Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Duel Maut di Puncak Bayangan
.Ki Suro tertawa terbahak-bahak melihat Genta yang hanya membawa sarung hitam dan sisa kerupuk di tangannya. Suasana di puncak Penanggungan berubah menjadi sangat berat, seolah-olah langit hendak runtuh menindih pundak Genta.
.Genta tidak berkedip sedikit pun, ia memasang kuda-kuda yang sangat kokoh, kakinya menancap di bebatuan seolah telah dicor semen kuat. Sarung hitam yang merupakan warisan misterius itu kini mengeluarkan hawa dingin yang melawan panasnya api dari keris Ki Suro.
."Genta, kamu itu hanya bocah kemarin sore yang kebanyakan makan kerupuk, tidak pantas memegang pusaka Sarung Hitam itu!" teriak Ki Suro sambil mengeluarkan keris merah yang bentuknya menyerupai lidah naga.
.Ki Suro melesat menuju Genta dengan kecepatan yang mengerikan, kerisnya menyambar-nyambar mengeluarkan api yang membuat rumput di sekitarnya hangus menjadi abu. Genta melompat tinggi, melakukan salto di udara lalu menyabetkan sarungnya ke arah leher Ki Suro.
.WUSSS! Sabetan sarung Genta bukan sabetan biasa, melainkan mengeluarkan suara seperti pecut petir yang membelah langit malam. Ki Suro terkejut, ia menangkis menggunakan kerisnya hingga memercikkan api yang sangat terang di tengah kegelapan itu.
Genta mengatur napasnya yang memburu, uap dingin keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas. .Sarung hitam yang melilit di tangannya perlahan berhenti bersinar, namun hawa mistisnya masih terasa sangat kuat menyelimuti seluruh area puncak.
.Ki Suro mengerang kesakitan, tubuhnya gemetar hebat saat mencoba merangkak di atas tanah yang tandus. .Seluruh ilmu hitam yang ia banggakan selama bertahun-tahun seolah luntur hanya dalam satu sabetan kain sarung milik Genta.
."T-tidak mungkin... ilmu setinggi ini tidak mungkin dimiliki oleh pemuda konyol sepertimu," rintih Ki Suro dengan suara parau. .Matanya yang tadi merah menyala kini meredup, menyisakan ketakutan yang mendalam saat menatap sosok Genta yang berdiri tegak di hadapannya.
.Genta berjalan mendekat, ia memungut potongan keris merah milik Ki Suro yang sudah hancur menjadi serpihan kecil. ."Pak Suro, kekuatan itu bukan soal siapa yang paling seram atau siapa yang punya keris paling panas," ujar Genta tenang.
."Tapi kekuatan itu soal apa yang kamu jaga, dan hari ini, aku menjaga guruku dan menjaga kedamaian Surabaya," lanjut Genta sambil melemparkan serpihan keris itu ke jurang di bawah mereka. .Genta tidak lagi terlihat seperti bodyguard sengklek yang biasanya, aura pendekar sejati terpancar jelas dari tubuhnya.
Genta berjalan perlahan mengikuti tandu Abah Mansur yang mulai dibawa turun oleh Joni dan tim keamanan. .Langkah kakinya terasa berat, bukan karena lelah bertarung, melainkan karena energi sarung hitam itu perlahan-lahan mulai menyatu dengan aliran darahnya.
.Tiba-tiba, telinga tajam Genta menangkap suara kepakan sayap yang sangat besar dari arah langit yang masih berkabut. .Genta menoleh ke belakang, tepat ke arah puncak kuil tua yang tadi menjadi saksi bisu pertarungannya dengan Ki Suro.
.Sesosok burung gagak berukuran raksasa hinggap di atas reruntuhan batu candi, menatap Genta dengan mata yang bersinar kuning keemasan. .Burung itu membawa selembar gulungan kain tua di paruhnya, lalu menjatuhkannya tepat di depan kaki Genta.
.Genta mengerutkan kening, ia memungut gulungan kain itu dan merasakannya sangat dingin, lebih dingin dari es di puncak gunung. .Begitu dibuka, gulungan itu berisi daftar nama-nama pendekar dari organisasi Suro diro Joyoningrat yang ternyata masih bersembunyi di seluruh penjuru Jawa Timur.
."Waduh, jebule Ki Suro iki mung kroto siji, isih ono ratu semut liyane sing nunggu," gumam Genta sambil menghela napas panjang. .Genta menyadari bahwa daftar ini adalah "surat tugas" baru baginya untuk membersihkan sisa-sisa kejahatan yang masih menghantui Surabaya.
.Joni yang melihat Genta berhenti segera berteriak dari kejauhan. ."Mas Genta! Ayo cepat, angin gunungnya makin kencang, Abah Mansur butuh istirahat di rumah sakit!"
.Genta memasukkan gulungan misterius itu ke dalam lilitan sarungnya, lalu berlari menyusul timnya yang sudah mulai menuruni lereng. .Di sepanjang jalan turun, para pendaki yang kebetulan berpapasan hanya bisa melongo melihat rombongan pria berjas rapi membopong orang tua di tengah hutan.
.Mobil mewah Wijaya Group membelah jalanan aspal Sidoarjo dengan kecepatan tinggi, membawa hawa kemenangan sekaligus misteri yang belum terpecahkan. .Genta duduk terdiam di kursi belakang, tangannya masih meraba gulungan kain tua yang ia temukan dari burung gagak misterius tadi.
.Clarissa yang duduk di sampingnya hanya bisa memperhatikan wajah Genta yang tampak lebih dewasa dan serius dari biasanya. ."Genta, apa yang sebenarnya terjadi di atas sana? Kenapa kamu terlihat seperti sedang memikirkan beban seluruh dunia?" tanya Clarissa lembut.
.Genta menoleh perlahan, lalu tersenyum tipis untuk menenangkan hati istri bosnya itu. ."Cuma sedikit kejutan dari masa lalu, Mbak Bos. Ternyata musuh kita ini bukan cuma orang-orang yang mau merebut perusahaan, tapi orang-orang yang mau menghancurkan kedamaian kita semua," jawab Genta misterius.
.Di dalam ambulans yang melaju tepat di depan mobil mereka, Abah Mansur mulai bisa bicara meskipun suaranya masih sangat serak. .Joni yang menemaninya di dalam ambulans mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut sang guru besar itu.
."Joni... sampaikan pada Genta... Sarung Hitam itu jangan pernah dilepas, bahkan saat tidur sekalipun," bisik Abah Mansur sambil memegang tasbih kayu kesayangannya. ."Itu bukan sekadar kain, itu adalah 'kunci' untuk membuka gerbang kebenaran yang selama ini ditutupi oleh Tangan Hitam."
.Joni hanya mengangguk patuh, ia merasa tanggung jawab tim keamanan Wijaya Group kini sudah bergeser dari sekadar menjaga gedung menjadi menjaga rahasia besar negara. .Joni segera mengirim pesan singkat ke ponsel Genta: Mas, Abah bilang sarungnya jangan dilepas. Itu kunci.
.Genta membaca pesan itu dan hanya tersenyum simpul, ia sudah merasakan sendiri bagaimana sarung itu berdenyut mengikuti detak jantungnya saat bertarung tadi. .Genta membuka sedikit kaca mobil, membiarkan angin pagi Sidoarjo menerpa wajahnya yang masih kusam terkena debu gunung.
.Di kejauhan, gedung-gedung tinggi Surabaya mulai terlihat, menyambut kepulangan sang Penjaga Sarung yang telah berhasil meredam badai di Penanggungan. .Namun, di sebuah ruangan gelap di pusat kota, seseorang sedang mematikan layar monitor yang menampilkan rekaman pertempuran Genta dan Ki Suro.
."Menarik... ternyata pewaris Arjuna sudah bangun dari tidurnya," ucap sosok misterius itu sambil menyesap kopi hitamnya yang pekat. ."Ki Suro memang lemah, tapi setidaknya dia sudah memancing Genta untuk mengeluarkan kakuatan aslinya. Sekarang, giliran 'Sembilan Naga' yang akan bergerak."
.Sosok itu tertawa kecil, suaranya sangat dingin hingga membuat suhu di ruangan ber-AC itu terasa membeku. .Ia melempar sebuah foto Genta ke dalam mesin penghancur kertas, pertanda bahwa perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
.Genta yang sedang berada di dalam mobil tiba-tiba merinding hebat, ia merasa ada ribuan pasang mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan. .Ia merapatkan lilitan sarung hitamnya, bersiap untuk segala kemungkinan pahit yang akan terjadi saat mereka sampai di rumah nanti.
."Sudah sampai, Mas Genta! Warung Pecel Tumpang Sidoarjo!" teriak sopir dengan semangat, memecah ketegangan yang menyelimuti hati Genta. .Genta tertawa lebar, ia sadar bahwa seberat apa pun tugasnya, perut yang lapar harus tetap diisi agar pikirannya tetap waras.
."Ayo Mbak Bos, Joni! Kita makan dulu sampai kenyang, biar besok kalau ada naga datang, kita sudah punya tenaga buat bikin naga bakar!" ajak Genta dengan gaya kocaknya yang kembali muncul. .Suasana haru dan tegang itu pun berganti dengan tawa renyah, menutup babak pertempuran di Gunung Penanggungan dengan perut yang siap dimanjakan.
.Genta hanya nyengir dan memberi salam kepada para pendaki itu seolah tidak terjadi perang besar di atas sana tadi malam. ."Mari, Mas... Mari, Mbak... Habis senam pagi bareng kakek saya ini," ucap Genta dengan nada santai yang bikin Joni geleng-geleng kepala.
.Sesampainya di kaki gunung, mobil-mobil mewah Wijaya Group sudah berbaris rapi menunggu kepulangan sang jagoan Surabaya. .Clarissa tampak berdiri gelisah di samping mobilnya, wajahnya yang cantik terlihat sangat cemas sampai tidak sadar air matanya menetes.
.Begitu melihat Genta muncul dari semak-semak dengan sarung yang kotor terkena debu gunung, Clarissa langsung berlari dan memeluk Genta sangat erat. ."Genta! Kamu bodoh ya! Kenapa nekat naik sendirian tanpa bilang-bilang aku?" teriak Clarissa sambil memukul pelan pundak Genta.
.Genta hanya tertawa kecil, ia membiarkan bosnya itu meluapkan rasa khawatirnya sejenak sebelum melepaskan pelukan itu dengan lembut. ."Tenang Mbak Bos, Genta Arjuna itu nyawanya ada sembilan, satu hilang di gunung, masih sisa delapan buat nemenin kamu di kantor," canda Genta.
.Clarissa cemberut mendengarnya, namun matanya memancarkan rasa lega yang luar biasa saat melihat Abah Mansur sudah aman di dalam ambulans. .Matahari kini sudah naik sepenuhnya, menyinari kota Surabaya di kejauhan yang perlahan mulai sibuk dengan aktivitas paginya.
.Genta masuk ke dalam mobil, menyandarkan kepalanya di jok empuk yang sudah lama tidak ia rasakan selama pendakian maut itu. .Ia memegang sarung hitamnya erat-erat, tahu bahwa mulai detik ini, hidupnya bukan lagi soal menjaga kantor, tapi menjaga warisan leluhur yang sangat berat.
."Mas Joni, mampir ke warung nasi pecel paling enak di Sidoarjo ya, aku lapar banget rasanya mau pingsan," pinta Genta dengan suara lemas. .Joni tertawa keras sambil menginjak gas mobilnya menuju jalan raya. ."Siap Mas Direktur! Pecel tumpang tiga porsi buat jagoan kita hari ini!"
.Mobil pun melaju kencang meninggalkan lereng Penanggungan, membawa pulang sang legenda baru yang akan terus menjaga Surabaya dengan kekuatan donga dan sabetan sarungnya.
.Tiba-tiba, dari arah balik bebatuan candi tua, muncul beberapa bayangan hitam yang bergerak sangat cepat. .Genta segera memasang posisi siaga, ia mengira itu adalah sisa-sisa pasukan Surban Merah yang ingin membalas dendam.
.Namun, begitu sosok-sosok itu mendekat ke cahaya bulan, Genta menurunkan kewaspadaannya dan justru mengernyitkan dahi. .Ternyata mereka adalah tim keamanan dari Wijaya Group yang dipimpin langsung oleh Joni, lengkap dengan senter dan jaket antipeluru.
."Mas Genta! Mas Genta baik-baik saja?" teriak Joni sambil terengah-engah karena baru saja mendaki jalur terjal Puncak Penanggungan. .Joni berhenti mendadak saat melihat Ki Suro yang sudah tergeletak tak berdaya dan pemandangan batu-batu yang hancur berantakan.
.
"Mas Genta, ini beneran ulah sampeyan? Sampeyan habis duel atau habis ngebom gunung ini?" tanya Joni dengan mata melotot tidak percaya. .Pasukan keamanan yang lain hanya bisa melongo melihat bos mereka berdiri santai di tengah medan pertempuran yang hancur lebur.
.Genta kembali ke mode aslinya, ia menyengir lebar sambil membetulkan letak sarungnya yang agak melorot. ."Halah, Jon, tadi itu cuma latihan peregangan otot sedikit, kebetulan Pak Suro ini mau jadi partner latihan yang agak keras," jawab Genta enteng.
.Genta segera berlari menuju tempat Abah Mansur yang masih terikat lemas di sudut kuil. .Dengan hati-hati, Genta memutus sisa-sisa energi jahat yang mengikat tubuh sang guru menggunakan ujung sarung hitamnya.
."Bah, bangun Bah... ayo pulang, Mbak Bos sudah nunggu di rumah, mungkin sudah masak rawon enak buat kita," bisik Genta sambil memangku kepala Abah Mansur. .Abah Mansur perlahan membuka matanya, tersenyum lemah melihat murid kesayangannya itu berhasil melewati ujian terberatnya.
."Genta... kamu sudah menemukan lubangnya... Lontong Bolong itu bukan soal makanan, tapi soal keikhlasan hati," ucap Abah Mansur dengan suara yang sangat pelan namun penuh makna. .Genta hanya mengangguk-angguk, meskipun dalam hati ia masih sedikit lapar dan benar-benar ingin makan lontong beneran.
.Joni dan tim segera membantu membopong Abah Mansur untuk dibawa turun dari puncak gunung menggunakan tandu darurat. .Genta melirik sekali lagi ke arah Ki Suro yang sedang diamankan oleh tim keamanannya untuk diserahkan ke pihak yang berwajib.
.Matahari pagi mulai muncul dari ufuk timur, menyinari Puncak Penanggungan dengan cahaya keemasan yang indah. .Genta tahu, kemenangannya hari ini baru satu bab dari ribuan bab panjang yang harus ia lalui sebagai sang Penjaga Sarung yang legendaris.
.Genta mendarat dengan tenang, namun Ki Suro malah terpental mundur tiga langkah karena kekuatan sarung hitam yang ternyata sangat luar biasa. "Lho, ternyata sarung ini bukan sembarang kain, Ki! Ini kain sakti yang bisa membuatmu jadi lemper!" ujar Genta sambil menyeringai nakal.
.Ki Suro semakin marah, ia menancapkan kerisnya ke tanah lalu merapal mantra yang membuat bumi Penanggungan bergetar hebat. Tiba-tiba saja, muncul raksasa-raksasa dari debu dan batu yang hendak mengeroyok Genta satu per satu.
.Genta tidak panik, ia malah duduk bersila sejenak lalu memutar sarung hitam di atas kepalanya seperti baling-baling helikopter. "Jurus Lontong Berputar! Rasakan kalian semua!" teriak Genta dengan suara yang sangat mantap.
.Angin puyuh dadakan muncul dari putaran sarung Genta, membuat raksasa-raksasa batu itu hancur menjadi debu kembali sebelum sempat menyentuh tubuh Genta. Ki Suro yang melihat ilmunya dipatahkan langsung melompat hendak menusuk Genta dari belakang dengan licik.
.Namun Genta lebih waspada, ia menangkap keris Ki Suro hanya dengan jepitan jari yang sudah dilapisi kain sarungnya. Ki Suro terbelalak, ia tidak menyangka bahwa kekuatan Genta sudah meningkat sangat pesat karena bimbingan rahasia Abah Mansur.
."Cukup sampai di sini main apinya, Ki! Sekarang gantian aku yang membuatmu kedinginan!" ujar Genta sambil mengeluarkan sabetan maut yang mengenai pundak Ki Suro.
.Ki Suro menjerit kepanasan, meski sabetan sarung Genta terasa dingin, namun di kulit Ki Suro rasanya seperti disiram air raksa yang merusak seluruh ilmunya. Keris merah milik Ki Suro pecah menjadi beberapa bagian, pertanda bahwa ilmunya telah kalah total.
.Genta mengakhiri duel itu dengan satu tendangan yang membuat Ki Suro melayang lalu ambruk di bawah pohon beringin tua. Puncak Penanggungan kembali sunyi, hanya suara napas Genta yang kembang kempis menahan kekuatan sarungnya yang memang sangat mengerikan.