LIMA TAHUN IA DI INJAK-INJAK. SATU MALAM IA MEREBUT SEGALANYA.
Rizky Santoso adalah aib. sampah. suami tak berguna yang ditakdirkan untuk hidup di dapur, di bawah kaki istrinya yang kaya raya,
Adelia. selama 5 tahun, hinaan adalah sarapannya dan pengkhianatan adalah makan malamnya.
Ketika Adelia mencampakkannya demi seorang selingkuhan, ia pikir hidup Rizky telah berakhir.
DIA SALAH BESAR.
Di malam tergelapnya, takdir datang menjemput. Dua sosok misterius berjas hitam membawakan sebuah kebenaran yang mengguncang kota: pria yang ia buang adalah PUTRA MAHKOTA dari kerajaan bisnis yang paling berkuasa.
kini, Rizky kembali. Bukan lagi sebagai suami yang tunduk, tapi sebagai raja yang dingin dan tak tersentuh. ia akan duduk di singgasana kekuasaannya dan menyaksikan mereka yang pernah menghinanya...
bertekuk lutut.
Penyesalan Adelia tidak akan ada artinya. Karena dalam permainan takdir ini, sang pewaris telah kembali untuk mengambil apa yang jadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JAYDEN AHMAD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: JEMPUTAN DI TENGAH BADAI
Permainan baru saja akan dimulai.
Kata-kata itu tidak terucap, melainkan bergemuruh di dalam jiwa Rizky yang kosong. Ia tidak tahu permainan apa, atau siapa pemainnya. Yang ia tahu hanyalah papan catur kehidupannya yang lama telah dibalik, dan semua bidaknya—raja, ratu, dan pion kesabarannya—telah tersapu bersih.
Hujan turun dengan brutal, seolah ingin menghapus jejak kakinya dari muka bumi ini.
Setiap tetes air yang menghantam wajahnya terasa seperti tamparan, membangunkannya dari mimpi buruk lima tahun yang baru saja berakhir. Ia berjalan tanpa arah, kakinya melangkah secara otomatis di atas trotoar yang tergenang air, melewati ruko-ruko yang tertidur lelap di balik pintu besinya.
Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya buram di aspal yang basah, menciptakan dunia yang kabur dan menyedihkan, persis seperti masa depannya.
Rasa sakit akibat pengkhianatan Adelia sudah melewati puncaknya. Kini yang tersisa hanyalah kekosongan yang hampa, sebuah lubang hitam di dadanya yang menelan semua emosi. Ia tidak marah, tidak sedih. Ia hanya.. kosong. Ia merasa seperti cangkang kosong yang terombang-ambing di lautan badai.
Lima tahun hidupnya ia persembahkan untuk sebuah ilusi. Ia menjadi koki, pelayan, dan manajer rumah tangga tanpa bayaran untuk seorang wanita yang melihatnya tidak lebih dari seonggok sampah yang memalukan. Ia menelan setiap hinaan, memungut setiap serpihan harga dirinya, berharap kesabarannya akan meluluhkan hati Adelia. Betapa bodohnya dia. Adelia tidak punya hati untuk diluluhkan. Hatinya terbuat dari es dan ambisi.
Tawa kemenangan Adelia dan senyum licik Bramantyo berkelebat di benaknya, seperti adegan film rusak yang terus berulang.
Mereka pasti sedang merayakan kebebasan mereka sekarang, di atas ranjang yang
seharusnya jadi tempat sucinya bareng
sang istri. Pikiran itu ga ada rasa sakitnya lagi, cuma terasa… memuakkan.
Kayak makan makanan basi yang udah ada ulatnya.
Badannya mulai menggigil parah, bukan
cuma karena dingin, tapi energi nya udah
habis karena guncangan emosional.
Dia berhenti bawah kanopi sebuah toko
kelontong yang udah tutup, nyari perlindungan yang sia-sia dari amukan langit.
Di situ, dia jatuh ke lantai yang dingin dan basah, peluk lututnya sendiri, nyoba cari
kehangatan yang mustahil dapat. Ini tuh
titik terendahnya. Seorang pria tanpa nama,
tanpa rumah, tanpa tujuan, basah kuyup
di sudut jalanan yang terlupakan. Ironisnya.
Beberapa jam yang lalu dia masih tinggal di
sebuah istana. Sekarang, bahkan anjing liar
pun punya tempat berteduh yang lebih baik dari dia.
Di tengah lamunannya yang kosong, sebuah cahaya terang menyorotnya, memaksa Rizky menyipitkan mata. Sebuah mobil sedan hitam yang panjang dan mewah—sebuah Rolls-Royce Phantom—berhenti tepat di depannya. Mobil itu bergerak nyaris tanpa suara, kehadirannya di lingkungan kumuh itu sama janggalnya seperti kehadiran seekor naga di tengah pasar. Mesinnya bahkan tidak terdengar, hanya desingan halus yang menandakan kekuatan besar yang tertidur di baliknya.
Pintu belakang terbuka. Dua orang pria tegap berjas hitam legam melangkah keluar, dilindungi oleh sebuah payung besar yang dipegang oleh salah satunya. Gerakan mereka efisien dan penuh perhitungan.
Sepatu pantofel mereka yang mengkilap bahkan tidak tersentuh genangan air saat mereka melangkah mendekati Rizky. Mereka seperti bayangan yang keluar dari film aksi, kontras yang begitu tajam dengan sosok Rizky yang menyedihkan.
Rizky menatap mereka dengan waspada.
Debt collector? Suruhan Adelia untuk memberinya pelajaran terakhir? Atau mungkin perampok yang salah sasaran?
Pria yang lebih tua, dengan wajah tegas dan rambut beruban di pelipisnya, berhenti tepat di hadapannya.
Tatapannya tajam namun tidak mengancam. Ia membungkuk sedikit, sebuah gestur hormat yang terasa sangat tidak pada tempatnya, seolah seorang jenderal memberi hormat pada seorang pengemis.
"Tuan Muda Rizky Santoso?" tanyanya. Suaranya berat dan penuh wibawa, membelah suara derasnya hujan.
Rizky terdiam. Tuan Muda? Ia hampir tertawa. Pria ini pasti sudah gila. "Anda salah orang," jawab Rizky serak, suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh badai.
"Kami tidak mungkin salah, Tuan Muda, sahut pria yang lebih muda, yang berdiri sedikit di belakang dengan postur siaga.
"Kami sudah mengawasi Anda selama lima tahun terakhir.
Jantung Rizky berdebar kencang.
Diawasi? Selama lima tahun? "Siapa kalian?" tuntutnya, mencoba bangkit meski kakinya terasa lemas dan gemetar.
Pria yang lebih tua itu memberikan isyarat.
Perkenalkan, saya Haryo, kepala keamanan dari Hadiningrat Group. Mohon izinkan kami mengantar Anda ke tempat yang lebih hangat. Ada hal penting yang harus kami sampaikan.
Hadiningrat Group. Nama itu menggema di kepala Rizky. Perusahaan konglomerat terbesar di negeri ini. Pemiliknya, Suryo Hadiningrat, adalah sosok legendaris yang wajahnya sesekali muncul di majalah bisnis.
Apa urusan mereka dengannya, seorang pria yang baru saja menjadi gelandangan?
Tanpa menunggu persetujuan Rizky, kedua pria itu dengan sigap namun sopan membantunya berdiri dan memapahnya masuk ke dalam mobil.
Rizky terlalu lemah untuk melawan. Begitu pintu ditutup, suara hujan dan hiruk pikuk dunia luar lenyap seketika, digantikan oleh keheningan yang mewah. Interior mobil itu beraroma kulit asli dan kayu mahal. Kehangatan dari penghangat ruangan mulai menjalar ke tubuhnya yang membeku.
Haryo duduk di hadapannya. "Kami diperintahkan untuk menjemput Anda. Tuan Besar sudah menunggu.
"Tuan Besar siapa?" tanya Rizky, masih diliputi kebingungan dan kecurigaan.
Haryo menatap lurus ke mata Rizky, tatapannya menusuk, seolah bisa melihat ke dalam jiwa Rizky yang porak-poranda. "Tuan Besar Suryo Hadiningrat... adalah ayah kandung Anda.
Waktu seolah berhenti. Udara di dalam mobil yang hangat mendadak terasa tipis.
Rizky menatap Haryo, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan, tapi yang ia temukan hanyalah keseriusan yang tak tergoyahkan. Lalu, tawa pecah dari bibirnya.
Tawa yang kering, pahit, dan penuh keputusasaan. Tawa orang gila yang sudah kehilangan segalanya.
"Ayah? Ayah saya seorang petani miskin yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu, kata Rizky di sela tawanya.
"Ini lelucon macam apa lagi? Apakah Adelia yang menyuruh kalian untuk mempermainkan saya sampai sejauh ini? Dia memang sekaya itu, tapi aku tidak tahu dia setega ini.
"Ini bukan lelucon, Tuan Muda, kata-kata Haryo tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh ledakan emosi Rizky.
Ia membuka sebuah tablet dari dalam jasnya, lalu menunjukkannya pada Rizky. Di layar, terpampang sebuah akta kelahiran dengan nama 'Rizky Hadiningrat'. Nama ayah: Suryo Hadiningrat. Nama ibu: Anjani, nama almarhumah ibunya. Di bawahnya, ada foto-foto Rizky saat masih bayi, digendong oleh seorang pria muda yang gagah—Suryo Hadiningrat di masa mudanya—dan ibunya yang tersenyum bahagia.
Tawa Rizky berhenti seketika.
Matanya terpaku pada foto-foto itu.
Foto-foto yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Ia mengenali senyum ibunya, senyum tulus yang sudah lama ia rindukan.
Kemarahan yang dingin mulai merayap, menggantikan kekosongan di hatinya.
"Jika ini benar.. jika dia memang ayahku.. di mana dia selama dua puluh lima tahun ini, desis Rizky.
"Di mana dia saat ibuku sakit keras dan kami tidak punya uang untuk berobat? Di mana dia saat aku harus putus sekolah untuk bekerja di sawah.
DI MANA DIA SAAT AKU HIDUP SEPERTI ANJING SELAMA LIMA TAHUN INI?
Suaranya meninggi, penuh dengan rasa sakit dari masa lalu yang kembali merobek-robek jiwanya.
Haryo tidak gentar. "Tuan Besar tidak pernah berhenti mencari Anda. Setelah ibu Anda membawa Anda pergi karena sebuah kesalahpahaman besar, beliau kehilangan jejak.
Baru lima tahun yang lalu kami berhasil menemukan Anda, tepat saat Anda akan menikah.
Tuan Besar menghormati pilihan hidup Anda dan tidak ingin mengganggu. Beliau hanya memerintahkan kami untuk mengawasi dari jauh. Beliau tahu setiap hinaan yang Anda terima, setiap air mata yang Anda sembunyikan.
Tapi malam ini.. beliau melihat Anda berjalan keluar dari rumah itu tanpa membawa apa pun. Beliau berkata, 'Cukup. Bawa putraku pulang.
Putraku. Pulang.
Dua kata itu menghantam Rizky seperti badai. Jadi, selama ini ia tidak sendirian. Ada yang mengawasinya. Ada yang peduli. Seorang ayah. Ayah yang sangat kaya dan berkuasa. Ayah yang membiarkannya menderita? Atau ayah yang memberinya kesempatan untuk memilih jalannya sendiri?
Rizky bersandar di kursi kulit yang empuk itu. Kepalanya pusing. Semua ini terlalu sulit untuk diterima. Tapi di tengah kekacauan itu, sebuah pikiran yang jernih dan tajam muncul. Sebuah pilihan.
Ia bisa saja menolak semua ini, menganggapnya angin lalu, dan kembali menjadi gelandangan yang patah hati. Mati perlahan di jalanan karena kedinginan dan patah hati.
Atau...
Ia bisa mengambilnya. Mengambil takdir yang dilemparkan ke hadapannya. Mengambil nama 'Hadiningrat'. Mengambil kekuasaan yang datang bersamanya. Ia menatap pantulan wajahnya di jendela mobil yang gelap. Wajah seorang pria yang lelah dan hancur. Tapi di sorot matanya, ada api kecil yang baru saja tersulut. Api yang diberi bahan bakar oleh lima tahun penghinaan dan satu malam pengkhianatan.
Ia teringat wajah sombong Adelia saat mendorong mangkuk supnya. Ia teringat senyum licik Bramantyo di pesan singkat itu.
Tidak. Ia tidak akan membiarkan mereka menang. Ia tidak akan membiarkan mereka mengingatnya sebagai pecundang yang menyedihkan. Mereka akan mengingat namanya, tapi mereka akan mengucapkannya dengan rasa takut dan penyesalan.
Rizky menegakkan tubuhnya. Tatapannya berubah. Kekosongan itu telah terisi. Bukan dengan kesedihan, tapi dengan determinasi yang sedingin baja.
"Bawa aku menemuinya, kata Rizky pada Haryo. Suaranya tidak lagi serak, melainkan tegas dan mantap. "Bawa aku pada... ayahku.
Haryo mengangguk, senyum tipis yang nyaris tak terlihat tersungging di bibirnya. Ia menekan sebuah tombol interkom. "Kita menuju ke kediaman utama.
Rolls-Royce itu melaju dengan mulus, membelah malam dan hujan, membawa Rizky menjauh dari masa lalunya yang kelam, menuju sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan. Malam itu, Rizky Santoso telah mati. Dan dari abunya, Rizky Hadiningrat telah lahir. Permainan memang baru saja dimulai, dan sekarang, ia memegang bidak-bidak yang baru.
"jangan lupa share, like, dan komen, maaf kalo ada alur yang berantakan komen aja di kolom komentar ini yahh☺️🙏♥️