NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selesai

“Baru pulang kamu?”

Liora menghentikan langkahnya lalu menoleh ke samping. Xavero menatapnya dengan tajam.

“Iya. Masalah buat kamu?” balas Liora dengan sinis.

Xavero melangkah maju satu langkah.

“Puas jalan sama Arga Wijaya?” ucapnya dengan nada sangat dingin.

“Oh, kamu lihat aku?” ucap Liora tanpa rasa bersalah. “Puas? Tentu saja. Dia bisa memberi aku kebahagiaan tanpa aku minta.”

“Sampai kamu merendahkan dirimu seperti itu?” Xavero tersenyum miring.

“Apa maksud kamu?”

Xavero berdecih pelan. “Aku sudah lihat semuanya, Liora,” ucapnya dingin. “Selama ini aku diam, direndahkan keluargamu, dihina, dipermalukan, aku tetap sabar. Tapi melihat kamu seperti itu dengan laki-laki lain, aku sudah tidak bisa toleransi.”

Xavero maju satu langkah lagi, menatap Liora dengan dingin. “Apa yang seharusnya menjadi batas dalam pernikahan, kamu langgar begitu saja…”

"Tubuh yang seharusnya milik suamimu, justru kamu berikan pada pria lain yang bukan siapa-siapa dalam pernikahan ini..."

Xavero berhenti sejenak, menahan napasnya yang mulai tidak stabil.

Liora menatapnya lama, lalu tersenyum miring.

“Suami?” ulangnya pelan, seperti sedang mengolok. “Kamu masih merasa itu posisi kamu?”

Xavero terdiam.

Liora melangkah lebih dekat, jaraknya kini hanya beberapa langkah saja.

“Xavero,” suaranya lebih tenang, tapi justru lebih menusuk. “Kamu itu bukan siapa-siapa di hidup aku.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Xavero mengangkat kepalanya perlahan, menatap Liora tanpa berkedip.

“Bukan siapa-siapa?” ulangnya pelan.

Liora mengangguk santai. “Ingat! Kita cuma menikah hanya karena terpaksa—demi menjaga nama baik Mahendra agar tidak tercoreng karena warga sialan itu."

Hening.

Udara di sekitar mereka terasa dingin.

Xavero tersenyum kecil, tapi kali ini bukan sinis, lebih ke lelah.

“Baiklah… mungkin sudah saatnya,” ucap Xavero pelan.

Xavero menatap dalam-dalam ke arah Liora. “Kamu ingin bebas, kan?”

“Kita selesai.”

Deg!

Senyum miring di wajah Liora langsung perlahan menghilang.

“Apa?” suaranya turun satu nada, kali ini tidak setenang tadi.

Xavero tetap menatapnya, tidak berkedip. Tidak ada emosi yang tersisa di wajahnya, hanya kosong yang terlalu tenang.

“Aku bilang… kita selesai," ulangnya pelan, namun tegas.

Beberapa detik hening.

Liora tertawa kecil, tapi terdengar dipaksakan. “Kamu serius?”

Xavero tidak menjawab.

“Xavero,” Liora melangkah mendekat, kali ini nadanya mulai naik. “Kamu pikir kamu siapa sampai berani bilang seperti itu ke aku?”

Xavero mengangkat bahu sedikit. “Tadi kamu sendiri yang bilang aku bukan siapa-siapa.”

Kalimat itu membuat Liora tercekat sesaat.

Liora mengatupkan rahangnya.

“Jangan main-main,” ucapnya tajam. “Kamu gak akan bisa hidup tanpa aku dan keluarga aku.”

Xavero tersenyum miring, menatap Liora dengan sinis. “Di luar rumah ini, aku tetap punya hidup.”

“Hari yang kamu dan keluargamu inginkan sudah tercapai. Aku akan meninggalkan keluarga Mahendra. Mulai sekarang, kamu bebas, begitu juga aku.”

Xavero melangkah ke meja, lalu mengambil sebuah map tipis dan menyerahkannya kepada Liora. “Aku sudah mengurus perceraian kita. Kamu tidak perlu repot lagi.”

Liora menatap berkas itu dengan mata yang perlahan berubah tajam.

Tangannya tidak langsung mengambilnya.

“Kamu serius,” ucapnya pelan, lebih seperti memastikan daripada bertanya.

Xavero berdiri diam, masih memegang map itu di depan Liora. “Aku tidak pernah lebih serius dari ini.”

Liora akhirnya meraih berkas itu, lalu membukanya sekilas. Matanya bergerak cepat membaca isi di dalamnya.

“Perceraian…” gumamnya pelan.

Lalu ia tertawa kecil, bukan tawa bahagia.

Lebih seperti tidak percaya.

“Baiklah kalau itu maumu,” ucap Liora dengan senyum puas. “Aku juga sudah capek dengan pernikahan terpaksa ini.”

Liora menatap Xavero cukup lama, lalu perlahan menyunggingkan senyum tipis yang sulit ditebak maknanya.

“Jangan menyesal, Xavero.”

Xavero membalas tanpa ragu, suaranya tenang namun tegas. “Aku sudah berhenti menyesal sejak malam ini.”

Liora menatap Xavero beberapa detik, lalu menghela napas pelan seperti benar-benar sudah lelah dengan percakapan itu.

“Syukur, deh,” ucapnya santai. “Kalau memang itu keputusan kamu.”

Tidak ada getaran. Tidak ada ragu.

Seolah perceraian itu hanya urusan kecil yang tinggal ditandatangani.

Ia merapikan map di tangannya, lalu berbalik melangkah pergi.

Seakan Xavero benar-benar sudah tidak punya tempat lagi di hidupnya.

Tanpa rasa bersalah.

Tanpa sedikit pun penyesalan.

Xavero melihat itu semua.

Cara Liora pergi.

Cara Liora bahkan tidak menoleh sedikit pun.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar yakin, bukan hanya pernikahan ini yang selesai, tapi juga perasaannya yang selama ini masih bertahan diam-diam.

Ia menarik napas panjang, lalu berbalik pelan ke arah lain.

“Mulai sekarang…” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri.

“Aku bukan bagian dari hidup kamu lagi.”

Xavero mulai mengemasi barang-barangnya. Ia menatap kamar itu, tempat yang selama dua bulan terakhir menjadi saksi bagaimana ia terus disalahkan dan direndahkan oleh Liora.

“Mungkin ini memang takdirku,” gumamnya pelan.

Setelah selesai, ia membawa barang-barangnya dan meninggalkan kamar.

“Mau ke mana kamu?”

Langkah Xavero terhenti. Ia menoleh, melihat Ardian menghampirinya.

“Saya mau pergi, Kak.”

Ardian mengerutkan kening. “Pergi?”

Xavero mengangguk pelan. “Iya, Kak. Saya akan meninggalkan rumah ini.”

Ardian terdiam sesaat, lalu tertawa kecil, rendah, tapi penuh nada meremehkan.

“Pergi?” ulangnya, seolah kata itu lucu.

Ia melangkah mendekat, menatap Xavero dari atas ke bawah.

“Akhirnya kamu sadar posisi, Xavero.”

Xavero tidak bereaksi.

Ardian menyeringai tipis. “Tempat kamu memang bukan di sini. Kamu ada di keluarga Mahendra hanya keterpaksaan,” ucapnya penuh tekanan.

Xavero menatap dalam ke arah Ardian. “Aku tahu itu.”

Ardian terdiam sejenak.

Xavero melanjutkan, suaranya lebih rendah namun tegas. “Karena saya sudah terlalu lama tinggal di tempat yang sejak awal memang tidak menginginkan saya.”

“Bagus, sadar diri itu penting.”

Layla baru saja datang dari arah lain dan mendengar percakapan itu. Matanya langsung tertuju pada Xavero yang sudah membawa koper.

“Jangan ditahan, Sayang. Biarkan dia pergi. Adikku butuh laki-laki yang selevel dengannya,” ucap Layla dengan nada sinis.

Ardian sempat melirik Layla, lalu kembali menatap Xavero dengan senyum miring yang semakin jelas.

“Dengar itu?” ucapnya pelan, tapi menusuk. “Bahkan keluarga sendiri sudah tahu tempat kamu di mana.”

Layla melipat tangan di dada, menatap Xavero dari ujung kepala sampai kaki dengan ekspresi meremehkan.

“Di sini memang tidak pernah ada tempat untuk kamu, Xavero. Kalau mau pergi, silakan. Pintu sudah terbuka lebar.”

Xavero diam.

Tidak ada bantahan.

Tidak ada emosi yang terlihat di wajahnya.

Hanya tenang, terlalu tenang.

Ardian mendekat satu langkah lagi, suaranya menekan.

“Liora itu terlalu tinggi untuk kamu kejar. Dan kamu…” ia menatap Xavero tajam, “bahkan tidak layak berdiri di sampingnya dari awal.”

Xavero menatap Ardian, lalu Layla.

Satu per satu.

Seolah mengingat semua wajah yang sejak awal memang tidak pernah memberinya tempat.

Lalu ia menghela napas pelan.

“Kalau begitu…” ucapnya lirih.

Ardian mengangkat alis.

Xavero menarik koper sedikit.

“Saya tidak akan mengganggu kalian lagi.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi terdengar seperti akhir dari sesuatu yang panjang.

Layla tersenyum puas. “Bagus. Cepat sadar diri juga akhirnya.”

Ardian menambahkan dingin, “Jangan kembali lagi.”

Xavero tidak menjawab.

Ia hanya mengangguk kecil.

Satu kali.

Cukup.

Lalu ia berbalik.

Melangkah menuju pintu utama.

Koper itu mengikuti langkahnya, menggesek lantai dengan suara pelan yang terdengar jelas di rumah yang mendadak terasa terlalu besar dan terlalu kosong.

Layla masih berdiri di tempatnya.

Ardian masih menatap dari belakang.

Tapi tidak ada satu pun yang memanggilnya kembali.

Saat pintu terbuka, cahaya luar masuk.

Dan Xavero berhenti sejenak di ambang pintu.

Bukan untuk ragu, tapi untuk memastikan bahwa ini memang benar-benar akhir.

Lalu ia melangkah keluar.

Tanpa menoleh lagi.

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!