NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Suluk Sang Malamatiyah

Arjuna melangkah keluar dari gubuk Mbah Surip tepat saat fajar menyingsing. Di punggungnya, tidak ada lagi tas berisi laptop mahal. Ia hanya membawa sebuah tas kain kusam berisi seikat daun lontar kosong dan sebuah pisau pengukir kecil (pangot).

.

"Mas Juna, beneran mau pergi dengan pakaian seperti ini?" tanya Hinata yang berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat Arjuna kini hanya mengenakan sarung hijau yang sudah mulai pudar warnanya dan kaos oblong putih yang tipis.

.

Arjuna menoleh, wajahnya tampak sangat tenang, seolah semua beban dunia sudah lepas dari pundaknya. "Mbak Hinata, drajat menungso niku mboten saged dinilai saking sandhangane. (Mbak Hinata, derajat manusia itu tidak bisa dinilai dari pakaiannya.)"

.

"Tapi orang-orang akan menganggap Anda gila atau pengemis, Mas!" seru Hinata cemas.

.

Arjuna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh rahasia. "Niku sing kulo madosi, Mbak. Kulo pengen dadi 'sampah' neng mripate menungso, nanging dadi 'mutiara' neng ngarsane Gusti Allah. (Itu yang saya cari, Mbak. Saya ingin jadi 'sampah' di mata manusia, tapi jadi 'mutiara' di hadapan Gusti Allah.)"

.

Itulah awal mula Arjuna menjalani laku Malamatiyah. Sebuah jalan spiritual di mana seorang wali sengaja menyembunyikan kewaliannya di balik penampilan yang hina agar terhindar dari penyakit sombong dan riya.

.

Arjuna berjalan menembus hutan, diikuti oleh bayangan putih raksasa yang tak terlihat oleh mata biasa—Kyai Loreng. Langkah kakinya membawanya ke sebuah pasar tradisional yang ramai dan kotor di pinggiran kota.

.

Di sana, Arjuna duduk di dekat tumpukan sampah. Orang-orang yang lewat menutup hidung, beberapa melemparkan uang receh ke arahnya karena menganggapnya gelandangan baru. Arjuna memungut koin-koin itu dengan tangan gemetar, lalu menciumnya dengan penuh syukur.

.

"Matur nuwun, Gusti... (Terima kasih, Tuhan...)" bisiknya lirih.

.

Tiba-tiba, seorang preman pasar yang sedang mabuk menendang pundak Arjuna hingga ia tersungkur ke tanah yang becek. "Heh, gembel! Jangan duduk di sini, merusak pemandangan saja!" bentak preman itu sambil meludahi sarung hijau Arjuna.

.

Arjuna tidak marah. Ia justru bangkit dan menunduk dalam-dalam. "Nyuwun ngapuro, Mas. Kulo pancen tiyang asor. (Mohon maaf, Mas. Saya memang orang rendah.)"

.

Di saat itulah, Arjuna merasakan getaran di hatinya. Ia mengambil selembar daun lontar dari tasnya. Tanpa tinta, jemarinya bergerak cepat mengukir aksara gaib di atas daun itu sambil merapalkan Zikir Sirri.

.

Seketika, aroma wangi bunga kenanga menyerbak di tengah bau busuk pasar. Daun lontar yang tadinya kosong kini bercahaya keemasan sesaat sebelum kembali tampak biasa. Arjuna memberikan daun itu kepada seorang anak yatim yang sedang menangis karena kelaparan di dekat situ.

.

"Gowoen niki, Le. Simpenen neng sakmu. (Bawalah ini, Nak. Simpan di sakumu.)"

.

Keajaiban terjadi. Sesaat setelah anak itu menerima lontar tersebut, seorang pedagang besar mendatangi anak itu dan memberinya sekarung beras serta uang yang sangat banyak tanpa alasan yang jelas. Sementara itu, si preman yang tadi menendang Arjuna tiba-tiba merasa kakinya kaku seperti batu, tak bisa digerakkan sama sekali.

.

Arjuna tidak menoleh lagi. Ia terus berjalan dengan langkah yang ringan, seolah beban bumi tidak lagi menekannya. Ia tahu, setiap hinaan yang ia terima justru menggugurkan dosa-dosa keluarganya di kota sana.

.

"Perjalanan niki nembe dimulai... (Perjalanan ini baru dimulai...)" gumam Arjuna.

.

Kini, ia bukan lagi Arjuna Wijaya sang putra konglomerat, melainkan Sang Musafir yang tak bernama, yang tulisannya bukan lagi di atas layar ponsel, melainkan di atas takdir yang digariskan langit.

Matahari di atas pasar berubah menjadi sangat terik. Arjuna masih duduk bersila di pinggir jalan, wajahnya penuh debu, dan sarung hijaunya sudah tampak sangat kusam. Tasbih kayu jati di tangannya terus berputar, Allah... Allah... Allah... tanpa henti.

.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan Arjuna. Kaca mobil turun, mengeluarkan hawa AC yang sangat dingin. Dari dalam mobil, muncul sosok pemuda yang mengenakan pakaian merk mahal dan kacamata hitam.

.

"Loh? Ini kan Arjuna Wijaya kan? (Loh? Iki rak Arjuna Wijaya to?)" tanya pemuda itu sambil tertawa mengejek. Ternyata itu adalah Reno, teman balapan Guntur yang dulu sering meminjam uang kepada Arjuna.

.

Arjuna mendongak sedikit, namun matanya tetap tenang. "Iya, Mas Reno. (Nggih, Mas Reno.)"

.

Reno keluar dari mobil, lalu menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra. "Walah, Jun! Kok jadi gembel begini? Katanya kamu diusir bapakmu karena jadi beban? Ternyata benar ya, sekarang kamu jadi pengemis di pasar!"

.

Orang-orang di pasar mulai berkerumun, ingin melihat "anak kaya yang jadi gembel" itu. Reno mengambil uang seratus ribu dari dompetnya, lalu uang itu dilemparkan ke tanah, tepat di depan kaki Arjuna yang kotor.

.

"Ini, buat beli sabun! Biar kamu tidak bau sampah! Hahaha! (Iki, nggo tuku sabun! Ben kowe mboten mambu sampah! Hahaha!)" Reno tertawa terbahak-bahak, merasa puas melihat Arjuna yang dulu derajatnya tinggi kini menjadi sangat rendah.

.

Arjuna tidak marah. Ia justru tersenyum sangat tulus, lalu mengambil uang itu dan mendoakannya. "Terima kasih, Mas Reno. Semoga uang ini jadi jalan selamat bagi Anda. (Matur nuwun, Mas Reno. Mugo-mugo dhuwit niki dadi dalan slamet kagem panjenengan.)"

.

Seketika Arjuna mengucap doa itu, Kyai Loreng yang berada di dimensi gaib menggeram lirih. Mata harimau putih itu memancarkan cahaya merah, melihat ada bayangan hitam raksasa yang mengikuti Reno—bayangan yang berasal dari dosa-dosa Reno yang suka berjudi dan menindas orang kecil.

.

"Halah, kebanyakan doa! Sudah, aku buru-buru ada janji sama Guntur di kafe mewah! (Halah, kakehan donga! Wis, aku selak ono janji karo Guntur neng kafe mewah!)" Reno masuk ke mobil lagi, lalu melaju kencang sambil menyemprotkan debu ke wajah Arjuna.

.

Arjuna hanya mengusap wajahnya dengan tangannya yang kotor. Ia mengambil selembar Lontar Gaib dari tasnya. Jemarinya mulai mengukir aksara yang bercahaya bening.

.

"Tuhan... saya mohon, biarlah dosa-dosa Mas Reno itu saya panggul sebentar, supaya dia tidak celaka di jalan... (Gusti... kulo suwun, kersane duso-duso Mas Reno niku kulo panggul sedhela, supados piyambake mboten cilaka neng dalan...)"

.

Seketika itu, tubuh Arjuna terasa sangat berat. Tulang-tulangnya terasa remuk seperti ditindih gunung. Arjuna memuntahkan darah hitam ke tanah, namun ia tetap tersenyum. Inilah inti dari ajaran Malamatiyah: Rela menanggung rasa sakit dari orang yang menghina, supaya orang itu mendapatkan hidayah.

.

Di jalan besar, mobil Reno hampir saja tabrakan dengan truk tronton. Namun, ada cahaya putih yang menarik setir mobil itu sehingga selamat. Reno tidak sadar bahwa nyawanya baru saja diselamatkan oleh doa "si gembel" yang baru saja ia hina.

.

Arjuna menarik napas panjang. Darah di bibirnya diusap. "Derajat dunia itu cuma panggung sandiwara, Kyai... (Drajat dunya niku mung panggung sandiwara, Kyai...)" bisiknya kepada harimau putih yang sekarang duduk di sampingnya.

.

Hinata yang melihat kejadian itu dari kejauhan hanya bisa menangis tersedu-sedu. "Mas Juna... Anda itu orang suci yang menyamar jadi anjing penjaga hatinya orang-orang berdosa... (Mas Juna... panjenengan niku wong suci sing nyamar dadi asu penjaga atine wong-wong duso...)"

.

Perjalanan Arjuna terus berlanjut. Ia mulai berjalan menuju stasiun, mencari Guru rahasia lainnya yang menjadi kuli panggul.

Stasiun Balapan Solo sore itu sangat bising. Suara peluit kereta dan riuh rendah manusia seolah menjadi musik yang menyakitkan telinga. Arjuna melangkah tertatih, dadanya masih terasa sesak setelah memanggul "beban gaib" dari dosanya Reno tadi.

.

"Le... kesel ya? (Nak... capek ya?)" Sebuah suara serak menyapa dari balik tumpukan karung goni di pojok peron.

.

Arjuna menoleh. Di sana duduk seorang kuli panggul tua yang wajahnya tertutup caping bambu yang sudah robek-robek. Handuk kecil yang melingkar di lehernya sudah berubah warna jadi cokelat karena daki dan keringat. Inilah Mbah Sastro, guru rahasia yang sudah puluhan tahun menyamar jadi kuli.

.

Arjuna langsung bersimpuh di depan kaki Mbah Sastro yang pecah-pecah karena beban berat. "Nyuwun bimbingan, Mbah... (Mohon bimbingan, Mbah...)"

.

Mbah Sastro tertawa kecil, suara tanyanya seperti gesekan kayu kering. "Kowe mau mutah getih mergo sok-sokan nanggung dosane wong liyo. Kuwi isih jenenge sombong, Le! Kowe ngeroso wis kuat dadi 'tembok' nggo wong duso? (Kamu tadi muntah darah karena sok-sokan menanggung dosa orang lain. Itu masih namanya sombong, Nak! Kamu merasa sudah kuat jadi 'tembok' buat orang berdosa?)"

.

Arjuna tertunduk dalam. Kata-kata Mbah Sastro menghujam tepat di ulu hatinya. Ternyata, keinginan untuk menyelamatkan Reno pun masih diselipi rasa "aku hebat bisa menolong".

.

"Malamatiyah kuwi dudu pamer kekuatan gaib, nanging ilangno 'Aku'-mu nganti dadi debu sing ketiup angin. (Malamatiyah itu bukan pamer kekuatan gaib, tapi hilangkan 'Aku'-mu sampai jadi debu yang tertiup angin.)" Mbah Sastro berdiri, lalu melemparkan sebuah karung berisi batu kali ke punggung Arjuna.

.

Brak! Arjuna tersungkur. Tulangnya serasa mau patah. "Panggul iki! Ayo mlaku ngetutke aku. (Panggul ini! Ayo jalan ikut aku.)"

.

Arjuna merangkak bangun. Ia tidak lagi menggunakan kekuatan Zikir Sirri untuk meringankan beban, tapi ia biarkan tubuhnya merasakan sakit yang nyata. Ia berjalan di belakang Mbah Sastro, melewati kerumunan orang yang menatapnya jijik.

.

Tiba-tiba, dari arah gerbang, serombongan orang kaya lewat. Di tengahnya ada Guntur yang sedang menggandeng seorang wanita cantik. Guntur berhenti sejenak, melihat Arjuna yang sedang megap-megap memanggul karung batu.

.

"Loh, deloken cah! Iki rak gembel sing wingi neng stasiun to? Jebule saiki dadi kuli serabutan! (Loh, lihat guys! Ini kan gelandangan yang kemarin di stasiun kan? Ternyata sekarang jadi kuli serabutan!)" Guntur menunjuk Arjuna sambil tertawa mengejek di depan teman-temannya.

.

"Mas, jangan dekat-dekat, bau!" ucap wanita di samping Guntur sambil menutup hidung.

.

Arjuna hanya menunduk. Ia tidak membalas, bahkan tidak menatap mata adiknya. Di saat itulah, Mbah Sastro berbisik pelan, "Iki ujianmu, Le. Yen atimu isih loro krungu omongane adikmu, berarti 'Aku'-mu isih urip. (Ini ujianmu, Nak. Kalau hatimu masih sakit mendengar ucapan adikmu, berarti 'Aku'-mu masih hidup.)"

.

Arjuna memejamkan mata. Ia tarik napas dalam, menyerahkan seluruh rasa malunya kepada Sang Pencipta. Seketika, rasa berat di pundaknya hilang, berganti dengan rasa dingin yang menyejukkan. Karung batu itu seolah menjadi seringan kapas.

.

Arjuna melewati Guntur tanpa kata. Ia melangkah dengan tegak, meninggalkan adiknya yang masih asyik merendahkannya. Di mata Guntur, Arjuna adalah kuli hina, tapi di mata Mbah Sastro, Arjuna baru saja naik satu tingkat di tangga kewalian.

.

"Wis cukup, Le. Buangen karung kuwi. (Sudah cukup, Nak. Buang karung itu.)" ucap Mbah Sastro saat mereka sampai di tempat sepi di belakang stasiun.

.

Arjuna menjatuhkan karungnya. Begitu karung itu terbuka, isinya bukan lagi batu kali, melainkan tumpukan Bunga Melati yang sangat harum. Kyai Loreng muncul dan bersandar di kaki Mbah Sastro, menunjukkan rasa hormat yang luar biasa.

.

"Kowe wis lulus ujian 'Isin' (Malu). Saiki, mlakuo nuju penjara kota. Ono nyawa sing kudu mbok slametke soko njeru jeruji wesi. (Kamu sudah lulus ujian 'Malu'. Sekarang, berjalanlah menuju penjara kota. Ada nyawa yang harus kamu selamatkan dari dalam jeruji besi.)"

.

Arjuna mencium tangan Mbah Sastro, lalu melangkah pergi menembus malam yang mulai gelap. Langkahnya kini makin mantap, menyongsong takdir selanjutnya sebagai penjaga rahasia di tempat yang paling hina Penjara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!