REMINDER !! ADA Beberapa Adegan D3w4s4
Rendy dan Linda
Dua manusia yang bersatu atas dasar perjodohan. Tidak ada yang tahu cerita itu, bahkan sampai mereka tidak jadi menikah pun ceritanya di tutup rapat.
tapi kilat putih dimalam itu membawa cerita yang berbeda -----
#mohon maaf masih pemula 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Sumartini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia Es yang Berbeda
Pasar malam adalah pasar jalanan terbuka yang beroperasi mulai sore hari hingga malam hari. Terkadang pasar malam difungsikan sebagai pusat berbelanja pakaian, makanan, bahkan aneka barang rumah tangga dengan harga yang relatif terjangkau. Di tempat ini juga disediakan wahana hiburan komedi putar, bianglala, atau yang lainnya guna menunjang minat orang - orang untuk datang berkunjung.
Disini dan malam ini menjadi tempat kencan antara Rendy dan Linda. Meski tidak kencan ke tempat seperti restaurant mewah atau ke bioskop, tapi tujuan Rendy mengajak Linda kesini karena ada peluncuran kembang api jam dua belas malam nanti. Rendy sudah lebih dulu menghubungi kepala keluarga Angkasa yaitu Vito Angkasa untuk meminta ijin membawa putri sulungnya pulang terlambat malam ini. Bagaimana pun juga, Rendy tidak mau dianggap tidak sopan membawa kabur anak orang hingga tengah malam.
"Apa kamu ada meminta ijin Ayah mengajakku kesini Rendy?" tanya Linda membuka suara setelah lima belas menit terdiam sejak sampai disini. Sungguh Linda tidak suka suasana hening diantara mereka.
"Ada. Mana mungkin aku gak bilang Om Vito. Bagaimana pun aku membawa putrinya keluar malam - malam." jawab Rendy menatap lurus kedepan.
'Sejak kapan dia belajar jadi seperti ini? Pantas saja Ayah menggodaku sejak kemarin. Mood Ayah jadi naik seratus persen karena ini pertama kalinya sejak tiga tahun pertunangan kita.' Gumam Linda dalam hati.
"Om Vito bilang tidak apa Linda. Apa beliau ada jawaban lain saat sama kamu?" tanya Rendy memastikan sesuatu mungkin jawaban Ayah Linda berbeda dengan jawaban yang dia terima.
Linda menghela nafas, "Bukan begitu. Pantas saja Ayahku jadi semangat. Bahkan dari kemarin dia sudah menggodaku, mungkin karena ini pertama kalinya kita kencan setelah tiga tahun." jawab Linda tanpa menatap Rendy.
Rendy tiba - tiba berdiri di depannya, menangkup kedua pipi Linda, "Linda maafkan aku. Aku janji akan lebih sering ngajak kamu kencan mulai sekarang." ucap Rendy, netra elang itu nampak sendu penuh penyesalan mendalam.
"Huh? Ren. Aku gak nyalahin kamu, aku tau kamu sibuk. Jangan pasang wajah suram begitu, itu menakutkan Ren." ucap Linda menurunkan tangan Rendy yang menangkup pipinya.
Nyut !
Perempatan siku - siku tercetak di wajah tampan Rendy. "Apa maksudnya dengan menyeramkan?" ujar Rendy sedikit kesal.
"Nah. Begini baru kamu Rendy. Kamu gak cocok sama wajah murung gitu, karena kamu itu dingin dan selalu marah begitulah yang aku tau." kata Linda sembari tertawa kecil.
"Apa gak ada hal bagus yang bisa kamu nilai dari aku?" tanya Rendy.
"Aku hanya bicara jujur."
Rendy menarik tubuh Linda yang tingginya hanya sebahu Rendy. Mendekapnya erat, aroma vanilla menguar dari tubuh Linda.
"Linda. Jangan tinggalin aku. Tetap sama aku ya seterusnya." ucap Rendy menaruh wajahnya bersandar di bahu Linda.
Jantung Linda menjadi tidak aman. Wangi maskulin pemuda ini memenuhi indra penciumannya. Tubuhnya bergetar karena jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya.
'Ada apa dengan manusia es ini Tuhan? Bukankah seharusnya dia tidak seperti ini? Seharusnya ucapan tadi dia berikan untuk Diana bukan aku.' kata Linda dalam hati.
"Ren akhir - akhir ini kamu kenapa sih? Kamu salah makan sesuatu?" tanya Linda yang masih diam mematung.
"Tidak ada." jawab Rendy singkat.
"Jangan bohong. Apa kamu ada penyesalan atau apa , kenapa kamu jadi berbeda?" tanya Linda kembali.
Rendy memutar kepalanya, saat ini pemandangannya adalah leher putih jenjang Linda, karena gadis itu menggulung semua rambut panjangnya keatas. "Untuk apa aku bohong sama tunanganku. Linda tidak ada hal apa pun yang aku sembunyikan." sahut Rendy meniup leher Linda membuat gadis itu tersentak karena merasa geli.
"Rendy !!" teriak Linda memundurkan tubuhnya. Namun ia tidak bisa mundur sepenuhnya karena pinggang rampingnya di kunci oleh tangan besar Rendy. "Ren.. Lepasin dulu." sahut Linda lagi berusaha melepaskan dirinya.
Banyak pandang mata yang melihat mereka, ada yang tersenyum kecil, ada yang berbisik - bisik bahkan ada yang geleng - geleng kepala.
"Ren.. Banyak yang lihat tau, aku malu." ucap Linda yang mulai bersemu merah.
"Kenapa malu? Kita ini kan pasangan?" jawab Rendy santai semakin membawa tubuh mungil Linda mendekat.
"Kamu mau apa sih!" ucap Linda mulai kesal.
"Cium aku. Disini." kata Rendy membawa jari ramping Linda menyentuh bibirnya.
Blus !
Wajah Linda menjadi merah, "Ah tidak. Kenapa sih harus disana?" tanya Linda gugup.
"Kenapa? Aku ingin berciuman sama kamu." jawab Rendy dengan santai.
Wajah Linda semakin merah sedangkan wajah Rendy biasa saja. Kenapa aku sangat malu sedangkan dia sangat santai. Gumam Linda dalam hati.
"Linda. Kamu benci ya sama aku?"
"Kenapa kamu tiba - tiba tanya-"
Linda membulatkan matanya saat menatap ada air mengalir disudut mata Rendy. Manusia es ini lagi akting apa beneran nangis ini?
Hati Linda mencelos iba, sungguh dia merasa bersalah sampai membuat Rendy jadi begini, padahal Linda gak ada ngapain pemuda ini.
"Kamu benci kan sama aku? Iya aku salah pernah abaikan kamu, tapi aku tidak punya hubungan apa pun sama Diana. Aku salah selalu cuek, iya aku yang salah tapi aku mohon kasi aku kesempatan buat berubah. Aku gak mau kamu pergi dari sisiku. Aku sadar aku gak bisa tanpa kamu, jadi Linda aku mohon-"
Cup !
Entah siapa yang memulai semuanya, hati Linda merasa sakit melihat Rendy seperti ini, padahal ia yang ingin putus sejak kembali lagi kesini tapi kenapa Linda merasa gelisah. Tanpa sadar tangannya menarik wajah Rendy mendekat mengunci bibir pemuda itu. Linda merasakan tubuh Rendy menegang, namun detik berikutnya dia ikut membalas ciuman Linda.
Lima menit berlalu, kedua bibir itu terlepas karena kekurangan pasokan oksigen. Benang saliva masih bertautan, Rendy tersenyum tipis menghapus jejak saliva itu dengan ibu jari miliknya. Wajah Linda sangat merah.
"Aku gak pernah benci kamu , meskipun aku ingin." kata Linda memalingkan wajahnya.
Rendy tersenyum lembut, "Iya aku juga sayang sama kamu Linda."
Wajah Linda sudah seperti buah tomat yang siap di panen, jantungnya berdebar kencang, "Rendy aku gak bilang gitu !!" teriak Linda memukul pelan dada Rendy, menunduk malu.
Sedangkan Rendy tertawa lepas melihat tingkah Linda.