka! Aku tidak akan mati semudah itu! Aku akan tetap hidup di balik bayangan niqab ini sampai aku bisa membuktikan pada dunia bahwa Aaliyah Humaira masih bernapas, masih berdiri tegak, dan siap mengambil kembali kehormatan keluarganya serta menghancurkan istana pasir kebohongan kalian!)

​Tiba-tiba, sebuah tangan yang kokoh, hangat, dan sangat ia kenal menyentuh lembut bahunya yang sedang berguncang hebat karena tangis. Aaliyah tersentak kaget dan mendongak dengan mata yang sembab.

​Zayn Al-Fatih berdiri di sana, di balkon yang kini sepi dan terlindung dari pandangan orang dalam. Ia tidak lagi memasang wajah marah yang menakutkan itu. Matanya menatap Maryam dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan penuh dengan luka, empati, dan sebuah janji perlindungan yang tulus.

​"Tetaplah bernapas dengan kuat, Maryam," bisik Zayn dengan suara yang sangat rendah dan lembut, kontras dengan teriakannya yang memekakkan telinga tadi pagi. "Jangan biarkan kata-kata kotor mereka membunuh jiwamu. Aku tahu kau masih hidup, aku tahu kebenaran bersamamu, dan aku bersumpah demi langit akan memastikan seluruh dunia tahu bahwa kau tidak bersalah. Tapi untuk sekarang... kumohon padamu, tetaplah menjadi bayanganku yang setia. Biarkan mereka mengira mereka menang."

​Zayn memberikan sebuah sapu tangan sutra berwarna putih yang bersih dan harum ke tangan Maryam. Tanpa sepatah kata lagi, Zayn segera berbalik dan masuk kembali ke dalam ruangan sebelum Sabrina mencurigainya, meninggalkan Aaliyah yang tertegun menatap sapu tangan itu dengan perasaan yang tidak menentu.

​(Maryam membatin: Zayn... mengapa di saat kau menghinaku paling keras dengan kata-kata paling kotor di depan umum, kau juga orang pertama yang memberikan perlindungan yang paling hangat secara sembunyi-sembunyi? Apakah ini cara Allah menunjukkan hidayah-Nya? Bahwa di tengah padang pasir fitnah yang gersang ini, Engkau masih memberikan hamba setetes air harapan melalui pria yang hatinya sedang membeku ini? Aku tidak akan menyerah sekarang. Demi Allah, aku akan bertahan sampai akhir.)

​Di kejauhan, di balik tirai lantai atas yang sedikit tersingkap, Sabrina mengintip dengan mata yang menyipit penuh kecurigaan yang tajam. Ia melihat dengan jelas sapu tangan putih itu kini berada di tangan Maryam.

​(Sabrina membatin: Kenapa sapu tangan milik Zayn ada di tangan pelayan sialan itu? Apa yang mereka bicarakan di balkon tadi? Sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi di rumah ini. Zayn tidak mungkin sebodoh itu memberikan sapu tangannya pada seorang pencuri rendahan yang baru saja ia siram air. Apakah mereka sedang merencanakan sesuatu yang besar di belakangku? Rian benar... pelayan ini bukan pelayan biasa. Dia harus benar-benar 'dihilangkan' secara fisik agar berita kematian Aaliyah Humaira menjadi kenyataan yang sempurna dan permanen!)

​Malam itu, badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai. Sebuah rencana pembunuhan yang sebenarnya telah disusun dengan rapi di balik senyuman manis dan lipstik merah Sabrina. Sinetron kehidupan ini sedang menuju puncak yang sangat berdarah dan penuh dengan air mata pengorbanan.

1
Sri Jumiati
cobaan berat bertubi tubi .terus menerus.kasihan Aaliyah
Rita Rita
AQ jadi kepikiran presiden RI,,, apakah pak Bowo Thor 🤔 novel mu Thor bikin tegangan tinggi
Misterios_Man: diem diem aja kak, jangan bilang-bilang /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!