Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Dunia Kristal dan Harta Karun yang Hilang
Perjalanan di punggung Naga Lubang Hitam itu sungguh pengalaman yang luar biasa. Angin kosmik berhembus kencang, dan di bawah mereka, galaksi-galaksi berputar indah seperti permata di atas kain beludru.
Naga itu terbang dengan setia, membawa tuannya melewati batas-batas dimensi hingga akhirnya turun perlahan di sebuah dunia yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Saat kaki mereka menyentuh tanah, suara gemericik air terdengar jelas. Namun bukan air biasa yang mereka lihat.
Seluruh dunia ini terbuat dari kristal!
Batu-batannya berkilau, pohon-pohonnya terbuat dari kaca dan kristal yang tembus pandang, sungai-sungainya mengalirkan cairan berwarna-warni yang berkilau seperti emas cair dan permata. Cahaya matahari memantul ke segala arah, menciptakan pelangi-pelangi kecil di mana-mana.
"Dunia Crystallia..." gumam Kael mengenali legenda yang pernah ia baca. "Dikatakan bahwa di sini jalanan dilapisi berlian dan rumah-rumahnya terbuat dari zamrud."
"Indah sekali," Elara memutar tubuhnya, menikmati pemandangan yang mempesona itu. "Tapi kenapa rasanya sepi sekali? Seharusnya tempat semewah ini penuh orang, kan?"
Benar saja. Meskipun indah dan megah, kota-kota di Crystallia terlihat kosong. Tidak ada suara tawa, tidak ada hiruk-pikuk pasar. Penduduk yang mereka temui di jalanan terlihat berjalan dengan kepala tertunduk, wajah mereka murung dan penuh kekhawatiran.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Elara pada seorang gadis muda yang sedang duduk menangis di tepi sungai kristal.
Gadis itu mengusap air matanya, menatap Elara dan Kael dengan ragu. "Kalian orang asing ya? Kalian tidak tahu bencana apa yang menimpa kami..."
"Bencana apa?" tanya Kael lembut.
"Semua harta karun kami... hilang," jawab gadis itu dengan suara bergetar. "Crystallia terkenal karena kekayaan kami. Tapi seminggu yang lalu, semua emas, perak, dan permata terbesar di istana raja... lenyap begitu saja! Tidak ada jejak, tidak ada saksi. Seolah-olah menguap ditelan bumi."
"Dan karena itu," sambung gadis itu, "Kekuatan sihir kami melemah. Karena di dunia ini, nilai dan kekuatan terikat pada harta benda. Jika kami miskin, kami lemah. Raja kami sangat marah, dia memenjarakan banyak penjaga dan menyalahkan satu sama lain. Dunia kami yang damai kini penuh kecurigaan."
Elara dan Kael saling bertukar pandang. Ini bukan masalah monster atau kutukan, tapi masalah pencurian dan misteri. Tapi bagi penduduk sini, ini adalah masalah hidup dan mati.
"Jangan menangis lagi," kata Elara sambil tersenyum menenangkan. "Suamiku ini adalah detektif terbaik di alam semesta. Dia bisa menemukan apa pun yang hilang, tidak peduli seberapa baik disembunyikannya."
Kael tersenyum bangga mendengar pujian istrinya. "Tentu saja. Ayo, Elara. Kita ke istana. Kita lihat tempat kejadian perkaranya."
Dengan mudahnya, aura wibawa yang dipancarkan Kael dan Elara membuat para penjaga istana langsung mengizinkan mereka masuk. Mereka bertemu langsung dengan Raja Crystallia, seorang pria gemuk yang wajahnya penuh dengan kekhawatiran.
"Jadi kalian bilang bisa menemukan harta karunku?" tanya Raja itu tidak percaya. "Bahkan penyihir pelacak terbaikku pun menyerah!"
"Kami punya cara sendiri," jawab Kael yakin. "Tunjukkan ke mana harta itu disimpan."
Raja membawa mereka ke ruang bawah tanah yang sangat besar dan kokoh. Pintu ruang itu terbuat dari logam ajaib yang tidak bisa ditembus oleh sihir apa pun, dan kuncinya hanya ada satu yang dipegang oleh Raja sendiri.
"Tapi saat aku membuka pintunya pagi ini..." Raja menunjuk ke dalam. "Kosong melompong! Tidak ada satu pun berlian yang tersisa!"
Kael tidak langsung bicara. Ia memejamkan mata, memperluas indranya. Ia tidak mencari jejak kaki atau sidik jari. Ia mencari jejak energi.
Setelah beberapa saat, Kael tersenyum miring.
"Aku menemukannya," kata Kael singkat.
"Apa? Di mana?!" Raja terlonjak kaget.
"Energinya masih terasa sangat kuat di sini," jelas Kael. "Pencurinya tidak memindahkan harta itu keluar ruangan. Dia menggunakan sihir Dimensi Saku. Dia menyusutkan semua benda itu dan membawanya pergi, atau menyembunyikannya di celah ruang."
Kael mengibaskan tangannya ke udara kosong di tengah ruangan.
"Di mana pun kau sembunyikan... kembalilah!"
TRANG!
Tiba-tiba, tumpukan-tumpukan harta karun itu muncul kembali begitu saja di udara dan jatuh berantakan ke lantai! Emas, permata, mahkota, semua kembali utuh!
Raja dan para pengawanya berteriak kegirangan. "Harta kita kembali! Harta kita kembali!"
"Tapi tunggu," Elara tiba-tiba berseru. "Lihat ini!"
Elara mengambil sebuah koin emas. Di balik koin itu, terdapat noda hitam kecil yang aneh.
"Ini bukan pekerjaan biasa," kata Elara serius. "Bau energinya... aku mengenalinya."
"Apa maksudmu?" tanya Kael.
"Ini jejak kelompok 'Pencuri Bayangan'," jawab Elara. "Kelompok penjahat antardimensi yang pernah kita dengar beritanya. Mereka tidak hanya mencuri untuk diri sendiri. Mereka menjual kekuatan dunia ke pasar gelap."
"Jadi mereka ada di sini sekarang?" Kael mengerutkan kening.
"Ya. Dan mereka pasti belum pergi jauh. Karena mereka pasti menargetkan harta terbesar di dunia ini... Inti Kristal Bumi yang ada di pusat planet ini!"
Wajah Raja pucat pasi. "Tidak! Jika mereka mengambil itu, seluruh dunia ini akan hancur berkeping-keping!"
"Kael," Elara menatap suaminya. "Kita harus mengejar mereka. Sekarang juga."
"Ayo," Kael mencabut pedang kristalnya yang berkilau. "Kali ini kita tidak hanya mengembalikan barang. Kita akan menangkap mereka dan mengakhiri bisnis kotor mereka di sini."
Mereka tidak membuang waktu. Berbekal jejak energi yang tertinggal pada koin itu, Elara dan Kael melesat menuju pusat bumi, menuju gua-gua rahasia di mana para pencuri itu sedang merayakan kemenangan mereka yang semu.
(Bersambung ke Bab 32...)