Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Pintu utama terbuka. Tampak sosok pria paruh baya dalam balutan jas berwarna hitam berdiri disana dengan wajah murka, menatap sang putra yang baru saja membukakan pintu untuknya.
"Kamu sudah kembali dari London hampir dua minggu, tapi kamu bahkan tidak pulang ke rumah. Apa aku ini sudah tidak ada artinya bagimu?!"
Rendra bersandar di dinding, wajahnya datar dan dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat atau takut. "Aku sibuk. Dan aku sudah bilang, aku tidak nyaman tinggal di sana."
"Alasan murahan!" potong Hendry keras, melangkah masuk ke dalam dengan langkah tegas.
"Apa salah rumah itu? Rumah besar yang nyaman, dengan semua fasilitas yang kamu mau ada disana. Atau karena kamu benci melihat aku bahagia? Karena aku berani menikah lagi setelah ibumu meninggal?"
Hening sejenak. Rendra menatap tajam mata ayahnya, ada luka mendalam yang terpancar disana.
"Jangan bicarakan soal kebahagiaanmu, Yah," suara Rendra terdengar rendah namun menusuk, menutup pintu kembali dan menyusul ayahnya masuk. "Ibu baru meninggal dua bulan saat Ayah memutuskan untuk menikahi wanita itu."
Suasana seketika membeku. Kalimat itu terlontar begitu tajam, menguak luka lama yang selama ini mereka coba hindari.
Hendry tertegun, tubuhnya menegang mendengarnya. Wajah pria itu sedikit berubah, namun gengsinya tak membiarkannya mengaku salah.
"Kamu... kamu masih mengungkit hal itu?" sahut Hendry berat, berbalik menghadap putranya. "Itu sudah sepuluh tahun lalu, Rendra. Aku tidak mungkin hidup sendiri selamanya!"
"Sepuluh tahun atau dua puluh tahun, itu tetap salah di mataku." Rendra melangkah maju, matanya menyala menahan amarah dan kekecewaan. "Ibu baru saja dimakamkan saat itu. Belum kering air mata kami, tapi Ayah sudah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan dengan wanita lain. Apa janji setia selamanya yang kamu ucapkan di depan altar dulu hanya omong kosong belaka?!"
"Jangan bicara kasar padaku, Rendra! Aku Ayahmu!" bentak Hendry, suaranya menggema di ruang tamu yang luas itu.
"Justru karena kamu Ayahku, aku kecewa!" Rendra tidak mundur sedikitpun. "Rumah itu... setiap sudutnya masih menyimpan bayangan Ibu. Tapi sekarang? Bau parfum wanita itu, tawa anak tirimu... semuanya membuatku muak! Kamu mengubah kenangan Ibu menjadi sesuatu yang murah dan asing!"
Di dalam kamar tidur, Nara memejamkan mata erat. Dadanya sesak mendengar setiap kata yang terucap. Ternyata, Rendra memiliki luka sedalam itu.
"Kamu pikir aku bahagia? Kamu pikir aku tidak sedih?" suara Hendry mulai terdengar bergetar, campuran antara marah dan terluka. "Aku melakukan itu demi menjaga segalanya tetap berdiri! Supaya kamu tetap memiliki sosok seorang ibu! Tapi kamu... kamu malah menjauh! Kamu mengucilkan diri sendiri seolah kamu anak yatim piatu!"
"Aku memang merasa seperti itu!" seru Rendra. "Dan aku tidak butuh sosok ibu lain selain ibuku!"
Hening panjang. Kata-kata itu begitu menyakitkan hingga membuat kedua pria itu saling menatap dengan napas memburu.
Hendry menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dia tahu, membahas masa lalu tidak akan menyelesaikan masalah. Tatapannya kembali berubah tegas, kali ini membawa topik baru yang jauh lebih berat.
"Baiklah... Ayah tidak mau berdebat soal itu lagi. Itu masa lalu."
Hendry menatap putranya lekat-lekat, matanya menyapu seluruh wajah Rendra seolah sedang mencari sesuatu.
"Tapi sekarang Ayah punya urusan lain. Urusan masa depanmu." ucap Hendry tenang. "Pulanglah sebentar, ayah sudah mengatur perjodohan untukmu. Usiamu sudah tiga puluh tahun, sudah saatnya kamu menikah dan memiliki keluarga sendiri,"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Hendry, seolah itu adalah hal paling wajar dan mudah untuk dilakukan.
Rendra terkekeh sinis, suaranya terdengar dingin dan tajam.
"Perjodohan?" ulang Rendra, matanya menyipit penuh penolakan. "Ayah serius? Di zaman sekarang, di usiaku yang sudah matang ini, Ayah masih berpikir bisa mengatur hidupku seperti boneka?"
"Jangan bicara seperti itu, Rendra!" bentak Hendry. "Ini demi kebaikanmu dan demi perusahaan. Wanita yang Ayah pilih itu berasal dari keluarga terpandang, putri tunggal konglomerat. Kalian cocok. Dia cantik, berpendidikan, dan bisa membantumu memegang kendali perusahaan nanti."
"Aku tidak butuh wanita untuk membantu perusahaan!" potong Rendra tegas, suaranya meninggi. "Aku sudah bisa mengurus semuanya sendiri sejak lama tanpa campur tanganmu! Dan yang paling penting... aku tidak mencintainya!"
"Kamu pikir cinta itu segalanya?!" Hendry mulai kehilangan kesabaran. "Cinta bisa tumbuh belakangan. Yang kamu butuhkan adalah istri yang pantas berdiri di sampingmu, yang bisa melanjutkan garis keturunan keluarga ini dengan baik."
"Tapi aku sudah punya orang yang aku cintai!" seru Rendra tanpa sadar, suaranya bergema di ruang tamu itu. "Seseorang yang membuatku merasa hidup, yang membuatku merasa dicintai apa adanya. Bukan karena nama atau hartaku!"
Hendry tertegun sejenak, dia menatap wajah putranya lekat-lekat.
"Siapa wanita itu? Bawa dia kerumah dan perkenalkan pada kami." tuntut Hendry lagi, suaranya penuh wibawa dan tekanan. "Kalau kamu benar-benar serius dan bilang dia istimewa, bawa dia! Biar Ayah lihat sendiri apa dia wanita yang pantas berdiri di sampingmu!"
Rendra menatap tajam mata ayahnya, rahangnya mengeras. Dia tahu betul situasi di dalam. Nara ada di sana, didalam kamarnya dan dalam keadaan telanjang. Dan yang paling parah... Nara adalah istri sahabatnya sendiri.
Bagaimana mungkin dia bisa membawa wanita yang sudah bersuami itu ke hadapan keluarganya? Itu bukan sekedar skandal, itu bisa menghancurkan segalanya.
"Ayah tidak perlu tahu!" bentak Rendra, mencoba menutupi kepanikan di balik kemarahannya. "Dan dia tidak akan mau datang ke rumah yang penuh dengan orang asing itu. Jangan harap aku akan membiarkan orang yang aku cintai dihina atau dinilai sembarangan oleh keluargamu!"
Rendra menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sendiri. "Pergi sekarang dan jangan datang ke sini lagi jika hanya untuk menuntut ini-itu atau mengatur hidupku. Aku sudah dewasa, Ayah!"
Hendry menatap putranya lama, wajahnya memerah menahan amarah yang meluap-luap. Dia melihat ketegasan di mata Rendra, ketegasan yang tidak bisa dibantah lagi.
"Baiklah..." Hendry menghela napas panjang dengan berat, merapikan jasnya yang sedikit berantakan. "Ayah pergi. Tapi ingat ini Rendra... suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa Ayah melakukan semua ini demi kebaikanmu. Jangan sampai kamu menyesal karena memilih wanita yang salah."
Setelah melontarkan kalimat pedas itu, Hendry akhirnya berbalik dan melangkah keluar meninggalkan unit apartemen itu.
Suasana di dalam apartemen seketika menjadi hening, namun udara masih terasa begitu berat dan panas. Rendra berdiri mematung di tengah ruangan, napasnya masih memburu. Kepalanya terasa pening, pikirannya kacau balau.
Dia berjalan malas menuju sofa ruang tamu, lalu menjatuhkan tubuhnya disana. Tangannya terulur mengambil sebungkus rokok dan korek api yang ada di atas meja.
Api menyala. Rendra menghisap rokok itu dalam-dalam, membiarkan asapnya memenuhi paru-paru, berharap bisa sedikit menenangkan gejolak emosi yang masih mengamuk di dadanya. Asap putih mengepul perlahan, menyelimuti wajah tampannya yang kini terlihat lelah dan muram.
Beberapa saat berlalu. Langkah kaki pelan terdengar mendekat. Rendra mendongak sedikit dan melihat Nara datang. Wanita itu hanya mengenakan kemeja oversized milik Rendra yang longgar hingga menutupi pahanya, rambutnya masih berantakan.
Nara berhenti beberapa langkah dari sofa, menatap punggung lebar yang kini tampak begitu rapuh itu dengan perasaan bersalah yang menggunung.
"Ren..." panggilnya lirih.
Belum sempat Nara melangkah lebih jauh atau duduk di sofa sebelahnya, tangan kekar Rendra bergerak cepat. Dia mencengkeram pergelangan tangan Nara, lalu menariknya dengan gerakan kuat namun lembut.
"Aaah!" Nara tersentak kaget, kehilangan keseimbangan sejenak sebelum akhirnya tubuhnya mendarat dengan mulus di atas paha pria itu.
Rendra meletakkan rokoknya di asbak, lalu kedua tangannya langsung melingkar erat di pinggang ramping itu, mendekap tubuh wanita itu sangat dekat hingga dada mereka bersentuhan. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Nara, menghirup aroma tubuh wanita itu dalam-dalam seolah mencari ketenangan.
"Jangan pergi dariku," bisik Rendra parau, suaranya terdengar sangat lelah dan putus asa. "Jangan pernah tinggalkan aku sendirian, Nara..."
Nara menunduk, menatap wajah tampan yang kini bersandar di dadanya. Tangannya perlahan terangkat, mengusap rambut Rendra dengan lembut.
"Aku disini, Ren. Aku disini..."
-
-
-
Bersambung...