NovelToon NovelToon
DAO TERLARANG KAISAR SEGALA ELEMEN

DAO TERLARANG KAISAR SEGALA ELEMEN

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.

​Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.

​Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Takhta di Jantung Kehampaan

Kegelapan di dimensi Void tidaklah seperti malam di Benua Tengah. Di sini, kegelapan adalah entitas yang hidup—dingin yang tidak hanya membekukan kulit, tetapi juga mencoba menghapus ingatan, emosi, dan keberadaan seseorang. Wang Tian melayang di tengah hamparan puing-puing planet yang telah hancur. Di sekelilingnya, bangkai raksasa Malphas perlahan menguap, berubah menjadi partikel ungu yang tersedot oleh gravitasi aneh di pusat dimensi ini.

Wang Tian terbatuk, memuntahkan darah perak yang berpendar redup. Zirah primordialnya telah hancur di bagian dada, memperlihatkan luka bakar hitam yang berdenyut mengikuti detak jantungnya. Busur Sirius di punggungnya masih terasa hangat, namun ia tahu bahwa ia telah menghabiskan hampir seluruh cadangan energi jiwanya untuk serangan terakhir tadi.

"Kecil... kau pikir membunuh satu Overlord akan mengubah takdirmu?" suara itu datang dari segala arah, ribuan bisikan yang menyatu menjadi satu frekuensi yang memekakkan telinga.

Dari balik bayangan puing-puing bintang, muncul puluhan mata raksasa berwarna merah darah. Para Void High Sovereigns—penguasa yang jauh lebih tua dan lebih kuat dari Malphas—mulai mengepungnya. Mereka tidak memiliki bentuk tetap; mereka adalah gumpalan kabut penghancur yang bisa melenyapkan sebuah galaksi hanya dengan satu pikiran.

"Aku tidak datang untuk mengubah takdir," bisik Wang Tian, mengusap darah dari bibirnya. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri tegak di atas bongkahan batu kristal yang melayang. "Aku datang untuk memutus rantai lapar kalian."

Pelarian di Labirin Dimensi

Wang Tian tahu bahwa bertarung secara terbuka melawan puluhan Sovereign di wilayah mereka adalah tindakan bunuh diri. Ia memicu Langkah Ruang Primordial, namun di dimensi Void, hukum ruang bersifat kacau. Alih-alih berpindah seratus mil, ia justru terlempar ke dalam sebuah lubang cacing yang memelintir tubuhnya.

Ia jatuh di sebuah daratan yang aneh—sebuah daratan yang tidak terbuat dari tanah, melainkan dari tumpukan pedang dan senjata kuno yang telah berkarat. Langit di tempat ini berwarna putih pucat, kontras dengan kegelapan Void di luar sana.

"Tempat apa ini?" gumam Wang Tian.

"Ini adalah Makam Para Dewa Terlupakan," sebuah suara berat menjawab dari balik tumpukan pedang raksasa.

Wang Tian segera bersiaga, menghunus Dragon’s Wrath. Dari balik reruntuhan senjata, muncul sesosok pria tua dengan pakaian compang-camping. Rambutnya putih panjang hingga menyentuh tanah, dan matanya tidak memiliki bola mata—hanya ada dua lubang hitam yang memancarkan cahaya perak murni.

"Siapa kau?" tanya Wang Tian, auranya tetap waspada.

"Aku adalah Wei Yuan, pelayan terakhir dari Klan Primordial Sejati," pria itu membungkuk sedikit, sebuah gerakan yang sangat elegan meski penampilannya kotor. "Kami telah menunggumu selama sepuluh ribu tahun, Pewaris Sembilan Segel."

Rahasia Klan Primordial Sejati

Wei Yuan membawa Wang Tian ke sebuah gua yang tersembunyi di bawah gunungan pedang. Di dalam gua itu, terdapat lukisan-lukisan dinding yang menceritakan sejarah asli alam semesta.

Wang Tian tertegun melihat lukisan tersebut. Ia melihat bahwa Benua Tengah sebenarnya hanyalah sebuah "kebun" yang diciptakan oleh Klan Primordial untuk memanen energi kehidupan. Namun, terjadi perang saudara di dalam klan tersebut. Satu faksi ingin terus melindungi kehidupan, sementara faksi lain—yang kini menjadi para Penguasa Void—memilih untuk mengonsumsi kehidupan demi mencapai keabadian mutlak.

"Ibumu, Yue Er, bukan sekadar pelarian," ucap Wei Yuan. "Dia adalah putri dari pemimpin faksi pelindung. Dia melarikan diri ke Benua Tengah dengan membawa Inti Kunci Kesebelas—yaitu dirimu, Wang Tian. Kau bukan manusia yang memiliki kekuatan primordial. Kau adalah energi primordial yang mengambil bentuk manusia."

Wang Tian terdiam. Penjelasan ini menghantam jiwanya lebih keras daripada serangan Malphas. Selama ini ia menganggap dirinya sebagai manusia yang berjuang untuk membalas dendam dan melindungi orang dicintainya. Ternyata, keberadaannya sendiri adalah sebuah desain kuno.

"Lalu, di mana sisa klan lainnya?" tanya Wang Tian.

"Mereka tertidur di Kota Cahaya Abadi, di ujung dimensi ini. Mereka menunggu seseorang yang bisa menyatukan sembilan elemen dan satu kehampaan sejati untuk membangunkan mereka," Wei Yuan menunjuk ke arah utara langit putih. "Namun, jalan menuju ke sana dijaga oleh The Great Arbiter, algojo terkuat milik Void."

Pelatihan di Makam Dewa

Wang Tian menyadari bahwa dengan kekuatannya saat ini, ia tidak akan bisa mencapai Kota Cahaya. Wei Yuan menawarkan bantuan: sebuah pelatihan kilat menggunakan Esensi Ribuan Senjata.

Selama waktu yang tidak menentu di dimensi tanpa jam ini, Wang Tian duduk bersila di tengah badai pedang. Ia tidak lagi mencoba mengendalikan elemen; ia mencoba memahami "jiwa" dari setiap senjata yang pernah gugur di makam ini.

Hari ke-100 (Waktu Dimensi): Wang Tian berhasil menyerap Hukum Logam Purba, membuat kulitnya sekeras zirah dewa.

Hari ke-500: Ia memahami Hukum Waktu yang Hilang, memungkinkannya bergerak di sela-sela detik yang diam.

Tahun ke-3: Wang Tian membuka Segel Kesebelas di dalam tubuhnya. Ledakan energinya menghancurkan tumpukan pedang dalam radius sepuluh mil.

Ia kini bukan lagi di Ranah Dao Seeking Setengah Langkah. Ia telah melampauinya. Ia berada di Ranah Sovereign Primordial. Rambutnya kini sepenuhnya emas dengan ujung-ujung perak yang berpendar. Matanya bisa melihat menembus struktur atom dari dimensi Void.

"Waktunya sudah tiba," ucap Wei Yuan, suaranya mengandung haru. "Pergilah, Wang Tian. Bangunkan leluhurmu, dan hentikan kelaparan abadi ini."

Pertempuran Melawan The Great Arbiter

Saat Wang Tian melangkah keluar dari Makam Dewa, langit putih mendadak berubah menjadi ungu gelap. Sesosok ksatria raksasa dengan zirah yang terbuat dari materi gelap muncul di jalurnya. Dia membawa sabit raksasa yang panjangnya mencapai satu mil.

"Lancang... berani melangkah ke wilayah terlarang..." raung The Great Arbiter.

Wang Tian tidak banyak bicara. Ia hanya menjentikkan jarinya.

BOOM!

Sebuah ledakan kehampaan murni menghantam Arbiter tersebut, melemparkannya menembus beberapa planet mati. Arbiter itu meraung marah, mengayunkan sabitnya untuk membelah dimensi tempat Wang Tian berdiri.

Wang Tian menarik busur Sirius. Namun kali ini, ia tidak menarik tali busur dengan tangannya. Ia menariknya dengan Kehendak Alam Semesta.

"Panah Pengadil: Akhir dari Kehampaan!"

Sebuah anak panah cahaya yang mengandung sembilan elemen terintegrasi meluncur. Anak panah itu tidak hanya menembus tubuh Arbiter, tetapi juga "menulis ulang" materi tubuhnya. Dari makhluk Void yang jahat, Arbiter itu perlahan berubah menjadi butiran cahaya bintang yang indah sebelum akhirnya lenyap dengan damai.

Wang Tian terus melangkah. Ia melihat gerbang raksasa berwarna emas di kejauhan—Kota Cahaya Abadi.

Kebangkitan Pasukan Primordial

Wang Tian meletakkan telapak tangannya di gerbang kota tersebut. Menggunakan seluruh energi Sovereign-nya, ia mengalirkan kehidupan ke dalam struktur kota yang membeku.

Satu per satu, peti mati kristal di dalam kota itu terbuka. Ribuan pria dan wanita dengan aura yang setara dengan Wang Tian mulai terbangun. Mereka adalah para pendekar dari masa lalu yang memilih untuk tidur daripada dikonsumsi oleh Void.

"Siapa yang membangunkan kami?" tanya seorang wanita dengan mahkota cahaya.

"Anak dari Yue Er," jawab Wang Tian singkat. "Dan aku butuh bantuan kalian untuk membersihkan dimensi ini."

Wanita itu menatap Wang Tian, lalu berlutut. "Kami adalah pedangmu, Yang Mulia."

Serangan Balik ke Benua Tengah

Sementara itu, di Benua Tengah, situasi sudah di ambang kehancuran. Meski Gerbang Kesunyian telah ditutup, ribuan "retakan kecil" muncul di seluruh benua. Long Wei sedang berjuang melawan dua Sovereign tingkat rendah di langit Samudra Utara, tubuh naganya sudah penuh dengan lubang.

Lin Xuelan, Sui Ren, dan Mora berdiri di depan benteng terakhir Arsenal Primordial. Mereka telah bertarung tanpa henti selama tiga hari tiga malam.

"Jika kita harus mati hari ini, biarlah kita mati sebagai istri dari seorang pahlawan!" teriak Sui Ren, melepaskan sisa-sisa energi anginnya untuk menangkis hujan panah Void.

Tepat saat seorang Sovereign hendak menghancurkan benteng tersebut dengan telapak tangan raksasa, langit di atas Benua Tengah mendadak retak dengan warna emas yang menyilaukan.

KRAAAAAAKKKK!

Bukan satu orang yang keluar, melainkan sebuah armada perang yang terdiri dari ribuan kapal cahaya dan ribuan pendekar primordial. Di barisan paling depan, melayang Wang Tian dengan jubah emas yang memancarkan cahaya yang lebih terang dari matahari.

"Aku kembali," suara Wang Tian bergema hingga ke dasar samudra terdalam.

Pembersihan Benua Tengah

Wang Tian melambaikan tangannya. Setiap makhluk Void yang berada di Benua Tengah mendadak terbakar oleh api emas yang tidak bisa dipadamkan. Sovereign yang hendak menyerang benteng tadi hanya sempat menatap Wang Tian dengan ketakutan sebelum kepalanya dipenggal oleh satu tebasan tak kasat mata dari Dragon’s Wrath.

Long Wei tertawa di tengah luka-lukanya. "Aku tahu... aku tahu kakak tidak akan membiarkan kita menunggu lama!"

Wang Tian mendarat di depan ketiga istrinya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya memeluk mereka bertiga sekaligus dalam satu lingkaran pelindung emas. Segala luka dan kelelahan mereka lenyap seketika tersentuh oleh aura Sovereign-nya.

"Maaf aku terlambat," bisik Wang Tian.

"Kau tidak terlambat," ucap Lin Xuelan sambil terisak. "Kau datang tepat waktu untuk melihat kami menang."

Membangun Tatanan Baru

Dengan bantuan pasukan dari Kota Cahaya Abadi, sisa-sisa kekuatan Void di dimensi terdekat berhasil disapu bersih dalam waktu singkat. Wang Tian tidak hanya mengusir mereka; ia menggunakan kekuatannya untuk menyegel dimensi Void secara permanen dengan Sembilan Segel Primordial yang Disempurnakan.

Ia kemudian mengumpulkan semua klan manusia yang tersisa, para naga, dan para pendekar primordial di Puncak Langit Tertinggi.

"Dunia yang lama telah hancur," ucap Wang Tian dari atas takhta barunya. "Dunia di mana kekuatan digunakan untuk menindas yang lemah, dunia di mana pengkhianatan dianggap sebagai strategi. Mulai hari ini, Benua Tengah dan Dunia Naga akan bersatu di bawah Kaisar Primordial Sejati."

Ia mengangkat pedangnya ke langit.

"Kita tidak akan lagi takut pada kegelapan. Karena sekarang, kita adalah kegelapan itu sendiri yang telah belajar cara membawa cahaya."

Epilog: Kedamaian yang Diraih

Beberapa bulan kemudian, Benua Tengah telah pulih. Kota-kota dibangun kembali dengan teknologi dari Arsenal Primordial yang dibagikan secara adil. Wang Tian tidak lagi sering terlihat di depan publik. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di sebuah pondok kecil di tepi danau Lembah Naga, tempat di mana semuanya dimulai.

Di sana, ia duduk bersama Lin Xuelan, Sui Ren, dan Mora. Long Wei sering datang membawa hasil buruan monster laut untuk dimakan bersama.

Wang Tian menatap tangannya. Ia masih memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan dunia, namun saat ini, tangannya lebih suka menggenggam cangkir teh dan tangan orang-orang yang ia cintai.

"Apa yang kau pikirkan, Tian-er?" tanya Lin Xuelan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Wang Tian.

Wang Tian tersenyum, menatap langit biru jernih tanpa satu pun retakan. "Aku berpikir... bahwa akhirnya, ibuku bisa tidur dengan tenang. Dan kita bisa mulai menulis cerita kita sendiri, tanpa campur tangan takdir atau dewa mana pun."

Di kejauhan, suara tawa Long Wei pecah saat ia kalah bermain catur melawan Mora. Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga persik yang mekar. Wang Tian memejamkan matanya, menikmati keheningan yang paling indah yang pernah ia rasakan selama hidupnya.

Statistik Akhir Bab 29 (Final Part):

Karakter Utama: Wang Tian (Kaisar Primordial Sejati / Sovereign Primordial).

Istri: Lin Xuelan (Permaisuri Air), Sui Ren (Permaisuri Angin), Mora (Permaisuri Bayangan).

Saudara: Long Wei (Raja Naga Emas Hitam).

Pencapaian Akhir: Memusnahkan ancaman Void, Membangkitkan Klan Primordial Sejati, Menyatukan Benua Tengah dan Dunia Naga.

Status Dunia: Era Kedamaian Abadi (The Golden Age of Primordials).

1
septian arista
ke mana lin sia?
septian arista
cerita pertemuannya dengan naga kok berbeda sama bab yang sebelumnya
Abai Shaden: author lagi pusing,,maaf ya,,,
kurang ngopi
total 2 replies
septian arista
Baru kali ini ada cultivator yang melakukan terobosan di penginapan yang dan menghancurkan penginapan itu karena terobosannya
septian arista
selalu saja ada tuan muda sebuah klan yang bersikap arogan dan sangat angkuh
Abai Shaden
terimakasih masukkan nya
Abai Shaden
nanti di season II nya,,,
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah
Joe Maggot Curvanord
terlalu cepat op thor ga ada ber darah2nya
Abai Shaden: kita bikin berdarah nanti di NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL
total 1 replies
Nanik S
Mantap
Nanik S
ikut Tes Lagi
septian arista: cepat banget kenaikan kultivasinya
total 1 replies
Nanik S
Sama sama bermarga Lin
Nanik S
Pertemuan awal
Nanik S
Oky Lanjut
Nanik S
Awal yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!