Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 JANJI TIGA PURNAMA**
:
Lembah Mayat pagi itu masih diselimuti kabut putih yang tebal, namun cahayanya terasa lebih bersahabat. Di antara pepohonan tua yang biasanya tampak angker, kini terdengar kicau burung hutan yang memecah kesunyian. Di halaman kecil depan pondok yang tersembunyi itu, hawa pegunungan terasa sejuk menusuk kulit.
“Jadi… kau akhirnya kembali juga, bocah murid si tua gila itu.”
Suara lembut namun menggoda terdengar dari depan pondok. Sosok wanita cantik yang tampak tak dimakan usia itu berdiri bersandar pada tiang kayu, matanya memancarkan kecerdasan sekaligus keisengan yang jenaka.
Rangga Nata yang baru saja melangkah memasuki halaman kecil di Lembah Mayat langsung menghentikan langkahnya. Debu pengembaraan masih menempel di ujung jubahnya yang kainnya mulai pudar.
Ia menangkupkan tangan di depan dada, memberi hormat dengan khidmat.
“Nini Ruai… Rangga Nata memberi hormat.”
Wanita berparas cantik itu tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang menyimpan ribuan rahasia dunia persilatan.
Matanya menyipit nakal, mengamati setiap jengkal tubuh Rangga.
“Hm… sopan juga kau sekarang.”
Rangga sedikit menunduk, mencoba menutupi rasa canggungnya di depan wanita sakti yang penampilannya menyerupai gadis remaja itu.
“Bukan sekarang, sejak dulu juga begitu.”
Nini Ruai terkekeh pelan, suaranya renyah bagai denting genta perak.
“Ah… murid Pertapa Gila Tanpa Tanding memang selalu pandai bicara.”
Ia melangkah mendekat dengan gerakan yang sangat ringan, seolah kakinya tidak menyentuh tanah. Ia mulai mengelilingi Rangga seperti sedang menilai kualitas sebilah pedang pusaka.
“Tenagamu sudah pulih.”
Rangga mengangguk, merasakan aliran hawa murni di dalam tubuhnya kini mengalir dengan tenang dan teratur.
“Sebagian besar sudah kembali, Nini.”
“Bagus,” jawab Nini Ruai singkat, puas melihat hasil pengorbanan yang dilakukan pemuda itu.
Ia lalu menunjuk ke arah dalam pondok dengan dagunya yang lancip.
“Ada seseorang yang menunggumu.”
Rangga terdiam sejenak. Hawa murninya sempat bergejolak kecil saat mendengar kata-kata itu. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Dia… sudah sadar?”
Nini Ruai tersenyum samar, seolah bisa membaca getaran hati yang sedang dirasakan Rangga.
“Lihat sendiri.”
Rangga melangkah masuk ke dalam pondok dengan langkah yang mendadak terasa sedikit berat karena rasa gugup.
Di dalam pondok—
Cahaya matahari masuk melalui celah dinding kayu, menciptakan garis-garis emas yang menembus kehangatan ruangan. Aroma kayu cendana dan ramuan obat masih terasa kuat, namun kini terasa lebih menenangkan. Udara terasa hangat.
Dan di atas ranjang sederhana—
Seorang gadis duduk bersandar pada tumpukan bantal.
Rambutnya terurai lembut menutupi bahunya yang ramping.
Wajahnya memang masih terlihat pucat pasi—
Namun—
Cantiknya…
Tidak berkurang sedikit pun, malah kini tampak lebih anggun dalam kerapuhannya.
“Ayu…”
Gadis itu menoleh perlahan. Matanya yang jernih bersinar saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.
“Rangga…”
Suara mereka bertemu di udara.
Dalam satu waktu yang seolah-olah berhenti berputar.
Sunyi menyergap.
Beberapa detik—
Hanya tatapan mata yang saling mengunci, menyampaikan ribuan kata yang tak mampu terucap oleh lidah.
Ayu tersenyum pelan, sebuah senyuman tulus yang baru pertama kali ia tunjukkan pada Rangga.
“Kau… benar-benar kembali.”
Rangga menggaruk kepalanya sedikit, sebuah kebiasaan lamanya yang muncul saat ia merasa salah tingkah. Sikapnya mendadak canggung di hadapan gadis yang biasanya galak itu.
“Ya… aku hanya ingin memastikan…”
Ia berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa kering.
“…kau masih hidup.”
Ayu terkekeh kecil, suara tawa yang masih terdengar lemah namun sangat merdu di telinga Rangga.
“Ucapanmu selalu aneh.”
Rangga segera memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari binar mata Ayu yang membuatnya kian tak menentu.
“Yang penting… kau baik-baik saja.”
Ayu menatapnya.
Lebih lama dari biasanya, seolah ingin merekam setiap gurat wajah Rangga di dalam ingatannya.
“Terima kasih…”
Rangga terdiam, menatap ujung kakinya.
“Untuk semuanya…”
lanjut Ayu pelan, suaranya bergetar mengandung rasa haru yang dalam.
Rangga menghela napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya.
“Tidak perlu.”
“Perlu,” potong Ayu dengan nada tegas yang masih menyisakan sisa-sisa kegarangannya.
Sunyi sejenak menyelimuti ruangan yang temaram itu.
Ayu menunduk sedikit, jemarinya memainkan ujung selimut dengan gugup.
“Aku dengar…”
Rangga menoleh, menanti kelanjutan kalimat Ayu.
“Kau… kehilangan separuh tenaga dalammu… demi menyelamatkanku.”
Rangga tersenyum tipis, mencoba meremehkan pengorbanan nyawanya sendiri.
“Ah… itu hanya cerita Nini Ruai yang dilebih-lebihkan.”
“Jangan bohong.”
Nada suara Ayu mendadak berubah.
Lebih lembut.
Namun sangat dalam, seolah sedang menghujam ke jantung Rangga.
Rangga terdiam, tak mampu lagi mengelak dari tatapan tulus gadis di depannya.
Ayu mengangkat wajahnya.
Menatap tepat ke manik mata Rangga yang kecokelatan.
“Kenapa kau lakukan itu?”
Pertanyaan itu—
Membuat Rangga tidak langsung menjawab. Lidahnya terasa kelu.
Ia memalingkan pandangannya ke arah jendela luar.
“Karena…”
Ia berhenti, mencari alasan yang paling masuk akal.
“…aku tidak suka melihat orang mati di depanku.”
Ayu tersenyum tipis, ia tahu betul ada alasan lain di balik sikap dingin itu.
“Bohong lagi.”
Rangga menghela napas panjang, menyerah pada kecerdasan batin Ayu.
“Ayu…”
Ia menatap gadis itu kembali, kali ini dengan tatapan yang sangat jujur.
“Kita sama-sama tahu dunia ini kejam.”
“Kalau aku bisa menyelamatkan satu nyawa…”
“…kenapa tidak?”
Sunyi yang sakral merajai pondok itu.
Namun kali ini—
Ayu tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya menatap Rangga.
Lebih dalam, seolah sedang mencoba menyatukan suksma mereka.
Dan untuk pertama kalinya—
Ada sesuatu yang berbeda di matanya.
Sesuatu yang baru, sesuatu yang hangat, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu beladiri setinggi apa pun.
Di luar pondok—
Nini Ruai bersandar di dinding kayu, melipat tangannya di dada.
Ia menyeringai kecil, seulas senyum nostalgia tersungging di wajah cantiknya.
“Ah… anak muda…”
gumamnya pada desau angin.
“Selalu sama dari dulu sampai sekarang.”
Ia menggeleng pelan, mengenang masa lalunya yang penuh darah dan cinta.
“Dulu aku juga begitu…”
Matanya sedikit menerawang menembus kabut lembah.
“Ketika masih dipanggil…”
Ia tersenyum samar, menyebutkan julukan lamanya yang telah terkubur waktu.
“…Dewi Elang Perak.”
Di dalam pondok—
“Aku tidak bisa lama di sini.”
Suara Rangga memecah keheningan, terdengar berat karena ia sebenarnya enggan untuk pergi.
Ayu sedikit terkejut, rona kecewa sempat melintas di wajahnya yang pucat.
“Secepat itu…?”
Rangga mengangguk mantap, teringat akan kewajibannya sebagai pendekar.
“Masih banyak tempat yang harus kudatangi.”
“Wilayah-wilayah yang dikuasai anak buah Macan Hitam…”
“Aku tidak bisa diam saja.”
Ayu menunduk kembali, mencoba menyembunyikan rasa sedihnya.
“Aku mengerti…”
Namun jelas—
Nada suaranya berubah drastis.
Lebih pelan, lebih hampa.
Saat itu—
Nini Ruai melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah ceria.
“Sudah selesai saling menatapnya?”
Ayu langsung menoleh ke arah gurunya.
Wajahnya yang pucat kini sedikit memerah karena malu.
“Nini!”
Rangga terbatuk kecil, pura-pura membersihkan tenggorokannya yang tidak gatal.
Nini Ruai tertawa pelan, tawanya terdengar sangat puas.
“Aku ini sudah tua, tapi belum buta.”
Ia melirik Rangga dengan tatapan menggoda.
“Kau juga… jangan terlalu dingin pada gadis secantik ini.”
Rangga makin salah tingkah, ia benar-benar merasa kehilangan wibawa di depan Nini Ruai.
“Nini Ruai…”
“Ah sudahlah,” potong Nini Ruai santai sambil melambaikan tangan.
Ia lalu menatap Rangga dengan tatapan yang tiba-tiba menjadi sangat serius.
“Ayu harus tinggal di sini.”
Rangga mengangguk, ia tahu tempat ini adalah yang paling aman bagi pemulihan Ayu.
“Berapa lama?”
“Tiga bulan.”
Rangga sedikit terdiam, menimbang waktu yang terasa begitu lama itu.
Namun kemudian—
Ia mengangguk mantap, menyadari bahwa Ayu membutuhkan bimbingan Nini Ruai.
“Itu keputusan yang tepat.”
Ayu menoleh ke arah Rangga, mencari dukungan.
“Kau setuju?”
Rangga menatapnya dengan pandangan pelindung yang kuat.
“Di luar sana terlalu berbahaya.”
“Di sini… kau lebih aman.”
Nini Ruai menyeringai tipis, seolah sedang merencanakan sesuatu yang besar.
“Bukan hanya aman…”
“…tapi juga akan menjadi lebih kuat.”
Ayu menatap keduanya bergantian, lalu menghembuskan napas panjang tanda kepasrahan yang manis.
“Baik…”
Ia menarik napas, memantapkan hatinya.
“Aku akan tinggal.”
Beberapa saat kemudian—
Di tepian Lembah Mayat yang berbatasan dengan hutan lebat.
Kabut tipis bergerak pelan tertiup angin gunung.
Angin dingin berhembus, membawa guguran daun-daun kering.
Rangga berdiri di depan jalan setapak menuju pintu keluar lembah.
Ayu berdiri di sampingnya, jubah merahnya berkibar pelan.
Sunyi kembali merajai suasana perpisahan itu.
“Jadi… kau benar-benar pergi…”
Ayu membuka suara, memecah kesunyian yang mencekam.
Rangga mengangguk, tanpa berani menatap langsung mata Ayu.
“Ya.”
“Ke mana?”
“Ke mana pun yang membutuhkan bantuan pedangku.”
Ayu tersenyum tipis, sebuah senyum penuh pengertian.
“Kau selalu begitu.”
Rangga tidak menjawab, ia menatap ke arah kejauhan, ke arah di mana musuh menanti.
Ayu menunduk sejenak, memainkan jari-jarinya.
Lalu berkata sangat pelan—
“Kapan… kau akan kembali?”
Rangga terdiam cukup lama, menghitung waktu dalam batinnya.
Ia menatap ke arah langit.
Bulan di atas sana memang belum mencapai bentuk penuhnya.
“Tiga bulan.”
Ia akhirnya menoleh ke arah Ayu, menatapnya dengan janji yang membara.
“Tepat tiga purnama dari sekarang.”
Ayu mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam jiwa Rangga.
“Janji?”
Rangga tersenyum tipis, sebuah senyum ksatria yang tak akan pernah berkhianat.
“Janji.”
Sunyi yang sakral kembali melingkupi mereka.
Angin berhembus, membawa aroma harum bunga hutan.
Ayu menggenggam ujung bajunya erat-erat.
Ia tampak sedikit gugup, seolah ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.
“Kalau begitu…”
Ia menatap Rangga dengan pandangan yang paling dalam.
“Aku akan menunggumu.”
Rangga terdiam, hatinya seolah berhenti berdetak sesaat.
“Sebagai…?”
Ia bertanya pelan, hampir berupa bisikan.
Ayu tersenyum penuh rahasia.
Wajahnya yang cantik kini benar-benar memerah seperti buah delima masak.
“Kau akan tahu nanti.”
Rangga tertegun di tempatnya berdiri.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya—
Ia benar-benar kehilangan kata-kata, terpaku oleh pesona sang bidadari.
Nini Ruai yang berdiri tak jauh dari situ tertawa kecil melihat kekonyolan murid Pertapa Gila itu.
“Hati-hati, Rangga Nata…”
“Bidadari Penebus Nyawa itu…”
“…bisa mencuri hatimu tanpa kau sadari.”
Rangga menghela napas panjang, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang hilang.
“Kalau itu terjadi…”
Ia menoleh ke arah kegelapan hutan yang menantinya di depan.
“…mungkin aku memang sudah tidak bisa lari lagi.”
Ayu tersenyum lebar.
Dan kali ini—
Senyumnya benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Lebih dalam, lebih hangat, dan penuh dengan harapan masa depan.
Rangga akhirnya melangkah pergi menjauh.
Tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun.
Namun—
Langkah kakinya kini terasa jauh lebih berat dari saat ia datang tadi.
Di belakangnya—
Ayu masih berdiri mematung di pinggir jalan.
Menatap kepergian sang punggawa naga sampai punggungnya hilang ditelan kabut.
Sampai bayangan itu benar-benar hilang ditelan kabut lembah.
“Tiga purnama…”
bisiknya pelan pada angin yang berlalu.
“Aku akan menunggumu, Rangga.”
Angin berhembus kencang, seolah menyebarkan janji itu ke seluruh jagat Andalas.
Dan di antara kabut tebal Lembah Mayat—
Sebuah janji sakral kini telah benar-benar terikat kuat.
Janji yang kelak—
Akan mengubah segalanya dalam sejarah dunia persilatan.
**Bersambung… 🔥**