Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada apa dengan Raisya
Raisya : ndra aku minta tolong boleh?, hari ini ku harus chek up kerumah sakit. sandrina tidak ada yang jemput sekolah. Kamu tidak keberatan buat jemput drina.
Aku membaca chat yang dikirimkan oleh Raisya, hari ini aku sedang santai di ruang kerjaku, jadi tidak masalah jika harus menjemput sandrina. Aku juga menyukai gadis kecil itu.
it's oke sa, kalau butuh bantuan jangan sungkan minta tolong. Kamu sehat sehat ya!, tenang sandrina aman sama aku.
Setelah membalas pesan raisya kemudian aku bangkit dan merapikan pakaian semi formalku.
"pit kamu liat kunci mobilku ga" aku sedikit berteriak memanggil Pipit.
"iya mbak, aku ga liat tadi mbak simpan dimana?"
"tadi aku simpan dekat meja perasaan, tapi kok ga ada ya. duh kalau nyari dulu nanti sandrina keburu selesai kelasnya, takut dia nyariin yang jemput, hemm yaudah gini aja pit, sekarang aku harus pergi jemput sandrina sekolah. Kamu tolong cariin kunci mobil, pasti ada di sekitar ruangan kerja ini kok pit"
"ohh yaudah mbak berangkat saja, kunci mobilnya biar Pipit cariin".
Drama kunci mobil gatau di simpan dimana, akhirnya kini aku menumpang ojek online biar cepat karena waktu sudah menunjukan 11,45 bahwa kelas sandrina sudah selesai. Ini bukan pertama kalinya ku menjemput sandrina di sekolah, di hari hari kebelakang pun aku sangat sering menjemput sandrina di sekolah.
"drinna" ketika sampai mataku langsung tertuju pada gadis kecil yang berkuncir dua itu.
"mama ndra" matanya berbinar ketika mendengar suaraku, gadis kecil itu berlari kecil menghampiriku, kemudian memeluk erat. Aku mencium kedua pipinya yang gembul. Ah aku sangat menyayangi gadis kecil ini.
"mama ndra ibu kemana, kok yang jemput mama ndra" tanyanya sambil mengerutkan kening.
"ada sayang, ibu lagi cek adek bayi biar adek bayinya sehat selalu ibu juga. Nanti habis dari sini kita ketemu ibu" aku menjelaskan dengan lembut pada gadis itu, kurapihkan potongan poni yang sejajar dengan alisnya itu, kemudian kucolek hidung kecil dan mungilnya itu.
"mama ndra itu ada papa" gadis kecil itu menunjuk di halaman tempat parkir sekolah.
sontak aku menoleh, disana telah berdiri tegap Satya dengan mobil sebagai tumpuan tubuhnya, tatapannya mengarah pada keberadaan kita berdua. Aku berdiri perlahan, mengandeng tangan sandrina, untuk menghampiri keberadaan Satya.
"kak Satya jemput sandrina juga?".
laki laki itu tampak mengangguk, tangannya yang sedari tadi bersedekap di dada ia turunkan.
"hemm kalau gitu drina pulang sama papa ya, mama ndra harus balik ke toko roti"
"yahh mama ndra katanya tadi mau lihat ibu sama-sama" ku perhatikan raut wajah gadis kecil itu tampak sedih. tidak tega juga sih tapi masa aku harus naik di mobil kak Satya canggung sekali rasanya.
"yasudah nanti mama ndra nyusul ya sayang"
"kenapa ga bareng aja" aku menoleh pada suara laki laki itu, yang kini telah membuka pintu mobil sebelah kiri.
"emhh ga usah kak, ga enak juga nanti aku nyusul aja" ucapku menolak dengan halus.
"gak enak kenapa sih ndra kita temenan sudah lama, ayok Raisa sudah menunggu" ucapnya sambil meng kode agar aku segera memasuki mobilnya.
"yasudah kak, aku nebeng ya" ucapku seraya memasuki mobilnya.
"Raisya harus di rawat lagi" ucapnya pelan, aku tidak memperhatikan wajahnya, tatapanku terus memperhatikan jalanan macet yang tidak reda reda setiap harinya. tapi aku tau laki laki itu menyimpan kesedihan diwajahnya.
aku mengangguk pelan.
"tadi Raisya kirim pesan, minta tolong sama aku untuk menjemput drina" ucapku sambil membenarkan kepala gadis kecil yang terkulai, drina tertidur setelah lelah seharian belajar dan bermain.
Satya menoleh padaku dan mengerutkan alisnya.
"dia juga menyuruh saya untuk jemput drina"
Aku sedikit kaget dengan penuturan nya, Raisya menyuruhku menjemput sandrina dan kak Satya pun mendapatkan pesan yang sama?, aku sedikit bingung kenapa Raisya melakukan itu.
"ohh mungkin Raisya tidak ingin membuat drina menunggu kak, jadi tadi dia suruh aku juga" jawabku dengan sedikit canggung. Aku mencium ada yang tidak beres dengan Raisya. aku merasa Raisya sedang menyembunyikan sesuatu dariku dan Satya.
Mobil yang Satya kendarai telah sampai di parkiran rumah sakit.
"kamu diam dulu, biar aku yang gendong sandrina" ucapnya sambil membuka seal belt dan keluar dari pintu mobil.
Dia memangku sandrina dengan sigap, gadis kecil itu kini berada pada gendongannya. ah tanganku sedikit kebas.
Aku berjalan di belakang bahu kokoh yang sedang menggendong gadis kecil itu, melewati banyak lorong rumah sakit yang cukup asing bagiku, kemudian kami sampai pada ruangan tempat dimana Raisya berada.
aku tercengang ketika sampai di ruangan Raisya, kenapa banyak alat yang menempel ditubuhnya?, Raisya hanya lagi hamil muda kan?. apa yang sebenarnya dia sembunyikan dariku.
Air mataku tak bisa dibendung lagi, dengan langkah gemetar aku menghampiri Raisya yang kini terbaring lemah. Wajahnya pucat, sangat pucat.
"ndra, sudah sampai?" ia membuka mata ketika aku mengusap pelan pipinya yang lembut.
Aku mengangguk lemah, air mataku sudah berderai sedari tadi. Aku melihat bayangan sosok Satya yang sedang mengurus sandrina, dia memalingkan wajahnya. Aku tau dia sangat merasa sedih melihat keadaan istrinya.
"jangan nangis ndra aku baik baik aja, besok juga sembuh. Aku lagi drop aja" ucapnya dengan pelan, sangat lemah. bibirnya putih pucat, namun selalu menyunggingkan senyum manis nya.
"makasih ya udah selalu jagain drinna, makasih juga udah sangat menyayangi drinna" ucapnya sambil memegang tanganku, tangannya terasa sangat dingin.
"kamu sebenarnya kenapa si sa, kenapa ga bilang sama aku kalau kondisimu seperti ini"
"Im fine girl, hanya saja bumil satu ini sedikit manja kali ini, butuh perhatian ekstra dari mas Satya" ucapnya sambil melirik Satya yang menatapnya dari kejauhan. Aku melihat kilatan kesedihan di wajah Satya.
"kamu sehat ndra, asma kamu masih sering kambuh?" lihatlah betapa baiknya sahabatku ini, bahkan ketika dia sakitpun dia selalu bertanya tentang keadaanku.
"asma aku sudah membaik sa, tahun ini Alhamdulillah ga kambuh"