Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 10
"Zenna..."
Selang beberapa waktu, buncahan emosi Rendy mereda. Ia menarik napas dalam, kemudian berlutut di hadapan Zenna, yang masih meringkuk di pintu, kesakitan dan terguncang pilu.
"Zenna... aku mencintaimu."
Zenna terus menggigil dan mengisak, terbenam sepenuhnya dalam ngeri dan nestapa, tak lagi sanggup mendengar apalagi memahami kata.
"Zenna... Zenna, dengar," Rendy merengkuh wajah basah Zenna dan mengunci tatapannya. "Kamu tak perlu bersedih. Tak perlu takut. Aku mencintaimu dan aku tak akan pernah meninggalkanmu. Kamu telah menjadi milikku, dan bersamaku, kujamin hidupmu akan selalu layak dan bahagia. Sampai akhir. Aku bisa janjikan itu."
Tutur kata Rendy sama sekali tak meredam pusaran lara di dalam rongga dada Zenna. Tak ada apapun di dunia yang bisa menutupi luka dan dosanya sebagai pezina. Tak ada.
Rendy mengatupkan bibirnya rapat, dan sudut-sudut rahangnya berkedut saat melihat Zenna tetap bersikap seakan sedang dibakar di neraka. Tetapi kali ini ia bisa menahan emosinya. Meski ia tak bisa paham kenapa Zenna sehancur ini. Bukankah dia sudah berjanji akan memberikan segalanya pada Zenna? Apa lagi yang kurang darinya?
"Apa kamu butuh bukti dari kata-kataku?" Rendy menarik kesimpulan sendiri. "Baik. Akan kubuktikan. Kamu lihat saja, Sayang."
Malam itu, Rendy tidak mengantar Zenna pulang ke kontrakan sempitnya seperti biasa. Ia membawa Zenna yang bagai mayat hidup ke sebuah unit mewah di Sun and Moon Apartement. Rendy memberikan hunian elit lengkap dengan perabotannya itu sebagai tempat tinggal baru bagi Zenna.
Tak hanya itu, ia juga merawat Zenna dari guncangnya. Membebaskannya dari tugas di kantor, memberinya asisten untuk mengurus diri dan rumah, juga perawatan privat dokter hingga psikiater untuk memulihkan luka fisik dan jiwanya.
Rendy juga membuatkan rekening khusus untuk Zenna dengan saldo fantastis agar Zenna bisa membeli apa saja yang dia suka. Ia pun membelikan mobil mewah, tas bermerk, perhiasan--segala permata dunia yang biasanya disukai wanita--sebagai tanda cinta dan bukti janjinya untuk menyejahterakan Zenna karena wanita itu sudah menjadi miliknya.
Namun semua itu tak ada maknanya bagi Zenna. Ia tetap tenggelam dalam lubang gelap jiwa dan hanya mematung hampa sehari-hari, seakan-akan tak hidup, tetapi juga tak mati.
Hingga suatu hari, Rendy dengan sabar dan baik hati menunjukkan foto dan video sebagai bukti bahwa ia sudah memindahkan Amalia, ibu Zenna, untuk dirawat intensif di kamar VVIP rumah sakit milik Wangsa Group.
"Ibumu sedang dirawat dokter dengan fasilitas dan obat terbaik. Ia tak perlu lagi antri, atau menunggu lama untuk mendapat kemoterapi, seperti ketika berobat menggunakan asuransi murahan itu. Kondisinya sekarang jauh lebih baik, dan ia sering menanyakanmu. Tidakkah kamu ingin menjenguknya? Ibumu rindu padamu."
Kali ini, kata-kata dan perbuatan Rendy berhasil menggerakkan Zenna dari bekunya. Hatinya sedikit menghangat setelah tahu ibunya semakin sehat, berkat bantuan Rendy.
"Kamu lihat sendiri, aku menepati kata-kataku untuk membuatmu aman dan bahagia," kata Rendy lembut. "Aku mencintaimu, Zenna."
Zenna pulih perlahan--meski tak kembali utuh. Tak akan pernah.
Zenna sempat mengalami perdarahan setelah persetubuhan yang mengguncang malam itu, dan depresi akut tak membuat luka dalamnya lekas pulih. Tetapi melihat nasib ibunya membaik, berangsur memberi titik sembuh juga bagi Zenna. Luka-luka fisiknya menutup. Luka-luka batinnya tak lagi terlalu menawarkan derita.
Ia pun bisa beraktivitas hampir normal kembali, dan bahkan duduk berdua dengan Rendy di balkon apartemen dengan dialog yang hidup, bukan lagi meniru patung batu tanpa jiwa.
"...apa kamu masih butuh bantuanku di kantor?"
Zenna bertanya dengan suara lirih dan datar, tetapi bagi Rendy, itu seperti suara terindah di dunia, karena akhirnya wanita yang dicintainya kembali hadir dan bicara dengannya, bahkan menawarkan dirinya, sesuai harapan.
"Jujur aku tak butuh kamu bekerja--jangan salah sangka, bukan karena kinerjamu buruk. Tapi lebih karena wanitaku seharusnya hidup sebagai ratu di sisiku. Bukan sebagai pembuat laporan membosankan atau penyedia kopi untukku. Kamu paham kan maksudku?"
Ekspresi Rendy begitu lembut dan tenang. Tak ada lagi monster mengerikan yang meledak-ledak seperti malam itu, seakan semua itu hanya sepintas mimpi.
Zenna menghela napas panjang.
"Jadi itu yang kamu inginkan? Aku menjadi ratumu dan tidak melakukan apa-apa?"
"Aku ingin kamu menjadi wanitaku seutuhnya," Rendy menyentuh lengan Zenna dan berbisik penuh damba. "Aku sangat mencintaimu, Zenna. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama melihatmu. Kecantikanmu, kepolosanmu, kebaikanmu, semua itu membakar penuh jiwaku. Akan kulakukan apa saja agar aku tak kehilangan kamu... termasuk, menyelamatkan nyawa ibumu. Kamu bisa memegang kata-kataku."
Setetes air mata jatuh di sudut pelupuk Zenna. Ibunya. Demi ibunya.
"Zenna...," Rendy mengusap air mata itu, wajahnya sedikit mengeras. "Kamu akuilah satu hal. Jujurlah, sekali saja, bahwa memang ada rasa itu di hatimu, kan? Kamu mencintaiku."
Otot-otot di tubuh Zenna mengejang. Ia kembali tak sanggup bicara, dan hanya memandang lantai dengan hampa.
"Akuilah," pinta Rendy, nada bicaranya sedikit meninggi. "Karena aku bisa merasakannya, Zenna. Kamu tersipu ketika menatapku. Kamu selalu berusaha memenuhi semua permintaanku dan melayani kebutuhanku di kantor dengan sepenuh hati. Jemarimu gemetar saat tak sengaja bersentuhan denganku."
Ekspresi Rendy kentara menahan emosi.
"Aku bisa melihat dan merasakan semua itu. Dan malam itu, bukankah kamu juga menginginkanku saat aku menyentuhmu? Tubuhmu mengakui itu. Jadi, sekali saja, jujur dan akuilah perasaanmu padaku, Zenna...!"
Kedalaman jiwa Zenna semakin luruh tak berbentuk. Sebab kata-kata Rendy tak sepenuhnya keliru. Dan itulah yang membuatnya makin hancur dan hina.
"Tapi aku tak pantas untukmu, Rendy...," Zenna akhirnya meluapkan perasaannya meski dengan bahu berguncang karena tangis. "Aku perempuan miskin, tak seharusnya aku menjalin hubungan dengan lelaki pewaris sepertimu... dan kini aku tak punya kehormatan, tak punya harga diri, tak punya apa pun...!"
"Zenna, dengarkan aku!" Rendy kini menarik Zenna dan merengkuhnya erat. "Jangan bicara seperti itu lagi! Jika kita memang saling mencintai, maka kita bisa bersama--dan itu lebih dari cukup! Aku tak butuh kamu kaya, tak butuh kamu jadi wanita paling suci di dunia. Aku butuh kamu--apa adanya kamu--seluruhnya kamu--karena aku sangat mencintaimu! Jadi tolong buang pikiran burukmu itu jauh-jauh, oke?"
Zenna berusaha keras menghentikan tangis dan mengendalikan diri dalam pelukan Rendy, meski sentuhan itu kembali membuatnya menggigil.
"Katakan kamu mencintaiku, Zenna."
Tatapan dan nada suara tajam itu seperti ultimatum terakhir.
Tak ada pilihan lain, selain pengakuan.
"Ya, Rendy... aku mencintaimu..."
Kini Zenna tak bisa lagi memungkiri. Perasaan itu memang ada, dan dosa yang dilakukannya juga nyata. Ia sudah jatuh dan tenggelam. Tak ada jalan kembali.
Rendy tampak sangat bahagia dan memeluk erat Zenna.
"Aku tahu. Kita memang saling mencintai! Kita akan bersama selamanya, Zenna. Kamu dan aku. Hanya kamu dan aku... cintaku... kekasihku... ratuku..."
Ciuman dan sentuhan itu kembali mendarat di bibir dan tubuh Zenna, yang kali ini tak melawan. Ia bagai sehelai daun jatuh yang hanyut dalam aliran deras sungai menuju lautan. Rendy tanpa ragu membawanya ke tempat tidur, menagih pelepasan hasrat hingga yang tersisa baginya hanyalah nikmat.
Air mata Zenna kembali jatuh, saat dirinya makin tenggelam dalam noktah hitam, tak ada jalan keluar.
Hanya ada satu alasan kecil, menetes seperti cahaya fatamorgana, yang membuatnya tetap bertahan, meski kini harus hidup seperti pelacur rendahan.
Demi Ibu...
***