Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 – Bima
Bab 2 – Bima
Langkah kaki manajerku, Celsi berderap mengikuti langkahku dengan sempurna di lantai lorong studio foto. Aku baru saja selesai melakukan foto syut untuk iklan minuman sari kelapa. Dengan ponsel di tanganku, aku dan Celsi masuk ke mobil aplhard yang sudah menunggu kami di lobi studio.
“Kita ke gedung pernikahan di Jakarta Selatan,” kataku bicara pada Mardi, supir setiaku yang sudah hampir berumur 60 tahun.
“Siap, Den!” Mardi menjalankan mobilnya. Ia sudah menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Tidak seperti orang lain yang memanggiku Bima. Cuma dia yang aku izinkan memanggilku Den, kependekan dari nama belakangku, Bima Dewantara.
“Itu kamu masih teleponan sama..,” tanya Celsi sambil menunjuk ke ponsel yang aku pegang.
Aku mengangguk sambil menyimpan telunjuk di bibirku, agar jangan melanjutkan pembicaraan. Sejak foto syut, ibuku – alias bibiku yang sudah aku anggap sebagai ibu, karena kedua orang tuaku meninggal sejak kecil – memintaku untuk datang ke pernikahan sepupu jauhku. Katanya agar aku kenal dengan keluarga, tapi aku tahu, sebetulnya dia sudah merencanakan aku ketemuan dengan seseorang, kenalan dari kenalannya saudara kami. Ya, dia ingin menjodohkan aku dan membuatku menikah sebelum usia 35 ku berakhir tahun ini.
Celsi menggelengkan kepala, lalu membuka tabletnya. Ia mencatat beberapa pekerjaan selanjutnya.
Akhirnya aku tempelkan ponsel ke telingaku.
Ibuku masih bicara panjang lebar, “Ibu nggak mau lagi denger kamu digosipin yang nggak-nggak. Jangan sampai kita bikin orang lain jadi punya bahan fitnah atau gosip. Pokoknya ketemu aja dulu, suka atau nggak, belakangan. Orangnya cantik, supel, pasti cocok sama pergaulan artis kamu. S2 Amerika lagi!”
“Bu, ini udah mau sampai, teleponnya nanti lagi, ya?” tanyaku sambil mengambil kacamata hitam di laci tengah mobil.
“Kabarin!” kata ibuku sesaat sebelum aku memutuskan hubungan telepon.
“Kenapa pakai kacamata hitam?” tanya Celsi dengan dahi berkerut di tengah, rambut lurus pendek sebahunya bergerak mengikuti goyangan mobil di jalanan Jakarta yang berlubang.
“Biar nggak ada yang ngenalin aku,” kataku melihat keluar jendela. Aku tidak mau bertemu dengan siapa pun, tapi bagaimana lagi, aku harus menuruti permintaan ibuku.
Celsi terkekeh, “Tapi kan kondangannya di dalam ruangan, mana ada orang pake kacamata hitam di dalam ruangan!”
Di balik kacamata hitamku, aku menatap Celsi.
Celsi tidak bisa melihat mataku, akhirnya menyerah, “Terserah aktor nomor satu di Indonesia aja deh!”
Aku kembali melihat ke jalanan, sambil mendengarkan celotehan Celsi tentang jadwal pekerjaanku selanjutnya. “Jaka Awan, pengen ketemu. Aku udah atur jadwal minggu depan, hari kamis jam delapan di rumahnya.”
“Nanya apa nyuruh?” tanyaku sambil masih melihat ke luar jendela.
“Nyuruh!”
“Oke.”
“Bim!” katanya sambil menepuk pundakku.
Aku menoleh ke arahnya.
“Nggak usah dipikirin.”
“Apanya?” tanyaku heran.
“Jalanin aja. Kalau ternyata orangnya cantik, cocok, kenapa nggak?”
“Ya kalau cantik, cocok, kalau nggak?” tanyaku balik sambil menurukan kacamataku agar mataku bisa menatapnya.
“Ya…, bilang aja nggak cocok. Beres kan?”
Aku memakai kacamataku lagi dengan benar, “Kalau aku bilang gitu, malah dianggap sombong. Sok pilih-pilih! Serba salah.”
“Udah sampe, Dan,” Mardi mengarahkan mobil masuk ke dalam parkiran. “Mau parkir dulu atau gimana?”
“Diturunin aja, anter Celsi ke kantor dulu, abis itu jemput aku langsung,” kataku memberikan perintah. Aku merapikan kemeja dan celanaku.
“Nggak bawa batik?” tanya Celsi ke arahku.
“Nggak.”
“Tau gitu, aku bawain. Biasanya di sini ada batik,” Celsi melihat ke bagian belakang mobil. Penuh baju, celana, dan berbagai macam sepatu.
“Nggak ada. Udah gini aja lah,” aku bersiap membuka pintu mobil yang sudah berhenti di depan mobil. Tampak berbagai karangan bunga selamat menikah termampang di kanan kiri pintu masuk.
“Iya, tau. Gitu aja, elu udah paling ganteng se Indonesia.”
“Ha! Ha!” aku turun dari mobil.
“Semoga dapet jodoh!” teriak Celsi tepat dengan aku menutup pintu mobil.
Aku berdiri di depan lobi, dadah ke mobil yang pergi membawa Celsi, lalu mengambil napas, mengumpulkan keberanian untuk bisa basa-basi. Di lorong lobi, terpajang foto-foto prewed. Satu-satu aku perhatikan, kedua mempelai saling membelakangi duduk di rumput. Saling berpegangan tangan. Tapi tidak dari keduanya aku kenal. Dengan cepat aku menuliskan nama di buku tamu dan memasukkan amplop ke tempat angpau. Dua orang resepsionis yang berpakaian kebaya, memberikan souvenir padaku dengan tangan gemetar. Sementara dua orang resepsionis yang lainnya diam-diam memotretku. Aku tersenyum pada mereka, sehingga membuat mereka teriak histeris. Akibatnya seluruh tamu yang dekat dengan penerima tamu, menatap ke arahku. Aku menundukkan kepala, lalu tersenyum pada semua.
Sial, kebelet!
“Toilet di mana ya?” tanyaku pada dua resepsionis yang memotretku diam-diam.
“Di … situ, kas. Maksudnya Kak. Mas,” jawab salah satu dari mereka gugup.
“Makasih ya,” aku bergegas lari ke toilet cowok, berdiri di urinal dan mengeluarkan semuanya.
Lega!
Dengan langkah lebih ringan, aku keluar dari toilet cowok, tapi tiba-tiba…
Brak!
Sosok berkerudung yang tingginya hanya sampai daguku, menabrak dadaku dengan keras. Auranya sampai masuk langsung ke dalam jantungku. Wangi kerudungnya meringankan lelah di kepalaku.
Tapi kenapa kedua matanya berair? Aku turunkan kacamata untuk menatapnya, memastikan apakah itu air mata karena sakit menabrakku? Ada tulisan panitia wo di blazer biru tuanya. Mulutnya menganga, entah syok atau lupa ingatan?
“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku sambil memakai kacamata hitam kembali. “Maaf ya, aku keluar toilet tiba-tiba. Kamu jadi nabrak. Ada yang sakit?”
Dia cuma menggelengkan kepala.
“Kok sampe ada air matanya begitu? Apanya yang sakit?” tanyaku lagi. Kedua tanganku otomatis ingin memegang kedua bahunya, untuk bisa melihat wajahnya lebih dekat. Entah kenapa.
Tiba-tiba dia langsung mundur, menjauh dariku, dan bergegas masuk ke toilet cewek.
Brak!
Dia menabrak pintu kamar mandi.
Aku tersenyum, berusaha untuk tidak tertawa.
Dia bergegas mendorong pintu kamar mandi, lalu masuk.
Apakah aku harus menunggunya? Aku ingin menunggunya di sini. Kenapa?
“Bima!!!” tiba-tiba ada suara perempuan dari kejauhan memecah keramaian. Dia adalah sepupunya ibuku, kakak dari yang punya hajat. Namanya, Bude Reni. “Kirain nggak jadi dateng!” dia menarik tanganku. “Ayo sini, ada yang mau kenalan sama kamu!”
“Tapi aku belum salam sama pengantin.”
“Oh ya udah, ayo Bude anter!” Reni menarikku ke tengah aula.
Semua orang melihatku ditarik ke atas pelaminan lalu salam dengan keluarga dan kedua mempelai. Aku langsung diminta foto bersama. Bukan cuma fotografer, tapi semua orang memotretku. Setelah itu, aku diajak ke tempat prasmanan VIP.
“Ini, Mutia,” Reni menyuruhku salaman dengan seorang perempuan yang tingginya hampir sama denganku. Badannya langsing, memakai dress dengan leher rendah, rambutnya terurai bergelombang ikal mengkilap, seperti habis dari salon, dengan anting besar di kedua telinganya.
Aku mengulurkan tangan padanya, “Aku Bima.”
“Ya aku tahu, aktor nomor satu di Indonesia.”
Oke. Aku tidak suka padanya. Kalau Celsi yang berkata seperti itu padaku, aku tahu karena dia sudah lama mengenalku. Tapi perempuan ini baru ketemu pertama, bicaranya seperti ini, tidak sopan. Aku tidak suka perempuan yang sok kenal. “Haha, bisa aja,” kataku basa-basi.
Mutia langsung cerita soal kehebatannya, lulusan Amerika dan sekarang bekerja di organisasi perlindungan perempuan milik ayahnya. Sementara aku, berusaha melihat sekeliling, mencari perempuan berkerudung yang memakai pin panitia wo dengan kerudung yang wangi tadi.