Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 7: TAMPANG BALAP, HATI TOLERAN (NERO POV)
Sore berikutnya:
Gue nggak tahu setan atau malaikat mana yang ngebisikin gue, tapi kaki gue tiba-tiba gerak aja ke arah gerbang rumah Pak Malik. Gue ngelihat Ustadz Davi lagi duduk di teras bareng bokapnya Ainun sambil ngeteh santai. Persis, kayak kemaren sore. Jujur, nyali gue agak ciut. Gue yang pake kaos oversize bergambar tengkorak sama celana kargo banyak kantong ini berasa jadi glitch di tengah pemandangan yang suci itu.
Tapi ya udah lah, gas aja. No pain, no gain, kan?
"Misi... Pak Malik, Pak Ustadz," sapa gue sambil pasang muka se-sopan mungkin. Gue sengaja nggak pake gaya "Waddup" ala tongkrongan Jakarta.
Pak Malik noleh, terus senyum. "Eh, Mas Nero, cucunya Bu Thalita. Sini, Mas, duduk."
Ustadz Davi, si lulusan Yaman yang auranya bikin gue pengen langsung mandi wajib itu nengok ke arah gue. Dia nggak sinis, nggak nge-judge gaya gue, malah dia senyum tipis yang ramah banget. Bening banget mukanya, asli, kayak nggak pernah kena polusi Jakarta.
"Saya Davi," katanya sambil ngulurin tangan.
Gue ragu bentar, terus gue jabat tangannya. Gila, jabatan tangannya mantap tapi lembut. "Nero, Mas... eh, Pak Ustadz."
"Panggil Davi aja, kita kayaknya seumuran," jawab dia kalem. Suaranya bener-bener soothing, nggak ada nada tinggi-tingginya sama sekali.
Gue duduk di kursi kayu sebelah mereka. Suasana yang gue kira bakal tegang karena 'persaingan' rebutin Ainun ternyata nggak ada sama sekali. Malah, Ustadz Davi ini vibes-nya kayak kakak tingkat yang super chill.
"Mas Nero baru berapa lama di sini? Sudah betah?" tanya Ustadz Davi. Dia nanya beneran kayak pengen kenal, bukan interogasi polisi.
"Baru semingguan, Pak... eh, Davi. Masih penyesuaian sih, biasa hidup berisik di kota, di sini sunyi banget," jawab gue jujur.
Ustadz Davi ketawa kecil. "Sunyi itu bagus buat dengerin suara hati sendiri, Mas. Kadang di kota kita terlalu sibuk dengerin suara knalpot sampai lupa dengerin apa yang sebenarnya kita butuhin."
Deg. Kalimatnya langsung kena ke ulu hati gue. Kok dia tahu aja sih gue lagi krisis eksistensi di sini?
"Kemarin saya denger suara ngaji di masjid... itu suaranya Ainun ya?" tanya gue, mencoba masuk ke topik yang paling bikin gue kepo, tapi tetep berusaha low profile.
Pak Malik yang jawab, "Iya, Ainun emang dari kecil suka ngaji. Alhamdulillah, suaranya bisa bermanfaat buat anak-anak di sini."
Ustadz Davi ngelihatin gue sebentar, terus dia senyum penuh makna. "Mas Nero kalau sore senggang, main aja ke masjid. Nggak harus ikut ngaji kok, sekadar duduk-duduk dengerin atau ngobrol sama warga juga nggak apa-apa. Pintu kita selalu terbuka buat siapa aja."
Gue ngerasa ada aura ngajak log-in dari cara dia ngomong, tapi anehnya, gue nggak ngerasa risih. Biasanya kalau ada yang ceramahin gue soal agama, gue langsung auto-skip. Tapi sama Ustadz Davi ini, rasanya beda. Dia nggak maksa, dia cuma nunjukin kalau rumahnya itu nyaman.
"Makasih, Davi. Mungkin kapan-kapan gue mampir," jawab gue.
Gue ngerasa respect parah. Ternyata 'penjaga gerbang' Ainun ini bukan tipe yang galak, tapi tipe yang bikin lo ngerasa kalau lo itu diterima apa adanya. Tapi justru itu yang bikin gue makin ciut. Gimana gue bisa 'menang' kalau lawannya orang se-suci dan se-baik ini?
Pas gue pamit mau balik, gue nggak sengaja ngelihat Ainun ngintip dari balik gorden jendela rumahnya. Dia langsung narik gordennya pas mata kita hampir ketemu.
"Gila ya," batin gue sambil jalan balik ke rumah Oma. "Bapaknya baik, Ustadz-nya toleran parah, anaknya imutnya kebangetan. Ini mah bukan tembok lagi, tapi surga yang pintunya terkunci rapat buat orang kayak gue."
------
Duhh jangan nyerah dulu ya Nerooo~
Perjalanan kamu masih panjang!!
Chapternya baru 7 niiihhhh..