NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Familiar

Minah diam tetapi merasakan keanehan yang sama dengan yang dirasakan pembantu yang sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri itu.

Sejak tadi sebelum berangkat, mereka sama sekali tidak membicarakan arah jalan ke rumah Ida. Lalu dari mana Zivanna mengetahuinya? Dari mana juga dia tahu kalau di depan ada belokan ke kiri jika dari arah mereka berjalan belokan itu tertutup rimbunnya pohon cincau hijau yang merambat di pagar kayu salah satu rumah warga. "Iya juga. Bagaimana kamu bisa tahu, Zi?"

"Nggak tahu, Nek. Tapi aku yakin di depan sana itu ada belokan." Zivanna menunjuk tepat dimana belokan itu berada. "Apa dulu waktu kecil aku sering diajak jalan-jalan ke sini? Soalnya aku merasa hafal dengan jalan ini."

Minah merasa semakin aneh melihat cucunya itu. Wisnu dulu sangat protektif terhadap Zivanna. Jangankan jalan-jalan, Zivanna bermain keluar dari pagar saja Wisnu sudah panik setengah mati.

"Seingat nenek, kamu tidak pernah diajak kemana-mana sama ayahmu. Paling hanya di halaman atau paling jauh ke rumah Rani."

"Kok aneh, ya? Terus aku bisa tahu darimana?"

"Dari mimpi Non Ziva mungkin," celetuk Rani.

Zivanna menghentikan langkahnya. Seketika potong-potongan mimpi melintas dalam ingatannya. Kini dia mengerti kenapa jalan ini terasa begitu familiar.

Jalan ini sama persis seperti dalam salah satu mimpinya. Setelah belok kiri mereka akan menemui sebuah rumah kecil yang temboknya belum dicat dan lantainya masih terbuat dari semen.

Kalau itu semua benar, maka mimpinya bukan sekedar mimpi biasa. Pria dengan jaket gambar tengkorak yang kemarin di lihat di jalan pun juga bukan kebetulan semata.

Melihat perubahan sikap Zivanna, Minah langsung merasa khawatir. Dia sudah mendengar dari Wisnu dan juga Anita jika Zivanna akan menjadi lebih sensitif jika membicarakan masalah mimpi.

Dan sekarang, dia melihat sendiri bagaimana Zivanna yang tadinya sangat antusias langsung kehilangan semangat dan terlihat gelisah. "Tidak usah dipikirkan. Lanjut jalan yuk, sudah mau sampai."

Tidak sampai tiga menit kemudian mereka bertiga sampai.

"Kita sudah sampai?" tanya Zivanna sambil memperhatikan sekeliling. Dia merasa seperti sudah tinggal di daerah itu seumur hidupnya. Semuanya terlihat begitu familiar kecuali rumah di hadapannya.

"Iya, kita sudah sampai. Itu rumah Ida." Minah menunjuk rumah di depan mereka.

"Ini rumahnya?" ulang Zivanna. Minah mengangguk.

"Syukurlah," batin Zivanna. Rumah di hadapannya ini tidak sama seperti rumah di dalam mimpinya. Akhirnya dia bernafas lega.

Zivanna memperhatikan rumah itu selama beberapa saat. Bentuk rumah itu memang sama seperti yang ada di mimpinya. Tetapi rumah di depannya sudah dicat dengan warna hijau muda, sementara rumah di dalam mimpinya hanya dinding acian.

Melongok ke dalam teras, Zivanna melihat lantainya juga sudah dikeramik. Jelas berbeda dengan rumah di dalam mimpinya. "Tentu saja ini tidak sama!" Zivanna meyakinkan dirinya.

Pintu rumah itu nampak terbuka. Dari dalam juga terdengar suara percakapan.

"Sepertinya ada banyak tamu, Bu." Rani memperhatikan sandal yang berjejer di depan teras. "Di dalam sepertinya penuh. Kita langsung masuk apa tunggu di sini dulu?"

Memang seperti itu kebiasaan warga di desa Suka Makmur. Setiap kali ada yang sakit seluruh warga akan berbondong-bondong datang menjenguk sambil membawa buah tangan ala kadarnya.

Tepat ketika Rani selesai bicara seseorang keluar dari dalam rumah. "Eh, ada Bu Minah dan Rani. Silahkan, silahkan kami sudah selesai. Ini sudah mau pulang," kata orang itu. Kemudian beberapa orang muncul di belakangnya.

"Mari Bu Minah, silahkan masuk."

"Ini pasti cucu bu Minah. Cantik banget mirip Bu Minah, cuma versi lokal," ucap salah satu dari mereka sambil terkekeh.

Minah aslinya berasal dari daratan Eropa. Dia menikah dengan kakek Zivanna yang asli dari desa Suka Makmur. Nama aslinya adalah Wilhelmina. Nama itu terlalu sulit diucapkan oleh lidah warga Suka Makmur sehingga keluarlah nama Minah sebagai nama panggilannya.

"Iya, cucu saya baru datang kemarin sore." Minah tersenyum bangga.

"Benar-benar fotokopi Bu Minah ya? Cuma beda di rambutnya saja."

Zivanna berambut hitam legam menuruni Anita. Sementara Minah aslinya berambut pirang. Faktor usia lah yang membuat rambutnya mulai berwarna.

Rani masuk lebih dulu untuk meletakkan tas berisi sembako yang tadi mereka bawa sebagai buah tangan. Setelah itu dia keluar dan melambai kepada Minah memintanya agar segera masuk. Mereka harus bergegas karena sebentar lagi pasti akan ada tamu lain yang datang.

"Ya sudah, saya masuk dulu."

"Permisi ya, Tante Tante semua. Saya mau ikut nenek masuk."

"Iya, silahkan. Duh... cantiknya."

Ibu-ibu yang mengerubungi Zivanna langsung minggir memberi jalan agar cucu orang terpandang di desa itu bisa lewat.

Sampai di dalam Zivanna mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh bagian rumah. Tidak ada bagian rumah ini yang sama dengan yang ada di mimpinya, tetapi entah kenapa Zivanna merasa sangat familiar.

"Non, duduk sini!" Rani menarik tangan Zivanna agar duduk di karpet yang digelar di lantai.

Minah sudah duduk di sana lebih dulu menghadap ke kasur busa tipis dimana seorang perempuan seusia Rani sedang terbaring. Zivanna mendekat lalu duduk bersama mereka.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Minah.

"Sudah lebih baik, Bu. Terima kasih." Sebelumnya Ida di rawat di rumah sakit karena penyakit asam lambung. "Ini cucu Bu Minah?"

"Iya, ini cucuku Pasti kamu sudah pernah dengar."

Zivanna mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ida. "Saya Zivanna, Tante."

Ida manggut-manggut, "Cucu Bu Minah cantik, ya?"

Zivanna hanya tersenyum. Dia terus menatap perempuan yang sedang terbaring di depannya itu dan entah kenapa matanya jadi berkaca-kaca. Tak lama kemudian air mata mulai menetes tanpa bisa dia tahan.

"Kamu kenapa Zi?" tanya Minah.

"Nggak tahu, Nek." Zivanna menghapus air matanya.

"Apa Non Ziva kelilipan?"

"Nggak, Mak. Aku nggak merasa kelilipan," jawab Zivanna sambil terus mengedip-ngedipkan matanya.

"Permisi, aku mau keluar membasuh wajah," ucap Zivanna lalu berlari keluar.

Zivanna langsung berlari menuju sudut rumah seolah sudah hafal ada kran air di sana. Begitu menemukannya Zivanna segera membasuh wajahnya.

"Bagaimana Non? Sudah lebih baik?" Rani datang menyusul dan terlihat khawatir.

Zivanna menggeleng. Air matanya terus menetes bahkan sekarang perasaan aneh mulai menjalar di tubuhnya.

Zivanna mengeluarkan handphone dari dalam sakunya. Dia berniat menghubungi dokter mata yang menanganinya untuk menanyakan apakah ini ada hubungannya dengan operasi mata yang belum lama ini.

"Ah... Tidak ada sinyal!" gumamnya lalu mengembalikan handphone ke dalam saku celana panjangnya.

"Aku nggak apa-apa, Mak. Nanti juga berhenti sendiri."

"Ya sudah kalau begitu. Ayo masuk, Bu Minah khawatir."

Zivanna mengangguk tetapi matanya terus tertuju ke arah lain. "Mak, di sana itu ada sumur, kan?" menunjuk belakang rumah Ida.

"Dulu memang ada. Tetapi sekarang sudah ditutup," terang Rani. "Darimana Non Ziva tahu kalau di belakang ada sumur?"

Zivanna mengangkat bahunya. "Nggak tahu, Mak. Hanya menebak saja," jawabnya asal.

"Orang-orang mengatakan jika Ida kaya mendadak setelah anak tirinya meninggal." Rani beralih ke mode gosip. Suaranya pelan hampir berbisik sambil celingak-celinguk melihat sekeliling memastikan tidak ada yang menguping.

"Makanya sumur itu ditutup lalu keluarga Ida beralih ke PAM. Tak lama setelah anaknya meninggal Ida juga langsung merenovasi rumahnya jadi seperti yang Non Ziva lihat sekarang."

"Memangnya tadinya rumah ini seperti apa?"

"Tadinya dindingnya belum dicat. Lantainya juga cuma semen, belum dikeramik. Perabotan di dalam rumah itu juga semuanya baru."

"???"

1
Ma Em
Suci mau balas pada Bu Minah karena sdh pecat Bu Ida coba saja kalau berani , pasti Zivana langsung bertindak dan akan membalaskan dendam Ayu pada Bu Ida dan Suci .
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!