Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 — Detak Jantung
Hujan masih turun ketika mobil Dominic berhenti di depan sebuah klinik kandungan yang tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Lampu-lampu putih dari dalam gedung memantul di kaca mobil yang basah. Dominic mematikan mesin, lalu segera turun untuk membukakan pintu di sisi Bella.
Udara dingin langsung menyapu wajah mereka.
Bella masih tampak pucat.
Wajahnya sedikit kehilangan warna, dan meski ia terus mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, Dominic bisa melihat tubuh wanita itu masih lemah.
“Aku bisa jalan sendiri.”
Suara Bella pelan.
Namun Dominic hanya menatapnya beberapa detik sebelum mengulurkan tangan.
“Pegang aku.”
Bella menatap tangan pria itu.
Ada begitu banyak kenangan dalam gerakan sederhana itu.
Dulu, Dominic selalu seperti ini.
Selalu sigap.
Selalu hadir.
Dan justru karena itulah hatinya terasa semakin sakit.
Bella ragu beberapa saat, lalu akhirnya meletakkan tangannya di lengan Dominic.
Bukan karena ia ingin dekat.
Tetapi karena tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih dari pusing yang tadi menyerang.
Dominic menuntunnya masuk.
Tangannya menopang siku Bella dengan hati-hati, seolah wanita itu adalah sesuatu yang rapuh.
Sesuatu yang tidak boleh jatuh.
Dan untuk pertama kalinya, Bella tidak menepisnya.
—
Setelah registrasi cepat, Bella dipersilakan masuk ke ruang pemeriksaan.
Dokter yang sama seperti kunjungan sebelumnya tersenyum lembut saat melihatnya.
Namun begitu melihat Dominic yang berdiri di belakang Bella, wanita paruh baya itu sedikit mengangkat alis.
“Oh, akhirnya ayahnya datang.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak canggung.
Bella langsung menunduk.
Sementara Dominic membeku.
Ayahnya.
Dua kata sederhana itu menghantam sesuatu di dalam dirinya.
Rasa bersalah yang selama ini mengendap mendadak menyeruak lebih keras.
Ia datang terlambat.
Terlalu terlambat.
Dokter mempersilakan Bella berbaring untuk pemeriksaan.
Dominic berdiri di samping ranjang, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bella.
Ia bisa melihat wanita itu masih menegang.
Masih menjaga jarak.
Masih membangun dinding.
Namun kali ini Dominic tidak memaksakan apa pun.
Ia hanya diam.
Hadir.
Saat alat USG mulai digerakkan di atas perut Bella, layar monitor perlahan menampilkan bayangan kecil yang samar.
Dominic menatap layar itu dengan napas yang mendadak terasa tertahan.
Ada sesuatu di sana.
Kecil.
Namun nyata.
Jantungnya berdebar lebih cepat.
Dan ketika suara itu akhirnya terdengar…
dug dug dug dug dug…
Cepat.
Kecil.
Namun sangat jelas.
Dominic membeku.
Matanya melebar.
Tatapannya langsung berpindah dari layar ke dokter, lalu kembali ke layar.
“Itu…”
Suaranya nyaris tidak keluar.
Dokter tersenyum.
“Itu detak jantung bayi Anda.”
Dunia Dominic terasa berhenti.
Suara itu memenuhi seluruh ruang pemeriksaan.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria itu merasa lututnya hampir lemas.
Detak kecil itu.
Anak mereka.
Bayi yang tumbuh di dalam tubuh Bella.
Bayi yang selama ini ia lewatkan.
Mata Dominic langsung memerah.
Ia menatap layar tanpa berkedip.
Sesuatu yang asing dan sangat kuat merambat di dadanya.
Haru.
Syok.
Bahagia.
Dan rasa bersalah yang hampir menghancurkan.
Tanpa sadar, tangannya bergerak meraih sisi ranjang.
Jemarinya gemetar.
Bella yang sejak tadi berusaha menguatkan diri perlahan menoleh.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, ia melihat Dominic menangis.
Bukan tangis yang dibuat-buat.
Bukan emosi sesaat.
Air mata itu jatuh diam-diam dari sudut mata pria itu saat menatap layar.
Bella membeku.
Pemandangan itu mengusik sesuatu di dalam hatinya.
Dominic mengusap wajahnya cepat, seolah malu terlihat selemah itu.
Namun suaranya tetap pecah saat berbicara.
“Aku…”
Ia berhenti.
Menelan sesuatu yang terasa seperti batu di tenggorokan.
“Aku nggak ada waktu dia pertama kali hidup di sini.”
Tangannya perlahan terangkat, berhenti beberapa sentimeter dari perut Bella.
Tidak menyentuh.
Meminta izin tanpa kata.
Bella menatap tangan itu.
Lalu menatap wajah Dominic.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.
Namun akhirnya, perlahan, Bella mengangguk kecil.
Tangan Dominic akhirnya menyentuh perut Bella.
Hangat.
Sangat hati-hati.
Seolah ia takut satu sentuhan saja bisa melukai bayi kecil di dalam sana.
Jantung pria itu kembali berdebar keras.
Di balik telapak tangannya, ada kehidupan.
Anak mereka.
Sesuatu yang lahir dari cinta yang pernah begitu besar.
Dan kenyataan bahwa ia hampir kehilangan semua ini membuat dadanya terasa sesak.
—
Setelah pemeriksaan selesai, dokter memastikan bahwa Bella hanya kelelahan dan emosinya terlalu terkuras.
“Kurangi stres.”
Dokter tersenyum lembut.
“Untuk ibu dan bayi.”
Kalimat itu membuat Dominic mengangguk lebih cepat dari Bella.
“Aku akan pastikan.”
Bella menatap pria itu datar.
Namun ia terlalu lelah untuk berdebat.
—
Perjalanan pulang berlangsung sunyi.
Hujan mulai reda, menyisakan jalanan yang berkilau oleh lampu malam.
Dominic menyetir dengan lebih pelan dari biasanya.
Sesekali ia melirik Bella yang duduk diam di kursi penumpang.
Tatapannya kosong ke arah luar jendela.
Namun satu tangannya masih berada di atas perut.
Melindungi.
Menjaga.
Pemandangan itu kembali membuat hati Dominic terasa nyeri.
“Aku minta maaf.”
Suara Dominic memecah kesunyian.
Bella tidak menoleh.
Dominic melanjutkan, suaranya lebih pelan.
“Bukan cuma karena perselingkuhan itu.”
Jari-jarinya mengerat pada setir.
“Aku minta maaf karena nggak ada saat kamu tahu kamu hamil.”
Bella memejamkan mata.
Air matanya hampir jatuh lagi.
Namun ia menahannya.
Dominic menelan ludah.
“Aku nggak ada waktu kamu takut sendirian.”
Suaranya semakin berat.
“Aku nggak ada waktu kamu dengar detak jantung dia pertama kali.”
Kalimat itu terasa sangat jujur.
Sangat telanjang.
Bella akhirnya menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya, Bella melihat Dominic bukan sebagai pria yang egois.
Tetapi sebagai seseorang yang benar-benar menyesal.
Namun luka itu masih ada.
Masih terlalu besar.
“Aku nggak tahu harus bilang apa.”
Suara Bella pelan.
Dominic mengangguk.
“Kamu nggak harus bilang apa-apa.”
Tatapannya lurus ke depan.
“Aku cuma mau kamu tahu… aku akan tetap di sini.”
Bella memandang pria itu cukup lama.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak pergi ke Sydney, ada retakan kecil di dinding yang selama ini ia bangun.
Namun retakan itu belum cukup untuk memaafkan.
Belum.
—
Sesampainya di apartemen, Dominic mengantar Bella sampai depan pintu.
Sebelum Bella masuk, pria itu berkata pelan,
“Jaga diri kamu.”
Tatapannya turun sesaat ke arah perut Bella.
“Dan jaga anak kita.”
Kalimat itu membuat jantung Bella berdetak lebih cepat.
Ia tidak menjawab.
Namun sebelum pintu tertutup, Bella sempat menoleh.
Dominic masih berdiri di sana.
Menatapnya.
Dengan wajah yang untuk pertama kalinya tidak lagi dipenuhi ego.
Hanya cinta.
Dan penyesalan.
END BAB 25 😭🔥
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹