NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:504
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Sinmi

Pintu kamar akhirnya tertutup rapat. Keheningan yang ditinggalkan oleh perdebatan panas antara Cyprian dan Lysander terasa lebih mencekik daripada badai sihir semalam. Sybilla (Elysianne) merebahkan tubuhnya yang letih di atas seprai sutra, menutup matanya, dan seketika kesadarannya tersedot ke dalam ruang dimensi yang berbeda.

Pandangan Sybilla tidak lagi berada di kamar Skyrosia yang dingin, melainkan di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga cahaya yang tidak pernah layu. Di tengah taman itu, berdiri seorang wanita yang kehadirannya terasa seperti pelukan matahari musim semi.

Wanita itu adalah sosok yang sering muncul dalam mimpi "Christina" di London—sosok yang selalu memberinya rasa rindu yang tak terjelaskan.

"Elysianne... putriku," suara wanita itu bergetar, seindah denting harpa perak.

"Ibu?" bisik Sybilla. "Kau... kau benar-benar ibuku? Dewi Selene?"

Wanita itu mendekat, jemarinya yang transparan menyentuh pipi Sybilla. Air mata cahaya jatuh dari matanya. "Maafkan kami, Sayang. Kami tidak membuangmu karena tidak sayang. Kekuatanmu adalah Cahaya Astraea, sumber kehidupan Kayangan. Di tangan yang salah, kau bisa menjadi senjata pemusnah. Kami menitipkanmu di bumi agar kau belajar menjadi manusia sebelum memikul beban sebagai dewi."

Sybilla menggeleng, jiwanya memberontak. "Tapi aku belum siap! Aku hanya ingin menjadi Christina yang bekerja di toko bunga! Sekarang aku terjebak di tubuh gadis bernama Sybilla, menikah dengan Duke yang tidak kukenal, dan diincar oleh Pangeran bermata Ruby yang haus darah!"

"Waktumu telah tiba lebih cepat karena pengkhianatan di bawah sana," desis Selene sedih. "Erebus telah merobek jaring takdir."

Tiba-tiba, pendar biru elektrik muncul di antara mereka. Kupu-kupu yang membawa Christina ke dunia ini berputar-putar cepat, lalu perlahan membesar dan berubah wujud menjadi seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun.

Gadis kecil itu mengenakan gaun pendek berwarna biru langit, rambutnya dikuncir dua dengan pita berbentuk sayap kupu-kupu. Wajahnya sangat menggemaskan, namun matanya yang besar tampak berkaca-kaca penuh penyesalan.

"Ampun, Putri Elysianne... ampun," isak gadis kecil itu sambil bersujud di depan kaki Sybilla. "Aku adalah Sinmi, penjaga gerbangmu. Aku hanya... aku hanya ingin kau melihat betapa indahnya Aethelgard dari dekat. Aku tidak tahu kalau Erebus akan menggunakan kepak sayapku untuk menarikmu masuk ke tubuh Sybilla yang nyaris mati itu!"

Sinmi meremas ujung gaunnya, tubuhnya gemetar karena rasa bersalah. "Sekarang sistem kehidupan menjadi kacau. Roh Sybilla yang asli sedang beristirahat di pelukan para bintang, tapi kau... kau sekarang terikat secara fisik dengan kontrak pernikahan Duke Cyprian dan sihir Skyrosia."

Dewi Selene menatap Sinmi dengan tatapan tegas namun penuh duka, lalu kembali menatap putrinya.

"Elysianne, kau tidak boleh memberikan setetes pun darahmu kepada Lysander. Pangeran itu bukan hanya ingin menjadi raja manusia; dia ingin menggunakan darah dewi untuk menggulingkan takdir yang telah ditetapkan ayahmu, Dewa Aether."

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Sybilla putus asa.

"Gunakan Sinmi," ucap Selene sebelum bayangannya mulai memudar karena energi Kayangan yang tidak stabil. "Dia yang membuat kekacauan ini, maka dia yang harus membantumu menyembunyikan cahaya murnimu. Jangan percaya pada siapapun di istana itu, bahkan pada suamimu sendiri, hingga kau benar-benar bisa menguasai api di nadimu."

Sybilla terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi dahinya. Saat ia melihat ke arah bantal, ia melihat gadis kecil bernama Sinmi sedang duduk di pinggir tempat tidur, menatapnya dengan wajah memelas.

"Putri... aku di sini," bisik Sinmi dalam wujud manusianya. "Aku akan membantumu sembunyi dari Pangeran Ruby itu."

"Sybilla? Kau tidak ap-"

Pintu kamar terbuka dengan sentakan pelan namun tegas. Cyprian melangkah masuk, pedang di pinggangnya beradu rendah dengan jubah tidurnya. Wajahnya tampak tegang; ia telah berjaga di balik dinding, mendengarkan isak tangis dan igauan Sybilla yang menyebut nama-nama asing dalam tidurnya.

Langkah Cyprian terhenti seketika. Matanya yang emas melebar, menatap pemandangan aneh di atas tempat tidur mewah itu. Di sana, duduk seorang gadis kecil mungil dengan gaun biru langit dan pita sayap kupu-kupu, sedang memegang tangan istrinya dengan wajah yang sangat memelas.

"Siapa kau?!" suara bariton Cyprian menggelegar, secara instan ia menarik pedang Adamant-nya. Ujung logam dingin itu kini hanya berjarak beberapa inci dari hidung mungil Sinmi. "Bagaimana seorang anak kecil bisa menembus penjagaan sihir Skyrosia?!"

Sinmi menjerit kecil, tubuhnya menciut dan ia segera bersembunyi di belakang punggung Sybilla, mencengkeram gaun tidur majikannya dengan tangan gemetar. "Ampun, Tuan Serigala Emas! Jangan potong sayapku!" tangisnya pecah.

Sybilla segera terbangun sepenuhnya, ia merentangkan tangannya di depan Sinmi untuk melindungi gadis kecil itu. "Cyprian, tunggu! Turunkan pedangmu! Dia... dia bersamaku!"

Cyprian tidak menurunkan pedangnya, namun matanya menatap Sybilla dengan penuh kecurigaan. "Bersamamu? Kamar ini disegel dengan sihir tingkat tinggi. Tidak ada makhluk hidup yang bisa masuk tanpa izin dariku atau Raja. Siapa anak ini, Sybilla? Apakah dia mata-mata Lysander? Atau kiriman dari Sekta Bayang-Bayang?"

Sybilla menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia menatap Sinmi yang masih terisak, lalu menatap suaminya.

"Dia adalah Sinmi," ucap Sybilla, suaranya kini lebih stabil. "Dia adalah roh penjagaku... atau setidaknya, dia yang membawaku ke sini dari London. Dia bukan manusia, Cyprian. Dia adalah bagian dari alasan mengapa aku berada di tubuh ini."

Cyprian menurunkan pedangnya perlahan, namun ia tidak memasukkannya ke dalam sarung. Ia berjalan mendekat, meneliti sosok Sinmi yang kini hanya berani mengintip dengan satu mata dari balik bahu Sybilla.

"Roh penjaga?" gumam Cyprian. Ia teringat legenda kuno tentang para Dewi yang memiliki pelayan berbentuk roh alam. "Jadi, anak kecil yang gemetar ini adalah alasan hidupku menjadi kacau balau dalam satu malam?"

Sinmi mendongak, wajahnya yang menggemaskan kini cemberut meski masih takut. "Aku bukan anak kecil biasa, Tuan Serigala! Aku bisa mengubah aura Putri agar Pangeran Ruby yang jahat itu tidak bisa mencuri darahnya!"

Cyprian tertegun mendengar kata "darah". Ia beralih menatap Sybilla dengan tatapan yang sangat dalam. "Apa maksudnya? Apakah Lysander sudah memintamu memberikan darahmu padanya?"

Sybilla terdiam. Ia baru menyadari bahwa Sinmi yang polos baru saja membocorkan rahasia tentang imbalan berbahaya yang diminta Lysander.

Cyprian mendesah berat, ia duduk di pinggir tempat tidur, memijat keningnya yang tampak pening. "Dunia ini semakin gila. Seorang istri yang ternyata Dewi dari langit, pangeran mahkota yang menginginkan darah ilahi, dan sekarang... seorang roh kupu-kupu yang berwujud anak kecil."

Ia menatap Sinmi dengan tajam. "Jika kau benar-benar bisa menyembunyikan kekuatannya, lakukan sekarang. Fajar segera tiba, dan Lysander akan menuntut sesi latihan pertamanya."

Sinmi mengangguk cepat. Ia melompat turun dari tempat tidur, tangannya yang kecil mulai membentuk pola melingkar di udara. Seketika, debu cahaya ungu keluar dari telapak tangannya, menyelimuti tubuh Sybilla.

Pendar emas murni Elysianne yang tadinya berdenyut di pergelangan tangan Sybilla perlahan memudar, berubah menjadi asap ungu yang tampak seperti sihir gelap yang lemah—sebuah penyamaran yang sempurna untuk menipu mata Ruby milik Lysander.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!