Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Pagi pertama sebagai suami istri seharusnya dipenuhi dengan tawa malu-malu di meja makan, namun bagi Zavier, dunia seolah sedang berputar di luar kendalinya. Di ruang makan ndalem yang megah, aroma nasi uduk dan sambal goreng hati yang disiapkan Umi Hannah biasanya akan membangkitkan selera makannya. Tapi pagi ini, Zavier hanya menatap piringnya dengan pandangan kosong.
Wajahnya pucat pasi, kontras dengan baju koko abu-abu yang ia kenakan. Keringat dingin sebesar biji jagung terus merembes dari pelipisnya.
"Sayang... kalau sudah selesai makan, kita kembali ke kamar ya?" bisik Zavier pelan pada Zaheera yang duduk di sampingnya. Suaranya terdengar sangat parau, seolah tenaganya telah terkuras habis hanya untuk duduk tegak.
Gus Azlan, yang sedari tadi memperhatikan dengan mata elangnya, meletakkan sendoknya. "Kenapa tidak ke dokter saja, Zavier? Wajahmu sudah seperti kertas. Jangan dipaksakan kalau memang sakit."
Zavier mencoba memaksakan senyum tipis, meski bibirnya tampak membiru. "Tidak, Mas... Sepertinya saya hanya butuh tidur sebentar. Tadi malam mungkin terlalu banyak dzikir dan kurang istirahat."
Umi Hannah menatap putra bungsunya dengan penuh kekhawatiran. "Antar suamimu ke kamar, Zaheera. Biar Umi buatkan teh hangat dan kompres untuk Zavier. Jangan dibiarkan sendiri dulu."
Zaheera segera bangkit, merangkul lengan Zavier yang terasa sangat panas namun gemetar. Saat mereka mencoba melangkah menuju tangga yang menuju lantai dua, bencana kecil itu terjadi. Baru dua anak tangga dilewati, lutut Zavier lemas. Tubuhnya limbung ke arah belakang, hampir saja ia terjatuh jika tidak segera berpegangan pada pembatas tangga.
"Mas! Astagfirullah!" Zaheera memekik, wajahnya seketika pucat karena panik. Air matanya langsung luruh. "Mas, ayo ke dokter saja ya? Aku mohon... kamu panas sekali, Mas."
Zavier memejamkan mata erat-erat. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada ribuan jarum yang menusuk sarafnya. Ia menoleh perlahan, menatap mata istrinya yang kini sudah basah oleh tangis. Di tengah rasa sakitnya, ia masih sempat meraih tangan Zaheera.
"Hey, Sayang... kenapa menangis?" bisik Zavier lemah, mencoba mengusap pipi Zaheera. "Kumohon jangan menangis di hari pertamamu menjadi istriku. Mas tidak apa-apa, hanya sedikit pusing."
Azlan yang melihat adiknya benar-benar sudah tidak berdaya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia memapah tubuh Zavier yang berat. "Sudah, jangan membantah lagi. Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu sungguh pucat, Zavier. Jangan membuat semua orang jantungan."
Setelah perjalanan singkat yang mencekam menuju rumah sakit terdekat, Zavier langsung dilarikan ke ruang pemeriksaan. Tak lama kemudian, dokter memutuskan agar Zavier harus menjalani rawat inap atau opname. Diagnosanya singkat: kelelahan hebat dan kekurangan darah (anemia akut) yang diperparah dengan dehidrasi.
Kini, di ruang perawatan yang serba putih, Zavier terbaring lemah dengan jarum infus yang menancap di punggung tangannya. Ia menutup mata karena mungkin pengaruh obat. Zaheera duduk di samping ranjang, menatap wajah suaminya yang tampak sangat rapuh.
Bertahun-tahun bersama Zavier di Kota A, baru kali ini Zaheera melihat pria itu benar-benar tumbang. Dulu, Zavier adalah sosok yang seolah tak tertembus penyakit. Jika ia mulai merasa tidak enak badan di apartemen, Zavier selalu punya "obat" sendiri. Ia akan menarik Zaheera ke dalam pelukannya, menghabiskan malam dalam penyatuan yang panas, dan ajaibnya, esok paginya Zavier akan bangun dengan tubuh yang segar bugar, fit, dan penuh semangat kembali.
“Ya Allah... pikiran gila apa ini? Kenapa aku harus memikirkan hal seperti itu di saat suamiku sedang diinfus seperti ini?” batin Zaheera merutuki dirinya sendiri. Wajahnya seketika memerah padam karena malu pada pikirannya sendiri.
Tiba-tiba, mata Zavier terbuka sedikit. Ia melihat istrinya yang sedang menunduk dengan wajah yang sangat merah. Zavier tahu betul ekspresi itu. Meski badannya lemas, instingnya sebagai pria yang paling mengenal Zaheera tetap tajam.
"Hey... Sayang... apa yang sedang kamu pikirkan, Hm?" tanya Zavier dengan suara yang sangat pelan, namun ada nada godaan di sana.
Zaheera tersentak. Ia segera mengangkat wajahnya dan berusaha tersenyum sebisa mungkin, meski jantungnya berdegup kencang. "Nggak... nggak mikir apa-apa, Mas. Cuma kepikiran kapan infusnya habis."
Zavier terkekeh lemah, lalu pandangannya beralih ke sudut ruangan di mana Gus Azlan sedang berdiri tegak sambil membaca sebuah pesan di ponselnya. Tatapan Azlan yang tajam seolah bisa menembus dinding, membuat Zaheera segera merapikan duduknya dan memperbaiki letak jilbabnya.
"Jangan malu... Mas tahu apa yang ada di kepalamu," bisik Zavier lagi, lalu kembali memejamkan mata dengan senyum tipis yang penuh kemenangan.
Zaheera hanya bisa terdiam, antara ingin tertawa karena sifat asli suaminya yang tak hilang meski sedang sakit, dan rasa takut jika Gus Azlan menyadari ada "komunikasi rahasia" yang sedang berlangsung di depan matanya.
Di ruang putih itu, Zaheera menyadari bahwa meski raga Zavier sedang melemah, ikatan batin mereka yang dibangun dari sejarah panjang di kota A tetaplah kuat—sebuah sejarah yang kini perlahan mereka basuh dengan doa-doa di rumah sakit pesantren ini.