Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Persiapan Misi
"Apakah kau sudah menemukan jejak di mana anak perempuan mereka berada?"
Di dalam ruangan berpencahayaan redup, seorang pria berusia di atas tiga puluhan duduk di sofa dengan punggung bersandar, mengembuskan asap dari cerutu yang ia hisap, lalu menyesap minumannya usai melemparkan pertanyaan yang ditujukan pada pria lain yang duduk di sofa berbeda di depannya.
Pria yang dia tanya menggeleng. "Tidak ada sama sekali."
"Ini sudah hampir tiga bulan sejak Arzanka dan istrinya tewas, Vito! Apa saja yang kau lakukan sampai belum menemukan anak perempuan mereka?" bentaknya.
Pria yang disebut sebagai Vito itu menghembuskan napas kasar, lalu menenggak minumannya
"Mereka menyembunyikan putri mereka dengan sangat baik. Nama putri mereka saja, mereka samarkan," jawab Vito membela diri. "Melacak tanpa identitas jelas mustahil."
"Telusuri semua universitas yang ada di kota ini," ujarnya tanpa beban.
"Tanpa identitas?" Vito bertanya cepat, membuat pria itu terbungkam. "Arzanka tidak menyematkan nama belakangnya di belakang nama putrinya, termasuk istrinya sendiri juga tidak menggunakan nama belakangnya. Lalu bagaimana caranya aku mencari jika data putri mereka saja dipalsukan?"
Jawaban logis. Dan pria itu sadar akan itu. Justru itulah yang membuat kekesalannya bertambah.
"Tapi, salah satu anak buahku mengatakan ada satu orang lagi yang masih memiliki ikatan keluarga dengan mereka. Dia adik dari Jovita Simarta," lanjut Vito kemudian.
"Siapa?" dia bertanya.
"Namanya belum aku dapatkan. Informasi yang kudapat hanyalah, dia pemilik arena pertarungan bebas bawah tanah yang berada di wilayah Angkasa," jawab Vito.
"Kalau begitu, selidiki. Pemilik arena pertarungan bebas tidak hanya satu orang. Kau yang sudah bekerja pada Angkasa cukup lama dengan mengelola bar tidak akan kesulitan hanya untuk mencari pemilik arena pertarungan bebas bawah tanah." ujarnya sambil menghisap cerutunya kuat-kuat.
"Lagi pula, kau juga sudah tahu jika saat ini Angkasa tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain. Apa lagi yang kau takutkan?" imbuhnya bertanya.
Vito terdiam. Ada keraguan di hatinya yang membuat ia tidak bisa bergerak bebas. Ia dipercaya Angkasa untuk mengelola bar milik Angkasa. Dan dari sanalah ia bisa memberikan informasi apapun untuk pria yang kini duduk di depannya.
"Apa yang bisa dijadikan jaminan jika dia benar-benar lumpuh?" tanya Vito.
"Orangku mengatakan, Angkasa lebih sering berada di mansion dan duduk di ruang tamu dalam dua hari terakhir. Itu artinya dia tidak dalam keadaan baik-baik saja, tanda jika obat sudah bekerja, dan bisa dipastikan dia akan lumpuh total besok," dia menjawab dengan percaya diri.
Vito diam, tetapi telinganya terus mendengar kalimat desakan yang pria itu katakan. Menambahkan kalimat pemanis jika Angkasa memulangkan para pekerja di mansion selama dua hari yang membuat ia menelan mentah apa yang pria itu ucapkan.
"Baiklah. Aku akan mencari informasi pemilik arena pertarungan bebas bawah tanah besok."
"Bagus." dia tersenyum puas, lalu menyesap minumannya.
"Dan kau ..." pandangannya kini beralih ke pria berusia lebih mudah darinya saat ia meletakkan gelas ke meja. "Sangat menyedihkan. Ada apa dengan gadis jeniusmu? Dia yang membuatmu berhasil masuk ke Kalva Company, tapi dia juga yang menendangmu keluar."
"Saya akan mengatasinya segera. Dia hanya sedang kesal, dan itu tidak akan bertahan lama. Jika saya merayunya, dia akan kembali patuh, Anda tenang saja," jawabnya dengan seringai terbentuk di bibirnya.
.
.
.
Rinai hujan jatuh mengikuti gravitasi tanpa suara, meninggalkan jejak basah di setiap sudut kota diiringi hembusan angin malam yang menyelinap melalui jendela kamar yang Lea tempati.
Lea mematut dirinya di depan cermin. Mengamati penampilannya sendiri dari atas sampai bawah sekali lagi. Memastikan penampilannya cukup untuk membuat targetnya malam ini enggan memalingkan pandangan.
Sementara di ruang tamu mansion, Angkasa duduk di sofa dengan penampilan lebih santai dari biasanya. Kemeja hitam yang lenganya digulung sampai siku sedikit menurunkan sisi dinginnya yang biasanya melekat kuat di wajah pria itu. Netranya tak lepas dari layar tablet yang sedang menampilkan data seseorang, jemarinya menggulir pelan, memastikan tidak ada informasi yang terlewat. Hingga, suara ketukan heels yang beradu dengan lantai marmer menarik seluruh atensinya.
Wajah Angkasa terangkat, kemudian menoleh, hanya untuk terpana atas apa yang sedang ia lihat saat ini. Ia meletakkan tablet di tangannya ke sofa, nalurinya menuntun ia untuk bangkit dari duduknya, dan berdiri dalam jarak beberapa meter dari Lea sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Lea melangkah begitu anggun dengan penampilan yang belum pernah ia lihat. Sosok Lea yang biasanya mengenakan hodie dan celana longgar, kini tampil berbeda dengan bodycone dress one-shoulder yang menempel sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh alami yang Lea miliki dengan rambut terurai sebagai penyempurna penampilan Lea. Tidak vulgar, tetapi itu terlihat sangat ...seksi bagi Angkasa.
"Sialan," Angkasa menggeram dalam hati, pandangannya engan beralih dari Lea. Ia sendiri yang memilih dress itu untuk mempermudah rencana, tapi justru ia sendiri yang kini merasa tidak rela penampilan Lea malam ini dilihat pria lain.
Lea berhenti tiga langkah di depan Angkasa. Tidak berbicara, hanya menunggu apa yang akan Angkasa katakan.
Dua detik pertama otak Angkasa menolak percaya jika wanita di depannya adalah Lea yang ia selamatkan saat wanita itu tenggelam, Lea yang tidak banyak bicara saat bersamanya, dan Lea yang dimanfaatkan orang lain.
Dua detik berikutnya, otaknya menyerah.
Dia adalah Lea yang lancang masuk ke kamarnya di tengah malam, Lea yang berani menyuntik dirinya tanpa ragu, Lea yang berani membentaknya, dan Lea yang bisa menjadi racun serta penawar dalam satu waktu.
"Kau ..."
Kalimat Angkasa terhenti, rahangnya mengeras. Ia tidak biasa kehilangan kata.
"Apakah ini cukup untuk membuat orang lain percaya jika aku bisa membuat seseorang lumpuh tanpa menggunakan otot?" pertanyaan itu mengalir begitu saja dari mulut Lea.
Angkasa tergelak singkat, melangkah maju dan menyisakan satu langkah ruang di antara mereka.
"Siapa yang akan menyangka, di balik penampilanmu ini, kau adalah belati yang bisa membunuh lawan hanya dengan satu goresan."
Lea tersenyum tipis, netranya lekat menatap manik mata Angkasa. "Apakah begitu cara sang singa mengatakan 'aku cantik?" alis Lea sedikit terangkat.
Angkasa tidak menjawab, memberikan pujian bukan sesuatu yang biasa ia lakukan. Satu tangannya terangkat dalam posisi mengepal, lalu menunjukkan sebuah kalung berliontin batu ruby hitam bertepatan dengan ia membuka kepalan tangannya.
"Kalung ini adalah sinyal. Hanya sedikit orang saja yang tahu apa artinya, salah satunya ada di Scarfers Bar." ujar Angkasa seraya memakaikan kalung itu ke leher Lea.
Dalam jarak itu, Angkasa bisa mencium lebih jelas aroma woody dari parfum yang Lea gunakan. Setelah kalung itu terpasang, Angkasa mundur selangkah.
"Aku menunggumu di sini. Jika dalam tiga jam kau tidak kembali, aku akan menyusulmu dengan atau tanpa hasil."
Lea mengangguk.
"Ciri khas Vito, dia memiliki tato ular di pergelangan tangan kirinya, dan menyukai wanita," ucap Angkasa.
Lea mengangguk lagi.
"Mobil sudah siap," suara Marco menyela. Memaksa Angkasa membuka jalan untuk Lea, mengantar wanita itu ke mobil yang sudah terparkir dan membuka pintu mobil untuk Lea.
"Kali ini, Marco tidak bisa bersamamu, Vito mengenal Marco terlalu baik," Angkasa kembali berbicara yang hanya mendapatkan anggukan dari Lea sebagai jawaban.
"Sopirmu malam ini adalah Gio," Angkasa menambahkan.
Lea sudah duduk di jok penumpang di belakang. Sesaat, ia menatap pria berwajah datar yang duduk di belakang kemudi. Pria itu tidak menoleh, tidak mengatakan sepatah katapun, hanya menatap lurus ke depan dengan kedua tangan di atas kemudi.
"Aku berangkat sekarang," ucap Lea.
Angkasa mengangguk, menutup pintu mobil, dan berdiri menatap mobil yang Lea tumpangi meninggalkan mansion. Di belakangnya, Marco hanya menatap bosnya dalam diam, tidak berani berkomentar melihat sikap ajaib bosnya.
Sementara di Scarfers Bar, Vito tengah menuang whisky ke gelasnya tanpa menyadari waktu hitung eksekusi untuknya sudah berjalan.
. . . .
. . ..
To be continued...