Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rasa berbeda
Alex melangkah menyusuri lorong mansion yang sunyi dengan langkah mantap, mendekap tubuh mungil Tiana yang tampak begitu ringan dan rapuh dalam gendongannya. Aroma sampanye yang sudah mengering bercampur dengan wangi murni tubuh Tiana menggelitik indra penciumannya.
Sesampainya di depan kamar Tiana, Alex mendapati seorang pelayan tua yang baru saja hendak kembali ke paviliun belakang.
"Pelayan, kemari," panggil Alex dengan suara bariton yang rendah agar tidak mengejutkan gadis di dekapannya. "Gantikan bajunya dengan pakaian yang lebih layak. Lakukan dengan hati-hati, jangan sampai dia terbangun."
"Baik, Tuan," jawab pelayan itu sambil membungkuk hormat, matanya sedikit terbelalak melihat tuannya yang dingin itu repot-repot menggendong seorang tawanan.
Alex meletakkan Tiana di atas ranjang dengan sangat perlahan, seolah-olah ia sedang memegang porselen yang mudah retak. Ia kemudian keluar sejenak, menunggu di depan pintu dengan tangan bersedekap, menatap kegelapan lorong dengan pikiran yang berkecamuk.
Beberapa menit kemudian, pelayan itu keluar. "Sudah selesai, Tuan. Nona Tiana sudah mengenakan piyama yang nyaman."
Alex mengangguk singkat dan masuk kembali ke dalam kamar. Suasana di sana hanya diterangi lampu tidur yang temaram. Alex melangkah mendekat dan duduk di tepi ranjang, tepat di samping Tiana yang masih terlelap jauh ke alam mimpi.
Ia menatap wajah Tiana yang tampak begitu damai tanpa beban dendam keluarga mereka. Jemari Alex yang kasar perlahan bergerak, menyentuh puncak kepala Tiana dan mengusap rambut cokelat sebahunya yang lembut. Ada kilat emosi yang sangat tipis di mata hitam Alex—sesuatu yang menyerupai rasa kasihan, atau mungkin sesuatu yang lebih berbahaya dari itu.
"Kau benar-benar tidak tahu apa-apa, bukan?" gumam Alex sangat lirih, suaranya hampir hilang ditelan keheningan malam. "Kau hanya pion kecil di tengah bidak catur yang berdarah ini, Tiana."
Tiana sedikit melenguh dalam tidurnya, mencari posisi yang lebih nyaman dan tanpa sadar jemari mungilnya meraih ujung kemeja putih Alex, meremasnya seolah sedang mencari pegangan di tengah badai.
Alex membeku. Jantungnya berdegup satu kali lebih kencang. Harusnya ia menepis tangan itu, tapi ia justru tetap diam di sana, membiarkan Tiana menggenggamnya hingga fajar menyingsing.
Sinar matahari pagi yang cerah menembus gorden, memaksa Tiana untuk membuka matanya yang masih terasa berat. Ia mengerjap-ngerjap, menatap langit-langit kamar yang tampak asing.
"Hah? Bukannya tadi malam aku di ruang kerja?" gumam Tiana linglung.
Ia mencoba duduk, namun seketika ia membeku saat menyadari sesuatu yang berbeda pada tubuhnya. Ia tidak lagi mengenakan dress yang basah kuyup oleh sampanye, melainkan sebuah piyama sutra berwarna putih yang sangat lembut dan nyaman.
Tiana menyibakkan selimut dengan tangan gemetar, memeriksa tubuhnya sendiri. Wajahnya seketika memerah padam sampai ke leher. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar.
'Siapa... siapa yang mengganti bajuku?!' batin Tiana histeris. Ingatannya berakhir saat ia ketiduran di sofa ruang kerja. Di mansion ini hanya ada pengawal pria dan... Alex.
Cklek.
Pintu terbuka dengan kasar. Alex melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi dan formal. Wajahnya kembali sedingin es, seolah-olah momen tenang semalam di tepi ranjang tidak pernah terjadi.
"Sudah puas tidurnya, Pelayan?" tanya Alex dengan nada bariton yang tajam dan meremehkan.
Tiana refleks menarik selimut hingga menutupi dagunya, menatap Alex dengan tatapan horor sekaligus malu. "T-Tuan... Anda... Anda yang membawa saya ke sini? Dan... dan siapa yang mengganti pakaian saya?!"
Alex menyeringai tipis, sebuah seringai penuh misteri yang sengaja ia tunjukkan untuk memancing emosi Tiana. Ia melangkah mendekati ranjang, mencondongkan tubuhnya hingga Tiana bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang kuat.
"Menurutmu siapa lagi?" sahut Alex pendek, suaranya terdengar sangat provokatif. "Kau pikir aku akan membiarkan pelayanku membusuk di sofa dengan bau alkohol yang menyengat? Aku paling benci kotoran di ruang kerjaku."
Tiana membelalak, air mata mulai menggenang karena malu yang luar biasa. "Tuan... Anda benar-benar... Anda tidak punya sopan santun! Anda laki-laki mesum!"
Alex tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar mengejek. Ia sama sekali tidak berniat mengklarifikasi bahwa pelayan tualah yang melakukannya. Ia justru menikmati ekspresi Tiana yang hancur karena salah paham.
"Berhenti berdrama, Tiana. Kau sudah menandatangani kontrak 'memberikan segalanya' padaku, bukan? Jadi jangan protes," ucap Alex sembari menegakkan tubuhnya kembali.
"Cepat mandi dan turun ke bawah. Hari ini klan Ferguson akan mengadakan latihan menembak di halaman belakang. Tugasmu adalah menjadi pembawa peluru dan membersihkan senjata setelah digunakan. Jika kau terlambat semenit saja, aku akan memaksamu memakai baju yang lebih 'minim' dari piyama itu untuk bekerja."
Tiana tertegun, amarahnya memuncak tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. "Dasar Iblis mesum! Buruk rupa!" teriak Tiana saat Alex sudah berbalik menuju pintu.
Alex hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh, meninggalkan Tiana yang menyembunyikan wajahnya di bantal sambil berteriak frustrasi.
------------------------------
Suasana di lapangan belakang mansion Ferguson terasa sangat panas dan riuh oleh suara tembakan yang memekakkan telinga. Tiana melangkah ragu menyusuri hamparan rumput luas yang dipenuhi oleh pria-pria berbadan tegap yang sedang berlatih bela diri tanpa kaus, menampakkan otot-otot yang bersimbah keringat.
Tiana berusaha tidak menoleh ke arah mereka, ia menunduk dalam sambil meremas ujung seragam pelayannya yang baru. Matanya yang jernih menyapu area latihan hingga tertuju pada sebuah kursi kebesaran di bawah tenda hitam yang teduh.
Di sana, Alex Ferguson duduk dengan angkuh, kakinya disilangkan dengan elegan. Satu tangannya memegang gelas kristal berisi wiski yang berkilauan tertimpa cahaya matahari pagi. Tatapannya dingin, mengawasi setiap gerak-gerik anak buahnya.
"T-tuan... apa tugas saya?" tanya Tiana lirih, berdiri di depan Alex dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia masih merasa sangat malu dan kesal karena salah paham soal baju piyama tadi pagi.
Alex menyesap wiskinya perlahan, membiarkan keheningan yang menekan menyelimuti mereka sejenak. Ia meletakkan gelasnya di meja kayu kecil, lalu menunjuk ke arah tumpukan selongsong peluru yang berserakan di tanah.
"Tugasmu... pungutlah sisa-sisa peluru itu," perintah Alex dengan nada bariton yang datar namun penuh otoritas.
Tiana mengangguk, bernapas sedikit lega karena tugasnya hanya memungut sampah. "Baik, Tuan. Hanya itu?"
Alex menyeringai tipis, sebuah seringai predator yang membuat bulu kuduk Tiana meremajang. "Belum selesai, Baby. Setelah terkumpul, berdirilah di papan kayu di ujung sana. Anak buahku akan menembakkan peluru itu tepat pada buah apel di atas kepalamu."
Tiana membelalak, wajahnya seketika pucat pasi. "Apa?! Berdiri di papan target?! Tuan... itu sangat berbahaya! Bagaimana kalau mereka meleset? Aku bisa mati!"
Alex tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat kejam di telinga Tiana. "Klan Ferguson tidak pernah meleset, Tiana. Tapi jika kau takut, kau boleh berlutut dan memohon padaku untuk membatalkannya... di depan seluruh anak buahku."
Tiana menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga hampir berdarah. Ia melirik ke arah anak buah Alex yang mulai tertawa meremehkannya. Harga diri Luxemburg-nya kembali terusik.
"S-siap, Tuan! Di mana apelnya?!" tantang Tiana dengan suara bergetar, mencoba menyembunyikan ketakutannya yang luar biasa.